Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 160


__ADS_3

Keduanya saling bersitatap dengan datak jantung yang berdegup cepat.


"Mau gue temani tidur?"


"Axel!!" Suara bernada dingin dan sedikit bentakan mengejutkan keduanya. Alisha salah tingkah dan segera menjauh dari Axel. Sementara laki-laki remaja itu, dia seperti biasa. Tenang dan bersikap biasa saja.


"Ta-tadi Alisha nggak sengaja jatoh, Om. Terus jatohnya deket Axel," ucap Alisha, tidak ingin Arya salah paham padanya dan Axel.


"Om tahu," balas Arya sambil tersenyum menenangkan.


"A-aku ke kamar dulu ya."


"Iya," balas Arya. Sementara Axel hanya bergumam tak jelas sambil menatap Alisha yang mulai menjauh ke arah kamar.


Arya menarik nafasnya kemudian duduk di sebalah Axel. Awalnya ia kembali karena melupakan ponselnya yang ia letakan di sofa tepat di sebelah tempatnya duduk tadi. Namun ia harus menyaksikan pemandangan putranya dan putri Gara yang saling tatap-tatapan dengan jarak yang begitu dekat. Apalagi ia mendengar sendiri ucapan Axel pada Alisha tadi. Benar-benar tidak bisa dibiarkan.


"Maksud kamu apa?" tanya Arya.


Axel menoleh pada Papanya dengan kening mengerut. "Apa?" tanyanya balik. Ia tahu maksud pertanyaan Arya. Tapi, dia tidak ingin menanggapinya dengan cepat.


"Ck. Jangan belagak nggak paham."


"Axel reflek," jawabnya santai.


"Reflek? Papa nggak percaya."


"Papa lebih nggak percaya kalau Axel bilang itu beneran."


"Eh! Jangan sembarangan kamu ya. Nawarin temenin tidur ke Alisha. Mau kamu hubungan persahabatan Papa sama Gara renggang?" Axel menggeleng. "Nah. Makanya, nggak usah aneh-aneh." Axel hanya diam mendengar ucapan Papanya.


Arya pun ikut terdiam. Tapi, setelah beberapa menit ia kembali besuara. "Kamu mau nggak Papa jodohin sama Alisha?"


Axel menoleh menatap Papanya. "Papa serius?"


"Hmm," balas Arya. "Tapi belum tentu Gara mau. Alisha, putri satu-satunya. Udah biasa hidup di sekitar Gara. Gara nggak mungkin semudah itu buat lepasin putrinya. Kamu lihat sendirikan? Alisha mau nginep sini aja bujuknya susah minta ampun. Apalagi soal perjodohan atau nikah? Gara mungkin makin sususah dibujuknya."


"Papa nggak usah jodohin. Axel punya cara sendiri buat jadiin Alisha milik Axel," ucap Axel, dan kali ini tanpa menoleh pada Papanya.


Arya menatap putranya itu, lalu menarik nafas panjang. Tangannya kemudian terulur menepuk pelan bahu Axel. "Papa percaya kamu bisa. Tapi, jangan sampai kamu pakai cara kotor buat ikat Alisha jadi milik kamu." Axel terdiam mendengar penuturan Papanya. "Sekarang istirahatlah. Papa ke kamar dulu."


Hanya anggukkan yang Arya dapatkan dari sang putra. Setelah Arya kembali ke kamarnya, Axel beranjak ke kamarnya. Sempat ada niat untuk menemui Alisha kembali. Tapi ia mengurungkannya dan memilih langsung ke kamarnya.


***


Pagi ini di kediaman Arya terasa berbeda, membuat Arya yang sedang duduk di kursi meja makan tersenyum. Matanya tak henti menatap sang istri dan Alisha yang sedang sibuk menata sarapan di atas meja.


"Senang banget kamu, nak," ucap Arya, membuat Alisha tersenyum padanya.


"Iya om. Alisha seneng banget. Alisha bisa masak sarapan pagi-pagi gini. Biasanya di rumah sama ayah nggak dibolehin masak. Sebulan cuman sekali diizinin belajar masak sama ayah. Kata ayah Alisha masih ceroboh. Takutnya bisa bahayain Alisha,"

__ADS_1


"Emang bener ceroboh," sahut Axel yang baru saja tiba di ruang makan. Wajah bantalnya juga rambut acak-acakan menandakan remaja tampan itu baru saja bangun tidur. Ia menuangkan setengah gelas air dan meneguknya hingga tandas.


"Iiihh... Alisha nggak ceroboh ya. Ayah aja yang khawatirnya berlebihan."


Axel mengangguk, mengiyakan saja ucapan Alisha. Laki-laki itu kemudian menarik kursi dan duduk berselang satu kursi dengan Arya.


"Mandi dulu, Nak," ucap Tia, sambil menuangkan sarapan ke piring suaminya.


"Dingin, Ma," balas Axel.


"Kan bisa pakai air—"


"Oke. Gue mandi dulu." Axel langsung bergegas meninggalkan ruang makan tersebut menuju kamarnya saat mendengar Alisha yang secara tak langsung memintanya mandi. Arya dan Tia melongo heran dengan putra mereka, yang tanpa alasan langsung menuruti ucapan Alisha. Sementara Alisha, gadis itu terlihat biasa saja dan melanjutkan menuangkan sarapan ke piringnya.


"Eemm... Alisha."


"Iya, Tan?"


"Axel suka gitu sama kamu?"


"Suka gimana ya maksud Tante? Alisha nggak ngerti."


"Suka nurut sama kamu, kayak tadi."


"Iya."


Tia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menoleh ke arah sang suami. Sekarang mereka semakin paham, seberapa penting Alisha untuk Axel.


Usai sarapan, sesuai janji Arya pada Gara, mereka akan mengantar Alisha pulang.


"Alisha sama Axel aja, naik motor," ucap Axel pada Papanya.


"Nggak. Alisha sama Papa sama Mama naik mobil!" bantah Arya.


"Kita tanya Alisha nya aja," sahut Axel.


Alisha dan Tia yang baru saja keluar rumah, langsung menghampiri Axel dan Arya yang sedang berdiri bersandar di kendaraan masing-masing dengan tampang datar.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Tia.


"Sha."


"Hmm?" Alisha langsung menatap Axel.


"Lo ikut gue atau Mama Papa?"


"Alisha mau sama tante," jawab Alisha. Arya yang bersandar di mobilnya langsung berdiri tegap dan menoleh pada sang Putra. Alisnya ia naik turunkan seolah sedang mengejek Axel.


"Ekhm. Karena Alisha udah mutusin mau sama Papa Mama, jadi kita berangkat sekarang." Alisha dan Tia mengangguk menyetujui ucapan Arya.

__ADS_1


Alisha membuka pintu mobil belakang dan masuk. Begitu juga dengan Tia yang pintu mobilnya dibuka Arya. Wanita itu duduk di depan bersama sang suami. Saat ketiganya sudah berada di mobil, tiba-tiba pintu mobil belakang kembali dibuka dan Axel dengan santainya masuk lalu duduk di sebelah Alisha.


"Lho? Kenapa masuk mobil? Nggak jadi pakai motor?"


"Nggak."


"Bil—"


"Udah sih sayang, suka banget godain anak sendiri," ucap Tia, menegur suaminya yang sepertinya mau jail pada sang putra.


"Hehehe... Iya, sayang."


Arya pun melajukan mobilnya menuju kediaman Gara. Tidak ada banyak percakapan antara Arya dan Tia. Keduanya memilih untuk memperhatikan Axel yang terus saja menatap lembut ke arah Alisha.


"Axel nanti sesekali nginap di rumah Alisha, ya?"


Axel mengangguk. "Iya. Kalau om Gara izinin."


"Pasti Ayah izinin," balas Alisha. Dan lagi, Axel hanya mengangguk.


Setelah hampir 30 menit perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tiba di kediaman Gara. Keempatnya langsung disambut pelayan yang membukakan pintu.


"Gara."


"Arya."


Dua laki-laki itu saling berpelukan. Edo yang kebetulan sedang mengunjungi rumah Gara pun hanya melihat kedua sahabatnya yang berpelukan. Berpura-pura diam seolah tidak saling kenal.


"Lho? Edo? Kamu pagi-pagi udah di rumah Gara?" Arya cukup terkejut melihat sahabatnya itu juga berada di rumah Gara.


"Anda siapa ya? Kok kenal saya?"


"Ck. Nggak usah pura-pura lupa."


"Siapa yang lupa? Mungkin anda yang lupa,"


"Kalau aku lupa, nggak mungkin bisa kenal kamu."


"Ck. Ngaku aja. Buktinya cuman Gara kan yang kamu peluk."


"Ck. Bilang aja kamu cemburu, mau dipeluk juga." Arya langsung memeluk sahabatnya itu. Edo hanya diam, tapi lama-lama balas juga pelukan Arya. Para istri yang melihatnya hanya geleng-geleng. Drama sekali Edo dan Arya ini.


"Ayo, nggak usah diliatin. Suamiku suka gini," ucap Irene, sudah tidak heran dengan tingkah Edo. Alula dan Tia yang mendengarnya terkekeh pelan.


"Ayo, Kak, kita ke ruang tengah saja. Ada Asya sama Aurel sama anak-anak mereka disana," ucap Alula.


"Ayo." Ketiga wanita itu segera ke ruang tengah.


Alisha yang sejak tadi masih berdiri di dekat Axel mendekat pada sang Ayah. Ia meraih tangan sang Ayah dan menciumnya. Ia juga mencium tangan Edo, kemudian berlalu ke ruang tengah.

__ADS_1


Axel berkumpul bersama Gara, Arya dan Edo. Tak lama, Darren dan Darrel ikut bergabung.


__ADS_2