
Asya dengan telaten mengobati telapak Darren. Ia membersihkan luka itu, dan membalutnya. Kemudian, ia membersihkan lengan Darren yang terluka. Dia sedikit meringis saat kapas yang ia gunakan menyentuh lengan Darren.
"Aku yang terluka. Kenapa kamu yang meringis sakit?"
"Apa kamu nggak merasakan sakit?" Darren tidak menjawabnya langsung, tapi dengan gumaman dalam hati.
Bagaimana aku bisa merasakan sakit saat perhatianku hanya tertuju padamu?
"Aku akan memberikan obat pada lukamu. Akan terasa perih. Kamu tahanlah."
"Hmmm..." Gumamnya.
Setelah meberikan obat dan membalut luka Darren, gadis itu membereskan kembali kotak p3k dan menyimpannya ke tempat semula.
"Aku sudah selesai. Aku akan pulang."
"Tetaplah disini sebentar lagi." Ucap Darren dengan nada memohon.
Asya cukup terkejut mendengarnya. Tidak pernah ia mendengar seorang Darren memohon seperti ini. Meskipun begitu, Asya tetap pada keputusannya untuk pulang.
"Darren aku nggak mau ada yang berbicara macam-macam tentang keberadaan ku malam-malam di apartemen seorang laki-laki."
"Jangan dengarkan apa kata mereka."
"Aku bukan kamu yang dengan mudah mengabaikan perkataan orang, Darren." Ucap Asya. "Aku pergi dulu."
"Aku akan mengantarmu."
"Kamu terluka."
"Orang-orangku yang akan mengantarmu."
"Nggak perlu."
"Asya, ini sudah pukul sepuluh. Kamu seorang gadis. Bahaya jika pulang sendiri malam-malam begini."
"Nggak akan terjadi apa-apa." Balasnya, tak peduli dengan ucapan Darren. "Jangan lupa bersihkan lukamu dan ganti perbannya. Aku pergi dulu."
Tanpa menoleh, Asya meninggalkan Darren. Ia mengendarai mobilnya menjauh dari apartemen tersebut. Bisa ia lihat dari spion mobilnya, sebuah mobil mengikutinya. Dia mengenali mobil itu. Itu adalah mobil yang sama, yang mengikutinya dari rumah hingga tiba di apartemen. Dan ia yakin, mereka adalah orang-orang Darren.
Darren memang tidak mudah dibantah. Batin Asya.
***
Setelah tinggal di apartemen dua hari, Darren kembali tinggal di rumah. Luka di telapaknya sudah mengering, sehingga dia tidak menggunakan perban lagi. Dan ketika ditanya keluarganya, dia mengatakan jika dia dihadang beberapa preman.
Setelah sarapan, Darren bersama Darrel mengantar Alisha ke sekolah. Sebenarnya, kali ini adalah giliran Darren yang mengantar Alisha. Namun, Darrel memaksa untuk ikut.
"Kak Darrel ngeselin banget sih." Alisha berkata kesal setelah turun dari mobil dan mencium tangan kedua Kakak kembarnya.
"Kakak? Kenapa? Apa yang ngeselin?" Darrel menunjuk dirinya dengan tatapan bingung.
"Harusnya kan Kak Darren yang anterin Alisha ke sekolah. Kenapa Kak Darrel malah ikutan?"
"Jadi, Kakak nggak boleh nih anterin Alisha? Ya udah, Kakak pulang saja naik taksi."
__ADS_1
"Eh, kok Kakak yang ngambek sih?"
"Lagian kamu marah."
"Bukan gitu. Karena Kakak ikut, Alisha jadi duduk di belakang. Alisha mau duduk di depan."
"Ck. Deeek... Itu aja di permasalahin."
"Ck." Alisha berdecak. Ia kemudian menarik tangan Darrel dan menyuruh lelaki itu menunduk. "Aku mau interogasi Kak Darren. Siapa yang ngobatin tangannya? Katanya kan dia terluka malam hari, dan langsung ke apartemen. Jadi, siapa yang ngobatin Kak Darren di apartemen malam-malam begitu?" Bisik Alisha.
"Ooh, gitu. Hehehe... Maafin Kakak. Kamu sih, nggak kasi tahu." Balas Darrel juga berbisik.
"Apa kalian masih mau berbisik?" Darren membuka suaranya, tidak habis pikir dengan sikap kedua adiknya ini.
"Hehehe... Ya sudah. Pokoknya Kak Darrel harus beliin novel-novel baru buat Alisha, sebagai tanda maaf Kak Darrel." Ucap Alisha, mencoba menutupi apa yang menjadi bahan bisikannya bersama Darrel.
"Siap, tuan putri!" Balas Darrel.
"Kak Darren sama Kak Darrel, hati-hati ya?"
Darren dan Darrel sama-sama mengangguk. Tapi, sebelum mereka berbalik untuk ke mobil, suara Nadia dan Yana terdengar di telinga mereka.
"Kak Darreeell..." Teriak kedua anak itu heboh. Bukan hanya mereka berdua. Siswi-siswi yang baru datang juga ikut menatap Darren dan Darrel dengan mata berbinar.
Alisha menepuk jidatnya sambil memutar bola matanya. Darren menolehkan wajahnya ke arah lain. Dan Darrel, lelaki itu tersenyum manis ke arah gadis-gadis remaja itu.
"Jika kamu butuh bantuan, aku akan menyuruh Jiyo kemari. Aku akan ke kantor lebih dulu." Ucap Darren.
"Tap..."
"Iya, Kak. Hati-hati."
"Hei! Darren! Tunggu aku. Aku juga ikut." Teriaknya. "Alisha, Nadia, Yana. Kakak pergi dulu. Sampai jumpa." Ucap Darrel. Ia juga melambaikan tangannya pada siswi-siswi lain yang masih menonton. Kemudian berlari memasuki mobil.
"Ck. Kak Darrel dan Kak Jiyo memang sangat cocok disatukan." Gumam Alisha, lalu bergegas memasuki gerbang sekolah.
Mobil Darren tiba di parkiran kantor. Darrel tersenyum senang saat melihat mobilnya sudah terparkir dengan baik di parkiran kantor. Ia meminta pengawal di rumah untuk mengantar mobilnya ke kantor.
"Cepat juga, kerja mereka." Ucap Darrel, senang.
Kedua saudara kembar itu berjalan bersama meninggalkan parkiran. Belum sempat kaki mereka menginjak tangga kantor, handphone Darren berdering. Darren berhenti, begitupun Darrel. Dia ingin menunggu saudaranya selesai menelpon.
Darren dengan cepat mengangkat telpon tersebut saat melihat nama Carla tertulis di layar handphonenya.
Tidak ada yang bisa Darrel dengar dari percakapan tersebut selain ucapan 'Ya' yang terlontar dari mulut Darren.
Darren memasukkan handphonenya ke saku jas. "Kamu masuklah. Aku harus pergi." Ucap Darren.
"Kemana?"
"Ada hal penting yang harus ku urus." Darren langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan hal itu. Darrel hanya bisa berdecak.
"Ditanya apa? Dijawab apa?" Gumam Darrel, lalu memasuki kantor.
***
__ADS_1
Darren kembali ke apartemen tempat Carla dan Doni tinggal. Saat Carla membuka pintunya, dia langsung menerobos masuk dan menuju kamar Doni.
"Dia baru saja berhenti menangis dan tertidur." Ucap Carla, ketika berada di kamar Doni.
Darren menatap anak itu yang terlelap. Kaki dan tangan anak itu terlihat semakin membengkak daripada kondisi pertemuan awal mereka di kantor Darren.
"Apa sudah dapat pendonornya?"
"Sudah ada beberapa yang siap mendonor untuknya. Mereka menjalankan tes hari ini. Aku seharusnya membawanya pulang hari ini. Tapi, Doni tidak mau. Dia harus menjalankan operasinya secepat mungkin. Karena itulah aku berusaha mengajaknya pulang. Tapi, inilah jadinya. Dia menangis tanpa henti dan akhirnya kelelahan."
Saat sedang mendengar penjelasan Carla, mereka dikejutkan dengan Doni yang bergumam memanggil Darren dalam tidurnya.
"Papaa... Papa Darren. Papa Darren."
Darren segera mendekati anak itu. "Doni... Doni..."
Panggilan Darren membuat anak itu terbangun. Dia langsung memeluk Darren dengan erat.
"Papa... Papa... Mama mau membawa Doni kembali. Doni mau sama Papa disini."
"Doni..."
"Papa... Doni nggak mau operasi. Kata teman Doni... Operasi itu menakutkan."
"Doni, dengar! Doni harus operasi, okey?"
"Tapi,"
"Doni..." Darren menatap mata anak itu, yang kini juga menatap matanya.
"Iya. Doni mau operasi. Tapi, Papa juga ikut pulang sama Doni sama Mama."
"Ya, janji!" Jawab Darren. "Tapi, kamu juga harus janji untuk tidak rewel."
"Doni janji." Balas anak itu, sambil tersenyum.
"Jam berapa penerbangannya?"
"Seharusnya sudah take off sekarang."
"Siapkan semuanya. Akan saya urus penerbangannya." Ujar Darren, lalu keluar menuju ruang tamu bersama Doni dalam gendongannya.
Doni sangat dekat dengannya hingga memanggilnya Papa. Dia juga sangat baik pada Doni.Tapi, dia tidak sekalipun menyebut dirinya Papa. Hanya menggantinya dengan kata aku atau saya. Aku juga tidak pernah mendengar dia menyebut namaku. Batin Carla.
Gadis itu lalu membawa barang-barang Doni yang sudah disiapkan menuju ruang tamu. Di ruangan itu, Darren baru saja mengirim pesan pada Darrel untuk memberitahu Ayah dan Ibunya jika dia memiliki urusan di luar negeri. Dia juga mengirimkan pesan pada Asya. Entah kenapa, dia merasa harus memberitahu Asya.
"Semuanya sudah ku siapkan."
"Ayo! Penerbangannya sejam lagi."
"Hah? Secepat itu? Apakah penerbangan yang tadi?"
"Bukan. Penerbangan tadi di batalkan." Ucap Darren. Dia lalu menggendong Doni keluar. Dia sudah meminta pengawalnya menyewa sebuah jet pribadi. Meski keluarganya memiliki jet pribadi, dia tidak akan menggunakannya. Itu hanya akan ia gunakan untuk kerja dan keluarga.
Beberapa pengawal sudah berada di depan apartemen. Mereka membawa barang yang Carla bawa. Kemudian pergi bersama.
__ADS_1