Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 39


__ADS_3

Asya mengerjabkan matanya saat merasakan tepukan kecil di pipinya. Ia meregangkan tubuhnya setelah benar-benar membuka mata dengan baik. Tidur dalam mobil memang tidak beitu buruk. Tapi, dia tetap merasakan sakit di punggung dan tengkuknya.


"Apa kita sudah sampai?" Tanyanya.


"Belum."


"Berapa lama aku tidur?"


"Hampir 3 jam."


"Akkhh... Cukup lama juga." Ucap Asya, sambil mengusap-usap tengkuknya.


"Apa tengkukmu sakit?"


"Ya, sedikit."


"Kalau begitu, kita istirahat disini. Aku akan menyewa hotel atau penginapan dekat sini agar kau lebih nyaman saat tidur."


"Hah? Nggak perlu! Kita istirahat untuk makan saja."


"Jangan membantah, Asya."


Asya meraih kedua tangan Darren. "Darreeen... Nggak perlu nginap, ya? Kita istirahat makan, terus lanjut perjalanan. Istirahatnya sekalian saat sampai di daerah B." Ia memohon sambil merengek. Membuat Darren merasa frustasi dan tidak bisa menolak.


"Baiklah. Ayo, turun."


Asya tersenyum manis. "Makasih, Darren."


"Hmm..." Dehemnya, sedikit gugup melihat senyum Asya.


***


Setelah menyelesaikan makan mereka dan beristirahat sejenak, Darren dan Asya segera kembali ke mobil. Kali ini, Asya tidak bermain ponsel lagi. Ia menatap jalanan sesuai apa yang Darren lakukan.


"Darren,"


"Hmm?"


"Aku ingin bertanya pendapatmu mengenai sesuatu."


"Tanyakan saja."


"Aku yakin kamu juga melihat bagaimana Darrel memperlakukan Aurel, dan bagaimana Aurel menatap Darrel. Bagaimana pendapatmu untuk menyatukan mereka? Kita susun rencana agar mereka saling mengungkapkan perasaan?"


"Nggak perlu." Darren menanggapinya dengan cepat.


"Nggak perlu? Kenapa?"


Darrel tidak bisa bersama Aurel saat kejelasan mengenai gadis itu belum didapatkan. Jika itu terjadi, mereka akan saling menumbuhkan luka. Batin Darren.


"Darren, ayo jawab! Kenapa?"


"Nggak ada. Biarkan saja semuanya mengalir sesuai yang Tuhan takdirkan."


"Tapi..."


"Daripada membicarakan mereka, lebih baik bicarakan tentang kita."


Asya diam. Ia tidak mengerti apa yang Darren maksud. Sementara Darren, dia juga ikut terdiam. Cukup lama terdiam, Darren kembali bersuara. Ia berbicara tanpa menoleh pada Asya.


"Aku memang nggak paham perasaanku dulu. Tapi, aku selalu nggak suka saat kamu dekat dengan laki-laki lain, bahkan Darrel dan Jiyo sekalipun."


"Setelah Darrel dan Jiyo terus menunjukkan kebenaran-kebenaran tentang perasaanku padamu, aku mulai sadar. Semua yang ku lakukan selama ini bukan hanya karena kamu sahabatku. Tapi, perasaan seorang laki-laki pada perempuan. Aku menyukaimu Asya. Aku mencintaimu." Ujar Darren.


Tapi, Asya masih saja diam. Darren pun menoleh untuk melihat reaksi Asya atas apa yang ia katakan. Namun, Darren harus menelan harapannya. Di sampingnya, Asya sudah kembali tertidur, bahkan sangat pulas.


Darren menarik nafasnya. Wajah dinginnya melembut. Sebelah tangannya terulur mengusap pelan rambut Asya.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha untuk bisa bicara panjang. Tapi, kamu malah tertidur." Gumam Darren, masih begitu lembut.


Mungkin ini bukan saat yang tepat. Sambungnya dalam hati.


***


Darren dan Asya tiba di tempat penginapan. Asya sudah terbangun sejak sejam lalu. Daerah disini masih cukup asri. Tidak banyak kendaraan dan sebagian masih menggunakan sepeda. Darren turun dan membukakan pintu untuk Asya.


"Ayo!"


Asya turun dan segera memasuki penginapan bersama Darren. Membiarkan barang bawaan mereka diurus oleh pelayan penginapan. Darren dan Asya mengambil kunci kamar masing-masing. Kamar Darren berada di samping Asya.


"Biar saya yang bawa." Ujar Darren pada lelaki yang membawa barangnya dan Asya.


Tidak banyak bicara, lelaki itu langsung menyerahkannya pada Darren. Dia tidak berani menyinggung orang bertampang dingin tersebut.


"Ayo, masuk!" Perintah Darren.


Asya membuka pintunya kemudian masuk. Kamarnya tidak seluas kamar Asya di rumah. Tapi, cukup terasa nyaman.


"Sini, biar ku letakkan disana." Asya meraih kopernya dari tangan Darren. Setelah meletakkan kopernya, Asya beralih duduk di sisi ranjang.


"Jam berapa kita akan ke lokasi?"


"Jam 3."


Asya langsung menatap jam yang menggantung di dinding. Sudah hampir jam 1. Itu berarti tinggal dua jam lebih, mereka akan menuju lokasi.


"Apa nggak bisa besok saja kita perginya?"


"Apa kamu masih mengantuk?"


Asya menggeleng cepat. "Bukan mengantuk. Aku sudah cukup tidur. Tapi, kamu tidak. Kamu menyetir untuk perjalanan jauh. Kamu harus istirahat."


"Baiklah."


"Ya,"


"Baguslah. Sekarang pergi istirahat di kamarmu. Aku akan membangunkan mu jika kamu ketiduran." Ujar Asya.


"Hmm... Aku keluar."


Darren segera menuju kamarnya yang berada di sebelah Asya.


***


Sore hari di daerah B begitu menenangkan. Asya berdiri di jendela kamarnya sambil menatap ke jalanan. Terlihat beberapa remaja menyusuri jalanan sambil bersepeda.


Asya tersenyum. Dia juga ingin bersepeda seperti anak-anak itu. Segera dia berlari keluar kamar dan mengetuk kamar Darren.


Tok... Tok... Tok...


"Darreen!"


Tok... Tok... Tok...


"Darr..." Panggilan Asya terputus saat pintu terbuka. Wajah Asya memerah saat melihat Darren yang hanya mengenakan handuk yang memlilit pinggangnya dan rambutnya yang masih basah.


"Ada apa?"


"Eee... I-itu, pakai baju mu dulu. Aku akan kembali ke kamar." Asya bergegas cepat ke kamarnya, meninggalkan Darren begitu saja.


Asya berdiri bersandar sambil menarik nafasnya. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


"Darren, bisa-bisa aku mati karena denyut jantungku yang tak terkendali seperti ini." Gumamnya.


Asya kembali menarik nafasnya sambil memejamkan mata. Namun, ketukan di pintu membuatnya terlonjak kaget dan menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Asya," Suara bariton yang terdengar semakin mempercepat degup jantung Asya.


"Asya?" Darren kembali memanggil. Asya menarik nafasnya dalam, kemudian menjawabnya.


"Ya, tunggu sebentar."


Perlahan, Asya meraih gagang pintu dan membukanya. Darren berdiri dengan mengenakan kaos putih dan celana training hitam. Asya meneguk ludahnya, kemudian menatap dirinya sendiri. Dia juga mengenakan kaos putih dan celana training, hanya saja celananya berwarna abu-abu.


Apa Darren sengaja, atau memang kebetulan?


"Aku sengaja." Ucapnya membuat Asya menatapnya.


Apa dia tahu apa yang ku pikirkan?


"Tatapanmu. Aku mengerti dari sana."


Lagi-lagi Asya dibuat tercengang. Apa Darren memiliki kemampuan khusus untuk membaca pikirannya?


"Apa yang ingin kamu katakan?"


"Hah? I-itu... Aku mau mengajakmu berkeliling menggunakan sepeda."


"Sepeda?" Alis Darren saling menaut. Kenapa Asya tiba-tiba ingin bersepeda?


"Tadi, aku berdiri di dekat jendela sambil menatap jalanan. Ada beberapa remaja bersepeda. Kelihatannya mereka sangat menikmatinya. Terlihat menyenangkan. Jadi, ku pikir aku bisa mencobanya. Dan ku ajak saja kamu."


"Ayo!"


"Hah?"


"Bersepeda."


"I-iya." Asya menarik pintu dan menutupnya. Darren terus menatapnya. Tangannya kemudian meraih tangan Asya dan menggenggamnya.


"Darren,"


"Ayo!" Darren tak peduli dengan tatapan protes Asya. Ia dengan tenang membawa Asya keluar.


"Selamat sore, tuan, nona." Sapa salah seorang pekerja di penginapan tersebut.


"Selamat, sore." Balas Asya. Sementara Darren, dia hanya mengangguk.


"Dimana kami bisa dapatkan sepeda?"


"Tuan ingin bersepeda?"


Darren melirik Asya. Gadis itu mengaguk semangat menjawab pertanyaan pekerja itu.


"Mari, saya antar! Tempat sewa sepedanya tidak jauh dari sini."


Darren dan Asya segera mengikuti pekerja tersebut. Tautan tangan keduanya tidak terlepas. Bahkan, Asya membalas genggaman Darren.


Mereka berhenti di tempat yang dimaksud. Laki-laki yang merupakan pemilik tempat sewa sepeda itu mendekat. Melihat aura yang terpancar dari Darren, membuatnya gugup. Terlebih lagi, ketika Darren menatapnya tajam saat tak sengaja dia menatap Asya sedikit lama. Benar-benar membuatnya gemetaran.


"Berapa harganya?" Darren bertanya tanpa basa basi.


"Untuk sepeda yang paling bagus, seratus ribu."


Darren langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar ratusan ribu.


"T-tuan, ini..."


"Pegang saja." Potong Darren. "Ayo, pilih yang kamu suka." Lanjutnya sambil menatap Asya.


Pemilik tempat sewa sepeda dan pekerja di penginapan tersebut tertegun. Tatapan Darren berubah lembut saat menatap Asya.


"Emm... Aku mau yang ini. Dan kamu... Kamu yang itu." Tunjuk Asya pada sepeda berwarna merah untuknya, dan hitam untuk Darren.

__ADS_1


"Baiklah, Ayo!" Darren dan Asya segera membawa sepeda keluar, lalu mengendarainya.


__ADS_2