Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 82


__ADS_3

Acara pernikahan telah usai. Semua anggota keluarga kembali ke kamar hotel masing-masing, kamar hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Darren memasuki kamar hotel bersama Asya, dan Darrel bersama Aurel. Darrel membantu Aurel duduk di ranjang.


"Apa kamu kelelahan?"


"Sangat. Aku sangat lelah." Ucap Aurel.


Darrel bergegas naik ke ranjang, dan memposisikan tubuhnya di belakang Aurel. Tangannya bergerak memijat pundak Aurel.


"Eh, apa yang kamu lakukan? Nggak perlu memijatku. Kamu juga kelelahan. Biar aku saja yang memijatmu."


"Aku nggak apa-apa. Aku nggak begitu kelelahan. Kamu yang sangat kelelahan. Ada bayi kita juga yang mungkin merasa kelelahan. Aku sebagai seorang Ayah harus menjaga kalian dan memastikan kalian baik-baik saja."


"Terima kasih." Ucap Aurel, merasa tersentuh dengan ucapan Darrel.


"Bagaimana?" Darrel terus memijat bahu Aurel.


"Geser sedikit, Rel. Agak dekatan sama leher." Ujar Aurel sambil menunjuk tempat yang harus Darrel pijat.


Darrel menurut. Ia memijat di area yang Aurel tunjuk. Namun, fokusnya tiba-tiba berubah ke leher Aurel yang putih dan mulus.


Glek...


Darrel meneguk ludahnya, dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke leher Aurel. Ia mengecup leher wanita itu, yang sontak membuat Aurel kaget.


"Darrel, apa yang kamu lakukan?"


Bukannya menjawab, Darrel malah semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Aurel. Tangannya memegang kedua lengan Aurel.


"Da-Darrel, ap-apa kamu lupa pesan dokter?"


Deg! Tangan Darrel yang memegang lengan Aurel langsung terjatuh lemah. Lelaki itu menjauhkan tubuhnya dari Aurel dengan perasaan frustasi.


"Akkhh... Bodoh kamu Darrel! Bodoh!" Ucapnya mengacak rambutnya sendiri.


Aurel yang melihatnya merasa bersalah. Ia mendekat pada Darrel dan meraih tangan suaminya itu.


"Maaf," Ucapnya pelan. Perkataan lembut itu membuat Darrel mendongak. Ia tersenyum pada wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut, lalu memeluknya.


"Kamu nggak perlu minta maaf. Aku yang salah. Aku terlalu terbawa suasana hingga lupa saran dokter waktu itu." Ujarnya sambil tersenyum.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Aku mengatai diriku bodoh karena hampir saja mencelakai anak kita. Aku hampir saja membahayakan kalian berdua. Untung saja kamu mengingatkan ku. Terima kasih, sayang." Ujarnya, lalu mengecup puncak kepala Aurel.


Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia merasa begitu dicintai Darrel. Rasanya ia sangat bahagia memiliki Darrel yang sangat mengerti dirinya.


"Aku mencintaimu, Darrel."


Lelaki itu tersenyum mendengar ungkapan cinta dari Aurel. Ia sedikit menundukkan kepalanya, dan...


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Aurel. "Aku bahkan sangat mencintaimu." Ucapnya, memeluk Aurel dengan hangat.


Sementara di kamar pasangan Darren Asya, Asya baru saja keluar dari kamar mandi. Sekarang giliran Darren yang berada di kamar mandi. Ia berdiri di samping meja kecil dan meraih handphonenya. Banyak sekali pesan dari rekan-rekan bisnisnya dan juga karyawan-karyawan yang bergabung di grup chat perusahaan, yang tidak bisa hadir saat acara pernikahan tadi.

__ADS_1


Asya membuka pesan paling pertama, yang merupakan pesan dari Nita. Sekretarisnya itu tidak bisa hadir karena mendadak disuruh kembali oleh Ibunya yang sedang sakit di luar kota.


Nita


Selamat atas pernikahan nona muda


dan tuan muda Darren. Semoga pernikahan


kalian bahagia selamanya. Maaf saya


tidak bisa hadir, nona.


Sampaikan salamku juga pada


tuan muda Darrel dan istrinya.


Asya mengulas senyum membaca pesan dari sekretarisnya tersebut. Tangannya bergerak membalas pesan Nita.


^^^Asya^^^


^^^*Terima kasih, Nita.^^^


^^^Kamu masih tetap mendoakanku^^^


^^^meski tidak hadir, itu sudah cukup.^^^


^^^Walaupun aku lebih bahagia^^^


^^^jika kamu hadir. Semoga keaadan Ibu mu^^^


^^^cepat membaik dan kembali sehat*.^^^


"Pesan dari siapa?" Suara dingin itu terdengar bersamaan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Wajah Darren yang bersandar di bahunya, membuat Asya bisa merasakan sejuknya air dari rambut Darren yang belum kering. Asya juga bisa menebak jika Darren hanya mengenakan haduk yang melingkar di tubuhnya.


"A-aku membaca pesan dari Nita, rekan kerja dan karyawan-karyawan kantor." Jawab Asya. Jantungnya kini berdetak dengan cepat.


"Kenapa kamu membacanya sambil tersenyum? Hmm?" Darren kembali bertanya. Kini wajahnya mengarah ke leher Asya. Memberi kecupan-kecupan ringan hingga ke area rahangnya.


"Da-Darren..."


"Ini malam pertama kita. Aku ingin melaluinya dengan penuh kenangan. Jadi, jangan menolaknya." Ucap Darren, tanpa menghentikan kecupannya. Ia membalik tubuh Asya dan langsung mencium bibirnya. Cukup lama ciuman itu berlanjut, Darren melepaskannya. Nafas keduanya tak beraturan.


Darren tersenyum begitu manis pada Asya. Membuat gadis itu terpana oleh ketampanannnya. Lelaki yang terlihat tampan saat berwajah dingin itu terlihat bertambah tampan saat tersenyum seperti ini. Darren kembali mendekatkan wajahnya.


"Aku mencintaimu, Asya. Sangat-sangat mencintaimu." Ujar Darren.


"Aku juga sangat mencintaimu." Balas Asya.


Darren lagi-lagi tersenyum, begitu juga dengan Asya. Lelaki itu meraih wajah Asya dan mengecup seluruh wajahnya. Terakhir, ia kembali mencium bibir Asya. Ciuman ini tidak lama. Darren melepaskannya dan langsung mengendong Asya. Membawanya menuju ranjang, dan membaringkan gadis itu penuh kelembutan.


"Berjanjilah untuk terus bersama. Saling percaya dan tidak meninggalkan satu sama lain dalam keadaan apupun." Ucap Asya, menatap wajah Darren yang berada diatasnya.


Lelaki itu menyelipkan anak rambut Asya. "Aku milikmu dan kamu milikku. Tidak ada kata pisah atau kata tidak saling percaya. Aku akan selalu ada disisimu hingga maut memisahkan." Ucap Darren.


Mata Asya berkaca-kaca. Ia lalu memejamkan matanya saat merasakan Darren kembali mencium bibirnya. Keduanya mengarungi malam indah mereka dengan penuh cinta. Dengan hati kecil Darren yang berharap agar segera memiliki buah hati bersama Asya.


***

__ADS_1


Cahaya matahari yang bersinar di luar sana tak membuat tidur Asya terusik. Gadis itu tertidur nyenyak setelah hampir semalaman begadang bersama Darren.


Darren yang baru saja bangun, tersenyum melihat sang istri yang masih tertidur. Tangannya terulur mengusap pipi Asya, lalu bibirnya. Ia bergerak mengecup bibir itu dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya.


Darren bergerak turun dari ranjang, menghubungi pengawalnya untuk membawa baju, kemudian menuju kamar mandi. Hingga Darren selesai mandi pun, Asya masih belum bangun.


"Dia pasti sangat kelelahan." Gumam Darren.


Tok... Tok... Tok...


Ketukan pintu membuat langkah Darren yang hendak duduk di tepi ranjang terhenti. Lelaki itu bergegas membuka pintu.


"Kak Darren. Selamat pagi." Sapa Alisha dengan senyum ceria. Darren tersenyum pada gadis kecil itu.


"Pagi."


"Kakak baru selesai mandi?" Tanyanya saat melihat Darren mengenakan bathrobe.


"Ya."


"Apa Kakak bangun kesiangan?"


"Iya."


"Waaah... Nggak biasanya Kak Darren kesiangan seperti ini. Apa Kakak kelelahan karena acara kemarin?"


Darren hanya tersenyum menanggapi gadis itu. "Apa yang kamu bawa?"


"Oh, ini baju ganti buat Kakak sama Kakak ipar. Ada Paman pengawal yang mau anterin kesini. Karena aku mau kesini, jadi sekalian saja aku yang bawa."


Darren tersenyum dan mengacak pelan rambut Alisha. "Terima kasih."


"Sama-sama. Tapi, dimana Kakak Ipar? Apa dia sedang mandi?"


"Masih tidur."


"Astagaa, pasti dia sangat kelelahan. Ya sudah, Kalian istirahat saja. Alisha mau ke Ayah sama Ibu dulu. Kak Darren jangan lupa sarapan, ya?"


"Iya." Jawab Darren. "Kalau kalian hendak pulang, pulanglah dulu. Nggak perlu tungguin Kakak sama Asya."


Gadis itu mengangguk, dan bergegas pergi. Darren membawa pakaian yang dibawa Alisha dan langsung mengenakannya. Setelah itu, dia kembali ke ranjang, dimana Asya masih tertidur.


Sementara Alisha, gadis itu sudah bergabung dengan keluarganya. Mereka akan sarapan bersama di restoran yang berada sekitar 500 meter dari hotel.


"Dimana Darren sama Asya?" Tanya Darrel, saat adiknya itu sudah berkumpul bersama mereka.


"Kak Darren nggak ikut. Kak Darren bangun kesiangan. Dia juga baru selesai mandi. Terus, Kak Asya juga masih tidur. Kasihan sekali mereka. Mungkin mereka kelelahan karena banyak tamu kemarin."


Semua terdiam mendengar jawaban polos Alisha, kecuali Darrel. Ia tertegun mendengarnya.


Berutung sekali Darren. Dan malang sekali nasibku. Tapi, nggak apa-apa. Ini demi kebaikan istri dan anakku. Bersabar saja, Darrel. Batin Darrel.


"Oh ya, Kak Darrel sama Kakak ipar nggak kelelahan? Kalau kelelahan, nggak usah ikut. Nanti Alisha minta paman pengawal anterin sarapan buat Kakak sama Kakak ipar."


"Kita nggak kelelahan kok." Sambung Aurel cepat.


"Iya. Kemarinkan Kakak sama Kakak ipar mu ini sering istirahat. Darren sama Asya saja yang tidak sempat istirahat." Lanjut Darrel.

__ADS_1


Alisha mengangguk. Sementara yang lain menatap prihatin pada Darrel. Pasti lelaki itu melewati malam yang begitu sulit semalam.


__ADS_2