
Senyum mengembang tak pernah pudar dari bibir Jiyo. Sambil menatap cincin pertunangannya dengan Nita, ia berbaring di kasurnya yang empuk.
"Nggak sabar nunggu 11 hari lagi pernikahan," gumamnya.
Tiga hari lalu, ia bersama sang Mama, Gara dan Alula juga Edo dan Irene mendatangi rumah Nita untuk proses lamaran. Hanya lamaran sederhana yang diminta Nita dan ibunya. Jiyo hanya menurut. Diterima Nita, dia sudah sangat bersyukur. Dia akan melakukan apapun yang penting Nita nyaman dengannya.
Keputusan nikah awalnya sebulan lagi. Namun, karena Jiyo yang bersikeras untuk segera menikah, akhirnya keputusannya diubah menjadi dua minggu.
Jiyo terbangun dan duduk di tepi ranjang. Tatapannya sekarang beralih dari cincin menuju handphonenya yang tergeletak di atas nakas. Ia lalu meraihnya.
"Jam segini, Nita udah tidur belum ya?" gumam Jiyo sambil menatap jam yang tertera di layar handphonenya.
"Ck. Coba dulu. Kalau udah tidur, nggak apa-apa. Besok masih bisa ketemu."
Jiyo segera melakukan vidio call. Sekali panggilan, tidak diangkat. Jiyo mengulangnya sekali lagi dan panggilannya terjawab.
"Selamat malam calon istri," ucap Jiyo menatap wajah Nita yang tampak di layar handphonenya.
Nita tertunduk malu sambil menahan senyum dengan pipi memerah.
"Angkat mukanya, dong. Aku nggak bisa lihat kalau kamu nunduk terus."
"Aku malu," jawab Nita.
"Malu kenapa? Bentar lagi juga sering ketemu. Tiap hari lagi."
Nita kembali tersenyum. Perlahan ia mengangkat wajahnya sampai Jiyo bisa melihatnya dengan jelas.
"Nah. Kalau ginikan enak. Aku bisa jelas lihat kamu. Apalagi kalau senyum, manis."
Nita terkekeh pelan. Ada-ada saja Jiyo ini.
"Kamu kenapa malam-malam gini vidio call nya?"
"Nggak kenapa-kenapa. Cuman mau ngetes, kamu udah tidur atau belum. Ternyata belum," ucap Jiyo. "Kenapa belum tidur?"
"Aku lagi nyelesai in dokumen yang kamu kasi kemarin."
"Nggak usah begadang. Aku minta dokumennya dikembaliin lusa. Kenapa harus buru-buru."
"Aku mau nyelesai in semua pekerjaanku, biar pas hari nikah nanti, nggak kepikiran sama pekerjaan," jawab Nita jujur.
Jiyo yang mendengarnya pun menahan senyum, kemudian meledek, "Cieeee... Yang mau nikah sama bos sendiri," ucapnya. Pipi Nita kembali memerah mendengar ledekan Jiyo.
__ADS_1
"Ish, kamu apaan sih! Aku matiin handphonenya!" ancam Nita.
"Eh, jangan! Aku masih mau ngomong sama kamu. Aku belum ngantuk."
"Katanya aku nggak boleh begadang,"
"Sekarang boleh. Tapi, khusus buat aku. Kalau soal yang lain, kamu nggak boleh begadang."
"Idih, ngatur."
"Ya pantas. Suami emang seharusnya ngatur istri. Dan tugasnya istri nurut sama kata suami."
"Masih calon, belum sah jadi suami istri."
Jiyo terkekeh mendengarnya. "Hehehe... Nggak apa-apa. Nggak usah pakai kata calon. Langsung aja suami istri." Nita menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah calon suaminya.
"Aku udah nggak sabar pengen cepat-cepat nikah," lanjut Jiyo. Nita hanya membalasnya dengan tersenyum. "Sebelas hari itu rasanya lamaaaa bangeeet," ucapnya.
"Hehehe... Kamu ada-ada aja. Menurut aku, sebelas hari itu rasanya bentar lagi. Nggak lama lagi aku bakal tinggalin Mama sendiri."
"Siapa bilang? Tante boleh ikut kesini. Tante nggak akan sendiri."
"Tapi—"
Nita terdiam dan kembali menunduk mendengar ucapan Jiyo. Dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Jiyo dan Mamanya sudah sangat baik padanya, bahkan sebelum ia menerima Jiyo mendekatinya dan masih berusaha menghindari Jiyo.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mendongak dan menatap Jiyo. "Makasih," ucapnya.
Jiyo tersenyum mendengarnya. "Nggak perlu terima kasih. Apapun urusan kamu, itu urusanku juga. Sudah seharusnya kita saling berbagi dalam keadaan apupun itu. Nggak boleh ada rahasia diantara kita, okey?"
Nita mengangguk. "Nggak akan ada rahasia diantara kita," ucapnya, membuat Jiyo lagi-lagi tersenyum.
"Ya udah. Sekarang, kamu tidur. Tapi, nggak usah mati in panggilannya. Aku mau temani kamu tidur."
"Aku nggak bisa tidur kalau ada yang lihatin," ucap Nita beralasan.
"Latihan, sayang. Kalau udah nikah, aku juga pasti lihatin kamu dulu kalau mau tidur."
"Aneh," ucap Nita yang membuat Jiyo terkekeh. "Mati in, ya?" mohon Nita.
Jiyo menghentikan kekehannya lalu menarik nafasnya. "Ya udah. Aku mati in panggilannya. Kamu tidur yang nyenyak."
"Iya. Selamat tidur," ucap Nita.
__ADS_1
"Selamat tidur."
***
Alisha terduduk diam dalam kelas sambil sesekali menatap kursi kosong yang semeja dengannya, lalu menatap kursi di meja yang ada di sebelahnya kanannya. Seharusnya tempat itu ditempati Nadia dan Yana. Tapi, kedua temannya itu menghilang.
Dua hari lalu, saat malam hari, dia mendapat pesan dari Yana. Gadis itu berpamitan untuk pindah ke luar kota. Dan esoknya ia benar-benar melihat supir yang sering menjemput Yana datang untuk mengurus kepindahan Yana. Ia merasa sendiri sekarang. Dua sahabatnya meninggalkannya.
"Nggak mau ke kantin?" tanya Axel.
Alisha menggeleng pelan. Tidak ada semangat di wajahnya. Alisha yang ceria menghilang entah kemana sekarang.
Axel menarik nafasnya lalu duduk di kursi kosong sebelah Alisha. Begitu juga dengan Hardi yang menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Alisha, dengan sedikit memberi jarak. Tatapan peringatan Axel membuatnya merinding.
"Mau gue beliin sesuatu buat lo... berdua?" tanya Hardi hati-hati. Dia tidak mau salah ngomong dan berakhir dihajar Axel. Melihat Axel memukul Iwan waktu itu, membuatnya bergidik sendiri dan tidak ingin mencari masalah.
Alisha kembali menggeleng. "Aku nggak punya teman lagi sekarang..." ucap Alisha lirih.
"Lho? Gue sama Axel?" sahut Hardi cepat, membuat Axel menatap tajam dirinya karena suaranya yang memekakan telinga.
"Maksud gue, gue sama Axel nggak lo anggap temen?" Hardi mengulang dengan memelankan suaranya.
"Kalian bukan perempuan. Maksud Alisha itu temen perempuan," ucap Alisha.
"Kita bisa jadi perempuan buat lo," ucap Hardi, asal ngomong. Ucapannya membuat Alisha menoleh, sementara Axel melotot padanya.
Hardi bodoh! Bagaimana kalau Alisha jadiin kita perempuan beneran? Batin Axel.
"Beneran kalian mau jadi perempuan?" tanya Alisha.
Hardi menenguk ludahnya dan dengan ragu mengangguk. Sedangkan Axel mengusap wajahnya dengan kasar.
"I-iya. Ki-kita bisa kok. Iya kan, Xel?" tanya Hardi.
Alisha yang ikut menoleh pada Axel membuat lelaki itu tidak bisa menggeleng. Dengan terpaksa dia mengangguk pelan. Entah apa yang akan Alisha lakukan, dia tidak tahu.
"Ck. Aku nggak percaya!" ucap Alisha membuat Axel dan Hardi bernafas lega.
"Tapi... Alisha penasaran gimana kalian kalau jadi perempuan."
Glek...
Axel dan Hardi sama-sama menenguk ludah. Habis sudah mereka. Pasti Alisha melakukan hal yang aneh-aneh. Sementara Alisha, ia tersenyum dalam hati. Sesekali mengerjai Axel dan Hardi nggak apa-apakan?
__ADS_1
Mereka pasti lucu kalau didandan jadi perempuan. Hehehe... Aku jadi nggak sabar. Batin Alisha.