Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 38


__ADS_3

Alisha sudah kembali bersekolah setelah istirahat sehari di rumah. Seperti biasa, dia bersiap di pagi hari dengan ceria. Ia hendak turun menuju ruang makan. Tapi, langkahnya terhenti di depan pintu kamar Darren.


"Hari ini, Kakak akan pergi bersama Kak Asya untuk meninjau lokasi. Semoga Kak Darren dan Kak Asya segera bisa bersama." Guamamnya. Ia lalu mengetuk pintu kamar Darren.


Tok... Tok... Tok...


"Kak, ini Alisha." Teriaknya, dan tak lama, pintu kamar Darren terbuka.


"Ada apa?" Darren bertanya lemut, lalu mengusap kepala Alisha.


"Kakak belum bersiap? Tidak berangkat kantor hari ini?" Tanya Alisha, berpura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu dari Asya. Dia mengirim pesan untuk ke rumah Asya setelah Asya pulang kantor nanti. Tapi, gadis itu mengatakan jika ia dan Darren akan pergi meninjau lokasi. Jadilah Alisha tahu jika Darren akan pergi hari ini.


"Kakak akan ke daerah B, untuk meninjau lokasi pembangunan proyek."


"Oh, menggunakan mobil?"


"Ya."


Daerah B sangat jauh. Butuh 6 jam untuk sampai kesana. Semoga ada hal baik yang menahan mereka disana. Dan hubungan Kakak sama Kak Asya juga semakin membaik.


"Oh ya, berapa hari Kakak disana?"


"Dua hari."


Alisha mengangguk. Ia kemudian turun menuju ruang makan. Tak lama, Darren juga turun dengan stelan santainya.


***


Setelah mengantar Alisha ke sekolah, Darren kembali ke rumah. Darrel sudah berangkat sejak Darren pergi mengantar Alisha.


"Kamu akan berangkat sekarang?"


"Iya, Bu."


"Apa semua kebutuhanmu sudah siap?"


"Hanya dua hari, nggak perlu bawa banyak." Balas Darren. "Aku ke kamar."


Alula mengangguk. Pendangannya terus mengawasi Darren hingga tubuh anak itu tak bisa dijangkau pandangannya lagi.


"Dia sangat mirip denganmu." Ucap Alula, duduk di samping Gara.


"Tentu saja. Dia putraku." Balas Gara, menarik tubuh Alula dalam dekapannya.


Alula terdiam tak membalas. Gara tersenyum melihat istrinya. Ia menunduk dan mengecup bibir Alula.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?"


"Mengecup bibirmu."


"Maksudku, disini banyak pelayan yang lewat. Dan... Bagaiamana jika Darren melihatnya?"


"Hmm... Kalau begitu, kita ke kamar saja."


"Darren belum berangkat."


"Jadi, setelah Darren berangkat, boleh?"


"Tidak."

__ADS_1


"Akkhhh... Aku sudah tidak sabar agar Darren cepat menyelesaikan urusannya di daerah B."


"Untuk apa?"


"Kamu lupa rencana yang ku buat bersama Edo, Gio dan Viko?"


"Hah? Rencana itu jadi?"


"Tentu saja. Tapi, kali ini Gio dan Viko tidak bisa. Anak-anak masih bersekolah."


Alula dan Gara menghentikan pembicaraan mereka saat mendengar derap langkah mendekat. Gara dan Alula menatap Darren yang berhenti di depan mereka. Lelaki itu mengenakan pakaian casual. Sangat tampan dan menawan.


"Kamu terlihat semakin tampan." Kalimat pujian keluar begitu saja dari mulut Gara.


"Semuanya ku dapatkan dari Ayah." Kalimat bernada datar itu mampu membuat Gara tersenyum. Ia mendekat dan mengusap kepala Darren seperti apa yang sering ia lakukan pada Alisha dan sesekali pada Darrel.


Darren terdiam. Ia merasakan persaan aneh. Tapi, begitu nyaman.


"Hati-hati. Perjalanan ke daerah B memakan waktu 6 jam. Beristirahatlah jika lelah. Jangan habiskan enam jam itu dalam sekali perjalanan. Keselamatan lebih penting. Terlebih kamu membawa seorang gadis."


"Baik, Ayah."


Alula tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak itu. Sejak kehadiran putra dan putrinya, Gara lebih banyak bicara dari biasanya.


"Selalu kabari kami. Jaga dirimu dan juga Asya." Alula memeluk putranya dan menjinjit mengecup kening lelaki itu. Darren menundukkan sedikit tubuhnya agar Alula bisa menjangkaunya.


Gara hanya menarik nafasnya melihat Alula mengecup kening Darren. Ingin ia menarik Alula dan menggagalkan aksinya mengecup kening Darren. Tapi, ia sadar. Dia tidak boleh posesif pada Alula saat berinteraksi dengan anak-anak mereka. Untung ini Darren. Jika Darrel, dia yakin sudah melampaui batas menahan diri untuk tidak meldak. Pasalnya anak itu akan sangat menjengkelkan dan memanasi Gara setelah mendapat perlakuan manis dari Alula.


"Kalau begitu, aku pergi." Gara dan Alula mengiyakan. Keduanya lalu mengantar Darren dan terus memperhatikan putra mereka hingga mobil yang dikendarai tak bisa dijangkau mata lagi.


Di rumah Asya, Edo dan Irene duduk bersama putri mereka di ruang tamu. Menemani Asya menunggu Darren menjemputnya.


"Apaan sih, sayang. Kamu nggak percaya sama Darren?" Kesal Irene.


"Ck. Bukannya nggak percaya, sayang. Darren itu putranya Gara, lho. Gara itu, dingin-dingin mesum. Siapa tahu Darren juga kayak Ayahnya."


"Ish. Kamu juga sama mesumnya." Balas Irene.


Asya yang melihat perdebatan kecil kedua orang tuanya pun terkekeh. Papanya itu selalu aneh-aneh.


"Papa nggak usah khawatir. Darren nggak kayak gitu. Darren selalu jagain Asya. Kalau Darren gitu, Asya masih bisa jaga diri. Lagipula, hal itu dilakukan seseorang pada pasangannya. Darren bukan pasangan Asya, jadi nggak bakal terjadi hal aneh-aneh seperti yang Papa pikirkan."


Edo dan Irene terdiam. Ada kesedihan yang mereka lihat dari mata Asya saat mengatakan 'Darren bukan pasangan Asya'. Tapi, gadis itu menutupinya dengan ketegaran yang terpancar di wajahnya.


Deru mobil yang berhenti membuat ketiga orang itu menghentikan obrolan mereka. Tak lama, terdengar pintu di ketuk. Asya beranjak dengan cepat dan membukakan pintu.


Deg...


Asya terpukau dengan penampilan Darren. Penampilan casualnya membuat Darren terlihat berbeda dari biasanya.


"Darren. A-ayo, masuk! Aku akan mengambil bawaanku."


Darren mengangguk dan mengekori Asya menuju ruang tamu. Dapat ia lihat Edo dan Irene disana.


"Paman, tante." Sapanya membuat kedua orang tua Asya mengangguk.


"Duduklah dulu, Darren." Ucap Edo.


"Ya." Darren duduk di sofa yang berseberangan dengan Edo dan Irene.

__ADS_1


"Kalian akan tinggal dua hari disana. Tolong jaga putriku baik-baik."


"Iya, Paman."


Asya mendekati mereka sambil menyeret kopernya. Darren yang melihatnya segera berdiri dan meraih benda itu dari tangan Asya.


"Biar ku bawa." Ucapnya. Asya tak membantah. Dia membiarkannya begitu saja.


Asya berpamitan dan memeluk kedua orang tuanya. Mereka berjalan keluar. Darren memasukkan koper Asya ke bagasi mobil.


"Tante titip anak tante ya, Darren."


"Iya,"


"Kami berangkat dulu, Ma, Pa." Ucap Asya.


"Hati-hati." Balas Edo dan Irene.


***


Mobil melaju santai melewati jalanan yang sedikit lenggang. Belum ada pembicaraan sama sekali antara Darren dan Asya. Darren fokus menyetir dan Asya sibuk dengan handphonenya.


Darren melirik pada Asya sekilas. Keningnya mengerut. Ada perasaan tidak suka saat mendapati Asya tersenyum ketika mengetikkan sesuatu di handphonenya.


"Siapa?" Pertanyaan Darren membuat Asya menoleh.


"Hmm?" Dengan tatapan polosnya, Asya berdehem seolah bertanya, 'Ada apa?'.


Darren diam. Tidak ingin bersuara lagi. Entahlah, ia merasa Asya seperti mengabaikannya. Pertanyaannya saja tidak Asya dengar dan balik bertanya.


Asya yang paham dengan keterdiaman Darren pun menarik nafas. Ia melirik handphonenya sekilas.


"Aku bertukar pesan dengan Aurel." Jelasnya.


"Hmm..." Hanya deheman yang Asya dapat.


Asya lagi-lagi menarik nafasnya. Ia mengakhiri pesannya dengan Aurel, lalu memasukkan handphonenya ke dalam tas.


"Darren,"


"Hmm..."


"Kamu marah?" Darren bungkam, tidak ingin menjawab.


"Ya sudah. Lebih baik aku tidur saja." Asya melipat tangannya sambil cemberut. Ia kemudian bersandar dan memejamkan mata. Namun, ucapan Darren membuat ia kembali membuka matanya.


"Aku nggak marah." Ucap Darren, cepat.


Asya menahan senyumnya. Ia sangat senang mengerjai Darren seperti ini.


"Aku tetap mau tidur." Balas Asya, kembali menutup matanya.


"Ini masih cukup pagi."


"Nggak masalah. Aku tidur larut semalam. Jadi, masih mengantuk."


Darren terdiam sejenak, lalu mengulur tangannya, menepuk-nepuk pelan kepala Asya.


"Tidurlah."

__ADS_1


Asya tersenyum senang dalam hatinya. Nyaman sekali diperlakukan seperti itu oleh Darren. Hingga tanpa sadar, ia benar-benar tertidur.


__ADS_2