Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 76


__ADS_3

Asya dan Aurel sudah berada di butik tempat mereka memesan baju pernikahan Aurel. Kedua wanita itu mendapat telpon dari Bu Vega jika gaun pernikahan Aurel dan dress Asya sudah bisa dicoba.


"Selamat datang, nona Asya, nona Aurel." Sapa Bu Vega.


"Terima kasih, Bu Vega." Balas keduanya bersamaan.


Bu Vega lalu mengarahkan mereka menuju gaun dan dress tersebut. Binar kagum terlihat jelas dari mata kedua gadis itu.


"Waah... Aurel, gaun ini sangat cantik."


"Ya. Aku rasa juga begitu." Balas Aurel. Gadis itu menyentuh gaunnya. Satu hal yang tidak pernah berani ia bayangkan selama ini, yaitu menikah dengan Darrel.


"Nona Asya, ini dress anda." Seorang wanita memperlihatkan dress milik Asya. Kedua gadis itu juga sama terpukaunya seperti saat melihat gaun pengantin tadi.


"Dress mu juga begitu indah." Puji Aurel, membuat Asya tersenyum.


"Ya, aku menyukainya."


Aurel mendekatkan wajahnya ke telinga Asya. "Suka dressnya atau suka orang yang memintamu memesan dress ini?" Bisik Aurel.


"Dua-duanya. Tapi, yang lebih utamanya orang yang memintaku memesan dress ini." Balas Asya, lalu mereka terkekeh bersama.


Keduanya lalu mencoba gaun dan dress masing-masing. Saat keluar dari ruang ganti, mereka saling melempar pujian satu sama lain. Dan tanpa sadar, Darren dan Darrel sedang memperhatikan mereka. Darren maupun Darrel tidak bisa memalingkan wajah mereka dari kedua gadis itu.


"Gaun itu sangat cocok denganmu." Puji Asya.


"Dress itu juga cocok untuk mu. Kamu sangat cantik Asya."


"Terima kasih, kamu juga sangat cantik." Balas Asya. "Sayang sekali Darren dan Darrel nggak ada disini. Aku ingin mendengar pendapat mereka."


"Cantik!"


Deg...


Asya dan Aurel langsung menoleh mendengar jawaban kompak dari kedua laki-laki yang sedang menatap mereka.


"Darren?"


"Darrel?"


"Sejak kapan kalian disini?" Ucap Asya dan Aurel bersamaan. Membuat Darrel terkekeh dan Darren tersenyum samar.


"Sejak kapan kami disini?" Ulang Darrel. Dia mendekati Aurel, sementara Darren berjalan menuju Asya. "Sejak kalian keluar dari ruang ganti." Ucapnya lalu mengecup kening Aurel.


"Kamu sangat cantik. Aku nggak sabar untuk cepat-cepat menikahimu." Bisik Darrel, membuat wajah Aurel memerah.


"Darrel, apa yang kamu katakan? Menjauh sedikit dariku."


"Aku sedang memuji istriku. Apa salah?"


"Calon istri, Darrel."


"Sama saja." Balasnya. "Bagaimana gaunnya? Apa kamu nyaman?"


"Sangat nyaman." Jawab Aurel, tersenyum senang.


"Syukurlah." Ucapnya. Ia lalu menatap perut Aurel. "Calon anak kita baik-baik saja kan dengan gaun ini?"


"Iya. Dia baik-baik saja. Aku sangat suka gaun ini." Balas Aurel dengan riang, membuat Darrel tersenyum dan mengusap kepalanya dengan penuh kelembutan.


Sementara Darren, lelaki itu tidak bicara sama sekali selain menatap Asya. Gadis itu bahkan dibuat bingung oleh sikap Darren.


"Darren bagaimana..."


Deg...

__ADS_1


Ucapan Asya terpotong saat Darren dengan tiba-tiba memeluknya. Lelaki itu memeluk Asya cukup erat.


"Darren..."


"Aku juga ingin seperti Darrel dan Aurel." Ucap singkat Darren yang mampu membuat Asya terdiam. Ia bisa merasakan keinginan kuat Darren untuk menikahinya.


"Da-Darren..."


"Nggak perlu menjawab. Aku tahu, kamu belum siap." Lelaki itu melepas pelukannya. Ia lalu menangkup kedua pipi Asya hingga gadis itu mendongak menatapnya.


"Kamu samakin cantik saat memakai dress ini." Ucapnya, lalu mengecup kening Asya. Asya mengulum senyum mendengar ucapan Darren.


"Terima kasih."


Setelah selesai mencoba, Asya dan Aurel pulang dengan membawa dress dan gaun mereka. Darren mengantar Asya hingga mobil gadis itu tiba di rumah. Sedangkan Aurel langsung dibawa Darrel pulang ke rumah.


Mobil Darren berhenti di depan pagar rumah Asya. Gadis itu memarkirkan mobilnya di halaman rumah, lalu menghampiri Darren. Darren menurunkan kaca mobilnya.


"Kamu, nggak mau mampir?"


"Masih ada beberapa hal yang harus ku urus."


"Baiklah. Hati-hati, kabari aku kalau udah sampai."


Darren mengangguk. Ia kembali menyalakan mobilnya, membuat Asya sedikit menjauh dari mobilnya. Namun, beberapa detik kemudian Darren kembali mematikannya.


"Ada apa?" Tanya Asya, bingung.


"Kemarilah!" Darren menggerakkan kepalanya, meminta Asya mendekat.


Gadis itu mendekat. Ia menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan jendela mobil yang terbuka.


Cup...


"Aku pergi dulu." Ucap Darren, setelah memberikan satu kecupan di kening Asya. Gadis itu hanya mengangguk seperti orang bodoh. Ia menyentuh keningnya setelah mobil Darren menjauh.


Darren memang sering mengecup keningnya. Tapi, di pinggir jalan seperti ini, baru pertama kalinya. Apalagi di depan rumah mereka. Bisa jadi, kedua orang tuanya melihatnya. Mereka belum tahu bagaimana hubungan antara ia dan Darren yang sebenarnya selain persahabatan.


"Apakah ada yang melihatnya tadi?" Asya menoleh ke arah rumah. Tidak ada satupun yang ia lihat selain penjaga yang berada di posnya.


"Huufth... Syukurlah." Gumamnya lalu berjalan masuk. Tapi, langkahnya terhenti saat berada di depan garasi. Ia baru sadar jika mobil Ayahnya tidak ada. Asya masuk dan langsung menuju dapur.


"Bi, dimana Papa sama Mama?"


"Tuan sama nyonya sedang pergi, nona."


"Kemana?"


"Tidak tahu, nona. Kata tuan, mereka akan kembali lusa."


"Ooh. Kalau begitu, saya ke kamar dulu."


"Iya, nona."


***


Asya masih berbaring di ranjang nya. Hari libur, tanpa Papa dan Mamanya di rumah membuat Asya malas untuk beranjak dari kamarnya. Ia hanya bangun mandi dan sarapan, kemudian kembali ke kamar. Waktunya ia habiskan di kamar, menonton hingga tanpa sadar kembali tertidur.


Tok... Tok... Tok....


"Nona! Jam makan siang sudah lewat. Nona belum makan siang sama sekali." Teriak seorang pelayan.


Tok... Tok... Tok...


"Nona!"

__ADS_1


Asya yang merasa tidurnya terganggu pun mulai membuka matanya. Perlahan ia meregangkan tubuhnya.


"Nona?"


"Hmmm... Iya, Bi. Nanti aku turun." Balas Asya dengan suara seraknya, khas orang bangun tidur.


Asya menatap laptopnya. Ternyata benda itu mati karena kehabisan baterai. Asya mencas nya, lalu menuju kamar mandi. Kemudian bergegas keluar kamar setelah mencuci mukanya.


"Sudah bagun?" Suara datar Darren yang sedang bersandar mengejutkan Asya.


"Astaga Darren, kamu mengejutkan ku." Ucap Asya, mengelus pelan dadanya.


"Jam berapa sekarang?"


"Hmm? Jam berapa sekarang?" Asya menatap pergelangan tangannya, namun tak menemukan jam yang melingkar di tangannya. Tanpa rasa bersalah, ia menarik tangan Darren dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Darren.


"Sekarang jam 3 sore." Lanjutnya, melepas kembali tangan Darren.


"Kenapa melewatkan makan siang?" Tanya Darren. Wajahnya tampak dingin. Sementara Asya, gadis itu menyengir tanpa dosa.


"Hehehe.... Aku ketiduran saat menonton."


"Asya, apa kamu lupa makan tepat waktu itu penting?"


"Darreeeen, dari pada kamu memarahiku, ayo temani aku makan saja!" Ucapnya sambil meraih tangan Darren dan tersenyum manis pada lelaki itu.


Darren menarik nafasnya. Ia tidak bisa menolak Asya dan memarahi gadis itu.


"Baiklah." Pasrah Darren.


"Kamu nggak iklas temani aku makan?"


"Iklas."


"Terus, kenapa wajahnya masih dingin gitu?" Ujar Asya. Sikap manjanya keluar begitu saja.


Wajah Darren berubah melembut. Ia tersenyum melihat tingkah Asya. Tangannya terulur mengusap pelan rambut Asya.


"Ayo, aku temani makan!"


Asya mengangguk. "Ayo! Tapi, suapi aku, ya?"


"Iya."


Senyum di bibir Asya terukir saat mendengar jawaban lembut Darren. Dengan perasaan senang ia menggandeng Darren menuju meja makan. Disana pelayan sudah menyiapkan makan untuk Asya.


Gadis itu mengambil makanannya, lalu mendorong piriring berisi makannnya pada Darren. Dengan senang hati Darren menerimanya dan menyuapi Asya.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Asya. Mulutnya terbuka menerima suapan dari Darren.


"Aku merindukanmu."


"Bokon..."


"Telan dulu, Asya."


Gadis itu mengangguk. Ia mengunyah makanannya lalu menelannya. "Bukan kah kemarin kita ketemu? Kenapa cepat sekali merindukanku?"


"Nggak tahu."


"Ish, kok nggak tahu? Kan kamu yang bilang."


"Makanlah. Setelah ini, aku ingin mengajakmu jalan-jalan."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya. Ayo, makan lagi!" Asya mengangguk semangat. Ia dengan antusias melahap setiap suapan dari Darren.


Setelah makan, mereka beristirahat sejenak. Kemudian jalan-jalan sesuai yang Darren katakan. Mereka mengunjungi beberapa tempat dan juga menonton. Seperti yang Asya inginkan.


__ADS_2