Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 25


__ADS_3

Darrel sudah berada di tempat berlangsungnya lomba. Namun, pikirannya masih tertuju pada hotel, tepatnya pada Aurel. Waktu melukis selesai, membuat Darrel tersadar dari pikirannya.


Darrel dan beberapa penilai mulai menilai tiap lukisan. Mata Darrel langsung tertuju pada satu lukisan.


"Dari semua lukisan, ku rasa ini yang paling bagus. Ini juga yang paling rapih. Pemandangannya terlihat nyata." Ucap Darrel, memperhatikan lukisan dengan pemandangan desa dan bukit-bukit kecil yang mengelilinginya. Warna hijaunya dan air terjun yang mengalir begitu menyegarkan mata.


"Ya, aku setuju denganmu anak muda." Ucap seorang penilai, yang Darrel tebak usianya sekitar 60-an.


Dua penilai lainnya juga setuju. Mereka mulai memilih dan memberi nilai untuk beberapa lukisan lagi untuk maju ke babak sepuluh besar.


Pembawa acara mulai mengumumkan peserta yang maju ke babak sepuluh besar, dengan menyebutkan nomor peserta dan nilai dari lukisan mereka. Hingga tiba pada pelukis dengan nilai tertinggi.


"Peserta dengan nilai tertinggi, diarih oleh perserta dengan nomor peserta 091."


Seorang gadis berjalan ke atas panggung saat mendengar nomor pesertanya disebut. Senyum mengembang terlihat di wajahnya saat stiker bintang menempel di nomor pesertanya sebagai tanda dia maju ke babak 10 besar. Setelah itu, mereka semua akan memperoleh pemenang dari lomba tersebut.


Semua yang hadir, termasuk para peserta dan penilai memberikan tepuk tangan untuknya. Kecuali Darrel. Lelaki itu sudah menghilang ke toilet sebelum pemilik nilai tertinggi itu di umumkan.


"Selamat, ya." Ucap pembawa acara pada gadis itu. Dia mengangguk, lalu bergabung bersama peserta lain yang masuk 10 besar.


"Baiklah. Karena waktu makan siang sebenatar lagi, mari kita istirahat sejenak. Selepas itu, kita akan melanjutkan lombanya untuk mengetahui pemenang sesungguhnya dari lomba ini."


Setelah pembawa acara mengumumkan perlombaan yang akan di lanjutkan setelah makan siang, satu persatu keluar dari aula besar itu.


Begitupun dengan para penilai. Darrel yang baru dari toilet juga ikut menuju tempat makan. Sudah di sediakan ruangan bagi para penilai untuk makan siang mereka. Sedangkan para perserta, mereka menggunkan ruangan luas, bisa dikatakan seperti kantin sebagai tempat mereka untuk makan siang.


"Dia memang hebat. Dari 100 peserta yang ikut, dialah orang yang memiliki nilai tinggi pertama." Ucap salah seorang peserta yang sedang berjalan menuju kantin bersama temannya.


"Ya. Dia memang pantas mendapatkan nilai terbaik. Lukisannya benar-benar sangat bagus." Timpal temannya.


Darrel yang berada di belakang mereka terus mendengarkan percakapan dua peserta tersebut. Dia jadi penasaran dengan orang yang mereka sebut.


Setelah makan siang selesai, sepuluh peserta yang lolos kembali bersaing untuk memperoleh nilai terbaik dan keluar sebagai pemenangnya.


Jarum jam terus berputar, hingga tibalah waktu yang di tentukan. Sepuluh peserta meninggalkan lukisan mereka, membiarkan para penilai menilainya.


Darrel dan yang lainnya mulai melihat kesepuluh lukisan tersebut.


"Ini lukisan dari peserta nomor 091."


Semua penilai melihat ke lukisan tersebut.

__ADS_1


Deg...


Darrel tercengang melihat lukisan seorang gadis yang ia kenal.


"Asya?" Gumamnya, sangat pelan.


Ia melihat ke arah wanita yang menunjukkan lukisan tersebut.


"Siapa yang melukis ini?" Tanya Darrel.


"Tidak tahu, tuan. Saya hanya bertugas untuk memperlihatkan lukisan ini. Yang lebih tahu jelasnya adalah tim pengawas dan tim pendaftar." Jawab wanita tersebut.


"Lukisan ini sangat indah. Dia seperti peri penyelamat gadis kecil itu. Senyumannya juga sangat menawan."


"Mungkinkah gadis cantik seperti dalam lukisan ini ada?"


"Entahlah. Aku rasa, pelukis pernah mengalami hal serupa dengan gadis yang ditolong itu. Hingga dia mengekspresikan dengan sangat baik dalam lukisan ini."


"Ya, kau benar. Lukisan ini pasti mahal saat dijual."


Darrel hanya terdiam mendengar puji-pujian yang terlontar dari mulut para penilai itu. Dia terus memandangi lukisan yang dimana ada Asya yang mengenakan gaun putih layaknya seorang peri penolong, sambil tersenyum cantik pada gadis kecil. Tangan Asya terulur mengusap rambut gadis kecil itu yang membuat gadis kecil itu balas tersenyum padanya.


Dia pasti orang yang pernah melihat Asya. Atau, pernah dekat dengan Asya. Batin Darrel.


"Ah, ya?"


"Bagaimana menurutmu lukisan ini?"


"Perfect." Jawab Darrel membuat lelaki lanjut usia itu terkekeh.


"Sepertinya kau tertarik dengan lukisan ini."


"Ya. Aku akan membelinya."


Darrel menjawabnya singkat. Ia sudah memutuskan untuk membeli lukisan tersebut sejak pertama melihatnya. Bukan karena keindahannya atau apapun. Masalahnya adalah ini wajah Asya. Jika lukisan ini terjual pada orang lain, dan Darren mengetahuinya, dia tidak tahu apa yang terjadi, terutama pada pelukisnya. Di tambah lagi, acara ini di liput oleh salah satu perusahaan media cetak yang cukup terkenal di kota itu. Akan sangat mudah untuk Darren mengetahuinya.


Darren benar-benar tidak mengizinkan foto atau gambar Asya tesebar dan dilihat banyak orang. Bahkan di akun sosial media Asya saja tidak ada fotonya. Darren benar-benar melarang gadis itu menunjukkan fotonya ke publik. Dan Asya dengan patuh menurutinya. Karena itu, Darrel tidak ingin terjadi kekacauan.


Setelah penilaian selesai, saatnya pengumuman juara lomba. Lagi-lagi, Darrel dibuat terkejut dengan nama yang disebut sebagai juara pertama.


"Juara pertama lomba melukis diraih oleh peserta dengan nomor peserta 091, atas nama Aurelie Jasmin."

__ADS_1


Deg...


Apakah dia Aurel yang ku kenal?


Jantung Darrel berdetak dengan cepat saat mendengar nama Aurel disebut. Ia semakin yakin jika itu Aurel saat melihat gadis itu naik ke panggung dan menerima hadiahnya dari Pak Kariman. Matanya tak berkedip menatap gadis itu.


Pantas saja lukisan itu menggambarkan Asya dengan baik. Ternyata kamu pelukisnya. Tapi, sejak kapan kamu bisa melukis? Kamu menyembunyikan banyak hal dariku dan juga Jiyo dan Asya. Batin Darrel.


Setelah semuanya selesai, Darrel menuju salah satu ruangan di tempat tersebut. Dia sudah meminta salah satu pengurus acara untuk mempertemukannya dengan Aurel. Dia ingin membicarakan mengenai harga lukisan tersebut dengan si pelukis.


"Silakan masuk, nona. Tuan sudah didalam." Aurel mengangguk.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" Perintah masuk yang terdengar membuat Aurel mendorong pintunya. Ia terkejut melihat Darrel berada disana. Tapi, dengan cepat ia mengubah wajah terkejutnya menjadi tenang.


"Maaf, tuan. Apa tuan yang ingin membeli lukisan saya?"


"Jangan memanggilku tuan, Aurel."


"Saya disini untuk membicarakan tentang penjualan lukisan, bukan untuk yang lain." Ucap Aurel, mengerti maksud ucapan Darrel.


"Aurel..."


"Jika tuan tidak ingin membelinya, saya akan keluar. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya."


"Baiklah. Berapa harga yang kamu inginkan?"


"Kamu pandai melukis. Kamu tentu tahu berapa harga yang pantas. Jika kamu berniat membelinya, hubungi saja staff yang bertanggung jawab dalam penjualan. Karena saya berpartisipasi dalam lomba ini, dan lukisan saya terjual, maka mereka juga berhak menentukan harga."


"Baiklah."


"Jika tidak ada lagi, saya permisi."


Aurel berdiri dan hendak pergi. Namun, Darrel kembali menghentikannya.


"Aurel!"


Gadis itu meneguk ludahnya. Dia sudah begitu lama menjauh dan menyembunyikan diri dari sahabat-sahabatnya. Keteguhannya untuk tidak menjalin hubungan dengan mereka goyah saat bertemu Darrel kembali. Ingin rasanya ia berbaik dan memeluk Darrel. Memintanya membawa ia bertemu Asya dan Jiyo. Namun, ia tidak ingin menyusahkan mereka.


"Saya masih banyak pekerjaan. Saya permisi." Aurel langsung pergi dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

__ADS_1


Kamu menyembunyikan banyak hal dari kami. Akan aku pastikan, kali ini kamu tidak akan menghilang lagi. Kamu akan selalu ada dalam pengawasanku. Batin Darrel.


__ADS_2