Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 23


__ADS_3

Jam istirahat, Alisha celingak celinguk mencari keberadaan seseorang. Kedua sahabatnya sudah dimintanya untuk terlebih dahulu ke kantin. Dia akan menyusul nanti.


"Eh, kamu lihat Axel nggak?" Tanya Alisha pada salah satu murid laki-laki.


"Axel?" Alisha mengangguk. "Enggak tahu, mungkin di rooftop." Jawabnya.


Ya, mungkin saja. Batin Alisha.


"Makasih, ya."


Alisha bergegas menuju rooftop. Namun, belum sempat kakinya menaiki tangga, tangan seseorang mencekalnya. Alisha berbalik dan wajahnya berubah menjadi pucat.


"Cantik," Ucapnya dengan seringaian jahat.


"Lepasin!" Alisha berusaha melepaskan cekalan itu. Namun, lelaki itu terlalu kuat, hingga tangan Alisha mulai memerah.


"Lepas? Nggak akan!" Balasnya.


"Lepasin, Hardi!" Kali ini, Alisha berteriak dan masih terus memberontak. Suasana di sekitar mereka menjadi sunyi. Ada beberapa siswa yang lewat. Tapi, tidak satupun dari mereka yang mendekat.


Alisha menatap mata Hardi. Laki-laki itu adalah siswa pindahan di sekolah mereka. Siswa yang sama, yang hampir mencelakai Alisha dengan smash keras saat bermain voli waktu itu.


Meskipun takut, Alisha tetap memberanikan dirinya menatap mata Hardi. Laki-laki itu yang terus membuatnya takut akhir-akhir ini. Untungnya, ada Axel yang selalu menolongnya. Tapi, dimana Axel sekarang?


"Lepasin, nggak?!" Alisha sudah sedikit membentak. Dia benar-benar takut melihat seringaian Hardi. Meskipun raut wajahnya lembut, dia tetap lebih menakutkan menurut Alisha jika dibandingkan dengan Axel.


"Kalau nggak mau lepas? Kamu mau apa?"


"Gue bakal patahin tangan lo!!" Ucap Axel, dingin dan langsung menghempaskan tangan Hardi dengan kasar.


Alisha bernafas lega. Meski sekarang sorot mata Axel begitu menyeramkan, ia tidak begitu takut. Ia justru bersyukur, karena Axel datang dan menolongnya.


Hardi tersenyum miring, sementara Axel menatapnya dengan tajam. Satu tangan Axel meraih pelan tangan Alisha dan membawanya menjauh.


Kita lihat saja. Seberapa bisanya lo lindungi Alisha. Batin Hardi.


Laki-laki itu lalu mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang.


"Rencananya sudah dijalankan, Kak. Aku akan terus menggangunya." Ucap Hardi.


"Bagus. Lakukan dengan benar."


"Ya."


Setelah memutuskan sambungan telponnya, Hardi kembali ke kelas.


Sementara di lorong kelas, tepatnya di bangku panjang, Axel dan Alisha duduk bersama. Tangan laki-laki itu memegang tangan Alisha, dengan mata yang terus menatap tangan Alisha yang memerah dan mulut yang tak hentinya meniup tangan gadis tersebut.


Axel mendongak, membuat matanya dan Alisha saling bertatapan. "Sakit?" Tanyanya datar, namun ada kekhawatiran dari sorot matanya.


Alisha mengangguk pelan. Disaat Axel kembali menunduk dan meniup tangannya, seulas senyum muncul di bibir Alisha. Sejak Axel menolongnya dari hantaman bola voli, hubungan mereka berdua menjadi dekat.


"Mau ke UKS?" Alisha kembali menggeleng.


"Nggak usah. Bentar lagi, pasti hilang sakit sama merahnya." Jawab Alisha.


"Ngomong-ngomong, makasih ya, udah bantuin aku."


"Hmm..." Balas Axel, mesih fokus meniup tangan Alisha. Tapi, detik berikutnya ia menatap Alisha, karena gadis itu menarik tangannya dari genggaman Axel.


"Tanganku udah nggak sakit lagi." Alisha tersenyum kecil. "Terima kasih."


Axel mengangguk. "Itu aja ucapan terima kasihnya?"


"Hah?" Alisha menatap bingung. Membuat wajahnya terlihat menggemaskan.

__ADS_1


Axel menarik nafasnya. Ingin sekali ia mencubit pipi gadis itu. Namun, ia segera menepisnya dan menggeleng pelan.


"Kamu kenapa?"


"Enggak."


"Maksud yang tadi, apa?"


"Nggak ada."


"Huufthh... Ya udah." Ucap Alisha. "Oh ya, aku tadi cariin kamu buat ngasih ini." Alisha mengeluarkan handphone Axel dan memberikan pada pemiliknya.


"Aku temuin di atas meja kelas. Mungkin kamu lupa membawanya. Tadi juga ada yang telpon, nggak tahu siapa."


Axel menyalakan handphonenya. Wajahnya sedikit menegang. Ia kemudian menatap Alisha.


"Thank's. Gue pergi dulu." Axel menepuk pelan puncak kepala Alisha, lalu berjalan cepat, menjauh dari Alisha.


***


Hari-hari berganti. Tiba saatnya Darrel berangkat menuju kota C. Laki-laki itu memasuki rumah setelah kembali dari perusahaan, menemui Darren.


"Dimana Ayah sama Ibu?" Darrel mengedarkan pandangannya di ruang keluarga. Namun, tidak menemukan pasangan suami istri tersebut.


"Tunggu, Bibi!" Darrel menghentikan seorang pelayan.


"Iya, tuan muda?"


"Dimana Ibu sama Ayah?"


"Tuan sama nyonya sedang di taman belakang, tuan."


"Baiklah. Kau boleh pergi." Pelayan tersebut menundukkan kepalanya pada Darrel, lalu pergi.


Didepannya, sang Ibu dan Ayah sedang duduk bersama di kursi panjang taman. Gara merangkul pundak Alula dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pelipis Alula.


"Sayang, hentikan! Ada beberapa penjaga disini." Ujar Alula, malu.


"Kenapa? Biarkan saja mereka. Aku tidak akan berhenti menciummu sampai kamu mengatakan iya."


"Mengatakan iya untuk apa?" Bukan Alula yang menjawab, melainkan Darrel. Anak itu berdiri di belakang kedua orang tuanya sambil tersenyum tanpa dosa.


Gara mendengus kesal. Dan Alula, ia sedikit malu karena kepergok putranya sedang dicium Gara.


"Kenapa kamu disini?" Tanya Gara, datar. Selalu saja Darrel yang muncul setiap kali ia bermesraan dengan Alula.


"Jangan marah, Ayah! Aku kebetulan mau main kesini."


"Jangan bohong!"


"Sayang," Alula mengusap pelan lengan Gara. Membuat Gara menarik nafasnya. "Darrel." Panggil Alula.


"Iya, Bu."


"Ayo, duduk sini."


Darrel tersenyum. Ia memandang Ayahnya yang kini sedang menatapnya sambil menaik turunkan alisnya. Seolah sedang mengejek sang Ayah.


Darrel berjalan mengitari kursi dan duduk. Namun, belum sempat tubuhnya menyentuh kursi, Gara sudah mencegahnya.


"Eh, kenapa duduk di tengah? Duduk di pinggir. Biar Ibu di tengah." Kesal Gara.


"Ayolah, Ayah. Sebentar saja."


"Tidak."

__ADS_1


Ck. Memang susah kalau punya Ayah yang posesif sama Ibu. Anak sendiri saja, dicemburuin. Batin Darrel.


"Ya, udah. Darrel nggak duduk. Darrel kesini mau izin berangkat ke kota C."


"Sekarang?" Tanya Alula.


"Iya, Bu."


"Ayo, biar Ibu siapin keperluan kamu."


"Nggak usah, Bu. Biar Darrel saja. Hanya dua hari disana."


Alula mengangguk. Ketiganya kemudian kembali masuk rumah. Darrel menuju kamarnya, dan tak lama ia keluar dengan barang yang akan ia bawa.


"Kak Darrel mau kemana?" Alisha yang baru pulang dari rumah Asya menatap Darrel. Di sampingnya, ada Asya.


"Iya, Rel. Kamu mau kemana?" Timpal Asya.


"Aku mau ke kota C. Ada acara lomba melukis disana."


"Oh iya, Alisha lupa. Ya udah, Kakak hati-hati. Jangan lupa yang Alisha pesan."


"Iya." Darrel mengusap pelan puncak kepala Alisha.


"Kamu hati-hati, Rel." Ucap Asya.


"Iya."


Darrel kemudian meraih tangan kedua orang tuanya dan menciumnya.


"Darrel pergi dulu, Yah, Bu."


"Iya. Hati-hati ya, nak."


Darrel mengangguk. "Iya, Bu."


"Hati-hati." Ucap Gara, datar. Namun, tangannya tak henti menepuk pelan punggung Darrel.


Darrel lagi-lagi mengangguk, lalu bergegas menuju bandara bersama sang supir.


***


Darrel turun dari pesawat setelah satu jam lebih penerbangan. Di lobi bandara, seorang lelaki paruh baya sudah menunggunya. Dia mendekati Darrel dan menunduk hormat.


"Selamat datang, tuan. Saya utusan dari tuan Karim untuk menjemput anda." Ucap lelaki itu, sambil menyebut nama penggelar acara lomba.


"Ya, terima kasih." Balas Darrel dengan ramah.


Keduanya segera menuju mobil dan melaju ke arah hotel yang akan Darrel tempati. Setelah beberapa menit, mereka tiba. Darrel menuju kamarnya, dan lelaki tersebut kembali.


"Hari ini, cukup banyak yang aku urus. Dari pagi hingga menjelang sore, aku dengan semangat belajar tentang perusahaan bersama Darren. Tidak ada waktu istirahat buatku hari ini. Dan sekarang aku sangat lelah." Gumam Darrel.


Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan tanpa sadar, ia terlelap. Mungkin karena kelelahan, hingga dia tertidur dengan mudah.


Pukul 7 malam, Darrel terbangun. Tidak ada pekerjaan yang harus ia lakukan malam ini. Darrel bergegas menuju kamar mandi. Darrel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu segar.


"Sudah dua hari aku tidak mendapatkan kabar tentang pencarian gadis itu. Aku akan menghubungi mereka setelah makan malam."


Darrel meraih handphonenya lalu menelpon ke layanan hotel untuk membawakan makan malam untuknya. Setelah itu, ia bergegas mengganti pakaiannya.


Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Darrel segera membukanya.


Deg...


Tubuh Darrel membeku melihat seseorang yang berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2