
Alisha sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Darren juga sudah siap dengan stelan kantornya. Sedangkan Darrel, dia sudah bersiap dengan stelan casualnya. Hari ini, ia akan ikut Darren mengantar Alisha.
"Sini biar Kakak bawain!" Ucap Darrel, sabil berjalan keluar rumah bersama Alisha dan Darren. Tangannya terulur meminta tas milik Alisha agar dia yang membawanya.
"Nggak usah, Kak. Alisha bisa bawa sendiri." Tolak Alisha.
"Udah, biar Kakak saja yang bawa." Darren meraih tas yang digendong Alisha. Membuat gadis itu cepat menahannya.
"Alisha aja, Kak."
"Kakak aja. Kamu jadi tuan putri saja, yang harus dilayani."
"Nggak mau! Alisha bisa sendiri. Alisha bukan gadis manja!"
"Emang kamu manja!"
"Enggak!"
"Manja!"
"Enggak!"
Darrel dan Alisha terus berdebat. Darren hanya bisa menggeleng kepalanya dan berjalan lebih dulu dari keduanya. Alula dan Gara yang melihat dari jarak sedikit jauh dari mereka pun hanya terkekeh dan menggeleng kepala.
"Kakak ngeselin, tau nggak?!"
"Kamu juga ngeselin! Dibantuin malah nolak. Emang manja, dibilang enggak."
"Alisha nggak manja!"
"Manja! Kalau enggak berarti cengeng."
"Enggak cengeng juga!"
"Masa? Yang waktu itu nangis pas kakinya ter... Awww... Shhh... Sakit Alisha." Darrel meringis karena dicubit lengannya oleh Alisha.
"Kakak bisa diam nggak? Nanti Ibu sama Ayah tahu kalau kaki Alisha terkilir waktu itu." Ucap Alisha sambil berbisik. Meskipun kedua orang tuanya berada agak jauh, tetap saja ia takut jika mereka mendengarnya.
"Ibu sama Ayah nggak tahu?" Darrel ikut berbisik. Bahkan dia menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan telinga Alisha.
"Enggak." Jawab Alisha.
"Kalian mau berangkat, atau masih mau berantem?" Tanya Darren, dengan tampang datarnya. Kedua adiknya sudah berada di dekat mobil, tapi belum juga memasukinya.
Mendengar suara Darren, mereka segera menghentikan percakapan mereka dan langsung masuk mobil.
Darrel dan Alisha terus berbincang dalam mobil. Sementara Darren, dia hanya menjadi pendengar yang baik.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Alisha turun terlebih dahulu. Darrel yang melihat Darren belum bergerak untuk turun pun menepuk bahunya.
__ADS_1
"Ayo!" Ucapnya sambil mengisyaratkan Darren untuk turun, menggunakan matanya.
Darren tidak menjawab. Tapi, tangannya membuka pintu mobil dan keluar.
"Alisha!" Dua sahabat Alisha yang juga baru tiba, berlari ke arahnya sambil memanggil nama Alisha.
Namun, kedua gadis itu berhenti dengan mata membulat menatap dua laki-laki yang berdiri di belakang Alisha.
"Astagaaa... Mimpi apa aku semalam, Yan, sampai ketemu pangeran pagi ini. Dua sekaligus lagi." Ujar Nadia, tanpa berkedip.
"Tuhan emang baik, Nad. Selain gak jadi ulangan hari ini, kita juga dikasi yang ganteng-ganteng pagi ini." Timpal Yana.
Alisha menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya itu. Ia lalu memukul pelan lengan kedua sahabatnya.
"Sadar! Sadar! Bentar lagi bel masuk." Ujar Alisha.
"Apaan sih, Sha."
"Iya. Ganggu aja." Timpal Yana.
Alisha menepuk jidatnya. Ia kemudian berbalik dan mencium punggung tangan kedua Kakaknya.
"Sana gih! Kak Darren sama Kak Darrel pulang! Bisa-bisa mereka terus berdiri disini nanti." Ujar Alisha sambil melirik kedua sahabatnya.
Darren dan Darrel sama-sama mengangguk. Darren mengulurkan tangnnya mengusap pelan kepala Alisha, lalu memasuki mobilnya. Sementara Darrel, dia mengelus kepala Alisha dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Hehehe... Jangan cemberut dong. Enggak cantik lagi."
"Ka..."
"Kakak pergi dulu." Pamitnya, melambaikan tangan pada Alisha, lalu melambaikan tangan pada kedua sahabat Alisha sambil tersenyum manis ke arah mereka. Membuat kedua gadis itu menjerit senang, sementara Alisha mendengus kesal.
Setelah mobil Darren melaju, Nadia dan Yana langsung menarik Alisha. Mereka tidak sabar ingin bertanya mengenai kedua Kakak Alisha itu.
"Kak Darren punya kembaran? Seriusan?" Tanya Nadia, menggebu.
"Bukan! Itu bukan kembaran Kak Darren. Tapi, orang salinan Kak Darren."
"Ih, jangan bercanda dong, Sha." Nadia mencubit pelan lengan Alisha. Membuat gadis itu meringis kecil.
"Shh... Sakit, Nad."
"Hehehe..."
"Ya Tuhan. Seriusan, Sha. Aku nggak nyangka Kakakmu itu punya kembaran. Mirip banget lagi." Ucap Yana.
"Namanya juga kembaran." Balas Alisha dengan malas.
"Iya ih, kamu Yan. Kembaran ya pasti miriplah."
__ADS_1
"Hehehe... Tapi, kembaran Kak Darren kayaknya ramah banget. Kalau Kak Darren dingin."
"Benar. Mata mereka juga beda. Tapi, mereka sama-sama ganteng banget." Timpal Nadia.
"Udah, ah. Kenapa malah ngomongin Kak Darren sama Kak Darrel sih? Ayo..."
"Oh... Namanya Darrel?" Pekik keduanya kesenangan, saat mendengar Alisha menyebut nama Darrel. Sejak tadi mereka sudah penasaran dengan nama kembaran Darren itu.
"Aku masuk duluan!" Alisha sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Baru saja dia dibuat kesal oleh Darrel. Dan sekarang kedua sahabatnya. Tanpa peduli, ia melenggang masuk meninggalkan dua gadis yang masih terus membahas tentang Darren dan Darrel.
***
Darren dan Darrel tiba di perusahaan. Darren turun dan membiarkan Darrel yang mengambil alih mobil tersebut. Dia akan membawa mobil tersebut untuk berkeliling. Sebenarnya, masih ada beberapa mobil di rumahnya. Karena dia ingin bersama Darren dan Alisha pagi ini, jadi mobil dia yang bawa.
"Aku akan kesini lagi setelah menjemput Alisha."
"Ya."
Setelah membalas ucapan Darrel, Darren bergegas masuk, dan Darrel kembali melajukan mobilnya.
Para karyawan yang melihat mobil Darren kembali melaju, bertanya-tanya dalam hati. Tidak biasanya tuan mereka itu memerlukan supir. Jika ada yang menyetir untuknya, itu hanyalah Jiyo, si sekretaris. Apalagi mereka melihat Darren sedikit berbincang dengan orang yang ada dalam mobil.
"Selamat pagi, tuan." Sapa setiap karyawan yang berpapasan dengan Darren.
Lelaki tersebut hanya mengangguk dingin membalas mereka. Suatu kemajuan. Biasanya Darren tidak akan membalas dan hanya menunjukkan raut dinginnya.
Jiyo yang baru keluar dari lift, langsung menyambutnya. Dia kembali naik ke lantai atas bersama Darren menggunakan lift.
"Batalkan kerja sama dengan perusahaan G." Perintah Darren saat berada di dalam ruangannya.
Jiyo yang berdiri di depannya sedikit mengerutkan keningnya. "Kenapa dibatalkan?"
"Semua dana digelapkan oleh pemimpinnya. Hentikan proyeknya, buat pelaku bertanggung jawab."
"Baik, tuan." Jiyo mengangguk. Setelah itu, Jiyo bergegas keluar dari ruangan Darren.
Darren memang benar-benar gila. Bagaimana dia tahu pemimpin perusahaan G menggelapkan dana pembangunan. Orang-orang yang ku tempatkan disana juga tidak memberi informasi apa-apa. Perushaan itu sedang baik-baik saja saat ini. Dan proyeknya berjalan lancar. Batin Jiyo sambil memasuki ruangannya.
Jiyo membuang semua pikirannya, lalu menelpon seseorang, bawahan kepercayaan Darren dan dirinya.
"Hallo, tuan." Sapa orang yang ditelpon Jiyo.
"Hallo. Selidiki pemimpin perushaan G. Temukan bukti penggelapan dana. Dan hentikan proyek yang sedang berjalan."
"Baik, tuan."
Setelah kesanggupan yang Jiyo terima, panggilan itu terputus.
"Mereka salah jika berurusan dengan Darren." Gumam Jiyo.
__ADS_1