
Asya sudah kembali ke rumah bersama Darren, Darrel dan Aurel. Edo dan Irene begitu lega melihat putri mereka. Darrel dan Aurel menceritakan semua kejadian yang menimpa Asya. Terlihat jelas sorot kemarahan Edo pada Naomi dan Hendra. Sementara Irene, dia memeluk putrinya dengan perasaan kecewa pada Naomi.
"Terima kasih ya, Darren, Darrel, Aurel. Terima kasih kalian sudah menolong Asya."
"Tante nggak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya kami saling menjaga satu sama lain." Ucap Aurel.
"Dimana Naomi sama Hendra sekarang? Aku ingin menemui mereka. Berani-berani nya mereka berbuat jahat pada putriku. Naomi itu, karena permintaan Asya, aku sudah cukup sabar dengannya selama ini. Kali ini, aku tidak akan peduli lagi. Katakan, dimana gadis itu?"
"Dia berada di suatu tempat. Paman Ben dan Paman Kenan mengurusnya." Ucap Darrel.
"Jika Paman ingin bertemu dengannya, bicarakan pada Ayah." Sambung Darren.
"Ya."
Setelah cukup lama berada di rumah Asya, ketiga orang itu berpamit pulang.
***
Beberapa hari berlalu. Asya sudah kembali bekerja setelah beberapa hari tinggal di rumah. Jam makan siang, Asya bergegas keluar dari ruangannya.
"Nita." Panggil Asya pada sekretarisnya yang sedang mengerjakan sebuah dokumen.
"Ya, nona."
"Ayo, kita makan siang!"
"Terima kasih, nona. Tapi, pekerjaanku tinggal sedikit lagi. Nona pergilah. Saya akan makan siang disini."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan tetap disini menunggumu. Setelah kamu selelsai, kita makan siang bersama."
"Tapi, nona..."
"Nggak ada tapi-tapi, Nita! Jika kamu nggak pergi bersamaku sekarang, aku yang akan menunggumu."
"Aahh... Nona, jangan seperti itu. Baiklah, aku akan tinggalkan pekerjaanku, dan kita pergi makan bersama."
"Baguslah. Ayo!"
"Baik, nona."
Nita segera membereskan berkas tersebut lalu mendekati Asya. Keduanya pergi dari kantor tersebut menuju sebuah restoran.
Sedangkan Darren dan Jiyo, kedua orang itu sudah berada di restoran, tempat yang sama yang ingin Asya dan Nita datangi. Sebenarnya, Asya sudah merencanakan semua ini sebagai permintaan maafnya karena sudah memarahi Jiyo. Lelaki itu menjenguknya beberapa hari lalu dengan wajah masam. Meski begitu, dia tahu Jiyo sangat peduli padanya. Jadi, dia meminta bantuan Darren untuk mendekatkan Jiyo dan Nita.
"Apa yang mau kamu pesan?" Tanya Jiyo.
"Apa saja." Jawab Darren.
Jiyo hanya mengangguk. Ia melambaikan tangannya lalu memesan makanan pada pelayan yang datang.
Setelah memesan, Jiyo hanya diam, tidak memulai pembicaraan. Sepertinya ia masih kesal pada Darren.
"Darren!" Suara seorang gadis membuat Darren menoleh, begitupun dengan Jiyo.
Bibirnya yang datar berubah menjadi lengkungan senyuman saat melihat Nita disamping Asya. Semangatnya sepertinya kembali tumbuh.
"Asya? Kamu mau makan disini?" Tanya Darren, berpura-pura tidak tahu.
"Iya. Waaahhh... Kebetulan sekali ya? Apa kami boleh gabung?"
"Nona..." Bisik Nita.
"Boleh-boleh. Kalian boleh gabung. Silakan saja." Sambung Jiyo dengan penuh semangat.
"Terima kasih, Jiyo. Ayo, Nita!"
Nita hanya menjawab Asya dengan senyuman paksa. Darren dan Asya saling melempar pandangan. Keduanya melirik Jiyo yang terlihat bersemangat, dan Nita yang terkesan diam.
__ADS_1
"Oh ya, Jiyo, bukankah kamu marah padaku dan Darren? Kenapa..."
"Hah? Siapa yang marah?" Jiyo melototkan matanya pada Asya, seolah-olah mengatakan 'Jangan membuatku terlihat buruk dimata Nita!'.
"Bukankah kamu..."
"Hehehe... Nona Asya yang cantik dan baik hati. Kamu dan Darren salah paham. Aku nggak marah sama kalian. Saat itu aku sedang nggak mau bicara. Aku sedang malas berbicara panjang lebar."
"Benarkah?" Tanya Darren dengan wajah datarnya.
"Ya. Tentu saja. Aku sedang lelah waktu itu dan nggak mau berbicara terlalu panjang. Maaf sudah membuat kalian salah paham."
"Ya... Baiklah. Aku percaya padamu." Ucap Asya. "Oh ya, Nita, ayo pesan makanan kita"
"Iya nona." Gadis itu segera memesan makanan.
"Makanan masih belum datang. Aku akan ke toilet sebentar." Ucap Asya. Nita ingin menahannya namun Asya begitu cepat meninggalkan tempat. Akhirnya dia hanya bisa menarik nafasnya.
"Saya juga ke toilet." Ucap Darren, tiba-tiba.
Nita ingin sekali menahan Darren. Tapi, ini adalah Darren Alvaro yang dingin dan tidak suka dibantah. Bagaimana ia bisa menahannya.
Sedangkan Jiyo, dia begitu bahagia dalam hati. Ingin sekali dia berteriak, 'Pergi! Pergilah kalian berdua! Biarkan aku bersama Nita disini'.
Darren berjalan cepat ke arah lorong menuju toilet. Asya sudah menunggu disana. Gadis itu tersenyum senang menyambut Darren.
"Bagaimana? Semuanya baik-baik sajakan?" Tanya Asya, antusias.
"Iya."
"Aaahhh... Syukurlah. Aku harap Jiyo nggak main-main. Kalau sampai itu terjadi, aku akan memukul dan memarahinnya lebih parah dari kemarin."
"Ya... Aku ikut kamu saja."
"Aaa... Manis sekali." Asya mencubit pelan pipi Darren.
"Darren,"
"Hmm?"
"Kenapa kamu hmm hmm terus?"
"Lalu?"
"Aku kesal kalau kamu gitu."
"Baiklah." Darren tersenyum tipis, lalu memeluk pinggang Asya dan menariknya mendekat.
"Eh... Darren. Kenapa begini?"
"Nggak kenapa. Kenapa kamu memanggilku? Ada yang ingin dibicarakan? Hmm?"
"Lepaskan aku dulu, baru ku beritahu."
Darren lagi-lagi tersenyum. Bukannya melepaskan Asya, lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Darren..."
"Aku nggak akan melepaskanmu. Biar saja orang melihat kita seperti ini."
"Baiklah. Setelah ini jangan berbicara denganku lagi. Jangan menemuiku, jangan menghubungiku, dan jangan ke kantor ataupun ke rumahku! Ini terakhir kalinya kita bertemu." Ucap Asya, serius.
"Kamu bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja."
"Bagaimana jika aku tetap menghubungi mu dan menemuimu?"
__ADS_1
"Aku nggak akan meresponnya. Jika kamu masih nekat, aku akan memberitahu Papa dan Paman Gara untuk menjauhkanmu dari ku."
Darren terdiam. Dia goyah dengan perkataan Asya. Apakah gadis itu serius? Jika benar, melihat sifatnya selama ini yang selalu membantah jika dia mencintai Asya, Edo dan Gara pasti akan melakukan apa yang Asya minta. Bagaimanapun, dia tidak bisa melewati batas Edo dan Gara. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Darren menarik nafasnya lalu melepaskan pelukannya dari pinggang Asya.
"Baiklah. Aku mengalah." Ucapnya.
Asya menahan senyumnya sambil bersorak dalam hati. Tidak disangka, Darren termakan oleh ancaman kecilnya.
"Darren yang terbaik." Ucap Asya, berusaha kembali memuji lelaki itu.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan."
"Emmm... Nggak ada. Aku hanya mau berterima kasih karena kamu sudah membantuku."
"Ucapan terima kasih mu masih kurang. Aku nggak bisa menerimanya."
"Hah? Lalu, kamu mau berterima kasih yang bagaimana?"
Darren menatap mata Asya, lalu mengetuk pipinya. Ia menaikkan alisnya, seolah menantang Asya untuk melakukannya.
"Menciummu?"
"Ya."
"Baiklah." Asya menengok kiri kanan lalu berjinjit dan mengecup pipi Darren.
Cup.
"Sudah. Ayo kita temui..."
"Ayo pergi!" Darren langsung menarik Asya menjauh dari tempat itu, dan keluar melalui pintu belakang dengan senyum tipis yang terukir di bibir.
"Darren, kita mau kemana?"
"Ikut saja. Biarkan Jiyo bersama Nita. Nggak baik mengganggu mereka." Ujar Darren. Mobilnya yang terparkir di halaman depan restoran sudah berada di depannya.
"Masuklah." Darren membukakan pintu untuk Asya dan membiarkan gadis itu masuk. Setelah itu, dia menuju kursi pengemudi.
"Pulanglah! Tugas kalian sudah selesai." Ucap Darren pada pengawalnya.
"Baik, tuan muda."
Darren kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Di dalam restoran, Nita maupun Jiyo sama-sama terdiam. Kedua orang itu selalu menoleh ke arah toilet, menantikan Darren dan Asya yang sudah cukup lama, tapi belum juga kembali.
"Saya akan melihat nona." Ucap Nita, hendak bergegas menghampiri Asya di toilet. Namun, Jiyo dengan cepat menahannya.
"Nggak perlu khawatirkan Asya. Tetaplah disini, mereka akan kembali." Ucap Jiyo. Nita diam dan kembali duduk.
"Ngomong-ngomong, aku minta maaf soal aku yang diam-diam mengambil nomor mu dari handphone Asya." Ujar Jiyo, namun Nita hanya diam.
"Kamu boleh marah. Tapi, aku hanya ingin berteman denganmu. Karena kamu nggak suka, aku sudah menghapus nomor mu."
"Baguslah." Jawab Nita.
Apa? Dia menjawab seperti ini? Setidaknya dia tersentuh dengan apa yang ku lakukan. Tapi, apa ini? Benar-benar di luar dugaan.
"Emm... Sekarang aku ingin meminta izin memiliki nomor mu kembali. Apakah boleh?" Ucap Jiyo. "Aku berjanji nggak akan mengganggu mu kecuali ada hal yang penting. Aku hanya akan membahas hal yang perlu dibahas saja."
"Baiklah. Kau boleh memilikinya. Tapi, pegang janji mu."
"Baiklah." Balas Jiyo dengan penuh semangat.
__ADS_1
Ternyata saran Darrel benar juga.