Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 130


__ADS_3

Suasana di meja makan terasa berbeda. Tidak ada Gara dan Alula, Darrel, Aurel dan putri mereka Meeya. Hanya ada Darren, Asya, Doni dan Alisha yang belum lama kembali dari rumah Nadia.


"Kenapa nggak belajar kelompok disini saja?" Tanya Darren, sambil menatap Alisha yang tidak semangat menyuapkan makanannya.


"Sayang, kita lagi makan, lho. Jangan ditanya dulu." Tegur Asya.


"Nggak apa-apa, Kak Asya." Ujar Alisha. Ia lalu menatap Darren. "Alisha pengen sesekali rasain ke rumah teman, Kak." Jawabnya, yang dibalas anggukkan oleh Darren.


"Alisha mau nambah?"


"Enggak, Kak. Ini aja belum habis." Tolaknya, sambil tersenyum manis ke arah Asya.


"Ya sudah. Doni, mau nambah?"


"Enggak, Ma." Asya mengangguk, lalu menatap suaminya.


"Kamu mau nambah, sayang?"


"Enggak." Jawab Darren. "Kamu juga harus makan yang banyak. Lihat makananmu! Hanya sebesar gumpalan tangan Doni. Bagaimana kamu bisa kenyang? Anak kita juga butuh makanan, sayang."


"Aku lagi pengen makan sedikit, sayang. Nanti, kalau mau, aku makan lagi."


Darren menarik nafasnya lalu mengangguk pelan. Membuat Asya tersenyum senang.


"Makasih, sayang." Ujar Asya.


***


Setelah makan dan berbincang sebentar, mereka kembali ke kamar masing-masing. Alisha duduk diam di atas ranjangnya, sambil mengusap air matanya yang terus menetes.


Belajar kelompok di rumah Nadia hanyalah alasan Alisha. Sebenarnya, tidak ada belajar kelompok atau apapun. Dia mengusulkan untuk main ke rumah Nadia agar bisa melupakan perkataan Axel. Saat bersama Nadia dan Yana, ia sedikit melupakan kejadian itu. Tapi, setelah dia sendiri seperti ini, gambaran dan kata-kata Axel kembali terlintas di pikirannya.


"Hiks... Kamu nggak boleh nangis buat Axel, Alisha! Dia jahat! Nggak perlu menangis buat orang jahat! Hiks..." Gadis itu mengusap air matanya.


"Alisha benci Axel! Alisha benci..."


Tok... Tok... Tok...


"Alisha," Suara Darren terdengar membuat Alisha dengan cepat mengusap air matanya.


"Alisha, Kakak tahu, kamu belum tidur. Buka pintunya!"


"Iya, Kak." Jawab Alisha, berusaha setenang mungkin. Setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa, Alisha segera membuka pintu untuk Darren.


"Hehe... Kak Darren ada apa kesini?" Tanyanya.


"Kakak boleh masuk?" Tak menjawab, Darren malah balik bertanya.


"Boleh." Jawab Alisha, cepat.


Darren masuk diikuti Alisha di belakangnya. Keduanya duduk bersama di kamar Alisha. Darren duduk di sofa, sementara Alisha memilih duduk di kursi meja belajarnya, sedikit jauh dari Darren.


"Kenapa duduknya jauh begitu? Ayo, sini dekat Kakak!"


"Nggak apa-apa, disini saja, Kak." Balasnya.


"Alishaaa,"


"Iya, Kak. Iya."


Alisha berpindah duduk di sofa, tepat di samping Darren. Sedetik kemudian, ia merasakan elusan lembut di rambutnya. Ia mendongak menatap Darren.

__ADS_1


"Kamu ada masalah?" Tanya Darren, namun mendapat gelengan dari Alisha.


"Enggak, Alisha nggak ada masalah." Jawabnya. Tapi, mata dan perasaannya tak bisa berbohong. Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Kalau nggak ada masalah, kenapa matamu berair?"


Alisha lagi-lagi menggeleng. Dan beberapa saat kemudian, ia langsung memeluk Darren sambil terisak.


"Hiks..."


"Hei. Alisha. Kenapa, hmm? Siapa yang nyakitin kamu? Ayo, ngomong sama Kakak!" Darren balas memeluk adiknya, sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Alisha, hiks... Nggak apa-apa, kak. Hiks..."


Darren menarik nafasnya. Sudah menangis seperti ini, Alisha msih saja menyembunyikannya. "Cerita sama Kakak, okey? Kamu tahu kan Kakak bisa dapat informasinya? Tapi, Kakak ingin dengar dari mulut kamu sendiri."


Alisha terdiam. Ia masih terus memeluk Kakaknya. Darren menoleh ke arah pintu yang terbuka. Asya berdiri disana dengan raut khawatir. Namun, saat mendapat gelengan Darren dan isyarat agar ia pergi, Asya pun menurutinya dan pergi.


Alisha melepas pelukannya, mengusap air mata, lalu menatap Darren. "Alisha akan cerita. Tapi, Kak Darren janji dulu nggak akan marah."


"Iya, Kakak janji."


"Benaran?" Alisha mengangkat kelingkingnya. Membuat Darren tersenyum dan membalas menautkan kelingkingnya.


"Benaran."


"Janji nggak akan marah?"


"Janji nggak akan marah."


"Janji nggak akan balas ke orangnya?"


Darren terdiam. Dia tidak yakin tidak akan membalas orang yang sudah membuat adiknya menangis.


"Kakak..."


"Kalau Kakak nggak janji, Alisha nggak akan cerita ke Kakak. Alisha juga akan marah kalau Kakak mencaritahunya, dan membalas orang itu."


Darren menatap Alisha. Ia sadar, darah ancam-mengancam Ayahnya juga diturunkan ke Alisha.


"Baiklah. Kakak janji!"


Alisha tersenyum kecil dan melepas tautan kelingking mereka. Ia menarik nafas dan mulai menceritakannya.


Darren terlihat tenang mendengar cerita adiknya. Namun, tanpa Alisha tahu, tangan Darren terkepal erat. Ia sedikit tahu watak Axel. Mungkin saja adiknya dibentak oleh anak itu.


"Nggak apa-apa. Kamu pasti dapat sahabat baru lagi setelah Axel."


Alisha tersenyum paksa. "Ya, mungkin saja."


Mungkin saja Alisha dapat yang baru. Tapi, yang sama kayak Axel, mungkin nggak ada. Batin Alisha.


"Kamu nggak boleh sedih lagi. Kalau ada apa-apa cerita sama Kakak. Atau sama Asya, Darrel atau Aurel. Kalau kamu nggak bisa sama kita, cerita saja pada Ibu atau Ayah. Jangan memendamnya sendiri."


"Iya, Kak."


"Sekarang tidur, ya? Kakak mau keluar dulu."


"Iya, Kak."


"Selamat malam." Darren mengecup kening Alisha.

__ADS_1


"Selamat malam juga." Balas Alisha.


***


Asya duduk di tepi ranjang dengan perasaan khawatir. Ia melihat sendiri Alisha menangis dalam pelukan Darren. Ia takut terjadi apa-apa pada adik iparnya itu.


Saat pintu kamar terbuka, Asya dengan cepat menghampiri Darren yang berjalan ke arahnya.


"Pelan-pelan saja jalannya." Tegur Darren, dengan cepat meraih tangan istrinya. Ia sangat takut wanitanya itu terjatuh, dan hal buruk terjadi pada sang istri dan calon anaknya.


"Aku nggak apa-apa. Bagaimana Alisha? Apa yang terjadi padanya?"


"Kita duduk dulu, okey?" Asya mengangguk. Darren menuntun Asya duduk di ranjang.


"Alisha sama Axel nggak sahabatan lagi."


"Nggak sahabatan lagi? Kenapa?"


"Axel marah pada Alisha. Dia melarang Alisha menemuinya dan menghubunginya. Dia suruh Alisha menjauh."


"Si Axel itu! Mudah sekali dia menyuruh Alisha seperti itu. Aku nggak terima, sayang! Aku mau temui si Axel itu dan memukul kepalanya!"


"Sayang, sayang. Dengarkan aku! Alisha melarang aku untuk membalasnya. Aku sudah berjanji padanya. Jadi, kita jangan buat Alisha tambah sedih karena mengingkarinya."


Asya menarik nafas dengan wajah lesu. Ia lalu memeluk Darren. "Kasihan sekali adik iparku. Semoga Axel sadar dan mau bersahabat lagi sama Alisha."


"Iya." Balas Darren. "Sekarang, ayo tidur. Kamu harus istirahat yang cukup."


Asya mengangguk dan segera berbaring. Darren juga ikut berbaring sambil memeluk istrinya. Tangannya mengusap-usap perut Asya.


"Anak Papa juga istirahat, ya? Jangan gangguin Mama." Ucap Darren. Ia bergerak mengecup kening Asya, lalu mata, pipi, hidung dan terakhir di bibir Asya. Ia mencium lama bibir sang istri. Asya membalas ciuman itu. Ciuman itu perlahan menurun ke arah leher Asya. Asya juga memberi akses untuk Darren mencium lehernya. Saat bibir Darren menyentuh leher Asya, tiba-tiba pintu diketuk.


Tok... Tok... Tok...


Darren menjauhkan wajahnya dan berdecak kesal. Dengan cepat ia turun dari ranjang dan membuka pintu. Wajah kesalnya langsung berubah bingung saat melihat Doni berdiri di depannya.


"Papa,"


"Ada apa, nak?" Tanya Darren, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Doni.


"Doni mau tidur sama Papa sama Mama. Boleh kan?"


Tanpa pikir panjang Darren langsung mengangguk setuju dan menggendong masuk Doni.


"Eh, anak Mama. Sayang, baringin Doni disini." Asya menepuk tempat antara dirinya dan Darren. Darren segera menurutinya, dan ikut berbaring.


"Tadi aku lihat Papa ke kamar Aunty Alisha. Aunty Alisha baik-baik saja kan, Pa?"


"Aunty kamu baik-baik saja."


"Syukurlah." Balasnya.


"Sekarang kita tidur, okey?" Ucap Darren.


"Okey, Pa." Jawabnya. "Mama, Selamat malam. Selamat malam juga buat adek bayi." Ujarnya lalu mengecup singkat pipi Asya.


"Papa juga mau tidur. Sekarang, kita tidur bersama, ya?" Darren mengusap pelan perut Asya.


"Iya, Pa." Balas Asya dengan menirukan suara anak kecil. Darren bergerak mencgecup perut Asya, lalu mengecup kening Doni.


"Selamat tidur, istriku yang cantik. Dan selamat tidur putra Papa yang tampan."

__ADS_1


"Selamat tidur, Papa. Selamat tidur, Mama."


"Selamat tidur dua kesayangan Mama." Ucap Asya, mengecup pipi Doni dan Darren.


__ADS_2