Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 87


__ADS_3

Edo sudah selesai bersiap-siap. Lelaki itu menunggu sang istri yang masih bersiap-siap. Setelah selesai, Irene langsung menghampiri suaminya.


"Sebenarnya, kita mau kemana sih, sayang?" Tanya Irene.


Edo meraih tas Irene yang tergeletak di ranjang dan memberikannya pada sang istri. "Kita mau ke suatu tempat. Tapi, ke rumah Gara dulu."


"Rumah Gara?"


"Ya."


"Apa Gara dan Alula juga pergi?"


"Iya."


"Syukurlah Alula juga."


"Kenapa?"


"Jika Alula tidak ikut, maka aku akan menjadi patung hidup. Kamu dan Gara selalu tenggelam dalam apa yang kalian bahas. Jika ada Alula, kami bisa mengobrol. Lagi pula, aku merindukan sahabatku itu."


"Ya, ya. Ayo, pergi!"


Irene mengangguk. Pasangan suami istri itu segera keluar kamar dan menuju garasi.


Sementara di kediaman Gara, Alula merasa bingung dengan suaminya yang tiba-tiba menyuruhnya siap-siap.


"Kita mau kemana?"


"Ke suatu tempat. Edo sama Irene juga ikut."


"Benarkah ada Irene?"


"Iya."


"Ana? Vera?"


"Ini bukan liburan, sayang. Nanti saja kita ajak mereka."


"Baiklah." Ucap Alula. Selesai bersiap kedua orang itu segera menuju ruang tamu. Mereka duduk disana sambil berbincang-bincang.


"Ayah? Ibu? Kalian mau kemana?" Darrel yang baru datang bersama istrinya heran melihat Ayah dan Ibunya sudah rapih. Darren dan Asya pun juga merasa heran.


"Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Darren.


"Tidak ada apa-apa. Ayah sama Ibu hanya ingin pergi bersama Edo dan Irene. Iya kan, sayang?"


"Iya. Ayah kalian benar. Kami akan pergi bersama Edo dan Irene. Jangan khawatir." Ucap Alula.


"Mama sama Papa?" Gara dan Alula mengangguk bersamaan.


"Ibu, hati-hati saat pergi nanti." Darrel merentangkan tangannya hendak memeluk sang Ibu. Namun, Gara langsung menarik tubuh Alula dalam pelukannya dan sebelah tangannya menahan tubuh Darrel.


"Ayah..."


"Jangan peluk istriku. Peluk istrimu saja." Ucap Gara dengan wajah datar.


"Istri Ayah itu, Ibu Darrel, Ayah." Protes Darrel.


"Sayang, biarkan Darrel memelukku. Sejak menikah, dia jarang sekali memeluk Ibunya."


"Itulah gunanya dia punya istri. Dia tidak perlu sering-sering memelukmu lagi, sayang. Ada istrinya yang seharusnya dia peluk." Ujar Gara semakin mengeratkan pelukannya.


Alula hanya bisa menarik nafas dan menggeleng. Sementara Asya dan Aurel terkekeh melihat pertengkaran kecil Darrel dan Ayah mertua mereka. Sedangkan Darren, lelaki itu hanya menggeleng pelan dengan wajah tanpa ekspresi. Pemandangan seperti ini, sudah bukan hal baru lagi baginya.


Saat Darrel dan Gara dalam suasana pertikaian merebut Alula, terdengar deru mobil yang berhenti di halaman rumah. Tak lama, terdengar suara Edo memanggil Gara.

__ADS_1


"Garaaaa..."


"Garaaaa..."


"Gar...hhmmpp..."


"Diamlah, sayang! Lihat! Siapa yang duduk di sofa. Disitu juga ada putri dan menantu mu. Apa kamu nggak malu?" Ucap Irene, sambil membekap mulut suaminya.


Semuanya yang melihatnya pun terkekeh. Kecuali Gara dan Darren yang hanya menahan senyum melihat Edo dibekap Irene.


"Hahaha... Hahaha..." Darrel tertawa paling keras.


Edo yang melihatnya pun kesal. Ia melepas pelan tangan sang istri dari mulutnya, kemudian menggandeng Irene ke sofa.


"Hahaha... Hahaha... Hahaha... Paman dibekap tante Irene. Paman..."


Plak...


Edo memukul punggung Darrel sedikit keras. Membuat lelaki itu mengganti tawanya menjadi ringisan.


"Sakit Pam..."


"Papa mertua! Panggil Papa Mertua!" Potong Edo dengan kesal. Darrel masih saja memanggilnya Paman.


"Kenapa aku harus panggil Papa mertua? Yang menikahi Asya kan Darren. Bukan aku."


"Ck. Kau ini..." Edo sekali lagi ingin memukul punggung Darrel, namun terhenti oleh ucapan Gara.


"Jangan memukul putraku lagi, Edo!" Ucap Gara dengan wajah datar.


"Ck. Putramu ini, menyebalkan sekali. Dia menikahi putri angkatku, tapi tidak mau memanggilku Papa mertua. Menyebalkan sekali."


"Apa? Putria angkat?" Darrel menatap Aurel. Wanita hamil itu mengangguk pelan mengiyakan ucapan Edo.


"Asya, Aurel. Kalian tidak mau peluk Papa?"


"Aku sangat merindukan Papa dan Mama." Ucap Asya dan Aurel bersamaan.


Darrel melongo mendengarnya. Dia benar-benar tidak tahu jika Edo mengangkat Aurel sebagai putrinya.


Setelah acara peluk-pelukan melepas rindu, Edo dan Irene berpamitan. Begitu juga dengan Gara dan Alula. Pasangan suami istri itu juga berpamit pergi bersama Edo dan Irene.


***


Alula mengerutkan keningnya saat mobil yang di tumpanginya dan Gara berhenti. Begitu juga dengan mobil milik Edo dan Irene. Bisa ia lihat, beberapa orang berdiri menunggu mereka. Tempat ini tidak asing baginya.


"Kita... Ke pulau kurungan?" Alula menatap suaminya.


Gara balas menatapnya dan tersenyum. Ia mengusap rambut istrinya. "Ya, kita ke sana." Jawabnya.


"Untuk apa? Apa kamu ingin bertemu Ibu Laura?"


"Kamu cemburu?"


"Tentu saja." Gara tertawa pelan mendengar jawaban istrinya.


"Kenapa tertawa? Aku berkata benar. Bukan kah kamu pernah menemui seseorang tanpa sepengetahuanku? Dan saat kamu pulang, jas yang kamu kenakan tercium wangi parfum wanita."


Gara lagi-lagi tertawa. Istrinya masih saja mengingat kejadian yang sialnya membuat Alula mendiaminya semalaman. Itu semua karena kerjaan Edo, yang sengaja membuat Gara kesal.


"Bukankah sudah ku jelaskan waktu itu? Edo juga sudah menjelaskannya."


"Terserah kamu saja."


"Kamu marah?"

__ADS_1


"Tidak."


"Lalu, kenapa murung?" Alula hanya diam.


"Sayang, dengar!" Gara merangkul istrinya dan mencium pelipisnya. "Meskipun wanita itu berubah menjadi muda dan cantik, hanya kamu yang aku lihat. Kamu satu-satunya wanitaku, istriku. Tidak akan ada yang lain." Ujar Gara.


Alula yang murung pun tersenyum mendengarnya. Ia menatap Gara. "Aku hanya mengerjaimu, kenapa kamu serius sekali?"


"Hah?" Gara melongo mendengarnya. Apa dia sedang dipermainkan istrinya?


Cup...


"Ayo! Edo sama Irene sudah menunggu." Alula langsung keluar dari mobil setelah mengecup pipi suaminya. Seulas senyum muncul di bibir Gara. Hanya sebuah kecupan di pipi, tapi rasanya sangat bahagia. Gara kemudian ikut keluar dan berkumpul bersama mereka. Keempat orang itu sama-sama menuju sebuah kapal yang akan mengantar mereka ke pulau kurungan.


Setelah hampir 3 jam berada di atas kapal, Gara, Alula, Irene dan Edo pun tiba di pulau kurungan. Ada dua mobil yang menunggu mereka.


"Sayang, sebenarnya untuk apa kita kemari?" Tanya Alula.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mobil yang ditumpangi Gara Alula berada di depan. Sedangkan Edo Irene di belakangnya.


"Aku dan Edo mau melihat Naomi, Hendra juga Hardi." Alula mengangguk. "Aku sudah mengubah desain rumah itu dan membangunnya sedikit lebih luas. Ada tempat bersantai di taman belakang. Kamu pasti menyukainya."


"Benarkah?"


"Iya."


"Waaah... Aku sangat senang. Seandainya kita membawa anak-anak dan menantu kita." Ujar Alula.


"Mereka boleh datang. Tapi, tempat ini tidak cukup bagus untuk ditinggali dalam waktu lama. Tidak bagus untuk psikis."


Alula meringis mendengarnya. Yang Gara katakan benar. Ini tempat untuk orang-orang menjalani hukuman mereka. Untuk si kembar, dia tidak khawatir jika mereka melihatnya. Tapi, bagaimana dengan putrinya dan kedua menantunya. Mereka pasti takut dengan kehidupan di pulau ini.


"Kenapa pulau sebagus ini, kamu jadikan tempat kurungan."


"Entahlah."


Sementara di mobil yang di tumpangi Edo, Irene sangat takjub dengan tempat ini. Ia tak henti-hentinya bertanya. Tapi, dia masih belum tahu, tempat apa yang ia kagumi saat ini.


"Sayang, sebenarnya ini tempat apa? Apa masih lama kita sampai tujuannya?"


"Ini pulau kurungan. Ti..."


"Pulau kurungan?" Pekik Irene, memotong ucapan Edo.


"Iya, sayang."


"Pulau kurungan, tempat Ibu tiri Gara dan Paman-Pamannya dikurung?"


"Iya."


"Ya Tuhan, kenapa tempat kurungan berada di pulau sebagus ini?"


"Suka-suka Gara."


"Hehehe... Iya juga."


"Oh ya, sayang. Ini yang ke berapa kalinya kamu kesini?"


"Ini yang ke 5."


"Waah... Apa ada tempat lain selain tempat kurungan?"


"Ada. Disini ada rumah. Dulunya tidak terlalu besar. Tapi, setelah Alula juga kesini, Gara mendesain ulang rumahnya dan membangunnya lebih besar. Tempatnya sangat nyaman."


"Waaahhh... Aku tidak sabar untuk segera sampai."

__ADS_1


"Ya. Kamu dan Alula bisa mengobrol disana. Aku dan Gara akan mengurus sesuatu." Edo mengusap lembut rambut istrinya. Irene hanya mengangguk mengiyakan. Dia benar-benar tidak sabar untuk segera tiba disana.


__ADS_2