
Hari-hari berlalu. Ujian akhir semester pun telah usai. Lebih tepatnya, baru saja usai. Alisha keluar dari ruang kelasnya dengan senyum tipis. Baru saja dia mendapat pesan ucapan selamat dari Yana.
"Kenapa senyum?" tanya Axel. Kerutan di keningnya terlihat. Sepertinya dia sangat penasaran siapa yang bertukar pesan dengan Alisha sampai gadis itu tersenyum manis.
"Yana. Dia kirim pesan ucapan selamat udah selesai ujian buat aku," ucap Alisha masih tetap tersenyum. "Oh ya, Axel. Kata Ayah, Papa sama Mama kamu pulang ya hari ini?"
"Hmmm."
"Kapan sampainya?"
"Mungkin bentar lagi. Jam berapa sekarang?" tanya Axel. Ia tidak mengenakan jam di pergelangan tangannya. Ia juga malas mengeluarkan handphonenya yang sengaja ia simpan di tas.
"Kurang 30 menit jam 12," jawab Alisha.
"Makan dulu."
"Ayo!"
Bukan. Bukan Alisha yang menjawab Axel, melainkan Hardi. Laki-laki itu dengan semangat menyahut ucapan Axel.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Axel meraih tangan Alisha dan membawa gadis itu pergi. Hardi tersenyum tipis, lalu mengikuti dua sahabatnya itu.
Ia memilih berjalan di sebelah Axel. Hari ini, ia begitu bahagia. Dia tidak ingin bahagianya hilang karena mengusik Axel.
"Kamu kayaknya bahagia banget, Di," ucap Alisha setelah mereka tiba di parkiran.
"Jelas bahagia lah, Sha. Hari ini hari terakhir ujian."
"Ck. Kam—"
"Lihat sini," ucap Axel tiba-tiba, sambil menarik lembut wajah Alisha agar menatapnya. Ia meraih helm dan memakaikan pada gadis itu.
Hardi yang melihatnya berdecak sambil memutar bola matanya. Axel kalau mau romantis-romantisan sama Alisha tidak perlu di depannya. Lama-lama kesal juga dia.
"Ekhm! Sekarang kita mau kemana?" tanya Hardi.
"Cafe."
"Jemput om Arya sama tante."
Axel dan Alisha berucap bersamaan. Hardi yang mendengarnya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Mana yang harus ia pilih? Ikut Alisha atau ikut Axel?
"Ini... Mana yang bener? Jemput om Arya sama tante, atau ke cafe?"
"Cafe dulu, baru jemput Mama Papa," ucap Axel.
Alisha dan Hardi mengangguk setuju dengan ucapan Axel. Mereka kemudian sama-sama ke cafe. Axel bersama Alisha, sementara Hardi sendiri. Mereka sama-sama menuju cafe yang Axel maksud.
Saat sampai, ketiganya berjalan beriringan memasukia cafe. Alisha dan Axel duduk bersebelahan, dan Hardi, ia duduk menghadap Axel. Hardi memesan untuknya, Axel dan Alisha.
"Om sama tante pulang kenapa?" tanya Hardi pada Axel. Laki-laki remaja itu hanya mengedikkan bahunya, tanda tak tahu.
__ADS_1
"Emang harus ada alasan ya kalau mau pulang?" tanya Alisha, membuat Axel dan Hardi sama-sama menoleh pada Alisha.
Hardi kembali menggaruk-garuk keplanya. "Yaa... Nggak gitu," ucap Hardi.
"Oh ya Hardi, aku nggak sempat nanya waktu itu," ucap Alisha.
"Apa?" tanya balik Hardi.
"Waktu itu, kamu kenapa nggak ikut anter Yana?"
Wajah Hardi langsung berubah datar. "Sahabat nggak akan ninggalin sahabatnya dalam keadaan apapun," ucap Hardi.
Alisha langsung bungkam. Sementara Axel, laki-laki itu menatap Hardi dengan sorot yang tak bisa dipahami siapapun selain dirinya.
"Permisi, ini pesanannya." Seorang pelayan cafe yang membawa pesanan sedikit memecah suasana aneh tersebut.
"Terima kasih," ucap Alisha sambil tersenyum pada pelayan tersebut. Namun, senyumnya seketika memudar saat matanya menangkap pelayan wanita itu tak henti-hentinya melirik Axel dan Hardi dengan lirikan genitnya.
"Ekhm! Matanya dijaga kak. Mereka berdua udah punya istri," ucap Alisha yang sontak membuat Axel dan Hardi menatapnya. Begitu juga dengan si pelayan. Perempuan itu menatap Alisha, lalu Axel dan Hardi dengan pandangan bingung.
"Ta-tapi... Mereka masih pakai seragam SMA," ucap wanita itu.
"Sekarang nikah muda bukan sesuatu yang aneh, Kak," jawab Alisha santai. Axel dan Hardi hanya mendengarnya dengan kening berkerut, masih belum paham maksud Alisha berbicara seperti itu.
"Mereka kan masih SMA. Saya nggak percaya. Masa nggak dikeluarin dari sekolah?"
"Di rahasia in,"
"Jangan bohong kamu!" ucapnya sedikit membentak. Axel dan Hardi sontak melempar tatapan tajam pada perempuan itu. Membuat perempuan itu meneguk ludahnya. Tapi, rasa tidak percayanya memaksanya mengabaikan tatapan tersebut.
"Saya nggak percaya! Kalau benar, mereka pasti dikeluarin dari sekolah?"
"Kakak denger nggak sih aku bilang? Pernikahannya kan di rahasia in. Nggak mungkin di keluarin dari sekolah."
"Terus, kalau mereka udah menikah? Kenapa kamu sama mereka? Mau jadi cewek nggak bener? Mau jadi jal—"
Tak!
Axel membanting senduk di meja lalu berdiri, membuat pelayan itu berhenti berbicara. Axel menatapnya tajam.
"Jaga mulut lo!" ucap Axel begitu dingin. Membuat semua pengunjung yang sejak tadi memperhatikan mereka ikut merasakan suasana mencekam tersebut, layaknya mereka adalah si pelayan.
"Tap—"
"Ada apa ini?" Suara seorang laki-laki tedengar. Si pelayan langsung menolehkan wajahnya saat mengenali suara itu. Berbeda dengan Axel yang masih menatap tajam pelayan itu. Sementara Hardi dan Alisha dengan suara berbisik membujuk Axel untuk duduk.
Si pemilik suara, laki-laki bertubuh pendek dengan perut yang sedikit buncit itu menghampiri mereka.
"Ada ap—"
Deg!
__ADS_1
Sontak ia meneguk ludahnya saat melihat siapa yang sedang berdiri dan menatap tajam pelayan cafe nya. Matanya mengarah pada dua orang yang sedang duduk. Ia semakin membelalakkan matanya saat melihat gadis cantik itu.
Laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya. "Tu-tuan muda Axel, no-nona muda Grisam, tu-tuan muda Hardi," ucapnya sedikit gagap. Perasaannya langsung berubah kacau. Ketiga anak SMA itu adalah orang berpengaruh dalam kelancaran bisnisnya.
Mendengar kata "Grisam" keluar dari mulut laki-laki itu, si pelayan maupun pengunjung cafe tertegun. Siapa yang tidak kenal keluarga Grisam? Tangan pelayan tersebut sampai gemetaran memikirkan jika gadis yang dicecarnya adalah nona muda keluarga Grisam.
Selain itu, ada juga rasa penasaran mereka tentang kedua laki-laki remaja tersebut. Siapa mereka sampai si pemilik cafe menundukan kepalanya.
Sementara Axel, remaja itu menyeringai. Lalu sedetik kemudian, tatapannya berubah datar menatap laki-laki tersebut.
"Kau pemiliknya?" tanya Axel bersikap formal.
"Iya, tuan."
"Tutup saja!" ucap Axel yang sontak membuat laki-laki itu mendongak. Tapi, Axel tidak peduli. Dia malah berbalik menatap Alisha dan Hardi.
"Ayo pulang!" lanjutnya pada Alisha dan Hardi.
"Tuan. Tuan muda Axel. Tuan, jangan berkata seperti itu." Laki-laki itu berdiri semakin dekat pada Axel. Axel tak peduli. Ia malah meraih tangan Alisha dan menggenggamnya erat.
"Nona muda. Tolong, jangan sampai tuan Gara tahu apa yang terjadi. Tuan pasti sangat marah. Tuam muda Hardi. Tolong, jangan beritahu Papa anda. Saya masih membutuhkan dia sebagai investor," ucapnya menatap bergantian Alisha dan Hardi.
"Saya tidak bisa menjamin, Paman. Coba paman lihat keluar," ucap Alisha, membuat si laki-laki menoleh ikut arah pandang Alisha. "Lihat dua orang yang merokok itu? Mereka pengawal Ayah," ucap Alisha santai.
Si laki-laki pemilik cafe tidak bodoh apa maksud Alisha. Keringat mulai membasahi tangan dan keningnya.
"No-nona, saya masih ingin cafe ini, Nona." Laki-laki itu lalu menatap Hardi. "Tuan muda Hardi, tolong jangan biarkan Papa anda berhenti manjadi investor," ucapnya, kemudian menatap Axel.
"Tuan muda Axel, jangan putuskan kerja sama kita. Saya akan memberi pelajaran pada pelayan ini, tuan."
"Saya tidak akan memutuskan kerja samanya. Anda jangan terlalu banyak berpikir," balas Axel datar.
"Paman juga tidak perlu memberi pelajaran padanya. Cukup beritahu dia, jaga mulut, jaga ucapannya," ucap Hardi sambil melirik sinis pada pelayan tersebut.
"Iya Paman. Minta juga dia agar tidak genit pada pelanggan laki-laki," lanjut Alisha.
"Iya, baik. Saya akan melakukannya."
"Kalau begitu, kami pergi dulu ya. Nggak jadi makan disini," ucap Alisha dengan senyum cerianya.
Axel mengeluarkan beberap lembar uangnya lalu meletakkannya di meja. Ketiga remaja itu kemudian bergegas pergi.
"Ck. Ngerusak suasana," ucap Alisha dengan ekspresi cemberutnya yang lucu. Membuat Hardi dan Axel mengulas senyum tipis melihatnya.
"Nggak apa-apa kali Sha. Kesel juga gue sama si pelayan itu," ucap Hardi.
"Mau mampir makan ke tempat lain?" tanya Axel. Tangannya terangkat menyingkirkan anak rambut di wajah Alisha.
"Eemm... Nggak usah deh. Kita langsung jemput om sama tante aja ya? Setelah itu, kita makan sama-sama bareng om sama tante."
"Nah, gue juga setuju," sahut Hardi.
__ADS_1
"Ya udah. Ayo!"
Ketiga remaja itu kemudian berangkat menuju bandara, menjemput Papa dan Mama Axel.