
Nita berjalan mondar mandir sambil menghubungi nomor Asya. Namun, panggilannya tak terjawab. Ia mencoba menghubungi nomor tuan besar Edo dan juga nyonya besar Irene. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak satupun dari mereka yang mengangkatnya.
"Bagaimana ini? Berkas nya harus ditanda tangani sekarang. Tapi, aku nggak tahu dimana rumah tuan muda Darren. Mau bertanya pada tuan dan nyonya besar, mereka juga nggak mengangkat telponku. Bagaiamana aku menanyakan tempat tinggal tuan muda Darren?" Gumam Nita.
"Aku juga nggak punya nomor rumah nona Asya. Siapa tahu para pekerja di rumah nona tahu tempat tinggal tuan muda Darren."
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Nita menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tapi, tiba-tiba ia menegakkan kembali tubuhnya.
"Ya, aku tahu. Aku bisa meminta alamat rumah tuan muda Darren pada sekretaris Jiyo." Ucap Nita dengan senyum lebar. Akhirnya dia bisa bertemu Asya juga.
Nita meraih handphonenya dan segera mendial nomor ponsel Jiyo.
Sementara di Grisam Group, Jiyo baru saja istirahat. Dia baru saja kembali dari ruang meeting.
"Akhh... Darren, cepatlah kemba..."
Drrttt... Drrttt... Drrttt...
Jiyo meraih handphonenya dengan malas. Tapi, beberapa detik kemudian, ia menegakkan tubuhnya. Matanya seketika berbinar bahagia melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
"Nita menelponku. Ya Tuhan, ini keajaiban." Ucap Jiyo. "Ekhm... Ekhm... Tenang Jiyo, tenang." Gumamnya. Lelaki itu lalu menjawab panggilan Nita.
"Hallo!" Sapa Jiyo.
"Hallo, sekeretaris Jiyo."
"Ya."
"Maaf saya mengganggu waktu anda."
"Enggak. Kamu nggak mengganggu sama sekali."
"Eemm... Saya mau minta tolong pada sekretaris Jiyo. Bisakah saya meminta alamat tuan muda Darren? Ada dokumen penting yang harus ditanda tangani nona Asya sekarang."
"Bisa." Jawab Jiyo.
"Tolong beritahukan alamatnya!"
Jiyo terdiam sejenak. Ini adalah pertama kalinya Nita meminta bantuannya. Dia seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Eeemm... Aku bisa memberimu alamatnya. Tapi, kediaman Paman Gara sangat ketat penjagaannya. Kamu pertama kalinya ke sana. Aku takut jika kamu nggak diizinkan masuk."
"Benarkah? Bagaimana ini?"
"Jika kamu mau, aku bisa mengantarmu kesana."
Nita terdiam mendengarnya. Ia ingin menolak, tapi ini begitu mendesak. Dia harus mendapatkan tanda tangan dan mengirim dokumen itu. Nita menarik nafasnya.
"Baiklah. Saya mau diantar sekretaris Jiyo. Maaf sudah merepotkan."
"Nggak masalah. Kamu nggak merepotkan sama sekali. Sekarang, kamu tunggu aku menjemputmu. Setelah itu, kita sama-sama ke rumah Darren."
"Iya."
Jiyo segera menutup telponnya, kemudian mengepalkan tangannya, "Yes!" Ujarnya. Ia dengan cepat meraih kunci mobilnya dan menuju parkiran.
Saat tiba di Yunanda Group, Jiyo langsung menuju lobi perusahaan. Disana, Nita sudah menunggunya.
"Waah... Bukankah itu sekretarisnya tuan muda Darren? Dia tak kalah tampannya dengan tuan muda Darren."
"Iya."
Jiyo mengabaikan bisik-bisik tersebut. Tatapan dan langkahnya hanya terarah pada Nita.
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" Nita mengangguk.
"Ayo!"
Kedua sekretaris dari perusahaan yang berbeda itu berjalan beriringan menuju parkiran. Mereka menggunakan mobil Jiyo menuju rumah Darren.
Suasana mobil begitu hening. Jiyo ingin sekali memulai pembicaraan. Tapi, ia takut Nita akan terganggu olehnya. Hingga memasuki area rumah Gara pun, keduanya tetap saling diam.
Mobil Jiyo terhenti sebentar untuk diperiksa oleh penjaga. Setelah itu, mereka dibiarkan masuk.
"Ayo, turun!"
Suara Jiyo membuyarkan rasa kagum Nita. Benar-benar rumah yang besar dan mewah. Nita turun dan mengikuti langkah Jiyo. Lelaki itu terlihat sangat hafal dengan rumah ini.
Suara bel yang dibunyikan Jiyo membuat seorang pelayanan cepat membuka pintu. Wanita itu langsung menunduk hormat saat melihat Jiyo.
"Selamat siang, tuan muda Jiyo." Sapa pelayan tersebut.
"Selamat siang." Balas Jiyo.
Nita hanya menundukkan kepalanya menyapa pelayan tersebut. Sejujurnya dia tidak mengerti, mengapa Jiyo juga dipanggil tuan muda. Tapi, mengingat bagaimana persahabatan Jiyo dengan tuan muda kembar dan nona mudanya, Jiyo mungkin dianggap keluarga oleh mereka. Atau, mungkin saja Jiyo memiliki keluarga dengan latar belakang yang tidak ia ketahui. Tapi, Nita tidak ingin pusing memikirkan itu. Itu adalah kehidupan Jiyo.
"Nita! Ayo, masuk!" Lagi-lagi suara Jiyo menyadarkan Nita. Perempuan itu segera mengikuti Jiyo. Mereka menuju ruang tamu dan menunggu disana.
"Tunggu saja. Pelayan sedang memanggil Asya."
Nita hanya mengangguk. Tak lama, terdengar derap langkah mendekati mereka.
"Nita!" Asya dengan senyum ceria menghampiri Nita. Ia langsung memeluk wanita itu.
"Aku merindukanmu."
"Aku juga, nona."
Asya melepas pelukannya. Jiyo yang berada cukup dekat pun merentangkan tangannya untuk memeluk Asya. Namun, Darren dengan cepat merangkul pinggang Asya dan memeluknya posesif.
"Kau pulanglah, Jiyo!" Ucap Darren dengan wajah datar. Matanya tajam menatap Jiyo.
"Ck. Aku ini sahabatmu. Kenapa kau perlakukan seperti musuh? Dasar posesif." Gumam Jiyo, kembali duduk.
Asya mempersilakan Nita untuk duduk juga. Wanita itu menatap Jiyo dan Nita bergantian.
"Kenapa kalian bisa sama-sama kemari?" Tanya Asya.
Nita pun memberitahukan tujuannya kemari dan menceritakan bagaiamana dia dan Jiyo bisa datang bersama ke kediaman mereka. Jiyo juga turut bercerita.
"Dimana Darrel sama Aurel?" Tanya Jiyo, tiba-tiba.
"Tidur." Jawab Darren, singkat.
"Tidur? Jam segini?"
"Kenapa? Bukankah ini waktunya tidur siang?" Timpal Asya.
"Hehehe... Iya." Balas Jiyo, canggung.
Setelah dokumen tersebut selesai ditanda tangani, mereka berbincang-bincang sebentar, lalu Nita dan Jiyo berpamitan.
***
Di pulau kurungan, Gara dan Edo sudah tiba di tempat dimana orang-orang yang diberi hukuman tinggal. Alula dan Irene mereka biarkan bersantai di rumah yang jaraknya sekitar 1 km dari tempat itu.
Prang...
__ADS_1
Terdengar suara benda pecah. Sepertinya itu suara gelas yang di lempar. Gara dan Edo mendekati sumber suara tersebut.
"Gara?" Suara seorang wanita terdengar. Baik Gara maupun Edo tahu siapa wanita itu. Dia Laura, Ibu tiri Gara. Wajah cantiknya sudah menua dan rambutnya acak-acakan.
"Gara. Sayang, itu kamu. Kamu datang menjemputku kan? Sayang, Gara." Laura mendekatkan dirinya ke jeruji besi. Tangannya berusaha meraih wajah Gara. Namun, Gara menghindar dengan wajah yang begitu dingin dan sorot mata tajam.
"Ayo, pergi!" Ucap Gara. Edo mengangguk dengan senyum yang tertahan.
"Ternyata dia masih tergila-gila padamu." Ucap Edo sambil menahan kekehannya.
"Diamlah Edo!"
"Ya, ya."
Kedua lelaki itu berjalan hingga tiba di ruangan milik Naomi. Saat melihat wajah Edo, Naomi dengan cepat menghampiri mereka dan memeluk besi-besi yang berdiri tegak mengurungnya. Tangannya terulur pada sela-sela besi tersebut.
"Paman! Paman Edo! Syukurlah Paman datang. Paman, tolong bebaskan aku dari sini. Tempat ini, tempat ini lebih buruk dari pada rumah sakit jiwa. Aku hampir gila berada disini."
"Huh? Kau sudah gila sebelum kamu masuk kesini. Dan apa? Membebaskanmu? Mimpi saja!" Sinis Edo.
"Paman, kenapa Paman berkata seperti itu? Bukankah aku ini sudah dianggap putri oleh Paman? Kenapa Paman membiarkanku disini? Asya pasti akan memarahi Paman jika Paman mengabaikanku."
"Hahaha... Putri? Apa kau bercanda? Putri angkatku hanya Aurel bukan kau!"
"Paman..."
"Gara, apa aku pernah mengatakan padamu jika aku mengangkat orang gila sebagai putri?"
"Tidak." Jawab Gara, santai.
"Kau dengar! Sahabatku bilang tidak." Ucap Edo. "Dan apa tadi kau bilang? Asya akan memarahiku? Huh, saya pikir kau sekarang benar-benar gila. Bagaimana putriku bisa memarahiku? Dia bahkan tidak mengingatmu sekarang. Benarkan Gara?"
"Ya. Menantuku sangat bahagia di rumah." Jawab Gara. Naomi melotot mendengar Gara menyebut Asya menantu. Saat ingin mengatakan sesuatu, Edo dengan cepat memotongnya.
"Oh ya, bagaimana dengan putri angkatku? Apa bayi dalam kandungannya baik-baik saja." Edo seolah-olah sedang memanasi Naomi. Dan Gara meresponnya dengan baik.
"Ya. Calon cucuku baik-baik saja. Kandungannya sehat."
"Waah... Aku sangat bahagia."
"Menantu? Bayi?" Ucap Naomi tiba-tiba. "Asya dan Aurel, menjadi menantu keluarga Grisam? Kandungan Aurel, baik-baik saja? Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin Asya dan Aurel menikahi Darren Darrel. Tidak mungkin!"
"Apanya yang tidak mungkin?" Suara Gara terdengar sangat dingin.
"Tidak! Asya ataupun Aurel tidak boleh menikahi Darren Darrel. Darren Darrel hanya milikku. Jika aku tidak bersama Darren, maka aku harus bersama Darrel. Aku yang sepantasnya menjadi nyonya muda Grisam. Bukan mereka!" Naomi berteriak seperti orang gila.
Dia lalu menunjuk pada Edo. "Putrimu! Putrimu, Asya! Dia pembohong! Dia penjahat! Dia merebut Darren dariku, dan menghalangi aku bersama Darrel! Dia penyebab semuanya! Dia bilang akan memperkenalkan Darren padaku. Tapi, dia malah merebut Darren dariku!"
"Huh! Kau benar-benar bodoh! Putriku hanya mengatakan untuk mengenalkanmu pada Darren. Bukan untuk menjadikan mu istri Darren." Ucap Edo.
"Kedua putraku sejak awal tidak menyukai mu." Timpal Gara. "Bahkan jika mereka menginginkanmu, saya sendiri yang akan membuangmu jauh." Ucap Gara dengan serius.
"Ayo, Gara! Kita pergi melihat yang lain. Membosankan bicara dengan wanita gila."
"Tidak! Mereka tidak akan bahagia. Aku yakin jika pernikahan mereka tidak akan bahagia!" Teriak Naomi, membuat Edo dan Gara yang sudah berjalan menghentikan langkah mereka dan berbalik.
"Kau bukan Tuhan!" Jawab kedua lelaki itu bersamaan, kemudian melanjutkan jalan mereka.
Setelah dari tempat Naomi, mereka menemui Hendra. Lelaki itu terlihat sedikit kurus dan tidak banyak bicara. Dia hanya melihat wajah Gara dan Edo sekilas, lalu mengabaikan mereka.
"Apa tempatmu ini kekurangan makanan?" Tanya Edo.
"Aku bukan orang miskin yang tidak bisa memberi makanan yang layak untuk mereka. Badan kurus bukan hanya karena kekurangan makanan. Beban pikiran bisa membuat orang kurus juga." Jawab Gara.
__ADS_1
"Ck. Ucapan mu memang selalu masuk akal." Balas Edo.
Gara dan Edo tak ambil pusing mengenai Hendra. Mereka kemudian mengunjungi Hardi. Dia adalah satu-satunya orang yang diberikan waktu cukup banyak di luar ruangan. Tubuhnya sekarang sedikit lebih berotot dari sebelumnya. Sepertinya ia mendapatkan hukuman sekaligus pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik dan berguna. Terlihat dari perubahan yang terjadi padanya. Remaja itu juga menunduk hormat saat bertemu Gara dan Edo. Dia benar-benar di-didik dengan baik di tempat itu.