
Darren memarkirkan mobilnya di parkiran Yunanda Group. Saat dirinya tiba di lobi perusahaan, ia mendapati Asya yang berjalan bersama Hendra sambil tertawa kecil menanggapi perkataan Hendra.
Tubuhnya terpaku. Sama halnya dengan Asya. Saat melihat Darren berdiri tak jauh di depan mereka, dia terdiam di tempat. Kakinya seolah tidak bisa melangkah. Mata mereka saling bertubrukkan. Jatung Asya berdetak dengan cepat.
Darren melirik Hendra. Lelaki itu tersenyum miring, seolah mengatakan, jika dia berhasil.
Darren mendekat. Ia berdiri di dekat Asya dan menarik tangannya.
"Ikut aku!" Ucapnya datar.
"Lepas!" Asya menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Darren. Darren sedikit terkejut dengan respon Asya. Dia menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
"Ayo, Kak!" Asya mengabaikannya dan menarik tangan Hendra, menjauh dari Darren.
Darren tak mengejar. Dia hanya berdiri dengan tatapan jatuh pada tangan Asya yang menggenggam tangan Hendra. Jantungnya berpacu dengan cepat. Dia marah. Tapi, ada perasaan yang lebih menyakitkan dari rasa marahnya. Perasaan sakit saat Asya mengabaikannya.
***
Darren kembali ke kantornya. Meskipun wajahnya datar tanpa ekspresi, Darrel dan Jiyo yang menunggunya di ruangannya merasakah hal berbeda dari lelaki itu. Tapi, mereka belum berani bertanya.
Darren menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia bersandar sambil menengadahkan kepalanya dan menutup mata.
Darrel dan Jiyo saling pandang. Dan pada akhirnya, Darrel yang bertanya.
"Darren. Kamu kenapa?"
"Aku lelah."
Darrel dan Jiyo sama-sama melototkan mata mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar kata lelah keluar dari mulut Darren.
"Jam berapa sekarang, Jiyo?"
"Jam 1, tuan."
Apa dia selelah itu? Bahkan untuk melihat jam yang melingkar di tangannya? Batin Jiyo.
"Aku akan istirahat. Jangan ganggu aku meski waktu pulang tiba." Ujar Darren, bangun dan menuju ruang istirahatnya.
Darren dan Jiyo hanya bisa menarik nafas mereka. Tidak tahu harus melakukan apa dengan suasana hati Darren yang menurut mereka cukup buruk.
"Ayo, kita keluar saja!"
"Ya, kau benar." Darrel dan Jiyo bergegas keluar dari ruangan Darren.
***
Jarum jam berputar dengan cepat. Sesuai yang Darren katakan, Darrel dan Jiyo pulang tanpa mengganggu Darren yang sedang beristirahat di kamar dalam ruangannya.
Darren terbangun ketika jarum jam menunjukkan angka 7 malam. Keadaan perusahaan sudah begitu sepi. Darren meregakkan tubuhnya sejenak, lalu meraih handphonenya. Berharap ada pesan dari Asya. Namun, dia harus menelan kekecewaan karena tidak ada satupun notifikasi yang berasal dari gadis itu.
"Apa kamu menghabiskan makan siangmu dengan Hendra?" Darren bergumam sambil menuliskan ucapannya itu untuk ia kirim pada Asya. Namun, dia menghapusnya kembali.
"Aku akan menemuimu sekarang."
Darren bergegas keluar. Saat tiba di parkiran, ia langsung memasuki mobilnya. Ketika Darren melajukan mobilnya di jalan raya, beberapa motor mengikutinya, lalu menghadangnya di jalanan sepi. Darren turun dari mobilnya dan menghadapi mereka.
"Saya tidak segan menabrak jika kalian tidak menepi." Ujar Darren, dingin.
"Serang!" Perintah seorang lelaki, yang merupakan pemimpin keempat motor tersebut.
Mereka mengelilingi Darren. Enam orang, melawan satu orang. Darren begitu tenang. Matanya menatap mereka satu persatu, kemudian bergerak melawan saat mereka menyerangnya.
Darren cukup mudah melawan mereka. Namun, saat dirinya fokus pada lima orang, seorang datang dan melukai lengannya menggunakan pisau. Membuat jas dan kemeja yang ia kenakan sobek, begitupun lengannya. Darah keluar membasahi lengan kemeja dan jasnya.
Darren marah. Ia berbalik, dan merebut pisau dari lelaki itu, mengakibatkan telapaknya juga terluka. Darren memukul dan menendangnya. Ketakutan menyelimuti orang-orang itu, hingga mereka memutuskan untuk pergi. Tapi, Darren cukup cepat menjangkau salah satu dari mereka.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Darren.
"Kau tak perlu tahu!"
"Ku patahkan lehermu!" Gertak Darren. Mengencangkan tangannya yang memelintir leher orang itu.
"Shh... Ja-jangan." Ucapnya. Dia melihat teman-temannya yang sudah menjauh. "Ka-kami disuruh tuan Dra."
Huh. Ternyata Hendra.
__ADS_1
Darren lalu mendorong orang itu hingga tersungkur. "Pergi!" Perintahnya, membuat orang itu bangun dan tergopoh-gopoh menaiki motornya dan menjauh.
Darren menatap lengan dan telapak tangannya yang terluka. "Kau akan membayarnya nanti." Gumamnya, lalu memasuki mobilnya.
Darren melirik handphonenya. Ada pesan dari Alisha dan Ibunya.
Ibu
Setelah bangun, langsung pulang, nak.
Alisha
Kak, jangan tidur di gedung besar sepi itu sendirian. Menyeramkan.
Gara
Segera pulang, jika sudah cukup istirahatnya.
Darren tersenyum kecil membaca pesan-pesan itu. Namun, ia tidak bisa menuruti mereka. Dia akan buat kehebohan jika pulang dalam keadaan terluka seperti itu. Darren mengirim balasan pesan pada ketiganya.
^^^Darren^^^
^^^*Aku menginap di apartemen.^^^
^^^Jangan khawatir*.^^^
Setelah itu, dia hendak menyimpan handphone tapi ia hentikan. Dia teringat akan Asya. Darren menyalakan kembali handphonenya dan memotret lengan dan tangannya yang terluka, lalu mengirimkannya pada Asya. Biarlah dia menjadi tidak tahu malu seperti ini.
^^^Darren^^^
^^^Bantu aku mengobatinya.^^^
Setelah mengirim foto dan pesan itu Darren menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Jaraknya saat ini ke apartemennya cukup dekat. Sekitar 5 sampai 8 menit.
Ting... Bunyi notifikasi membuat Darren dengan cepat melihatnya. Senyum terukir di bibirnya saat membaca pesan balasan dari Asya.
Asya
Dimana kamu sekarang?
^^^Darren^^^
Asya
Di lantai dan unit keberapa?"
^^^Darren^^^
^^^*Aku akan meminta seseorang^^^
^^^menunggumu*.^^^
Asya
Kamu sangat yakin jika aku datang?
Darren hanya tersenyum saat membaca pesan itu. Tanpa membalas, Darren meletakkan handphonenya dan melajukan mobilnya menuju apartemen.
Asya bergegas mengganti baju tidurnya dengan celana panjang dan hoodie. Ia meraih kunci dan bergegas keluar. Edo dan Irene sedang menonton bersama di ruang keluarga.
"Pa, Ma. Asya keluar sebentar, ya?"
"Mau kemana?" Tanya Irene.
"Ke apartemen Darren." Jawab Asya, jujur.
"Hah? Untuk apa ke apartemen Darren malam-malam? Nggak boleh!" Ucap Edo. Irene melirik suaminya dengan kesal. Bukan karena dia melarang Asya, melainkan suara Edo yang cukup memekakan telinga.
"Sayang, kecil kan suaramu." Kesal Irene.
"Maaf, sayang. Tapi, ini masalah serius. Apa yang orang pikirkan saat kamu menghampiri apartemen seorang laki-laki di malam hari?"
Asya terdiam. Apa yang Papanya katakan ada benarnya. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan perasaannya yang begitu khawatir dengan kondisi Darren.
"Darren terluka, Pa. Ini fotonya." Asya memperlihatkan foto yang Darren kirimkan. Edo dan Irene tertegun dan menjadi ikut khawatir dengan anak itu.
__ADS_1
"Darren nggak biasanya seperti ini. Jika dia di apartemen, berarti dia menghindari orang rumahnya untuk tahu apa yang menimpanya." Edo dan Irene mengangguk setuju.
"Huufth... Baiklah. Ayah izinkan. Tapi, jangan sampai macam-macam."
"Nggak akan. Asya janji."
"Mama, boleh kan?"
"Iya, sayang. Hati-hati." Asya mengangguk kemudian meninggalkan kediamannya dan pergi menuju apartemen Darren.
Darren berdiam diri di unit apartemennya tanpa berniat membersihkan lukanya. Dia duduk dengan tenang sambil membiarkan lukanya begitu saja.
Setelah cukup lama menunggu, pintu apartemennya diketuk. Dia tidak menjawab, tapi beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Asya masuk dengan wajah khawatirnya yang tak bisa ia sembunyikan.
Gadis itu duduk dan tatapannya jatuh pada lengan dan telapak Darren yang terluka.
"Ya, Tuhan. Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang melakukan ini?"
"Hendra." Jawab Darren tanpa menyembunyikannya.
Asya langsung mendongak menatapnya. Tatapannya seperti sebuah kemarahan. "Jangan asal menuduh tanpa ada bukti."
"Kamu sangat mempercayainya?"
"Sudahlah, Darren. Aku kesini hanya ingin membantu, bukan berdebat." Ucap Asya, membuat Darren terdiam.
"Buka jasmu."
"Bantu aku!"
Asya menatap tepat pada mata Darren. Ia menarik nafasnya. Tangannya terulur membantu Darren membuka jasnya. Kemudian, tangannya terulur melepas dasi yang Darren kenakan. Mata Darren tak terlepas dari wajah Asya. Senyum kecil muncul di wajahnya. Tak bisa ia pungkiri, jantungnya berdetak dengan cepat. Mungkin, Asya bisa mendengar detak jantungnya.
Hal yang sama terjadi pada Asya. Detak jantungnya berdegup kencang. Dia gugup, namun berusaha untuk tenang. Saat tangannya hendak membuka kancing kemeja Darren, ia menghentikannya. Ia ragu melakukannya.
"Apa kamu punya gunting?" Tanya Asya, saat mendapatkan ide mengobati Darren tanpa melepas kemejanya.
"Nggak ada gunting." Balas Darren, datar.
Asya lagi-lagi menarik nafas. "Ya sudah, lepaskan kemejamu!"
"Bagaimana aku melakukannya?"
Ya, bagaimana Darren melakukannya? Lengan kirinya terluka. Telapak tangan kanannya juga terluka. Bagaimana ia melakukannya. Terpaksa Asya harus membantunya.
Asya menundukkan kepala seraya tangannya bergerak melepas satu per satu kancing kemeja Darren. Pipinya bersemu merah. Darren lagi-lagi mengulas senyumnya. Ingin sekali ia mencium pipi Asya yang memerah. Dan entah dorongan dari mana, Darren semakin mendekatkan wajahnya pada pipi Asya.
Saat jarak mereka cukup dekat dan kesempatan Darren semakin besar, Asya tiba-tiba mengangkat wajahnya. Darren dengan cepat menarik wajahnya menoleh salah tingkah ke arah lain.
"Kenapa pipimu memerah? Apa lenganmu sangat sakit?"
"Tidak."
Apa hubungannya lengan dengan pipi? Batin Darren.
"Kamu demam?" Asya menyentuh jidatnya, namun tidak terasa panas sama sekali. "Kamu nggak demam." Guman Asya.
"Disini panas."
"Benarkah? Tapi, aku nggak merasa panas. Sudahlah, aku akan nyalakan AC. Oh ya, dimana kotak p3k nya?" Ucap Asya, lalu bergegas berdiri.
"Bagaimana dengan ini?" Darrel menunjuk pada kemeja yang semua kancingnya sudah terlepas, tapi masih melekat di tubuhnya.
Asya meringis pelan. Ia lupa melepasnya. Bagaimana ia bisa mengobati lengan Darren jika tidak melepas kemejanya.
Asya segera membantu melepas kemeja Darren. Wajahnya kembali memerah saat melihat tubuh berotot Darren. Dia segera memalingkan wajahnya, malu.
"A-aku a-akan mengambil kotak p3k." Asya segera berbalik. Darren tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat Asya yang salah tingkah.
"Apa kamu tahu tempatnya?" Pertanyaan Darren membuat Asya berhenti dan berbalik menatapnya.
"Dimana?"
"Pergilah ke dapur. Kamu akan menemukannya disana."
"Baiklah." Asya segera ke dapur sesuai yang dikatakan Darren. Sementara Darren, ia tersenyum sambil menatap telapak dan lengannya yang terluka.
__ADS_1
Ternyata, ada baiknya juga aku terluka. Batin Darren.