Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 78


__ADS_3

Pesta kecil-kecilan ulang tahun Asya telah usai. Semua kembali ke kamar masing-masing. Jiyo, Axel, Darren, dan Darrel membentang karpet, tidur di ruang tengah. Kakek Zarfan dan Nenek Disa memilih menginap di hotel, begitu juga Nita, Gio dan Viko beserta keluarga masing-masing.


Darren terbangun, membuat Darrel, Jiyo dan Axel menatapnya.


"Mau kemana?" Tanya Darrel.


"Menemui paman Edo." Jawabnya, kemudian pergi begitu saja.


Darren berjalan menuju kamar Edo dan Irene. Dia mengetuk pelan pintu kamar itu.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa?"


"Darren, paman."


Edo segera menuju pintu dan membukanya. "Darren, ada apa?"


"Apa tante sudah tidur?"


"Belum. Dia di kamar mandi."


"Aku ingin berbicara sama Paman dan Tante."


"Ya. Masuklah."


Darren masuk dan duduk di sofa bersama Edo. Tak lama, Irene keluar dari kamar mandi.


"Darren?"


"Ya, tante."


"Sayang, kemari! Darren ingin berbicara dengan kita."


Irene mengangguk. Ia mendekati mereka dan duduk di samping Edo. Sementara Darren, dia duduk tegap di depan Edo dan Irene.


"Saya ingin meminta maaf pada Paman dan tante."


"Minta maaf?" Edo dan Irene berkata bersamaan.


"Ya. Saya ingin menikahi Asya, tapi saya terkesan seperti tidak menghormati Paman dan tante sebagai orang tua Asya. Saya minta maaf atas cara saya yang tidak sopan dalam meminta Asya menjadi istri saya. Saya larut dalam kemarahan Asya tadi. Rencananya, tidak seperti tadi."


Irene dan Edo terdiam. Mereka tahu bagaimana Darren. Sikapnya tadi, tidak membuat mereka marah, walaupun mereka sedikit tidak rela anak mereka yang bisa dibilang dilamar dengan cara yang tidak biasa. Tapi, mereka tidak menyangka Darren cukup peka dan meminta maaf atas kesalahannya. Sungguh di luar dugaan.


"Saya kesini juga, ingin meminta Asya dengan baik-baik pada Paman dan tante untuk menjadi istri saya."


Edo dan Irene saling memandang. Darren benar-benar membuat mereka sadar, ada sisi lain dari putra Gara itu yang tidak banyak orang tahu.


"Darren, Paman memaafkan mu. Paman juga merestui keinginanmu untuk menikahi putri paman. Jagalah putri paman. Kamu tahu, bagaimana sifat Asya. Paman harap, hal itu tidak membuat kamu risih padanya."


"Tante juga berharap kamu benar-benar mencintai Asya sepenuh hati kamu. Seperti perasaan putri tante pada kamu."


"Paman dan tante jangan khawatir. Aku benar-benar mencintai Asya."


"Ya. Paman percaya padamu."


"Terima kasih, Paman, tante. Kalau begitu, aku permisi."


"Ya."


Darren segera keluar dari kamar tersebut. Irene menyandarkan tubuhnya pada suaminya. Tangannya melingkar pada pinggang Edo.


"Aku tidak menyangka, Darren bisa peka seperti ini." Ucap Irene.


"Ya. Di balik sifat dinginnya, Darren memiliki sisi lembut yang tidak kita ketahui." Timpal Edo.


***


Setelah dari kamar calon mertuanya, Darren langsung menuju kamar Asya. Seulas senyum muncul saat ia tiba di depan kamar itu. Terdengar suara tawa Asya yang membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia juga mendengar suara tawa dua gadis lainnya, yang bisa ia tebak, itu adalah Aurel dan Alisha.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa?" Terdengar suara Alisha yang menyahut.


"Darren."

__ADS_1


"Kak Darren?"


"Hmm."


"Ada apa, Kak?"


"Kakak mau bicara sama Asya."


"Eem, Kak Asya udah tidur, Kak."


"Jangan berbohong. Kakak mendengar suara tawanya tadi."


"Eee... Kak Asya, nggak mau ngomong sama Kakak."


"Baiklah. Aku akan tetap disini dan terus mengetuk pintunya." Ucap Darren.


Asya, Aurel dan Alisha saling pandang. Akan sangat berisik jika Darren terus mengetuk pintu. Asya merasa kasian pada Aurel dan Alisha jika mereka tidak bisa tidur.


Asya menarik nafasnya, lalu turun dari ranjang. Ia mendekati pintu yang terus diketuk Darren dan membukanya.


"Ada apa?" Tanya Asya, menoleh acuh ke arah lain.


Darren tak menjawab. Ia meraih tangan Asya, dan mengajaknya pergi. "Ayo, ikut aku!"


"Nggak mau." Asya mencoba menghentakkan tangannya yang ternyata benar-benar terlepas dari genggaman Darren.


"Asya..."


"Pergilah! Aku mau masuk." Belum sempat gadis itu berbalik, Darren langsung menggendongnya.


"Eh. Darren, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku."


"Kecilkan suaramu, yang lain akan bangun jika kamu berteriak seperti ini."


"Darren!"


Lelaki itu tak peduli. Ia tetap saja menggendong Asya dan membawanya menuju halaman samping.


"Darren! Turunkan aku!"


Darren pun benar-benar menurunkannya saat tiba di halaman samping. Tepatnya di dekat kursi panjang.


"Aku mau kamu."


"Aku nggak peduli. Aku mau ke kamar." Ujar Asya. Gadis itu berbalik dan hendak melangkah. Namun, gerakan Darren lebih cepat. Lelaki itu langsung memeluk Asya dari belakang.


"Maafkan aku." Bisiknya pelan pada Asya, membuat gadis itu terdiam. "Aku nggak bermaksud membuatmu khawatir. Aku hanya ingin memberikan kejutan untuk mu. Aku minta maaf."


Asya hanya terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku benci kamu, Darren."


"Tapi, aku cinta kamu."


Asya tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia berbalik dan langsung memeluk Darren. Air matanya terus jatuh, bahkan membasahi baju yang Darren kenakan.


"Lain kali, jangan berbohong lagi mengenai kecelakaan atau apapun yang terjadi padamu. Aku sangat cemas. Aku sangat takut kehilangan mu. Aku belum siap kehilangan kamu, Darren."


Darren semakin memeluk Asya. Ia mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali. "Aku nggak akan mengulanginya. Maafkan aku."


Asya hanya mengangguk dalam dekapan Darren. Lelaki itu lalu melonggarkan pelukannya. Ia menangkup wajah Asya dan mengusap air mata gadis itu.


"Asya, mau kah kamu menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku selamanya, dan menjadi ibu dari anak-anakku?"


Air mata Asya semakin banyak terjatuh, bersamaan dengan senyum yang terukir di bibirnya. Dengan perlahan, ia menganggukkan kepalanya. " Iya, aku mau menjadi istrimu."


Senyum mengembang terukir di bibir Darren. Lelaki itu kembali memeluk Asya begitu erat. Dia lagi-lagi mencium puncak kepala Asya berkali-kali.


"Sekarang, ayo aku antar kamu kembali ke kamar."


Asya mengangguk lalu keduanya pergi bersama menuju kamar Asya. Saat tiba di depan kamar, Darren kembali mengecup kening Asya.


"Selamat tidur." Ucap Darren.


"Selamat tidur juga." Balas Asya, lalu masuk kamar.


Darren kembali ke ruang tengah. Darrel, Jiyo dan Axel sudah tertidur. Ia mengmbil tempat di samping Darrel. Tak lama, ia juga ikut terlelap.

__ADS_1


***


Semua orang mulai kembali ke rumah masing-masing. Asya kembali ke rumahnya bersama Mama dan Papanya. Awalnya Darren ingin mengantar Asya. Namun, persyaratan Edo semalam membuatnya menghentikan niatnya.


Asya turun mobil dan berjalan memasuki rumah sambil bergandengan dengan Ibunya. Edo juga berjalan di samping Irene. Saat pintu terbuka, mereka dikejutkan dengan sambutan meriah dari para pekerja di rumah mereka.


"Selamat ulang tahun, nona." Ucap para tiga wanita yang bekerja sebagai pelayan dan dua orang lelaki yang bekerja sebagai keamanan dan tukang kebun.


Asya tersenyum cerah. Ia tak menyangka mendapatkan kejutan seperti ini lagi. Seorang pelayan menyodorkan kue dengan lilin yang menyala.


Asya memejamkan matanya, mengucapkan harapannya lalu meniup lilin. Semua merasa gembira. Gadis itu motong kue, memberikan pada kedua orang tuanya.


Namun, Irene mengakap sesutu di jari Asya saat gadis itu menyuapkan sepotong kue pada Edo.


"Sayang, cincin apa itu?" Tanya Irene.


Asya menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. "Ini... dari Darren, Ma."


"Darren? Sejak kapan?" Tanya Edo. Sementara Irene, ia tersenyum melihat putrinya malu-malu menjawab pertanyaannya.


"Sejak seminggu yang lalu."


"Sejak seminggu yang lalu?" Asya mengangguk. "Apa yang dia katakan saat memberi cincin ini?" Lanjut Irene dengan semangat.


"Dia nggak mengatakan apa-apa. Tapi, sebelum cincin ini, Darren terus berbicara tentang pernikahan dan ingin menikahiku. Aku saja yang belum siap dan merasa akan cukup merepotkan jika acara pernikahan dilakukan bersamaan dengan Darrel dan Aurel. Meskipun aku terus menolak, dia nggak pernah berhenti mengutarakan keinginannya. Tapi, saat memberikan cincin ini, dia nggak bilang kalau melamar aku. Dia hanya menyerahkan keputusan mengenai cincin ini padaku. Jika aku menganggapnya sebagai lamaran, maka cincin ini bukti jika dia melamarku. Tapi, jika enggak, berarti cincin ini hanya hadiah."


Edo maupun Irene terdiam mendengar penjelasan Asya.


Darren benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Dia bahkan sudah melamar Asya sebelumnya. Batin Irene.


Anak itu sungguh tidak romantis. Tapi, nggak apa-apa. Aku lega karena Darren benar-benar mencintai putriku. Batin Edo. Tapi...


"Tunggu Asya! Darren terus berbicara pernikahan denganmu sebelum dia melamar mu?"


"Iya, Pa. Ada apa?"


"Kalian memiliki hubungan lain selain persahabatan selama ini?" Tanya Edo dengan tatapan menyelidik.


Asya tersenyum canggung pada Papanya. "Hehehe... Iya, Pa."


"Astaga... Ternyata kita di bohongi selama ini, sayang." Ucap Edo, menatap istrinya. "Akhh... Sakit sekali dibohongi putri sendiri." Lanjut Edo sambil memegang dadanya, dan berekspresi kesakitan. Membuat Irene dan para pekerjanya terkekeh melihat tingkah Edo.


"Papaaaa... Kok gitu sih. Asya minta maaf deh." Ucap gadis itu, memegang tangan Papanya.


"Nggak ada maaf."


"Papaaa..."


"Bercanda, sayang." Ucap Edo, lalu memeluk putrinya. Ia mengecup puncak kepala Asya dengan penuh kasih sayang. "Papa bahagia, lihat Asya bahagia."


"Makasih, Pa."


Asya lalu melepas pelukannya, dan beralih memeluk Irene. "Makasih juga, Ma."


"Iya, sayang."


"Oh ya, karena hari ini ulang tahun putriku, kita semua akan makan bersama. Saya akan mentraktir kalian makan di restoran." Ucap Edo, pada para pekerjanya.


"Waah... Terima kasih tuan."


"Terima kasih, tuan." Ucap para pekerja, sambil tersenyum senang.


"Oh ya, satu lagi. Ada berita baik. Putriku Asya, akan menikah dengan Darren tiga hari lagi. Kalian persiapkan diri kalian untuk menghadiri acara pernikahannya. Tidak ada yang tidak hadir. Semuanya harus hadir! Jaga kesehatan kalian. Dan doa kan semoga pernikahanya lancar, dan rumah tangga putriku selalu bahagia."


"Waaahhh... Selamat nona."


"Iya, selamat nona."


"Selamat nona. Kami pasti akan hadir di acara pernikahan nona."


"Kami juga akan selalu mendoakan nona dan tuan muda Darren."


"Semoga pernikahan nona lancar juga nona dan tuan muda Darren selalu bahagia."


"Terima kasih. Terima kasih kalian sudah baik dan mau mendokan ku. Semoga kalian selalu sehat." Ucap Asya.

__ADS_1


"Terima kasih juga atas kebaikan nona dan juga doa nya. Kami sangat bahagia mendengar kabar ini."


Asya, Irene dan Edo tersenyum bahagia. Saling menghargai adalah suatu hal yang menyenangkan. Entah itu pada orang yang kita kenal atau pun pada orang yang tidak kita kenal.


__ADS_2