
Sore hari, Axel mengendarai motornya menuju kediaman Gara. Sejak pulang sekolah, dirinya tidak tenang. Dia benar-benar merasa bersalah karena sudah membentak Alisha. Dia harus meminta maaf pada gadis itu. Tidak peduli, resiko apa yang akan ia dapatkan saat tiba di rumah Gara nanti.
Axel yang sudah beberapa kali kesana dan dikenali oleh pengawal-pengawal rumah, di perbolehkan masuk. Lelaki itu memarkirkan motornya dan langsung menekan bel.
Sementara Alisha, gadis itu sedang duduk di pinggiran kolam dengan sebagian kaki yang berendam dalam air. Sebenarnya, dia sedang menunggu kedua kakak iparnya yang sedang membuatkan cake untuknya. Kedua wanita itu melarangnya membantu. Cukup menunggu dan nikmati saja hasilnya nanti. Tapi, pikirannya malah berkelana pada kejadian Axel membentaknya tadi, bukan pada cake yang dibuat Asya dan Aurel.
"Permisi, nona. Ada yang mau bertemu nona." Suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Alisha. Alisha mengalihkan pandangannya menatap pelayan yang berdiri menghadapnya. Sebenarnya, dia tidak ingin bertemu siapapun selain kedua kakak iparnya. Dia bahkan menghindari Darren dan Darrel tadi. Dan beruntungnya, Ibu dan Ayahnya sedang berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya.
"Siapa, Bi?"
"Teman nona, tuan muda Axel."
Alisha terdiam. Mendengar nama Axel, rasanya dia ingin menangis mengingat bentakan Axel.
"Bilang saja Alisha lagi tidur, Bi."
"Lo nggak bisa bohong sama gue." Suara Axel tiba-tiba menyela dari belakang. Melihat Axel datang, pelayan tersebut menjauhkan diri. Tapi, saat kembali ke dapur, pelayan tersebut bertemu si kembar yang sedang mencari Alisha. Dia pun memberitahukan pada mereka. Segera saja kedua kakak beradik kembar itu menghampiri Alisha.
Alisha bergegas berdiri. Matanya tak menatap Axel. Gadis itu berbalik dan berjalan ke arah lain. Namun, baru beberapa langkah, tangannya ditahan oleh Axel. Hal itu membuatnya berbalik menatap Axel.
"Gue mau ngomong."
"Alisha capek. Mau istirahat." Alisha mencoba melepaskan genggaman Axel. Tapi, dia gagal karena Axel menggengamnya cukup kuat.
"Gue mau ngomong sama lo. Sebentar aja."
"Alisha nggak mau!"
"Alisha,"
"Alisha nggak mau, Axel. Alisha nggak mau ngomong sama Axel!"
"Sebentar saja. Setelah ini lo..."
"Axel!" Ucapan Axel terpotong oleh panggilan Darren yang terdengar begitu dingin. Lelaki itu berjalan cepat ke arah Axel. Dia melepaskan genggaman Axel pada tangan Alisha dan menarik Axel sedikit jauh dari pinggiran kolam.
Bugh...
Darren memberikan satu pukulan di sisi kanan wajah Axel. Membuat remaja lelaki itu terhuyung ke samping. Sudut bibirnya terluka, namun Axel kembali berdiri dengan tegap dan tenang. Seolah pukulan Darren hanyalah tamparan dari anak kecil untuknya.
Darren kembali mendekat dan hendak menghajar Axel lagi.
"Kak Darren!"
"Darren!"
Alisha dan Darrel berteriak bersamaan. Darrel mendekati kembarannya dan menepuk bahu kembarannya itu.
"Cukup sekali. Sekali lagi jatahku." Ucap Darrel dan langsung menonjok perut Axel. Axel menerimanya tanpa melakukan perlawanan.
"Kak Darrel!" Alisha mendekat dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Asya dan Aurel yang baru tiba dan mendapati pemandangan tersebut pun bingung. Keduanya mendekat dan terkejut melihat Axel yang terluka di sudut bibirnya dan Alisha yang hampir menangis.
"Ada apa ini?" Asya bertanya. "Alisha, sayang. Kenapa kamu menangis? Axel, kenapa dengan sudut bibirmu?"
Aurel yang juga penasaran menarik lengan baju suaminya. "Sayang, ini kenapa? Kenapa Alisha seperti akan menangis begitu?"
__ADS_1
"Eeemm.. Itu... Aku..."
"Axel di pukul Kak Darren sama Kak Darrel." Jawab Alisha dengan suara yang bergetar. Dia takut pada kedua Kakaknya dan kasihan pada Axel.
"Sayang?" Asya dan Aurel berucap bersamaan sambil menatap suami masing-masing. Tidak menyangka dua orang dewasa memukuli remaja lelaki itu.
"Sayang, aku bisa jelasin." Darrel meraih tangan istrinya.
"Kamu tega pukulin teman Alisha, sayang? Aku ini lagi hamil. Kalau nanti anak kita lahir terus jadi tukang pukul gara-gara kejadian ini, gimana dong? Aku nggak mau anakku jadi penjahat." Kata Aurel, dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, sayang. Jangan ngomong gitu, dong."
"Kamu sih. Ini salah kamu. Pokoknya kamu menyebalkan." Ucap Aurel lalu berjalan memasuki rumah.
Darrel yang melihatnya menggaruk kepalanya. Mood Aurel suka sekali berubah-ubah. Dengan cepat Darrel berlari menyusul istrinya.
Tinggal Darren, Asya, Alisha dan Axel. Sorot mata Darren masih begitu tajam menatap Axel. Dia benar-benar marah. Dia sudah menahannya sejak mengetahui apa yang terjadi pada Alisha dari orang kepercayaannya yang ada di sekolah. Dia mencoba menahannya. Tapi, pertahanan amarahnya runtuh saat melihat Axel mencengkram tangan Alisha tadi.
Darren meraih baju Axel dengan tiba-tiba, membuat Asya dan Alisha terkejut.
"Kak!"
"Sayang!"
Sentuhan tangan Asya dan Alisha di tangnnya membuat Darren melepaskan cengkramnya pada baju Axel.
"Kau! Sekali lagi kau berbicara kasar dan membentak Alisha, jangan harap kau bisa bertemu dengannya lagi!" Tegas Darren.
"Sayang. Jangan berbicara seperti itu."
"Kak..."
"Pergi ke kamar, okey?"
Asya langsung menarik tangan suaminya sedikit menjauh. Ia menatap lekat mata tajam Darren.
"Ini urusan Alisha dan Axel. Kita nggak berhak ikut campur terlalu jauh."
"Urusan Alisha urusanku juga. Aku berhak ikut campur."
"Darren. Jangan seperti ini. Alisha maupun Axel membutuhkan privasi. Mereka sekarang belajar menyelesaikan masalah tanpa harus kita ikut campur lebih dalam. Jangan sampai Alisha merasa dikekang. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Jika Axel berperilaku buruk pada Alisha, aku akan mendukungmu memberi pelajaran pada Axel."
Darren terdiam mendengar ucapan istrinya. Perlahan ia mulai luluh. Ia menuruti ucapan Asya dan meninggalkan Alisha bersama Axel.
Alisha menatap Axel dan meraih tangannya. "Ikut aku." Gadis itu membawa Axel menuju kursi yang berada tak jauh dari tempat tersebut.
"Kamu duduk disini! Jangan kemana-mana!" Lanjut Alisha.
Gadis itu meninggalkan Axel, masuk ke rumah. Tak lama, ia kembali dengan kotak p3k di tangannya. Alisha duduk di depan Axel dan mengeluarkan kapas dan obat untuk mengobati luka di sudut bibir Axel.
"Maafin Kak Darren sama Kak Darrel." Ucap Alisha tanpa menatap mata Axel.
Axel tak menjawab. Tapi, tangannya bergerak menahan tangan Alisha yang mengobatinya.
"Kenapa? Perut kamu juga sakit? Nanti kalau sampai rumah, dikompres air hangat aja."
Axel masih terdiam. Dia terus menatap wajah Alisha yang kini membereskan kotak p3k tersebut.
__ADS_1
"Gue minta maaf." Ucap Axel, tiba-tiba.
"Huuuhh... Kamu belum jawab soal Kak Darren sama Kak Darrel. Aku akan maafin kamu kalau kamu maafin Kakakku."
"Gue nggak marah sama mereka. Ini salah gue. Gue pantas dapetin semua ini."
"Tetap saja, mereka nggak boleh main hakim sendiri."
Axel terdiam. Alisha memang keras kepala. "Gue maafin mereka."
"Terima kasih. Aku udah maafin kamu." Ucap Alisha tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Ia meraih kotak p3k. "Kamu mending pulang, istirahat." Ujar Alisha.
"Lo masih belum maafin gue."
"Udah aku maafin."
"Kenapa lo kayak menghindar gitu?"
"Aku sedang nggak mau bicara sama siapa pun."
"Lo masih mau ketemu Hardi di pulau kurungan?"
"Ya. Aku akan pergi bersama Kakak sama Kakak ipar." Ucap Alisha. "Kamu sekarang pulang saja, istirahat." Lanjut Alisha kemudian bergegas pergi. Entahlah, dia sedang tidak ingin berbicara dengan Axel. Dia sedang berusaha melupakan peristiwa Axel membentaknya.
"Papa minta gue kembali ke luar negeri. Besok mereka jemput gue sama Nenek." Ucapan Axel membuat Alisha menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik menatap Axel. Hatinya merasakan perasaan tidak rela jika Axel pindah ke luar negeri. Gadis itu kembali mendekat dan duduk menatap Axel.
"Ka-kamu... Mau pindah?"
"Ya."
"Kapan? Bukankah sebulan lagi ujian kenaikan kelas?"
"Semua sudah diurus sama orang Papa. Lusa kita berangkat."
"Kenapa bisa?" Mata Alisha mulai berkaca-kaca. Dia tidak suka situasi seperti ini. "Alisha nggak mau Axel pindah." Lirih gadis itu dengan suara bergetar. Alisha menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang mulai membasahi pipi.
"Alisha." Axel memanggilnya dengan lembut. Tapi, tetap saja menunduk, tak ingin Axel melihatnya menangis.
Axel mengangkat wajah gadis itu dan menghapus air matanya. "Jangan nangis. Gue nggak suka lihat lo nangis. Maaf udah bentak lo tadi. Gue janji, itu terakhir kalinya gue ngebentak lo. Nggak akan ada lain kali."
"Apa Axel ngebentak Alisha karena kepikiran kalau Axel mau pindah?"
"Hmmm."
"Axel, kenapa nggak ngomong sama Alisha? Kalau Alisha tahu, Alisha nggak akan ngomong soal Hardi."
"Udah. Gue juga yang salah."
"Axel. Axel nggak usah pindah, ya? Alisha bisa minta Ayah bujuk om Arya buat batalain proses pemindahannya."
"Nggak bisa. Gue udah terlanjur janji sama Nenek." Axel menunduk. Rasa sayangnya pada sang Nenek begitu besar. Dia tidak bisa menolak orang tua itu.
"Ya sudah. Tapi, Axel janji gak akan lupain Alisha." Gadis itu mengulurkan jari kelingkingnya pada Axel, dan Axel menyambutnya.
"Gue janji, gak akan lupain lo." Ucap Axel. "Sekarang, udah mau ngomong lagi sama gue kan?" Alisha mengangguk, membuat Axel mengacak pelan rambutnya.
Gue akan selalu ingat lo, Alisha. Sampai kapan pun itu. Batin Axel.
__ADS_1