
Hari-hari berlalu. Alisha maupun Yana masih merasakan kesedihan atas kepergian Nadia. Yana lebih sering absen ke sekolah sejak peristiwa itu. Dan Alisha sering menyendiri. Seperti saat ini, jam pulang sekolah sudah berlalu lima menit yang lalu. Tapi, Alisha masih berdiam diri di dalam kelas.
"Nona Alisha, kenapa masih disini?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang bertugas mengunci pintu tiap-tiap kelas setelah para murid pulang.
"Alisha masih pengen disini, Pak. Bapak kalau mau kunci pintu, dikunciin aja, Pak. Nanti Alisha keluar lewat jendela," ucap gadis itu sekenanya.
"Eh, kok begitu, Non? Nggak bisa."
"Simpan aja kuncinya disitu, Pak. Nanti saya yang bawain ke pos jaga. Bapak kunciin pintu yang lain." Suara Axel tiba-tiba terdengar. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Alisha dan si Bapak.
"Ya udah. Bapak simapn kuncinya disini. Kalian berdua jangan macam-macam di kelas. Bapak bisa laporin ke pihak sekolah." Axel hanya mengangguk dengan wajah datarnya. Setelah orang tua itu pergi, Axel berdiri di samping Alisha.
"Sha." Panggilannya diabaikan Alisha. Gadis itu hanya diam. Axel menarik nafasnya lalu menarik kursi kosong di meja sebelah. Ia menggeser kursi tersebut lebih dekat pada Alisha, lalu menduduki benda tersebut.
"Ayo pulang." Suara Axel yang dingin berubah sangat lembut.
Alisha menoleh pada laki-laki itu dan tes... Air matanya jatuh. Axel menghembuskan nafasnya. Sudah sering kali ia melihat Alisha menangis seperti ini sendirian, sejak kehilangan Nadia.
Axel mengulurkan tangannya dan mengusap air mata gadis itu. "Jangan nangis lagi. Gue nggak suka lihat lo begini," ucapnya.
"Kalau Axel nggak suka, Axel pergi aja."
"Gue akan pergi, tapi bareng lo."
Alisha semakin menetaskan air matanya. Axel tak menghapusnya lagi. Dia beralih mengusap lembut rambut Alisha.
"Alisha masih nggak nyangka, Xel. Alisha nggak nyangka Nadia udah nggak ada. Hiks..."
Axel hanya diam. Lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Alisha. Diam dan dengarkan Alisha, itu yang bisa ia lakukan.
"Yana juga sering absen sekarang. Hiks. Alisha nggak punya teman lagi," ucapnya sesenggukkan.
"Masih ada gue."
"Hiks. Nggak sama. Kamu laki-laki, nggak ngerti soal perempuan."
Axel sedikit meringis mendengar jawaban Alisha. Masih kepikiran gadis itu untuk menjawabnya saat menangis seperti ini.
"Mau jalan-jalan?" Alisha menggeleng. "Naik motor."
Alisha langsung menatap Axel saat mendengar ucapan lanjutan dari Axel. Dia ingin mencoba naik motor sejak dulu. Namun, keinginan itu belum pernah terkabulkan. Ditawari Axel seperti ini adalah kesempatannya. Tapi, dia tidak ingin ayahnya marah. Gara melarangnya untuk naik motor. Banyak alasan yang ayahnya itu berikan saat ia mengutarakan keinginannya tersebut.
"Hiks. Alisha mau. Tapi, supir Alisha?"
"Dia udah gue suruh pulang. Gue juga udah izin sama om Gara. Gue yang anterin lo pulang nanti," jawab Axel. "Ayo!"
Alisha mengangguk. Ia meraih tasnya, lalu berjalan keluar bersama Axel yang menggenggam tangannya. Axel tak melepas genggaman tersebut bahkan ketika ia menutup pintu kelas tersebut.
__ADS_1
Keduanya berjalan ke arah parkiran dan berhenti tepat di motor Axel. Axel meraih helmnya.
"Sini dekatan!" Axel menarik Alisha mendekat dan memakaikan helm tersebut pada Alisha.
"Kenapa Alisha yang pake? Axel gimana?"
"Gue gampang. Yang penting itu lo," jawabnya sambil mengaitkan helm tersebut.
"Helmnya kebesaran," ucap Alisha. Wajah gadis itu terlihat lucu setelah mengenakannya. Membuat Axel terkekeh pelan. "Kenapa ketawa? Axel ketawain Alisha?"
"Lo lucu," jawabnya, lalu menaiki motornya dan menghidupkannya. "Ayo, naik!"
Alisha menurut. Ia menaiki motor dibantu Axel. Wajahnya cemberut karena diketawai Axel tadi. Remaja laki-laki itu melajukan motornya. Ia berhenti sejenak di pos jaga yang ada di dekat gerbang.
"Ini Pak, kuncinya," ucapnya meletakkan kunci tersebut.
"Oh. Makasih Nak Axel."
Setelah itu, Axel kembali melajukan motornya dengen kecepatan sedang. Sedangkan Alisha yang diboncengnya hanya diam.
"Sha. Kenapa diam?" Tak ada jawaban. Karena itu, Axel melirik spion motornya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum saat melihat gadis itu cemberut. Sepertinya gadis itu kesal padanya.
"Lo marah sama gue?" lagi-lagi tak ada jawaban dari gadis itu. "Gue nggak bilang lo jelek kalau pake helm itu. Lo lucu. Dan asal lo tahu, apapun yang lo pake, lo selalu cantik di mata gue."
Gantian sudut bibir Alisha yang terangkat mendengar ucapan Axel. Dia benar-benar tidak bisa menahan senyum saat mendengar kalimat itu Axel ucapkan.
"Nggak usah ngomong manis. Nggak cocok sama kamu yang dingin."
"Ck." Alisha berdecak, namun tetap tak bisa mengendalikan senyumnya. "Kita kemana sekarang?"
"Beli helm dulu buat lo. Gue nggak mau lo sakit kepala karena helm gue yang keberatan."
"Alisha yang milih sendiri."
"Iya."
"Setelah beli helm, kita kamana?"
"Terserah lo. Gue bakal turutin semua yang lo mau. Sebut aja, tempat mana yang mau lo datangi."
"Kalau Alisha mau ke luar negeri, Axel mau anterin?" canda Alisha.
"Boleh. Mau kemana? Libur kenaikan kelas, kita berangkat."
"Hehehe... Alisha bercanda. Alisha punya jadwal liburan sama keluarga Alisha pas libur nanti." Axel tersenyum mendengarnya. Jadwal bersama keluarga, itu bukan masalah bagi Axel. Cukup meminta pada Gara, dia sudah bisa ikut berlibur bersama Alisha.
***
__ADS_1
Jiyo berjalan cepat menuju ruang rawat Bu Fida, mama Nita. Kondisi wanita itu semakin membaik setelah ditangani dengan tepat. Senyum di wajah Nita perlahan kembali. Sejak diberitahu Jiyo soal penangkapan Iwan, kecemasan Nita mulai berkurang. Dia juga sedikit lebih santai berbicara dengan Jiyo.
Tok... Tok... Tok...
Jiyo mengetuk pelan pintu dan mendorongnya. Senyum hangat wanita berusia 40-an menyambutnya.
"Nak Jiyo," sapa wanita itu.
"Tante." Jiyo mendekat dan meraih tangan wanita itu lalu mengecupnya. "Bagaimana keadaan Tante?"
"Tante merasa lebih sehat dari sebelumnya. Terima kasih ya Nak, sudah mau membantu Nita merawat Tante."
Jiyo tersenyum dan mengangguk. "Ini, mama titip bubur Ayam buat Tante." Jiyo meletakkan kotak bekal yang berisi bubur ayam di atas nakas samping brankar. "Mama yang buat sendiri. Katanya, semoga Tante cepat sembuh," lanjut Jiyo.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih juga buat mama kamu."
Jiyo lagi-lagi mengangguk. "Oh ya, Nita dimana?"
"Di kamar mandi."
Jiyo dan Mama Nita terlibat percakapan ringan. Jiyo yang cukup banyak bicara membuat Mama Nita merasa terhibur. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Nita keluar dengan tubuhnya yang terasa segar.
"Tu-Tuan Jiyo?" Nita sedikit terkejut melihat Jiyo ada di ruangan Mamanya.
Jiyo tersenyum padanya. "Nggak Tuan Jiyo. Yang ada hanya Jiyo," ucapnya.
"Ma-maaf. Aku lupa," ucapnya. Dia sudah berjanji untuk tidak memanggil Jiyo dengan embel-embel Tuan saat di luar kantor. Tapi, dia selalu lupa.
"Sini, sayang. Jiyo bilang, dia mau ngomong sesuatu yang serius sama kamu sama Mama."
Nita menurut. Ia mendekati sang Mama dan duduk di sisi brankar. Tangannya menyentuh tangan sang Mama dan menggenggamnya dengan lembut.
Jiyo menatap kedua wanita itu bergantian. Ia menarik nafasnya, lalu menghembuskannya pelan. Dirinya tiba-tiba gugup saat berhadapan dengan dua wanita tersebut.
"Ada apa, Nak Jiyo?"
"Tente, maaf jika saya lancang dan terkesan buru-buru dan kurang ajar. Saya ingin meminta restu tante untuk menikahi Nita. Tante jangan salah paham. Saya ingin menikahi Nita bukan karena sebagai imbalan atas semua bantuan saya selama ini. Saya ingin menikahi Nita dari hati saya yang paling tulus. Tapi, semua keputusan saya serahkan pada Tante dan Nita."
Wanita itu terdiam, lalu menatap putrinya yang sama diamnya. Dia tahu, bagaimana traumanya Nita menyangkut laki-laki. Tapi, dia juga tahu, bagaimana perasaan Nita pada Jiyo. Ia akui, usaha Jiyo mendekati putrinya tidak sia-sia. Nita juga memiliki perasaan padanya. Tapi, soal menikah, ia kembalikan pada Nita. Putrinya lebih tahu tentang dirinya dan apa yang akan ia hadapi nanti.
"Nak Jiyo, Tante hanya orang tua yang mau melihat anaknya bahagia. Tante akan dukung anak Tante kalau itu buat dia bahagia. Karena itu, Tante serahkan semua keputusan pada Nita. Dia yang menjalani hidup. Maka dia sendiri yang memilih jalan hidupnya."
Jiyo menatap Nita yang terus menunduk dan terdiam. Ini bukan pertama kalinya ia melamar Nita untuk menjadi istrinya. Yang berbeda adalah, lamarannya kali ini di hadapan Mama Nita.
"Nita?" Suara Jiyo yang terdengar tak membuat gadis itu mendongak. Ia masih terus menundukkan kepalanya.
"Aku... Aku mau jadi istri kamu."
__ADS_1
Senyum lebar langsung menghiasi wajah Jiyo. Ia meraih tangan Bu Fida dan menciumnya beberapa kali. Setelah itu, ia mendekati Nita dan memeluk erat gadis itu.
"Terima kasih," ucapnya pelan, namun bisa didengar Nita.