Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 135


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak kelompok penelitian dibagikan, Alisha dan teman-temannya melakukan penelitian dengan baik. Hari ini, mereka akan membuat laporan hasil penelitian mereka.


"Buat laporannya dimana?" Celutuk Yana, ketika sedang makan di kantin.


Alisha, Nadia, dan Hardi terdiam. Mereka jadi memikirkan pertanyaan Yana.


"Di rumahku, nggak mungkin. Empat sepupuku menginap di rumah. Mereka sangat nakal. Sudah pasti laporan kita akan kacau jika mereka mengganggu." Ujar Nadia.


"Rumahku juga nggak bisa. Ada acara keluarga besok. Pasti mereka sibuk mempersiapkannya hari ini." Tutur Yana.


"Rumahku juga nggak boleh. Terlalu jauh. Kasian kalian."


"Kalau begitu, rumahku saja." Ucap Alisha.


Ketiga sahabatnya itu serentak mengangguk. Itulah yang mereka tunggu sejak tadi. Tawaran Alisha membuat ketiganya tersenyum senang.


"Kita setuju." Jawab mereka, serentak.


Setelah semuanya setuju, Alisha kembali menginformasikan di grup chat kelompok mereka. Sejak Axel memintanya menjauh, dia tidak sekalipun mengirim pesan pada Axel lagi.


***


Asya duduk di ruang keluarga bersama Alula, Aurel dan Meeya. Tangannya terus mengusap-usap perutnya. Aurel dan Alula mengulum senyum melihat Asya.


"Yaa... Yaa... Ya..." Suara imut Meeya terdengar, membuat membuat semua menoleh padanya.


"Anak Mama," Aurel mengangkat bayi itu sari stroller ke pangkuannya.


"Taa... Taa..."


"Iya, sayang. Ponakan aunty lapar, ya?" Asya mengusap kepala anak itu.


"Cepat Aurel, beri susu untuk cucu Ibu. Sudah lapar sekali anak ini." Alula ikut menimpali, sambik mengusap kepala Meeya.


"Iya, Bu."


Aurel segera memberi susu botol untuk Meeya. Kebiasaan Meeya, hanya menyusu pada Aurel di malam hari. Asya terus menatapnya. Pikirannya melayang, membayangkan dia yang akan menyusui anaknya nanti. Wanita itu tersenyum tipis, lalu kembali mengusap perutnya.


"Oh ya, Bu. Kandungan Asya kan masih 5 bulan. Kok lebih besar dari kandungan Aurel waktu itu ya?" Tanya Asya, bingung.


"Kamu sama Darren kan sering periksa. Di USG nggak?"


"Hehehe... Enggak, Bu. Aku sama Darren sepakat untuk nggak USG dulu. 7 bulan baru kita USG."


"Astagaaa... Kamu sama Darren ini, aneh-aneh saja."


Asya terkekeh pelan. Begitu juga Aurel yang mendengarnya. Wanita itu terkekeh sambil menggelng-geleng kan kepalanya. Kehamilan membuat sahabatnya ini semakin aneh-aneh tingkahnya.


Aurel menundukkan kepalanya saat tidak merasakan gerakan mulut Meeya lagi. Ternyata putrinya sudah tertidur pulas.


"Anak ini, gampang sekali tertidur." Gumam Aurel.


"Ya sudah, kamu bawa dia ke kamar. Istirahatlah juga."


"Iya, Bu." Aurel segera membawa putrinya ke kamar. Sementara Asya dan Ibu mertuanya masih duduk bersama di ruang tengah.


"Kamu nggak istirahat? Ayo, Ibu antar kamu ke kamar."

__ADS_1


"Nanti, Bu. Aku mau tunggu Doni dulu. Sebentar lagi pulang."


"Ya udah. Ibu temani kamu."


Kedua wanita itu kembali melanjutkan perbincangan mereka. handphone Alula yang berdering membuat mereka menghentikan obrolan mereka sejenak.


"Hallo, sayang." Suara Gara terdengar. Alula menarik nafasnya. Ini ketiga kalinya Gara menelponnya. Belum sampai seharian mereka tidak bertemu, Gara sudah berkali-kali menelpon. Bagaimana jika tidak bertemu seminggu? Alula pasti tiap jam mendapat telpon dari suminya itu.


"Hallo,"


"Kamu udah makan siang?"


"Sudah, sayang. Ini kan udah lewat jam makan siangnya."


"Ck. Sayang sekali. Aku niatnya mau ajak kamu makan siang bersama."


Alula sedikit mutar bola matanya, malas. Kenapa suaminya jadi seperti ini? Mereka seerti remaja yang baru mengenal cinta.


"Biasanya kita juga makan siang bersama, sayang. Lagian, kamu ini kenapa sih? Belum genap sehari kita nggak ketemu, kamu udah seperti ini. Lagipula, hanya hari ini kamu ikut ke kantor."


"Kangen, sayang. Sejam nggak ketemu kamu itu, rasanya seperti setahun nggak ketemu."


"Ish, apaan sih?" Alula berdecak kesal. Namun, senyum tetap menghiasi wajahnya yang sekarang sedikit memerah.


Asya yang melihatnya tersenyum kecil. Romantis sekali Ayah dan Ibu mertuanya ini. Ayah mertuanya yang dingin ternyata hanya luarnya saja. Sebenarnya dia sangat lembut. Seperti yang Darren lakukan padanya.


Setelah panggilan Gara terputus, Alula kembali meletakkan handphonenya. Namun, belum semenit handphone itu berada di meja, notifikasi pesan masuk. Alula segera membacanya.


Alisha


Ibu, pulang sekolah Alisha bawa


Kita mau selesain tugas kelompok.


Ayah udah setuju.


^^^Alula^^^


^^^*Boleh, nak. Bawa saja.^^^


^^^Nanti Ibu minta pelayan^^^


^^^masakin makanan buat kalian*.^^^


Alisha


Makasih, Bu. Love you.


^^^Alula^^^


^^^Love you too^^^


"Siapa Bu?" Tanya Asya penasaran.


"Alisha. Katanya dia ajak teman-temannya ke rumah. Ada tugas kelompok yang harus mereka kerjakan."


"Waah, pasti seru, kerja kelompok seperti itu." Alula tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Deru mobil di halaman rumah membuat kedua wanita itu tersenyum. Itu pasti Doni. Asya dan Alula bangun dan menyambut anak itu.


"Mama. Nenek." Sapa Doni, sambil mencium tangan keduanya.


"Cucu Nenek sudah pulang. Sekarang, ganti baju ya, sama Mama. Nenek minta pelayan siapin makanan buat Doni."


"Iya, Nek."


"Hati-hati ya, Asya, naik tangganya."


"Iya, Bu. Asya hati-hati kok."


Alula mengangguk. Ia lalu berjalan bersama Asya dan Doni. Bagaimana pun, ia tetap khawatir dengan menantu dan calon cucunya. Hingga Asya dan Doni sampai ke ujung tangga, wanita itu baru bergegas ke dapur.


***


Alisha, Nadia dan Yana turun dari mobil dan langsung menuju rumah. Sedangkan Axel dan Hardi, kedua lelaki itu memarkirkan motor mereka lalu berjalan bersama mengikuti ketiga gadis yang sudah berada di depan.


"Lo udah nyakitin, Alisha. Seharusnya lo malu dekatin dia lagi." Sinis Hardi.


"Sadar lo sama ucapan lo? Ngaca sebelum ngomong!" Axel tersenyum sinis kemudian melenggang meninggalkan Hardi. Lelaki itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Ucapan Axel memukul telak dirinya.


Alula tersenyum menyabut satu per satu teman-teman Alisha. Remaja-remaja itu mencium tangannya dan menyapa. Ia tersenyum ramah dan balas menyapa.


"Pelayan udah siapin makanan buat kalian. Sebelum kalian kerja tugasnya, kalian makan dulu."


"Makasih, tante." Ucap Nadia, cepat. Dia memang lapar sekarang. Yana memutar bola matanya melihat tingkah Nadia. Sementara Alisha, ia malah terkekeh. Nadia memang seperti ini. Tidak akan sungkan jika sudah mengenal.


Setelah menghabiskan makanan mereka, remaja-remaja itu bergegas ke halaman belakang. Mereka akan menyelesaikan tugas mereka di gazebo halaman belakang.


Semua sibuk dengan tugas masing-masing. Mereka begitu kompak. Tidak ada satu diantara mereka yang duduk santai. Hingga hari mulai gelap, mereka berpamitan pulang.


"Ayo, aku anterin ke depan." Alisha menggandeng kedua sahabatnya, Nadia dan Yana. Sementara Hardi, lelaki itu berjalan di belakang. Nadia dan Yana akan diantar pengawal. Sedangkan Hardi, lelaki itu kembali menggunakan motornya. Hanya Axel yang tersisa. Lelaki itu menghilang saat tugas selesai di kerjakan.


Setelah sahabat-sahabatnya pergi, Alisha kembali ke gazebo. Ia harus membereskan tas dan bukunya yang masih tertinggal di gazebo.


"Tas Axel masih disini. Kemana dia?" Gumamnya pelan, kemudian mengabaikan tas tersebut dan membereskan barang miliknya. Saat berbalik, ia cukup terkejut melihat Axel yang sudah duduk tak jauh darinya.


"Ck. Kagetin tahu, nggak?" Kesalnya, dengan wajah cemberut. Hampir saja dia memukul lengan lelaki itu.


"Nggak bermaksud." Jawab Axel singkat.


"Nyebelin!" Alisha meraih tasnya dan hendak pergi. Namun tertahan oleh ucapan Axel.


"Nggak mau ngobrol dulu, lo?"


Alisha terdiam. Ia lalu berbalik menatap Axel. "Nggak balik kamu?"


"Gue masih mau disini."


"Ohh," Alisha menjawab singkat dan terkesan acuh. Membuat Axel tersenyum sendu.


"Nggak mau ngobrol bentar sama gue?"


"Gue tahu tempat, Xel. Saat seseorang nggak suka gue dekatin, gue nggak bisa maksa." Jawab Alisha, dan pergi begitu saja.


Axel hanya bisa mematung. Ini pertama kalinya Alisha berbicara dengan kata 'Gue' padanya. Sepertinya gadis itu sudah tidak peduli padanya. Itu yang ia inginkan. Tapi, kenapa rasanya sakit diacuhkan Alisha seperti ini.

__ADS_1


Maafin gue, Sha. Ini demi kebaikan lo juga.


__ADS_2