
Asya memberikan segelas air pada Darren, setelah lelaki itu menyelesaikan makannya. Darren tersenyum senang dalam hati. Rasanya sangat bahagia diperlakukan dengan penuh perhatian seperti ini oleh Asya.
Gadis itu membereskan semuanya, lalu menatap Darren. Dia masih penasaran dengan alasan Darren tersenyum. Dan lelaki itu sudah berjanji untuk memberitahunya.
"Sekarang, ayo, katakan! Apa yang membuatmu tersenyum saat berjalan di lobi tadi?"
"Nanti saja. Ada hal yang lebih penting yang mau ku katakan."
"Apa?"
"Ku rasa, Hendra kembali membuat ulah."
Wajah Asya langsung berubah pucat saat mendengar nama Hendra. Banyak hal yang terjadi padanya dan Aurel yang didalangi oleh Hendra, dan tidak semuanya diketahui Darren.
Darren menangkap ekspresi itu. Dia yakin, masih banyak hal yang tidak ia ketahui setelah kelulusannya.
"Kamu jangan khawatir. Ini masih perkiraanku. Alisha sering diganggu oleh siswa bernama Hardi. Marga anak itu sama dengan milik Hendra. Itu yang membuatku curiga jika dia diperitah Hendra."
Asya hanya terdiam, dan berharap dalam hati jika semua kecurigaan Darren itu salah. Melihat wajah khawatir Asya, Darren mencoba menenangkannya dengan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Apa kamu masih ingin tahu alasanku tersenyum di lobi tadi?"
Asya menatapnya dan mengangguk pelan. "Apa alasannya?"
"Hanya hal sederhana. Aku membayangkan berjalan di lobi bersama istriku nanti."
Wajahnya yang pucat berganti ekspresi terkejut. Tubuh Asya menegang mendengar jawaban Darren. Seorang Darren yang dingin bisa membayangkan berjalan bersama sang istri. Sungguh mengejutkannya.
"Dia sangat beruntung bisa memilikimu nanti." Balas Asya. Dia tersenyum, namun matanya tak bisa berbohong. Ada kesedihan yang terpancar dari mata itu.
"Mungkin kebalikannya." Balas Darren.
"Apa... Kamu sudah siap menikah?"
"Ya."
"Pasangannya?"
"Sudah ada."
Asya terdiam. Diam-diam ia menarik nafasnya dalam. Rasanya sakit mendengar kata 'sudah ada' yang keluar dari mulut Darren.
Jadi, selama ini, aku seperti orang bodoh yang selalu berusaha mendekatkan Darren dengan Naomi, sedangkan Darren sudah memilih pasangannya sendiri.
"Asya?"
"Hmm?"
"Kenapa?"
"Hah? E-enggak. Oh ya, kita jadikan ke tempat Aurel?"
"Tentu saja. Ayo!"
Asya mengangguk dan hendak meraih tempat makannya dan gelas minum untuk dibawa keluar. Namun, Darren dengan cepat mencegahnya.
"Biar mereka yang membereskannya nanti."
Asya menurut lalu berjalan keluar bersama Darren. Keduanya memasuki lift yang kemudian bergerak menuju lantai paling bawah.
Lift berhenti, dan keduanya pun keluar. Baru beberapa langkah menjauh dari lift, Darren dan Asya berhenti dan terpaku ketika seorang anak laki-laki berlari ke arah Darren.
"Papa..." Teriaknya, lalu memeluk Darren.
Asya dan semua karyawan yang mendengarnya terkejut. Sebuah berita besar jika Darren di panggil Papa oleh seorang anak kecil.
__ADS_1
Mata Asya berkaca-kaca. Tapi, ia belum bisa mengambil kesimpulan. Dia masih ingin melihat reaksi Darren terhadap anak itu. Begitupun dengan para karyawan.
Semua menahan nafas mereka. Mereka pikir Darren akan mendorong dan memebentak anak itu yang berani-beraninya memeluknya. Namun, semua melebarkan mata ketika pikiran mereka terbantahkan oleh sikap Darren sekarang.
Lelaki itu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan anak laki-laki tersebut.
"Papa, Dion merindukan Papa." Ucap anak itu, memeluk erat leher Darren.
"Aku juga merindukanmu."
Tes... Air mata Asya menetes begitu saja. Balasan kalimat Darren untuk anak itu menguatkan segara dugaannya.
Mata Asya teralihkan pada wanita yang berdiri di depan sana, tak jauh dari mereka. Wanita itu cantik dan anggun. Dan satu hal yang penting, dia sangat mirip dengan anak lelaki yang memeluk Darren.
Apa perempuan ini yang ingin kamu jadikan istri? Dia sangat cantik. Dia juga serasi dengan mu. Tapi, kenapa rasanya sakit sekali saat aku memikirkan itu. Batin Asya.
Anak itu melepas pelukannya, membuat Darren juga ikut melepas pelukannya. Dia menangkup wajah Darren dan mengecup keningnya.
"Mama bilang, Papa akan menemaniku makan hari ini. Apakah itu benar?"
Darren tersenyum tipis padanya. "Ya. Itu benar."
Wajah anak itu langsung tersenyum cerah. Ia sangat senang mendengar Darren mau makan bersamanya.
"Kalau begitu, ayo! Aku sudah sangat lapar."
Darren mengangguk, lalu menoleh pada Asya. Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya.
"Asya..."
"Pergilah! Aku tiba-tiba ada urusan di kantor." Ucap Asya. Dia lalu mengulas senyum pada anak lelaki itu.
"Aku pergi dulu." Ujarnya, lalu meninggalkan Darren begitu saja.
Darren hanya bisa menatap punggung Asya yang mulai menjauh. Setelah tubuh gadis itu menghilang, Darren mengedarkan tatapannya pada semua karyawannya yang menyaksikan kejadian tersebut. Tatapannya membuat semua merinding. Seolah dia sedangakn mengatakan 'Jangan sampai kejadian ini bocor hingga keluar sana. Jika sampai itu terjadi, habislah kalian!'.
"Ya."
Darren langsung menggandeng anak itu, dan berjalan bersama. Saat saling berhadapan dengan gadis di depannya, sorot matanya berubah dingin. Gadis itu tersenyum manis padanya, tapi tak sedikit pun senyum muncul di bibir Darren. Mereka kemudian bersama-sama menuju tempat makan sesuai yang diinginkan anak itu.
***
Jet pribadi milik Gara mendarat dengan sempurna. Gara, Alula, Irene dan Edo turun dan menghampiri putra putri mereka yang meluangkan waktu menjemput.
Wajah Gara dan Edo begitu segar. Begitupun dengan Alula dan Irene.
"Ayah, Ibu." Alisha memeluk erat kedua orang tuanya.
Disamping mereka, ada Asya yang juga memeluk Edo dan Irene. Meski peristiwa siang tadi masih membekas di pikirannya, dia masih tetap menunjukkan senyum terbaiknya di depan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin merusak kebahagaiaan mereka dengan kesedihan yang ia rasakan.
"Bagaimana keadaanmu disini, nak?" Tanya Irene, mengecup kening anaknya.
"Baik, Ma, Pa." Balas Asya.
"Paman, tante." Sapa Alisha pada pasangan suami istri itu. Dia langsung memeluk Irene. Edo yang sudah merentangkan tangan menanti pelukan dari Alisha pun menarik nafas, sabar.
"Dimana Darren?" Tanya Gara, setelah Darrel melepas pelukannya.
"Katanya, dia memiliki sedikit urusan. Jadi, nggak ikut jemput." Balas Darrel.
Dia pasti menghabiskan waktu senggangnya untuk anak kecil itu dan Ibunya. Batin Asya.
Gara hanya mengangguk. Mereka kemudian bergegas menuju parkiran dan memasuki mobil masing-masing.
Cukup lama perjalanan, Darrel dan keluarganya tiba. Tepat saat Darrel memsukkan mobil ke garasi, mobil Darren memasuki gerbang rumah. Dia juga ikut menyimpan mobilnya di garasi.
__ADS_1
"Kamu dari mana? Kenapa begitu lama?" Tanya Darrel. Alisha dan kedua orang tuanya sudah memasuki rumah terlebih dahulu.
"Ada urusan yang harus ku selesaikan."
Darrel hanya mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut dan mengajak Darren masuk.
Setelah membersihkan diri, mereka menikmati makan malam bersama. Lalu berkumpul di ruang keluarga.
Alula yang merasa kelelahan berpamitan untuk tidur terlebih dulu. Begitupun Alisha. Sehingga tersisa Gara dan kedua putranya. Darrel menatap kembarannya. Mendapat anggukkan dari Darren, Darrel pun menatap Ayahnya.
"Ayah." Panggilnya, membuat Gara menoleh.
"Hmm?"
"Ada yang ingin aku dan Darren bicarakan dengan Ayah."
"Katakan saja."
"Bisakah di ruang kerja saja?" Darren menyela.
Gara menatap kedua putranya. Melihat wajah serius keduanya, membuat Gara bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya. Keduanya pun mengekori Gara.
Mereka duduk bersama di sofa setelah menutup pintu dan menguncinya. Darren maupun Darrel tak ingin Alula atau Alisha tahu apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa?" Darren dan Darrel sedikit menunduk. Tapi tak lama, tubuh Darren kembali ke posisi duduk tegap. Ia menatap Ayahnya dan mulai menceritakan semuanya. Tangan Gara mengepal kuat mendengar cerita Darren. Dia sangat marah saat mengetahahui putrinya mengalami perlakuan buruk seperti itu.
Drrttt...
Darrel segera meraih handphonenya dan menjawab panggilan yang ternyata dari Axel.
"Hallo."
"Hallo. Ada apa Axel?"
"Gue cuma mau bilang, jangan biarin Alisha keluar ikut kerja tugas kelompok besok. Kalau Alisha pergi, dampingi dengan pengawal. Dia sekelompok sama Hardi."
"Iya. Makasih infonya."
"Satu lagi. Akhir-akhir ini, Alisha sering di teror. Gue curiga pelakunya juga Hardi. Gue masih dalam proses penyelidikan. Kalian juga harus selidiki masalah itu."
"Teror? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Sudah ku..."
Tuuut... Tuuut... Panggilan diputuskan begitu saja oleh Axel.
"Ck. Dimatiin lagi." Decak Darrel.
Gara dan Darren yang juga mendengarnya menahan amarah. Kali ini, informasi yang mereka dapatkan benar-benar mengejutkan.
"Siapa Axel?" Tanya Gara.
"Teman Alisha. Dia yang selalu bantuin Alisha." Jawab Darrel.
"Perintahkan orang-orang kita menyelidiki semua ini. Bawa pelakunya padaku." Gara bangun dan bergegas pergi dari ruangan itu.
"Ayah akan tidur?" Tanya Darrel.
"Menemui Alisha."
"Menanyakan hal ini?" Tanya Darren.
"Melihatnya saja."
Setelah mengatakan tujuan ke kamar Alisha, Gara keluar dan bergegas ke kamar putrinya itu. Dia tidak menyangka, putrinya mengalami hal ini, dan parahnya dia tidak mengetahui apapun.
Gara mendorong pintu kamar Alisha yang ternyata tidak dikunci. Netranya menangkap sang putri sedang tertidur di kursi meja belajar.
__ADS_1
Dengan penuh kelembutan, Gara menggendong Alisha dan membaringkan anak itu di atas ranjang. Setelah menyelimutinya, Gara mengecup keningnya penuh sayang.
"Maafkan Ayah." Gumamnya pelan, lalu bergerak keluar dari kamar itu.