
Waktu istirahat dimulai. Suasana sekolah seketika ramai oleh anak-anak yang berjalan kesana kemari. Doni duduk diam sambil menatap buku komik pemberian Carla.
Bugh...
Lemparan botol mengenai buku komik Doni hingga terjatuh. Anak itu mendongak menatap ke arah datangnya botol tersebut. Seorang anak laki-laki dan teman-temannya berdiri sombong di depan Doni.
Doni kesal. Ia mengambil bukunya lalu menatap mereka. Dengan raut marah Doni berdiri menantang mereka. "Apa kalian buta?! Tempat sampah ada disana. Kenapa melemparanya padaku?!"
"Huh! Kami punya mata. Tapi, sengaja melemparnya pada kamu! Anak pembawa sial!"
"Sudah ku katakan! Aku bukan pembawa sial!!" Teriak Doni.
"Hahaha... Teman-teman dengarkan? Dia bilang bukan pembawa sial. Tapi, Ibu dan Ayahnya meninggal saat dia akan dilahirkan. Kakek dan neneknya juga meninggal karena kecelakaan saat kembali dari mengantarnya ke sekolah. Bukankah itu menunjukkan dia pembawa sial?"
"Iya, Doni pembawa sial." Sahut salah satu dari komplotan anak-anak itu.
"Aku bukan pembawa sial!"
"Doni pembawa sial!" Anak-anak itu mulai mengejeknya. Menyorakinya sebagai anak pembawa sial.
"Doni pembawa sial!"
"Doni pembawa sial!!"
"Doni pembawa sial!!"
"Bukan! Aku bukan pembawa sial! Aku bukan pembawa sial!!"
"Doni! Doni! Nak, Doni. Bangun, nak!" Darren dan Asya sama-sama membangunkan anak itu. Anak itu masih saja berteriak jika dia bukan pembawa sial.
"Doni,"
"Aku bukan pembawa sial!"
"Doni! Nak, bangun!!" Darren mengguncang sekali lagi tubuh anak itu, dan berhasil. Doni bangun dan memeluk Darren dengan erat.
"Papa, Doni bukan pembawa sial. Doni bukan pembawa sial!" Ujar anak itu. Tetes air mata mulai membasahi pipinya. Darren melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Doni.
"Dengar! Dengar kan Papa! Kamu bukan pembawa sial! Kamu adalah angugrah. Bukan pembawa sial!" Ujarnya, lalu kembali membawa Doni ke pelukannya.
"Teman-teman di sekolah Doni dulu bilang Doni pembawa sial. Karena Doni, Mama dan Papa Doni meninggal. Karena Doni juga, Kakek dan Nenek meninggal."
Darren dan Asya yang mendengarnya sedih. Ternyata Doni mengalami hal buruk seperti itu selama di sekolahnya dulu.
"Nak, dengarkan Mama. Kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah anugrah untuk Papa dan Mama. Untuk keluarga kita. Mama dan Papamu meninggal itu sudah tekdir mereka. Kakek dan Nenek juga. Itu kehendak Tuhan. Bukan karena kamu pembawa sial. Kamu adalah anak Mama dan Papa, bukan pembawa sial." Asya ikut memeluk Doni.
Sementara di luar, Gara, Alula, Darrel, dan Alisha menuju kamar Darren. Gara dengan cepat mengetuknya.
Tok... Tok... Tok...
"Darren? Asya? Ini Ayah."
"Iya, Yah."
Tak lama setelah mendapat jawaban, pintu terbuka. Darren sudah menebak, pasti mereka terbangun oleh teriakan Doni.
"Ayah dengar Doni berteriak tadi. Dia tidak ada di kamarnya. Dia tidur bersama mu?"
"Ya, dia bersamaku dan Asya."
__ADS_1
"Doni kenapa?" Tanya Alula.
"Apa dia mimpi buruk?" Darrel menimpali. Sementara Alisha, gadis itu berdiri diam sambil mengusap matanya.
"Doni mimpi buruk. Sepertinya dia mengalami hal buruk di sekolah lamanya dulu." Ucap Darren, tak menyembunyikan apapun.
"Kakek, Nenek, Paman Darrel, Kak Alisha, mafin Doni." Anak itu mendekat dan berdiri di samping Darren. Asya juga berada di sampingnya. "Maafkan Doni sudah membuat tidur kalian terganggu."
"Nggak apa-apa." Jawab Darrel, yang diangguki Alula dan Gara.
"Nggak apa-apa, Doni. Aunty pikir kamu kenapa-kenapa. Syukurlah, kamu baik-baik saja. Kalau begitu, aunty kembali ke kamar, ya?" Alisha melambaikan pelan tangannya, dan berlalu menjauh dari semuanya. Gadis itu benar-benar mengantuk. Matanya hampir tidak terbuka sempurna.
"Kalau begitu, paman juga ke kamar dulu. Mau lihat Meeya. Aunty kamu lagi nyenyak banget. Kamu tidurlah lagi." Ujar Darrel.
"Meeya jarang tidur siang. Jadi, Aurel seharian tidak istirahat dan terus menemaninya. Kamu gantilah tugas istrimu malam ini."
"Iya, Bu. Darrel ke kamar dulu." Semuanya mengangguk.
Gara menatap Doni yang terdiam. "Sini, Kakek gendong."
Doni menatap tangan Gara yang terulur. Perlahan, ia mendekat ke arah Gara. Dengan senyuman tulus, Gara menggendong Doni. Alula mengelus-elus kepala Doni. Wanita itu tiba-tiba teringat dengan Darren Darrel waktu kecil dulu.
"Mau tidur sama Kakek sama Nenek?" Pertanyaan Gara menbuat Alula tersenyum. Baru saja ia ingin menawarkan Doni tidur bersamanya dan Gara. Tapi, lelaki itu sudah mendahuluinya.
Doni menatap Darren dan Asya. "Mama, Papa, apa boleh?"
"Tentu saja." Darren dan Asya menjawab bersamaan.
Doni menatap Gara lalu pada Alula. "Boleh, Kek, Nek. Doni sudah izin sama Mama sama Papa. Doni mau tidur sama Kakek sama Nenek."
"Baiklah. Sekarang, ayo kita ke kamar." Gara dan Alula segera membawa Doni bersama mereka. Asya dan Darren menatap ketiganya, hingga tubuh ketiganya tak terjangkau mata mereka.
Pasangan suami istri itu kembali berbaring di ranjang mereka. Darren bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap-usap perut Asya yang mulai membuncit.
"Aku nggak nyangka sayang, Doni mengalami hal ini di sekolahnya dulu." Ujar Asya.
"Ya. Aku juga. Aku akan meminta orangku yang untuk menyelidikinya."
Asya mengangguk pelan. "Pantas saja dia nggak mau berpamitan sama teman-teman sekolahnya saat kita ajak waktu itu."
"Kamu benar, sayang. Sepertinya itu alasan sebenarnya ia menolak ajakan kita."
Asya terdiam. Ia lalu menoleh menatap wajah Darren yang berada dekat dengan wajahnya. "Sayang,"
"Hmm?"
"Besok kamu ke kantor nggak?"
"Ke kantor."
"Nggak usah ke kantor, ya?"
"Kenapa?"
Asya tersenyum. Ia memiringkan tubuhnya dan bergeser mendekat, hingga tubuh mereka saling menempel. Wajahnya ia benamkan di dada Darren, sedangkan tangannya ia lingkarkan di pinggang Darren.
"Kenapa? Hmm?" Darren mengulangi pertanyaan nya. Tangannya bergerak mengusap lembut rambut sang istri.
"Aku mau ketemu Naomi?" Cicit Asya, pelan. Ia takut Darren marah atas permintaanya ini. Namun, meski pelan, Darren tetap saja bisa mendengarnya.
__ADS_1
Kening lelaki itu mengerut. Terkejut? Tentu saja. Sudah cukup lama istrinya ini tidak menyebut nama Naomi. Dan sekarang, dia kembali menyebutnya.
"Sayang, kamu marah, ya?" Asya menjauhkan wajahnya dan menatap Darren. Matanya sudah berkaca-kaca. Tidak suka melihat istrinya berkaca-kaca, Darren kembali membenamkan wajah wanita itu ke dada bidangnya.
"Aku nggak marah. Tapi, kenapa kamu mau ketemu Naomi?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba keingat Naomi, dan mau temuin dia. Boleh ya, sayang?" Asya semakin mengeratkan pelukannya.
Darren terdiam. Bertemu Naomi? Aneh-aneh saja permintaan istrinya ini. Jujur saja, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.
"Sayaaang," Asya merengek, membuat Darren cepat menjawab.
"Aku ada rapat besok."
"Batalkan!"
"Ada meeting bersama klien dari luar negeri juga."
"Batalkan!"
"Sayang, klien dari luar negeri lho, ini. Kasian sekali dia. Dari jauh-jauh mau meeting, malah dibatalkan."
Asya melepaskan pelukannya, lalu meraih handphonenya yang ada di nakas.
"Jadwal CEO Grisam Group, besok. Tidak ada jadwal apa-apa selain menandatagani beberapa dokumen." Asya membaca dari layar handphonenya.
"Kamu... Tahu?"
"Tentu saja. Yang aku baca barusan, benarkan?"
"Bagaimana... Iwan?" Tebak Darren. Pikirannya kini tertuju pada sekeretarisnya itu. Tidak ada yang tahu jadwalnya selain Iwan.
Asya mengangguk. "Jadi, kamu ketahuan bohong." Asya melipat tangannya di dada.
Darren meneguk ludahnya. Ia kembali bergeser, mendekat pada Asya. "Sayang,"
"Iiihhh... Nggak usah geser-geser. Aku udah pinggir banget ini. Kalau jatuh, gimana?"
"Ya udah, kesini aja." Darren bergeser lebih ke tengah, lalu menarik lembut istrinya, menempel pada tubuhnya. Asya mengulum senyum. Mudah sekali Darren menarik tubunya dalam keadaan telentang seperti ini.
Darren memeluk tubuh Asya dan mengecup pundaknya. "Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud berbohong sama kamu. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak kita."
"Nggak akan terjadi apa-apa." Jawab Asya, masih berpura-pura acuh.
"Maafin aku, ya, sayang?"
"Kalau izinkan, dan kita berangkat besok, aku akan maafkan kamu."
"Baiklah. Aku izinikan. Kita akan berangkat besok."
Asya tersenyum senang. Ia berbalik dan memeluk suaminya.
Cup.
Asya mengecup dada bidang itu. "Terima kasih, sayang. Aku sudah memaafkan kamu."
"Terima kasih kembali." Jawab Darren, membuat Asya mengangguk.
Enak saja nggak bolehin aku. Aku udah pengen banget ketemu Naomi. Calon anakku juga pengen. Pengen gangguin aunty Naomi kan, sayang? Besok kita main-main sama aunty Naomi, ya? Kita buat dia semakin kesal. Batin Asya, terkekeh pelan menginat ekspresi yang akan ia lihat saat bertemu Naomi nanti.
__ADS_1