Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 27


__ADS_3

Darrel melangkah cepat menuju meja resepsionis. Saat mendapati karyawan resepsionis itu tersenyum genit padanya, Darrel langsung memasang wajah datarnya.


Cukup kemarin ia diserang oleh media dan banyak wanita di tempat lomba. Meski Pak Kariman sudah meminta para pengawal untuk menahan kerumunan wanita-wanita itu, mereka tetap memaksa untuk mendekati Darrel. Tapi, Darrel bersyukur, karena dia bisa lolos dari kerumunan tersebut dan mereka mau mendengarkan instruksi kepala pengawal untuk tidak memotretnya dan mempublikasikannya.


"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ya." Balas Darrel, datar.


Ya Tuhan, dia sangat tampan. Batin karyawan tersebut.


"Saya ingin bertemu menajer hotel ini."


"Apa anda sudah..." Ucapan karyawan tersebut terpotong ketika Darrel menyodorkan kartu namanya. Sebuah kartu nama dengan logo Grisam Group. Mata karyawan tersebut langsung terbelalak. Begitupun temannya yang berdiri di sebelahnya.


"Saya akan memberitahu manajer." Wanita yang berdiri disampingnya itu langsung mengangkat telpon dan tak lama, panggilannya tersambung. Setelah hampir 3 menit berbicara, dia meletakkan kembali telpon tersebut ke tempatnya.


"Ma-mari, tuan, saya antar ke ruangan manajer."


"Ya."


Darrel meraih kembali kartu namanya lalu berjalan mengikuti karyawan tersebut. Sebelum memasuki ruangan manajer, Darrel melirik karyawan tersebut.


"Saya harap, kau merahasiakan yang kau tahu."


"Baik, tuan." Wanita itu menundukkan kepalanya. Setelah Darrel masuk, ia bergegas kembali ke tempatnya.


Hampir lima belas menit berada di ruangan manajer, Darrel pun keluar. Ia segera kembali ke kamarnya. Barang-barangnya sudah ia rapihkan. Tapi, ia menunda penerbangannya hingga sore hari setelah menemukan ide untuk membuat Aurel terus dekat dengannya.


Darrel merebahkan tubuhnya di ranjang setelah menelpon layanan hotel untuk membawa makanan untuknya.


Ia memejamkan matanya sejenak sebelum tiba-tiba, pintu kamarnya di ketuk. Darrel dengan semangat bangun dan membuka pintu. Senyum manis terukir di bibirnya melihat seseorang berdiri di depannya, sembari membawa makanan dan kepalanya tertunduk.


"Aurel,"


"Ini pesanan anda, tuan." Gadis itu menyerahkan makanan yang dibawanya pada Darrel.


Darrel meraih makanan tersebut, dan tiba-tiba langsung menarik Aurel masuk. Aurel menatapnya dengan raut terkejut yang begitu nyata. Darrel tak peduli dan langsung mengunci pintu kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Kalimat protes Aurel di acuhkan Darrel. Ia malah kembali menarik gadis itu dalam pelukannya. Mendekap gadis itu dengan sangat erat.


"Aku merindukanmu, Aurel." Ujarnya begitu lembut.


Tubuh Aurel membeku. Tangannya tak sedikitpun bergerak untuk membalas pelukan Darrel. Matanya mulai berair. Dia juga merindukan Darrel. Dia juga ingin memeluknya. Ini yang ia harapkan saat kembali bertemu Darrel dan yang lain. Tapi, tubuhnya terasa sangat kaku, tak bisa ia gerakkan.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu menghilang begitu saja tanpa memberitahuku? Memberitahu Jiyo atau Asya. Apa kamu mengalami kesulitan? Katakan sesuatu, Aurel."

__ADS_1


Gadis itu masih terdiam. Air matanya lolos begitu saja membasahi pipi. Ia menggigit bibirnya agar isaknya tak terdengar oleh Darrel.


"Aurel,"


"Maafkan aku."


Runtuh sudah pertahanan Aurel. Ia balas memeluk Darrel dengan air mata yang terus mengalir. Sudah begitu lama ia meninggalkan sahabat-sahabatnya. Pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan. Ia pikir, mereka akan membencinya. Tapi, ia malah mendapatkan kerinduan yang besar dari mereka.


"Hiks... Maafkan aku, Darrel."


"Untuk apa kamu meminta maaf? Kamu tidak punya salah apapun."


"Aku..."


Darrel mendorong pelan tubuh Aurel dan menghapus air matanya. Membuat ucapan gadis itu terhenti.


"Berhentilah menangis. Kamu tidak salah. Pasti ada alasan yang membuatmu pergi tanpa memberitahu kami."


Air mata Aurel kembali menetes mendengar ucapan lembut dan penuh pengertian Darrel. Darrel mengerti dirinya dan selalu lembut padanya sejak dulu. Kecuali saat dia hampir mencelakai Asya. Saat itu dia begitu dingin. Itu adalah pertama dan terakhir kali Darrel bersikap dingin padanya.


"Kenapa kamu menangis lagi?" Darrel kembali menariknya dalam pelukan. "Sudah-sudah. Ayo, kita duduk dulu."


Darrel mengurai pelukannya lalu menuntun Aurel menuju sofa. Ia kembali mengusap air mata gadis itu.


Aurel mengangguk. "Iya." Jawabnya.


"Syukurlah." Ucap Darrel, lega. "Oh ya, kenapa kamu bekerja disini? Bukankah, Ayahmu punya perusahaan?"


Aurel memalingkan wajahnya dari Darrel dan menunduk. "Perusahaan Ayah sudah ngaak ada."


Darrel sedikit terkejut dengan ucapan Aurel. Ia meraih wajah Aurel hingga mereka saling menatap. Mata Darrel menatap tepat di manik mata Aurel. Wajahnya berubah serius.


"Apa itu ada hubungannya dengan kepergianmu yang tanpa alasan itu?"


"Y-ya." Aurel menjawab gugup. Bagaimanapun, wajah Darrel cukup dekat. Membuat jantungnya berdegup kencang.


"Apa aku boleh mendengar semuanya?"


Aurel kembali mengangguk. Ia meremas tangannya, menghilangkan gugup sebelum memulai ceritanya.


"A-aku... Waktu itu, setelah kelulusan, aku sama Mama langsung pergi setelah mendapat telpon. Saat itu terjadi kekecauan di perusahaan Papa. Paman tiba-tiba datang dan menunjukkan dokumen kepemilikan perusahaan. Semua aset milik Papa termasuk rumah, semuanya menjadi milik Paman. Entah gimana caranya, aku juga nggak tahu."


"Setelah masalah itu, Aku, Papa dan Mama pindah ke rumah peninggalan Kakek di desa. Papa jatuh sakit setelah seminggu berada di desa. Mama tiba-tiba pergi ninggalin kita." Aurel semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang kembali menggenang.


"Kepergian Mama menambah luka Papa. Kesehatan Papa semakin menurun sejak itu. Cukup lama Papa berjuang melawan sakitnya, Papa meninggal." Aurel menghapus cepat air matanya.

__ADS_1


"Aku lalu mencari Mama. Aku menemukannya." Aurel terdiam.


Ku pikir, aku bisa membawa Mama kembali. Ternyata aku salah. Aku malah terjebak dalam kehidupan baru Mama. Kehidupan yang membuat hidupku semakin berantakan. Batin Aurel.


Darrel mengerutkan keningnya melihat Aurel terdiam cukup lama. Ia mengusap pelan punggung Aurel. Dia masih ingin mendengar kelanjutannya.


"Lalu?" Tanya Darrel.


Aurel kembali mengusap air matanya dan menatap Darrel sejenak, sebelum ia kembali menundukkan kepalanya.


"Tak lama aku menemukan Mama, Mama juga pergi menyusul Papa. Mama meninggal." Aurel menarik nafasnya panjang saat melewatkan satu cerita pedih hidupnya. Ia lalu melanjutkan ceritanya seolah tidak ada kebohongan lagi yang ia sembunyikan.


"Aku memutuskan kembali ke desa. Salah satu temanku yang ada di desa mengajakku kemari. Dia pekerja lama di hotel ini. Pulang karena ingin menjenguk Ibunya. Katanya ada lowongan pekerjaan disini. Dan akhirnya aku berada di sini atas bantuannya."


Darrel menarik nafasnya. Hidup sahabatnya itu begitu kesulitan selama ini. Tapi, dia teringat akan beberapa orang yang disuruhnya untuk mencari Aurel. Mereka tidak menemukan apa-apa, bahkan tentang pengalihan kepemilikan perusahaan milik Papa Aurel tersebut.


Ada yang nggak beres. Mungkinkah mereka tidak benar-benar menyelidikinya karena aku yang memerintahkan mereka, bukan Ayah? Batin Darrel.


Darrel menatap Aurel. "Aurel," Panggilnya.


Gadis itu menoleh. "Ada apa?"


"Untuk apa kamu mengikuti lomba melukis? Sejak kapan kamu pandai melukis?"


"Aku suka melukis sejak kecil. Aku mengikuti lomba tersebut karena ingin mendapat hadiahnya."


"Untuk biaya hidupmu?"


Aurel menggeleng. "Ada yang lebih membutuhkan uang itu."


Darrel hanya mengangguk. Dia tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Meskipun ia sangat ingin mengetahuinya, ia menahannya. Dia yakin, dia akan tahu suatu saat nanti.


"Aurel, ayo ikut aku kembali?"


"Enggak, Darrel. Aku sudah nyaman disini. Aku nyaman dengan pekerjaanku."


"Apa kamu nggak mau ketemu Asya dan Jiyo?"


Aurel terdiam. "Aku harus pergi, Darrel. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan." Kilah Aurel. Ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat suara Darrel terdengar.


"Aku akan kembali sore ini. Jika kamu berubah pikiran, datanglah kesini. Aku nggak akan kemana-mana."


Aurel tak menjawabnya. Ia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan kamar Darrel.


Sekeras apapun keinginan mu untuk tetap disini, aku akan tetap membawa mu kembali bersamaku. Batin Darrel.

__ADS_1


__ADS_2