Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 44


__ADS_3

Darren menatap layar handphonenya. Baru saja dia mendapat pesan dari orang-orang suruhannya, mengenai kejadian di daerah B.


Tuan muda, sudah kami dapatkan sebagian informasi mengenai orang yang menyuruh dua preman itu. Dia seorang laki-laki. Tapi, keduanya tidak tahu seperti apa wajahnya. Mereka memanggilnya tuan Dra.


"Dra?" Gumam Darren.


Tak lama, sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Darren. Kali ini, dari beberapa orang suruhannya untuk mencaritahu tentang Hardi.


"Hardi Herlambang. Putra kedua keluarga Her... Herlambang?" Darren teringat dengan marga Herlambang. "Itu..."


Brak... Pintu ruangan Darren terbuka dengan keras. Darrel dan Jiyo berjalan dengan cepat mendekati Darren.


"Darren, kamu sudah dapat pesan dari orang-orang yang mencari data Hardi?" Tanya Darrel. Jiyo yang berada di sampingnya hanya mengangguk, seolah mengatakan 'Apa kamu mendapatkan pesan itu juga?' Dia tahu kejadian itu dan juga terlibat untuk mencaritahu tentang Hardi.


"Ya." Jawab Darren dengan tenang.


"Ck. Kamu ini! Ini masalah serius. Nama marganya seperti marga milik Hendra. Kenapa kamu bisa setenang ini? Membuatku kesal saja!" Ujar Jiyo.


"Jangan tergesa-gesa. Kita jarus benar-benar memastikan ini." Ucap Darren.


"Hufth... Kamu benar. Tapi, apakah kita harus memberitahu Ayah?" Darrel terlihat bingung. Ini masalah mereka. Apakah harus melibatkan Ayahnya?


"Katakan pada Ayah. Rahasiakan dari Ibu."


"Apakah Paman pantas terlibat masalah ini? Aku nggak rela mengganggu liburan romantis dua pasang suami istri romatis itu. Kalian tahu, jika Paman Gara dan tante Alula pulang, Paman Edo dan Tante Irene juga pasti akan pulang."


Darren maupun Darrel tak membalas ucapan Jiyo. Keduanya malah sama-sama menyerahkan handphone mereka pada Jiyo.


Ayah sama Ibu pulang. Mungkin akan tiba sore nanti.


Jiyo meneguk ludahnya, lalu menyengir. "Hehehe... Aku kira, liburan mereka masih panjang."


"Karena mereka melibatkan Alisha, Ayah harus tahu. Tapi, kita tetap harus memastikan hal itu lebih dulu."


"Ya. Aku akan mengarahkan mereka untuk mendapatkan informasi lebih. Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku dulu." Darren mengangguk, menyetujui ucapan kembarannya. Setelah Darrel keluar, Jiyo mundur selangkah lalu membungkuk hormat pada Darren.


Darren memalingkan wajahnya, sedikit lelah dengan tingkah sahabatnya yang entahlah.


"Besok ada pertemuan untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaan HRL Group, tuan muda."


"Ya." Hanya itu respon Darren. Jiyo sudah berkali-kali memberitahunya tentang pertemuan itu. Seolah-olah dia adalah lelaki tua yang sangat gampang melupakan sesuatu.


"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi." Darren hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah pintu kembali tertutup, Darren menyandarkan punggungnya, mencoba mengaitkan semua peristiwa yang terjadi.


"Apa Hardi di suruh Hendra untuk menganggu Alisha? Dan dua preman yang menyakiti Asya waktu itu, adalah suruhan Hendra? Tuan Dra, diambil dari nama belakang Hendra." Gumam Darren.


Darren menarik nafasnya. Ia lalu meraih handphonenya dan menelpon Asya.


"Hallo, Darren?"


"Kamu di jalan?" Tanyanya, saat mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang.


"Iya, ada apa?"


"Aku ingin bertemu."


"Aku di perjalanan menuju kantormu. Aku membawakan makan siang."


"Dimana sekarang?"


"Sudah masuk area perusahaan."


"Baiklah. Aku tutup telponnya."

__ADS_1


"Iya."


Darren memasukkan handphonenya ke saku jas, lalu bergegas keluar. Di luar, ia bertemu Jiyo yang sudah bersiap melangkah ke ruangannya.


"Eh, tuan muda. Aku baru saja ingin bertanya mengenai makan siangmu. Apa mau ku pesankan sesuatu?"


"Nggak perlu."


"Nggak perlu? Kenapa? Apa kamu nggak lapar?"


"Diamlah, Jiyo! Jika kamu ingin makan, pergilah!"


Darren segera menuju lift setelah menyelesaikan ucapannya. Lift tertutup, dan Jiyo menarik nafasnya sambil mengusap dada.


"Sabar Jiyo. Sabar." Ujarnya.


Setelah lift berhenti dan pintunya terbuka, Darren langsung keluar dan menuju parkiran. Dia tidak peduli dengan tatapan-tatapan para karyawannya.


Seulas senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Asya keluar dari mobil sambil menenteng makanan untuknya. Dia berjalan mengahampiri gadis itu.


"Kenapa kamu kesini?" Asya mengerutkan keningnya.


"Menjemputmu." Jawabnya, membuat Asya mengulum senyum.


"Sudah jam makan siang. Ayo, aku akan menyiapkan untukmu."


Darren mengangguk lalu merangkul pundak Asya. Asya agak terkejut dengan perlakuan Darren. Begitupun dengan karyawan-karyawan saat mereka memasuki lobi.


"Darren, bisakah kamu lepaskan rangkulanmu?" Bisik Asya.


"Kenapa?" Darren membalasnya dengan santai.


"Karyawan disini melihat kita. Terutama para wanita. Mereka pasti berpikiran macam-macam. Mungkin mereka juga memakiku dalam hati karena begitu dekat dengan CEO mereka."


"Abaikan saja."


Berlatihlah. Kamu akan terus mengalami hal ini saat menjadi istriku nanti. Batin Darren.


"Darren?"


"Hmm?"


"Kenapa kamu tersenyum?"


"Nggak kenapa."


"Kamu menertawakan ku?"


"Enggak. Ayo!" Darren menuntun Asya masuk lift. Gadis itu menurut. Tapi, wajahnya cemberut karena ulah Darren yang tidak memberitahunya alasan kenapa dia tersenyum.


Darren sedikit menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Asya. "Jangan cemberut. Kamu mengundangku untuk menciummu." Bisiknya, membuat tubuh Asya merinding.


Ia menolehkan wajahnya pada Darren hingga wajah mereka saling berhadapan. Wajah mereka begitu dekat dan hidung mereka sedikit lagi saling bersentuhan. Tatapan mereka saling mengunci.


Dan tanpa sadar, lift sudah berhenti dan pintunya terbuka. Darrel dan Jiyo yang sedang menunggu pintu lift terbuka pun terkejut melihat keduanya.


"Ekhm..." Dehem keduanya serentak, membuat Asya dan Darren tersadar. Asya salah tingkah dan wajahnya memerah. Sementara Darren, dia sangat tenang seakan semuanya normal-normal saja.


"Ayo!" Darren meraih pelan tangan Asya, mengajaknya keluar.


"Ha-Hai! Ka-kalian mau kemana?" Sapa Asya, gugup.


"Hahaha... Kamu sangat imut, Asya." Darrel menarik pipi gadis itu. Membuat Darren menatap tajam padanya.


Darrel dengan cepat melepas tangannya dari pipi Asya. Tatapan Darren menakutkan.

__ADS_1


"Pfttt..." Jiyo menahan tawa melihat reaksi Darrel. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan dampak keposesif-an Darren pada Asya.


"Kenapa kau tertawa?" Kesal Darrel.


"Nggak. Ayo, pergi saja! Jangan mengganggu mereka." Balas Jiyo, menarik Darrel untuk memasuki lift.


"Kalian mau kemana?" Sekali lagi, Asya bertanya.


"Kita mau ke tempat Aurel."


"Aurel?" Darrel dan Jiyo mengangguk bersamaan.


"Aku mau ikut."


"Asya!" Suara datar itu membuat langkah Asya yang hendak menuju lift terhenti.


"Darren, aku mau makan di tempat Aurel." Rengeknya, berharap Darren membiarkannya pergi.


"Kamu bilang, akan menyiapakan makanan untukku."


Asya berbalik dan menyerahkan makanan yang dibawanya ke tangan Darren. "Pegang ini! Aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu tinggal menikmatinya." Ucap saya, hendak melangkah lagi. Namun, Darren menahan tangannya, dan menarik Asya mendekat.


"Apa kamu nggak mau tahu alasan aku tersenyum tadi?" Bisik Darren.


Asya terdiam. Ya, dia sangat ingin mengetahui alasan yang membuat Darren tersenyum.


"Baiklah. Aku akan tetap disini." Jawabnya. "Kalian..." Asya melototkan matanya. Pintu lift sudah tertutup. Darrel dan Jiyo juga sudah tidak terlihat. Dia menatap Darren dengan perasaan kesal.


"Ini pasti cara kamu kan? Mengalihkan aku agar nggak fokus sama Darrel dan Jiyo yang mau pergi."


"Sttt... Tenanglah. Ayo!"


Asya tak peduli. Dengan wajah cemberut, dia menuju ruang santai milik Darren yang ada di lantai itu.


Kamu mulai memahami semuanya. Batin Darren, tersenyum saat melihat Asya berbelok ke ruangan tersebut.


Darren mengikutinya, kemudian duduk berhadapan dengan Asya.


"Masih marah?" Tanyanya, namun Asya diam.


"Baiklah. Biarkan makanan ini disini. Kamu boleh menemui Aurel. Ayo, ku antar kamu ke parkiran." Ucap Darren lembut.


Asya tertegun mendengar perkataan Darren. Dia menatap lelaki itu yang sudah berdiri tegap di depannya. Dia merasa bersalah dan merasa menjadi seorang yang egois.


Asya berdiri dan langsung memeluk Darren. "Maafkan aku. Hanya karena merasa kesal padamu, aku menjadi seorang yang egois."


Darren balas memeluknya dan mengusap kepalanya. "Masih mau menyiapkan makan untukku?"


Asya mengangguk pelan. Darren melepas pelukannya, lalu membantu Asya duduk. Tatapannya tak lepas dari Asya yang mulai menata makanan.


"Ayo, makan!"


"Kamu nggak makan?"


"Sudah ku habiskan lebih dulu jatahku setelah memasak ini."


"Kamu memasak di kantor?"


"Ya. Tepatnya di dapur kantor."


Darren menggeleng pelan, tak menyangka jika Asya terpikirkan memasak makan siang untuknya di dapur kantor Yunanda Group.


"Ayo, dimakan!"


"Suapi aku!" Perintah Darren. Asya mengerutkan keningnya. Sejak kapan Darren bersikap manja seperti ini? Tapi, Asya tetap menurutinya dan menyuapinya.

__ADS_1


__ADS_2