Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 127


__ADS_3

Asya tersenyum sambil menatap Doni yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia lalu membelai lembut rambut putranya itu dengan penuh sayang.


"Tampan sekali anak Mama."


"Makasih, Ma."


"Maaf ya, Mama nggak bisa antar kamu ke sekolah. Kamu bareng Papa, ya?"


Doni mengangguk. "Iya, Ma." Jawab anak itu. "Doni boleh cium Mama?"


"Boleh, dong. Sini, cium Mama."


Anak itu mendekat dan mengecup pipi Asya. Asya balas mengecup kening Doni. "Sekarang, kamu ke ruang makan, ya, sarapan. Mama mau lihat Papa dulu."


"Iya, Ma."


"Doni nggak apa-apa kan, nggak Mama temani?"


"Nggak apa-apa, Ma."


Ibu dan anak itu sama-sama keluar kamar. Doni menuju ruang makan, sementara Asya langsung ke kamarnya. Saat pintu kamar terbuka, Asya langsung mengerutkan keningnya. Darren duduk diam di sisi ranjang sambil bersedekap. Wajahnya terlihat datar. Dari penampilannya yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, membuat Asya bisa menebak, jika suaminya itu baru saja selesai mandi.


"Kamu belum pakai bajumu, sayang? Aku udah siapin lho." Ujar Asya sambil mendekat.


Darren hanya diam tak menanggapi. Asya tak mengerti maksud diamnya Darren ini. Ia mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menyentuh lengan lelaki itu dengan sangat pelan.


"Kamu kok diam aja? Ini sudah hampir jam enam lho. Doni juga udah siap dan lagi sarapan. Nanti kamu bisa telat ke kantor. Kamu kan harus antar Doni dulu."


"Apa masalahnya telat? Kantor itu punyaku."


"Punya Darrel sama Alisha jugakan?" Pertanyaan Asya membuat Darren menoleh ke arahnya. Lelaki itu menatapnya dalam.


Tangan Asya terulur mengusap pipi lelaki itu. "Kamu kenapa, hmm? Nggak biasanya seperti ini?"


"Aku kesal, sayang."


"Kesal kenapa?"


Darren meraih tangan Asya yang bertengger di pipinya, dan membawa tangan itu mendekati bibirnya. Cup... Darren mengecup tangan itu dengan begitu lembut.


"Aku kesal karena saat bangun, kamu nggak ada di sampingku." Ujar Darren.


"Karena itu?" Darren mengangguk. "Maafkan aku, sayang. Aku teringat, kalau hari ini Doni harus sekolah. Jadi, aku harus membantunya bersiap."


Darren memeluk istrinya gemas. "Aku juga akan ke kantor hari ini. Harusnya kamu juga membantuku bersiap."


Asya tersenyum mendengarnya. Darren sekarang sedang dalam mode manja. "Ya sudah. Ayo, aku bantu kamu pakai baju."

__ADS_1


Darren tersenyum. Lelaki itu mencuri satu kecupan di bibir Asya, lalu berdiri. "Ayo, bantu aku!" Ujar Darren, kemudian berjalan menuju ruang ganti.


"Eh, mau kemana?" Tanya Asya, bingung.


"Mau pakai dalaman. Mau ikut?" Darren tersenyum jahil, membuat pipi Asya memerah.


"Apaan sih? Udah sana cepatan! Doni udah tungguin kamu di ruang makan."


"Doni atau kamu?"


"Darreeen... Aku nggak mau bantuin ya!" Ancam Asya, kesal dengan suaminya yang tiba-tiba bertingkah jail.


"Iya, iya." Darren terkekeh lalu berlari ke ruang ganti. Asya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Darren. Lelaki itu seperti bukan Darren yang ia kenal. Tapi, ia menyukai Darren yang sering tersenyum seperti ini.


"Sayang, bantuin aku disini saja." Teriak Darren dari dalam ruang ganti. Asya tak menjawab. Wanita itu meraih baju Darren yang sudah ia siapkan dan berjalan ke ruang ganti.


"Aku akan pulang lebih cepat dari biasanya." Ujar Darren, sambil menatap wajah Asya yang serius membantunya mengancingkan kemeja.


"Kenapa?" Asya mendongak, lalu kembali menunduk, memasang dasi untuk Darren.


"Nggak kenapa. Kamu nggak suka aku pulang cepat?"


"Suka. Tapi, aku rasa kamu aneh hari ini."


"Aneh apanya?" Darren menunduk, membiarkan Asya merapihkan rambutnya.


"Ya, aneh. Kamu nggak biasanya manja seperti ini. Apa jangan-jangan ngidamku pindah ke kamu, ya?"


"Boleh, Papa." Darren menirukan suara anak kecil, menjawab sendiri pertanyaan nya. Hal itu membuat Asya terkekeh pelan.


"Nah, anak kita bolehin sayang, kalau aku manja-manja sama kamu. Cari kesempatan. Mumpung baby belum lahir. Nanti kalau udah lahir, Papanya diabaikan. Ada Doni saja sudah diabaikan, apalagi tambah baby nanti. Aku mungkin jadi orang asing." Ujar Darren pada Asya, namun matanya tertuju pada perut Asya.


"Maaf sayang." Asya membelai pelan rambut Darren.


"Udah aku maafin." Balas lelaki itu. Darren berdiri dan mencium kening istrinya. "Ayo, ke ruang makan!"


"Ayo!" Keduanya bergegas keluar kamar, menuju ruang makan.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk sarapan. Darren dan Asya ikut sarapan bersama. Setelah selesai, semua kembali ke kegiatan masing-masing.


"Sayang, jagain Mama, ya? Papa sama Kak Doni berangkat dulu." Darren mengusap-usap perut istrinya.


"Papa hati-hati, ya?" Kali ini Asya yang menirukan suara bayi. Membuat Darren lagi-lagi terkekeh pelan. Lelaki itu lalu mengecup kening Asya.


"Dimana Doni?" Tanya Darren, bingung saat putranya tak terlihat.


"Lagi pamitan sama Ayah Ibu."

__ADS_1


Darren hanya mengangguk. Dan beberapa detik kemudian, Doni muncul. "Mama, Doni berangkat dulu." Anak itu meraih tangan Asya dan menciumnya.


"Iya, nak. Kamu sama Papa hati-hati, ya?"


"Iya." Doni lalu menunduk menatap perut rata Asya tanpa menyentuhnya. "Kakak ke sekolah dulu, ya? Adek baik-baik sama Mama di rumah. Sama Kakek, Nenek, aunty Aurel sama Kakak Meeya."


"Siap Kak Doni." Balas Asya, membuat Doni tersenyum manis. Kedua lelaki beda usia itu lalu memasuki mobil.


Alisha sudah berangkat sejak beberapa menit yang lalu bersama supirnya. Sepertinya, gadis itu bahagia memeliki supir sendiri. Dan Darrel, lelaki itu berangkat lebih pagi dari semuanya. Katanya, ada irusan kantor yang harus segera ia selesaikan.


***


Setelah mengantar Doni ke sekolah dan memastikan semua hal dengan benar, Darren bergegas ke kantornya. Ia sudah tidak sabar bertemu sahabatnya yang kurang ajar itu. Tapi, sebelun itu, Darren membeli satu kantong mangga, sesuai dengan apa yang Jiyo bawa saat berkunjung waktu itu.


Mobil terparkir, dan Darren segera menuju ke ruangannya. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menunduk dengan rasa penasaran. Kenapa tuan mereka membawa kantong? Tidak biasanya tuan mereka seperti ini. Dan apa isi kantong tersebut?


Jiyo yang melihat kedatangan Darren segera menyambut lelaki itu. Ia memeluk dengan perasaan bahagia.


"Akhirnya kau datang juga." Ujar Jiyo. Dia benar-benar kerepotan selama ditinggalkan Darren.


"Ya. Terima kasih sudah mengurus semuanya." Jiyo terdiam, mendengar lelaki itu mengucapkan terima kasih.


Dan beberapa detik kemudian Jiyo mengangguk. Keduanya lalu berpisah ke ruangan masing-masing. Darren meletakkan buah mangga di atas meja. Setelah beberapa saat, dia kembali memanggil Jiyo melalui handphonenya.


"Ada apa, tuan muda?" Tanya Jiyo, saat berada di ruangan Darren.


"Itu! Kupaskan itu!" Darren menunjuk buah mangga yang ada di atas meja.


Jiyo menatap kantong tersebut. Dari bentuknya, ia bisa tahu jika itu buah mangga. Jiyo celingak-celinguk mencari sosok yang ingin makan mangga. Tapi, tidak ada siapapun disana.


"Asya dimana?"


"Di rumah."


"Lalu, untuk apa kau meyuruhku mengupas mangga ini?"


"Untuk membuat Asya senang." Jawab Darren, santai. "Dia memintaku untuk merekam kegitanmu mengupas, membersihkan sama memotong buah mangganya. Setelah itu merekam kamu makan buah mangga yang kamu potong."


"Apa?" Jiyo terkejut bukan main.


"Iya. Kau harus habiskan 1 buah, sendirian."


"Jangan membodohiku, Darren."


"Apa aku terlihat membodohimu?"


Jiyo terdiam. Wajah Darren begitu meyakinkan. Itu berarti Asya benar-benar memintanya. Menurut yang ia dengar dari Mamanya, kemauan Ibu hamil, walaupun sedikit harus dituruti. Jika tidak, anaknya akan ileran. Ia tidak ingin calon ponakannya ileran.

__ADS_1


Dengan hati terpaksa, Jiyo menuruti perkataan Darren. Lelaki itu mengupas, membersihkan dan memakan potongan mangga yang ia bersihkan. Sementara Darren, lelakitu mulai merekam Jiyo sambil menahan tawanya.


Huh... Ini giliran kamu Jiyo! Rasakan enaknya makan mangga muda. Maafin aku, Asya sayang, udah bawa-bawa nama kamu buat balas Jiyo. Batin Darren.


__ADS_2