Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 148


__ADS_3

Gara, Edo dan Arya juga beberapa pengawal yang baru selesai mengalahkan penjaga-penjaga markas tersebut, terlonjak kaget melihat Axel yang keluar terburu-buru sambil menggendong seseorang.


"Axel dia—"


"Pa, dimana mobil Papa?" tanya Axel sedikit berteriak.


Gara dan Edo yang mengenali siapa gadis yang digendong Axel itu, segera mendekat. Arya sontak mengikuti kedua sahabatnya.


"Mobil Papa ada di depan jalan sana," jawab Arya. Dia dan yang lainnya memang sengaja meletakkan mobil mereka sedikit jauh dari markas. Hanya motor Axel dan Hardi yang diparkir cukup dekat.


Axel tak menyerah. Ia kembali melangkah menuju mobil Papanya. Namun, baru selangkah, dua mobil muncul dan berhenti di depan mereka. Darrel dan Jiyo keluar dengan wajah khawatir, diikuti satu anak buahnya yang menumpang mobil mereka.


Sementara Ben dan Kenan, keduanya keluar sambil menyeret Iwan dan kedua anak buahnya.


"Kak," seru Axel.


"Nadia? Ayo, pakai mobil saya." Darrel segera membuka pintu mobilnya. Axel duduk di jok belakang sambil memangku kepala Nadia yang sudah tidak sadarkan diri. Hardi juga ikut masuk, duduk di samping Darrel yang mengemudikan mobil.


Jarak dari markas menuju rumah sakit lumayan jauh. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai. Malam yang semakin larut membuat jalanan cukup lenggang. Darrel memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga mampu mempersingkat waktu untuk tiba di rumah sakit.


Darrel menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Ia dan Hardi segera keluar. Hardi membuka pintu belakang, dan Darrel yang membawa Nadia dari pangkuan Axel.


"Dok!!" teriak Darrel.


Beberapa perawat segera mendekat sambil mendorong brankar. Darrel segera membaringkan gadis remaja yang kini sudah begitu pucat wajahnya, lalu membantu para perawat mendorongnya ke ruang ICU. Axel dan Hardi juga ikut membantu.


"Kalian tunggu disini. Kami akan berusaha sebaik mungkin menangani pasien," ucap seorang perawat, yang kemudian menutup pintu ruangan tersebut.


Darrel, Axel dan Hardi terduduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan tersebut. Tidak satupun diantara mereka yang berbicara. Bahkan saat dokter melewati mereka, berjalan masuk ke ruang ICU pun, mereka tak mengatakan sesuatu.


"Semua salahku," ucap Axel tiba-tiba. Kepalanya terus tertunduk menatap tangannya yang terkepal kuat.


Darrel yang berada di sampingnya menepuk pelan pundak remaja itu. "Bukan salahmu. Ini semua takdir yang nggak bisa kita hindari. Kita berdoa saja semoga Nadia baik-baik saja," ucap Darrel.


Mereka kembali terdiam. Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka, menampakkan seorang dokter dengan raut wajah tak bisa mereka tebak. Ketiganya segera mendekati Dokter.


"Bagaimana, Dok?"


"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien."


Deg...


Darrel, Axel dan Hardi terdiam kaku, antara percaya dan tidak. Mereka berharap ucapan Dokter itu tidak benar.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pasien kehilangan banyak darah dan terlambat dilarikan ke rumah sakit. Sekali lagi, kami minta maaf."


"Dokter!!"


Panggilan seseorang mengalihkan atensi keempat orang yang tengah berdiri tersebut. Seorang wanita dan seorang pria berlari kecil mendekati mereka.


"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya si wanita yang merupakan Ibu Nadia.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaan putri kami?" tanya si laki-laki yang merupakan Ayah Nadia.


"Maaf Tuan, Nyonya, putri kalian tidak bisa kami selamatkan."


Deg...


Tubuh wanita itu terhuyung. Beruntung sang suami sigap menangkapnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin, Dok. Anak saya nggak mungkin meninggal," ucap wanita itu lemah.


"Aku baru saja dapat kabar dari tuan Gara, jika Nadia di temukan. Dia memintaku segera kesini. Tapi... Tapi kenapa? Kenapa aku tetap saja kehilangan putriku..."


Lirihan wanita itu membuat semua ikut merasakan kesedihannya. Ayah Nadia hanya bisa berusaha menenangkan istrinya, dengan air matanya yang terus mengalir.


Di waktu yang sama, tepatnya di rumah Gara, Alisha terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Gadis itu tadi duduk-duduk di sofa dalam kamarnya, sembari menunggu balasan pesan dari ayahnya dan yang lain. Tapi, dia tiba-tiba ketiduran dan terbangun karena mimpi buruknya.


"Huuhh... Apa maksud mimpi itu? Kenapa perasaanku nggak enak seperti ini?" gumam Alisha.


Tok... Tok... Tok...


"Alisha. Nak, kamu masih belum tidur, Nak?" Suara Alula terdengar. Alisha bangkit dari duduknya dan mendekati pintu. Gadis itu lalu membukanya.


"Ada apa, Bu?" tanya Alisha. Alula bisa menangkap raut khawatir di wajah putrinya.


"Nggak apa-apa. Ibu hanya ingin melihatmu." Alula mengelus pelan rambut putrinya. "Ibu boleh masuk?" Alisha mengangguk dan mengajak Ibunya masuk. Keduanya duduk bersama di tepi ranjang.


"Bu,"


"Iya, Nak?"


"Alisha mimpi buruk. Perasaan Alisha juga nggak enak."


Alula mengulas senyum tipis. Ia kembali mengelus rambut putrinya. "Mimpi apa? Ayo, cerita sama Ibu. Siapa tahu setelah ini perasaan kamu lebih baik."


Alisha mengangguk dan mulai menceritakan mimpinya. "Dalam mimpiku, aku, Yana sama Nadia main di rooftop sekolah. Tiba-tiba Nadia terjatuh. Banyak darah, dan aku sama Yana menangis."


Alula memeluk putrinya, dan mengecup kening gadis itu. "Nggak apa-apa. Nggak akan terjadi apa-apa," ucap Alula menenangkan. Tapi, hatinya tidak bisa bohong. Dia juga khawatir.


***


Kecerdasan Gara membuat Iwan yang bungkam sejak pertama kali ditangkap, akhirnya berbicara dan mengungkapkan kebenarannya.


Polisi sudah menuju ke kediaman pemilik bisnis gelap tersebut. Sedangkan sebagian menuju markas untuk membawa Iwan dan anak buahnya.


"Semuanya sudah selesai. Aku izin pergi lebih dulu," ucap Darren yang langsung mendapat tatapan semua orang. "Aku mau ke rumah sakit," lanjutnya.


Gara menatap putranya lalu mengangguk. Begitu juga yang lain. Mereka akan menyusul setelah polisi tiba dan membawa penjahat-penjahat itu bersama mereka.


"Pergilah. Hati-hati!"


"Iya, Yah." Darren segera berlalu dari hadapan orang-orang tersebut.


"Aku ikut Darren!" teriak Jiyo tiba-tiba. Laki-laki itu berpamitan lalu berlari menghampiri Darren.


"Kamu pergi naik apa? Mobil—"


"Motor," jawabnya. "Tangkap!" Darren melemparkan kunci motor milik Hardi pada Jiyo. "Masih bisa bawa motor kan?"


"Ck. Jangan remehkan aku."


Kedua laki-laki itu menaiki motor masing-masing lalu melajukannya, meninggalkan area markas tersebut.


Setelah kebut-kebutan di jalan yang lenggang, Darren dan Jiyo tiba di rumah sakit. Darren dan Jiyo segera masuk. Baru saja tiba di lobi rumah sakit, handphone Darren bergetar.


Darren segera meraihnya dari saku celana. Tatapannya jatuh pada layar handphone. Tertera nama Darrel di sana.


"Hallo, Darren?"

__ADS_1


"Hmm."


"Bagaimana? Semuanya sudah selesai?"


"Ya."


"Nadia... Dia nggak tertolong, Ren."


Darren terdiam. Ia terkejut mendengarnya. "Kalian di ruang mana?"


"Ruang ICU A. Jenazah Nadia mau di pindahin ke ruang jenazah."


"Kami ke sana."


"Kal—"


Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt...


Darren langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Tanpa mengatakan apapun pada Jiyo, dia langsung melangkah cepat ke arah ruang ICU. Jiyo yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikutinya.


Keduanya tiba di ruang ICU bertepat dengan di dorongnya jenazah Nadia, keluar dari ruangan tersebut. Terdengar tangis memilukan dari Ibu gadis tersebut.


"Darren. Nadia...."


"Nadia nggak tertolong."


Jiyo terkejut mendengarnya. Walaupun Jiyo tidak begitu dekat, tapi dia sering mendengar Alisha bercerita tentang gadis itu.


Darren menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul 3 malam. Ia kemudian menatap Darrel. "Kamu memberitahu Alisha?" tanya Darren yang langsung mendapat gelengan Darrel.


"Belum. Aku takut dia syok, Ren."


"Jangan beri tahu sekarang. Pagi nanti, baru kita beri tahu," ucap Darren yang diangguki setuju oleh yang lain. "Kita bantu proses kepulangan jenazah dan mengantarnya sampai ke rumah Nadia. Setelah itu, kita kembali ke rumah.


Lagi-lagi semua mengangguk. Mereka kemudian mengikuti orang tua Nadia untuk mengurus kepulangan jenazah Nadia. Namun, Darren masih diam di tempat. Tangannya kembali bergerak menelpon seseorang.


"Hallo, Ren?"


"Hallo, Yah."


"Ada apa?"


"Nadia nggak tertolong."


"Nadia nggak tertolong? Ya Tuhan."


"Polisi sudah tiba?"


"Belum. Mungkin sebentar lagi."


"Sembunyikan Iwan, Yah. Aku yakin, dia kunci dari nekatnya Nadia bunuh diri."


"Akan Ayah lakukan."


"Makasih, Yah."


"Ya."


Setelah panggilan selesai, Darren menyusul yang lainnya untuk membantu orang tua Nadia mengurus kepulangan jenazah gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2