Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 165 (END)


__ADS_3

Sejak hari dimana Axel menciumnya, Alisha berdiam diri di rumah dan membatasi diri berhubungan dengan Axel. Hardi juga tidak berkirim pesan ataupun menelpon sejak kembali dari jalan-jalan. Sementara Axel, ia semakin merasa bersalah pada Alisha.


Alisha bangun dan segera menuju kamar mandi. Pagi ini adalah hari pertama ia masuk sekolah sebagai murid kelas XII. Tidak ada kata terlambat ke sekolah bagi Alisha. Gadis itu selalu datang tepat waktu.


Alisha keluar dari kamar mandi dan mengenakan seragamnya. Saat sedang menyisir rambut, suara ketukan pintu kamar terdengar.


Tok... Tok... Tok...


"Alisha?"


Senyum tipis terukir di bibirnya. Segera ia membuka pintu.


"Ibu," ucapnya.


"Eh, udah mandi anak Ibu. Ibu pikir masih tidur," kata Alula, bercanda.


"Alisha udah bangun kok dari tadi."


Alula tersenyum lembut. "Belum disisir ya, rambutnya? Ayo, biar Ibu bantuin."


Alisha mengangguk. Ia sangat suka saat Alula menyisir rambutnya. Entah apa alasannya, ia tidak tahu.


"Kemarin Axel datang lagi lho," ucap Alula sambil menyisir rambut Alisha. Gadis itu hanya diam, tak menanggapi ucapan sang Ibu.


"Ibu nggak tahu, ada masalah apa antara kamu sama Axel. Ibu harap hubungan persahabatan kalian baik-baik saja. Kalau ada masalah, dibicarakan baik-baik."


"Nggak ada masalah, Bu. Alisha cuman lagi nggak mood. Lagi pengen di rumah. Lagi nggak mau ketemu siapa-siapa selain orang rumah. Alisha sepertinya mau kurangi waktu main Alisha sama teman-teman. Alisha mau fokus belajar, biar lulus dengan nilai terbaik."


Alula tersenyum mendengarnya. Ia menepuk pelan kepala Alisha, yang rambutnya sudah disisir rapih.


"Aku cariin, ternyata disini." Gara berdiri di ambang pintu kamar Alisha sambil bersedekap. Senyum tipis laki-laki itu tunjukan saat sang istri dan anak menoleh ke arahnya.


"Ayah sejak kapan di situ?" tanya Alisha.


"Sejak istri Ayah mulai sisir rambut kamu."


"Istri Ayah, Ibu Alisha kalau Ayah lupa."


Gara terkekeh pelan. Laki-laki itu berjalan mendekati keduanya. Ia merangkul pinggang Alula, kemudian mengecup pipinya. Laki-laki itu juga sedikit menunduk dan mengecup pipi sang putri, kemudian kembali menegakan tubuhnya.


"Nggak nyangka anak Ayah udah mau lulus SMA aja."


Alisha tersenyum. Gadis manis itu bangun dan langsung memeluk Ibu dan Ayahnya. "Alisha sayang sama Ibu sama Ayah."


"Ibu juga sayang sama Alisha. Sayang banget."

__ADS_1


"Ayah juga sangat sayang sama Alisha." Alisha mengangguk menanggapi ucapan Ayah dan Ibu nya.


Maafin Alisha Ayah, Ibu. Alisha ngelanggar batasan yang Ibu sama Ayah bilang ke Alisha. Tapi, bukan Alisha yang ngelakuin duluan. Axel yang tiba-tiba cium Alisha. Maafin Alisha udah ngerusak kepercayaan Ibu sama Ayah ke Alisha. Batin gadis itu.


"Ya udah, ayo kita ke bawah. Yang lain udah tungguin." Alisha dan Gara serentak mengangguk. Membuat Alula terkekeh pelan melihat suami dan putrinya itu.


Tiba di meja makan, Alisha langsung duduk di tempatnya, begitupun Gara dan Alula.


Darren, Asya, Darrel, Aurel, Doni, Meeya dan si kembar Alan Alena sudah berada di ruangan makan.


Darren menatap adiknya yang saat ini sedang mengambil sarapannya. Waktu berlalu begitu cepat. Ia tidak menyangka Alisha sudah tumbuh sebesar ini, dan suatu saat akan menemukan pasangan hidupnya dan akan meninggalkan rumah mereka.


Hal yang sama dipikirkan Darrel. Ia sepertinya tidak rela jika adiknya tumbuh secepat itu. Perasaan tak rela pun semakin besar saat memikirkan Alisha akan hidup sendiri bersama pasangannya nanti. Ia masih ingin melihat Alisha, si adik kecilnya yang manja. Tapi, mau bagaimana lagi? Waktu tidak bisa diputar kembali. Yang harus ia lakukan adalah menerimanya.


Asya dan Aurel yang melihat suami mereka yang diam pun menyetuh lengan suami masing-masing. Keduanya menoleh pada istri masing-masing, kemudian tersenyum tipis.


***


Mobil Alisha berhenti tepat di depan gerbang. Setelah berpamitan pada sang supir, Alisha turun dan melenggang memasuki sekolah.


Ketika melewati parkiran, matanya tak sengaja melihat motor Axel terparkir, berdampingan dengan motor beberapa siswa lainnya. Alisha melanjutkan jalannya. Namun, langkahnya terhenti saat berada di koridor.


Di depan ia berdiri, ada Axel dan seorang siswi. Ia kenal siswi itu. Seorang junior yang terus-terusan meminta Axel mengajarinya bermain basket. Gadis yang memiliki keinginan agar bisa masuk tim basket putri.


Mengabaikan dua orang itu, Alisha memilih untuk melanjutkan jalannya. Ketika melewati mereka, Axel tiba-tiba menahan tangannya.


Alisha terdiam kemudian menoleh. "Ada apa?" tanyanya.


"Gue mau ngomong."


Alisha mengangguk. "Selesai in dulu urusan kamu sama dia. Aku tunggu di kelas," jawab Alisha, melepaskan genggaman Axel kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


"Kak, Kak Axel mau kan ban—"


"Gue nggak ada waktu!" potong Axel dingin. Laki-laki itu berjalan meninggalkan gadis yang kini merengut kesal.


Langkah tenang Axel mengarah ke kelas. Laki-laki itu menarik kursi di samping Alisha lalu menudukinya.


"Ngomong di taman aja, gimana?" tanya Axel. Ia sedikit tidak nyaman saat teman-teman sekelasnya masuk.


"Disini aja," sahut Alisha.


"Oke."


Sejenak, diantara mereka tidak ada yang berbicara. Axel ingin memulai, tapi cukup ragu memulai dari mana. Laki-laki itu menarik nafasnya, kemudian menghembusnya pelan.

__ADS_1


"Gue minta maaf soal kejadian malam itu," ucapnya, dan Alisha hanya mengangguk.


"Gue tahu lo marah sama gue. Tapi, gue pengen lo bicara, Sha. Gue pengen dengar lo ngomong kalau lo udah maafin gue."


"Aku udah maafin kamu."


Axel menatapnya lekat kemudian menarik nafasnya. "Beberapa hari ini, gue ke rumah lo."


"Aku tahu."


"Kenapa lo nggak mau temuin gue? Telpon gue nggak lo angkat. Chat gue juga nggak lo balas."


Alisha menarik nafasnya kemudian balas menatap Axel tepat di mata laki-laki itu. "Maaf kalau aku nggak temuin kamu, nggak angkat telpon kamu, nggak balas chat kamu. Aku cuman pengen sendiri, Xel. Cuman mau nenangin perasaan aku yang selalu merasa bersalah sama Ayah sama Ibu," ucap Alisha. Matanya mulai berkaca-kaca.


Beberapa siswa-siswi yang berada di kelas itu satu persatu keluar saat melihat Axel dan Alisha yang sepertinya sedang memiliki masalah.


"Aku udah buat Ayah sama Ibu kecewa, Xel. Aku udah ngelanggar batasan-batasan yang Ibu bilang. Aku nggak patuh sama nasihat-nasihat Ayah sama Ibu." Air mata Alisha menetes.


"Gue minta maaf, Sha." Axel mengusap air mata Alisha. Dia benar-benar menyesal.


"Mulai sekarang, Alisha mau batasi kebersamaan kita, Xel. Aku, kamu dan Hardi."


"Kenapa gue juga dibawa-bawa?" Suara Hardi terdengar tak suka. Laki-laki yang sejak tadi memperhatikan kedua sahabatnya itu, berjalan mendekat dan duduk di depan Alisha dan Axel.


"Aku pengen kita fokus belajar, Di. Fokus mempersiapkan diri kita untuk kelulusan dan masuk universitas."


"Persahabatan kita? Lo mau kita saling lepas, Sha?"


"Nggak gitu, Hardi. Aku cuman mau kita fokus belajar, dan kurangi waktu main kita."


Hardi terdiam. Ia menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. "Kalau itu keputusan lo, gue nggak bisa maksa. Asal kita nggak saling lepas dan ninggalin satu sama lain."


Alisha menarik sudut bibirnya tersenyum. "Persahabatan kita nggak akan terputus. Kita akan terus sama-sama."


"Kalau itu keputusan lo berdua, gue nggak bisa nolak. Gue ikut lo berdua. Tapi, cuman selama kita sekolah sampai ujian. Setelah lulus, nggak ada yang seperti ini. Kita kembali seperti semula," ucap Axel.


Alisha mengangguk sambil tersenyum tipis. Ini yang terbaik untuk mereka.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...END...


Hallo teman-teman, akhirnyaaa novel Sahabat Possessive ini selesai. Novel ini end nya di part ini, dan nggak ada extra partnya. Aku juga mau ucapin terima kasih udah setia baca novel Sahabat Possessive yang updatenya super lama. Sekalian mau bilang, sampai jumpa di kisah Axel dan Alisha di novel Sahabat Possessive season 2. Sampai jumpa juga di novel-novel Aquilaliza lainnya. Jangan lupa mampir di novel AksaraSenja. Dan, semoga kalian suka sama part ini. Salam dari Aquilaliza and see you next novel.


__ADS_2