Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 34


__ADS_3

Darrel memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Langkahnya langsung mengarah ke ruang keluarga. Disana, Gara dan Alula sedang duduk bersama menikmati siaran televisi.


"Darrel,"


"Iya, Bu." Lelaki itu menunduk mencium tangan kedua orang tuanya.


"Kamu sendiri?" Gara bertanya, dengan tatapan masih fokus pada televisi.


"Iya, Ayah."


"Bukannya kamu sama Darren?"


"Ya, tadi aku bersamanya, Bu. Tapi, setelah itu aku bertemu dengan temanku. Darren mungkin masih di kantor."


Alisha keluar dari ruang baca dan langsung berlari menuju ruang keluaraga. Satu tangannya memegang buku bacaan dan satu tangan lagi memegang handphone miliknya.


"Ayaaahh..." Alisha langsung memeluk tubuh Gara. Membuat lelaki itu melepas rangkulannya di pundak Alula, dan beralih memeluk putrinya.


"Ada apa, nak?"


"Hiks..."


Alula, Darrel dan Gara terkesiap mendengar isak Alisha. Wajah Gara berubah menjadi sangat dingin. Ia menggertakkan giginya, geram. Namun, dia tetap mempertahankan suaranya agar tetap lembut dan tak membuat putrinya takut.


"Siapa yang buat anak Ayah menangis? Ayo, katakan sama Ayah." Gara semakin memeluk putrinya dan mengusap rambut gadis itu.


"Alisha. Sayang. Ayo, katakan pada Ibu. Kamu kenapa?"


"Iya, dek. Ayo, bilang sama Kakak. Siapa yang nyakitin kamu?"


"Ayah." Alisha berucap lirih.


"Iya, nak."


"Kalau Alisha buat salah, Alisha nakal, Alisha nggak nurut, Ayah, Ibu, sama Kak Kembar nggak akan marah sama Alisha kan?" Semua terdiam. Ada apa dengan Alisha? Dan itu, Kak Kembar? Benar-benar panggilan baru untuk Darren Darrel.


"Ayah, kenapa kalian pada diam? Kalian nggak sayang Alisha?"


"Nak, kami sangat sayang sama kamu." Balas Alula. Gara masih terdiam sembari terus mengusap pelan rambut Alisha.


"Kenapa nggak jawab Alisha?"


"Ayah, Ibu maupun Kakak nggak akan marah sama Alisha."


"Kalian nggak akan pukul Alisha juga?"


"Iya." Jawab mereka bersamaan.


"Kalian nggak akan buang Alisha dan nggak anggap Alisha keluarga kan?"


Semuanya kembali mengiyakan perkataan Alisha. Tapi, Darrel sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Sebenarnya ada apa sih, dek?" Darrel tak sabar.


"Hiks, Alisha, tadi Alisha baca novel tentang anak yang dibuang keluarganya." Wajah Gara yang dingin, juga wajah khawatir Alula dan Darrel mulai terlihat membaik. Tapi mereka masih menunggu kelanjutan cerita Alisha.


"Anak itu nakal, nggak nurut, suka buat ulah. Ayah, Ibu, Kakak dan keluarganya nggak suka sama sikapnya itu. Dia dimarahi dan dibenci setiap anggota keluarga. dipukul tiap hari sama Ayah, Ibu dan Kakaknya. Lalu dia dibuang saat dia dalam keadaan terluka karena dipukul Ayahnya."


"Selama ini Alisha juga nakal, kadang nggak nurut, terus suka gangguin Kakak kembar. Alisha juga malas. Alisha takut akan punya keluarga kayak di novel itu."


Gara mengusap rambut Alisha. "Sayang, dengar! Ayah, Ibu dan Kakak nggak akan ngelakuin hal itu sama kamu. Itu hanya ada dalam novel bukan dunia nyata." Ucap Gara.


"Ayah benaran kan?"

__ADS_1


"Iya."


"Astaga, deeek... Kakak kira apaan. Hal itu nggak akan terjadi. Jangan berpikir macam-macam."


"Iya, nak. Nggak boleh mikir macam-macam, ya?"


"Iya, Bu, Kak, Ayah. Alisha nggak akan mikir macam-macam lagi." Ucapa Alisha. Matanya mengamati setiap orang di ruangan itu. "Oh ya, Yah. Kata Kak Asya, Kak Darren ada di rumahnya." Ucapnya saat tidak melihat Darren disana.


"Di rumah Asya?" Darrel mengulang ucapan Alisha. Gadis kecil itu mengangguk.


Darrel segera merogoh saku celananya dan menelpon Darren. Ia ingin memastikan yang Alisha katakan.


"Hallo, Ren?"


"Hmm..."


"Kamu di rumah Asya?"


"Ya."


"Ngapain? Asya kenapa?"


"Menepati janji." Balas Darren singkat.


Darrel terdiam sejenak. Ia berpikir tentang ucapan Darren. Setelah beberapa detik, ia ingat dengan ucapan Darren di ruangan Asya.


"Oh, iya. Aku ingat. Tapi, kenapa nggak kasi tahu? Untung Alisha yang kasi tau."


"Aku kirim pesan ke handphone Ayah sama Ibu."


"Ya sudah. Aku tutup dulu."


"Hmm."


"Darren benaran di rumah Asya. Batuin Asya selesaiin kerjaannya. Dia juga udah kirim pesan sama Ayah sama Ibu. Dimana handphone Ayah sama Ibu?"


Alula dan Gara langsung mencari handphone masing-masing. Keduanya mengecek handphone, dan benar jika Darren mengirim pesan tentang dia yang ada di rumah Asya. Keduanya sepertinya tidak sadar jika ada pesan masuk di handphone mereka.


"Ayah sama Ibu terlalu terbuai kemesraan sampai notifikasi pesan saja nggak kedengaran."


"Darrel." Tegur Alula, atas ucapan putranya.


"Hehehe... Bercanda Bu."


"Kalau gitu, Alisha ke ruang baca lagi, ya?" Alula, Gara dan Darrel mengangguk mengiyakan. Saat beberapa langkah Alisha berjalan, suara Darrel kembali terdengar.


"Jangan baca yang aneh-aneh lagi, dek. Buat orang khawatir aja." Teriaknya, yang dibalas senyuman Alisha. Gadis itu kembali berjalan.


"Ck. Untung Ayah nggak meledak." Gumamnya pelan.


"Ayah dengar, Darrel." Ujar Gara datar, membuat Darrel terkekeh. Sedangkan Alula, ia hanya bisa menggeleng.


***


Di kediaman Edo, Asya dan Darren sedang berada di ruang kerja. Keduanya fokus memeriksa berkas-berkas, dan mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan.


Asya melirik berkas-berkas yang ada di meja. Tumpukan itu mulai menyusut. Asya tersenyum. Darren memang sangat cekatan dan pandai.


"Ini sudah benar semuanya. Tinggal kamu tanda tangani."


Asya meraih dokumen yang Darren berikan. Ia kembali membacanya dan kemudian menandatangi.


"Darren,"

__ADS_1


"Hmm?"


"Apakah semua ini mudah untukmu?" Laki-laki itu langsung menatap Asya. Ia tersenyum tipis dan mengusap kepala Asya.


"Akan mudah untuk mu juga setelah kamu belajar banyak."


"Ayah sudah menyiapkan orang untuk membantuku. Tapi, aku masih ingin belajar lebih lagi. Aku boleh nggak belajar sama kamu?"


"Boleh."


"Benaran?"


"Hmm..."


Asya langsung memeluk erat Darren. "Makasih, ya?"


"Hmm..."


Asya kembali fokus pada pekerjaan mereka. Jarum jam terus berputar. Tinggal dua dokumen lagi. Saat Darren meraih satu dari kedua dokumen itu, pintu ruang kerja diketuk. Asya langsung berjalan membuka pintu. Dan Darren, dia tidak peduli dan tetap fokus.


"Eh, Naomi?"


"Hehehe... Aku ganggu ya?"


"E-enggak." Asya sedikit gugup. Bukan karena ada Naomi, tapi karena minuman yang dibawa Naomi. Tadi, dia sudah menawarkan minuman untuk Darren. Laki-laki itu menghabiskan minumannya dan belum ingin minum lagi. Ia takut, Darren akan marah. Apalagi ia tahu, Naomi itu nekat.


Naomi mengulas senyum. Matanya masih saja melirik Darren yang tidak sedikitpun terpengaruh dengan kedatangannya.


"Aku bawain kalian minuman sama camilan." Naomi langsung masuk tanpa menunggu Asya menyuruhnya. Ia meletakkan nampan yang ia bawa tepat di depan Darren. Dan dengan percaya dirinya, dia lalu duduk disamping Darren. Tepatnya diantara Darren dan Asya.


Asya hanya bisa menghela nafas pelan. Sedangkan Darren, melirik tajam ke arah Naomi, lalu kembali fokus pada berkas yang ia pegang.


"Aku baru saja kembali dari kontrakan temanku yang bekerja di departemen yang sama denganku. Tiba-tiba aku ingin membeli camilan. Jadi, ku beli. Saat sampai, tante bilang kalian sedang di ruang kerja. Jadi, ku buatkan saja minuman dan membawanya kemari bersama camilan yang ku beli." Ujarnya.


"Asya, kemari!"


Wajah Naomi berubah muram saat Darren maupun Asya tidak meresponnya. Darren malah memanggil Asya, yang terkesan seperti mengabaikannya.


Asya bangun dan Darren menepuk tempat kosong di sisi kanannya.


"Ada apa?" Tanya Asya, sambil duduk di tempat yang Darren tunjuk. Darren menjelaskan semua yang berkaitan dengan dokumen itu. Membuat Asya mengangguk paham.


"Oh ya, berkas ini..."


"Keluarlah! Kau tidak membantu disini." Ucap dingin Darren, memotong ucapan Naomi.


Asya hanya diam. Tidak ada pembelaan lagi untuk Naomi. Walaupun ia merasa, Darren sedikit keterlaluan.


"Maaf, aku mengganggu." Naomi segera meraih nampan dan bergegas pergi dari ruangan itu.


"Tunggu!" Naomi menghentikan langkahnya setelah mendengar perintah Darren. Ia tersenyum senang dan merasa Darren tidak tega padanya dan akan meminta maaf. Namun, senyumnya hilang saat Darren kembali bersuara.


"Bawa kembali minuman dan camilan ini. Kami tidak membutuhkannya."


Nyes...


Hati Naomi sakit. Ia seperti dipatahkan oleh kenyataan. Sambil menahan air mata dan amarah, Naomi berbalik dan membawa minuman dan camilan yang ada di meja.


Braak...


Naomi menutup pintu dengan kasar. Menghasilkan dentuman yang cukup keras. Darren tak peduli. Dia lalu mengusap rambut Asya yang masih menatap ke arah pintu.


"Jangan pedulikan dia." Ucapnya.

__ADS_1


Asya mengangguk. Ia hanya bisa berharap agar Naomi kembali menjadi baik. Fokusnya kini cukup pada pekerjaan dan juga sahabatnya, Aurel.


__ADS_2