
Sudah seminggu lebih Darren di luar negeri. Operasi Doni sudah dilakukan dua hari lalu. Semuanya berjalan lancar. Anak itu sedang berada di ruang rawatnya, beristirahat untuk proses pemulihan.
"Terima kasih, nak Darren. Kamu sudah meluangkan waktu sibukmu untuk menemani Doni." Ucap Ayah Carla, Kakek Doni.
"Iya, nak. Terima kasih sudah mau membujuk Doni untuk melakukan operasi. Dia selalu menolak kami. Bahkan Carla yang dekat dengannya, dia juga menolak."
"Tidak masalah. Doni bersama saya sejak kecil. Tidak perlu berterima kasih."
Kedua orang tua Carla tersebut mengangguk sambil tersenyum. Carla yang baru keluar dari ruangan Doni menatap kedua orang tuanya bergantian, kemudian berhenti pada Darren.
"Emm... Darren. Apa kamu akan pergi hari ini?" Tanyanya. Ada perasaan tidak rela jika Darren harus kembali secepat itu. Waktu 8 hari, itu benar-benar singkat bagi Carla.
"Ya."
"Apa aku boleh berbicara sebentar dengan mu?"
Darren terdiam, kemudian mengangguk. Carla berjalan terlebih dahulu, kemudian diikuti Darren di belakangnya. Langkah mereka berhenti di taman rumah sakit.
"Duduklah." Ucap Carla, duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman.
Darren tak menjawab. Dia tetap berdiri tanpa sedikitpun bergerak untuk duduk. Carla menarik nafasnya.
Dia masih saja menjaga jarak dengan ku. Tidak, bukan denganku saja. Mungkin dengan banyak perempuan . Tapi, gadis waktu itu, dia terlihat begitu dekat dengan Darren.
"Bicara saja! Penerbanganku sejam lagi." Ujar Darren.
"Setelah kamu pergi, apa kamu tidak akan kembali untuk menemui Doni lagi?"
"Saya akan menemuinya jika ada waktu."
"Apa aku dan Doni boleh menemuimu suatu hari nanti?"
"Ya."
"Doni selalu memanggilmu Papa. Tapi, aku tidak pernah mendengar kamu menyebut dirimu Papa. Kamu juga tidak pernah menyebut namaku."
Darren mendengus. Pembicaraan seperti apa ini? Carla benar-benar sudah mengulur waktunya.
"Saya akan manganggap diri saya seorang Ayah jika saya memiliki anak. Dan saya tidak menyebut nama wanita lain selain keluarga saya." Ucap Darren, bergegas pergi dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat suara Carla kembali terdengar.
"Apa gadis di kantormu itu keluargamu? Kamu menyebut namanya waktu itu."
"Dia calon istriku." Ucap Darren, melanjutkan langkahnya, meninggalkan Carla yang menunduk dalam, mencerna semua perkataan Darren.
***
Darren tiba saat sore hari. Tidak ada Darrel atau Jiyo yang menjemput. Dia hanya meminta seorang pengawal yang menjemputnya. Mobil mereka melaju, tapi bukan ke rumah Darren. Mereka menuju rumah Asya.
Lelaki itu merasa ada sesuatu yang aneh. Asya tak membalas pesannya waktu itu, dan hingga hari ini, gadis itu tidak pernah menelpon maupun mengirim pesan.
Mobil berhenti di halaman rumah Asya, dan Darren langsung turun dan mengetuk pintu. Pintu terbuka menampakkan seorang pelayan.
"Tuan muda Darren," Sapa pelayan tersebut.
"Ya. Dimana Asya?"
"Nona sedang pergi bersama nona Aurel."
"Kemana?"
"Saya juga tidak tahu, tuan."
"Paman?"
"Tuan sama nyonya pergi ke rumah tuan besar."
"Baiklah. Selesaikan pekerjaanmu."
Pelayan tersebut mengangguk, dan kembali menutup pintu setelah mobil Darren melaju menjauh dari tempat itu.
Darren tiba di rumah, dan sedikit mengerutkan kening tak mendapati Ayah dan Ibunya. Terutama adiknya yang selalu ceria itu.
__ADS_1
Darren menaiki tangga menuju kamarnya. Sebelum dia membuka pintu kamarnya, pintu kamar Darrel terbuka, kemudian lelaki itu keluar.
"Kamu sudah kembali?" Tanya Darrel, sedikit terkejut melihat saudara kembarnya sudah ada di depan kamar.
"Ya." Jawab Darren. "Dimana Ayah, Ibu sama Alisha?"
"Mereka ke rumah Kakek Asya."
"Untuk apa?"
"Hanya ingin kesana. Kata Ibu, sudah lama juga mereka tidak berkunjung kesana. Kebetulan Paman dan tante pergi, ya sekalian saja."
Darren mengangguk. Dia kemudian hendak masuk, tapi Darrel kembali menghentikannya.
"Tunggu dulu." Darren berhenti dan menatap Darrel. "Sebentar malam, ada acara reuni."
"Aku nggak pergi."
"Kamu yakin? Asya juga pergi. Aurel juga ada nanti. Aku nggak bisa membagi perhatianku pada mereka berdua dengan baik. Jangan berharap pada Jiyo. Dia sudah pasti akan fokus menggoda gadis-gadis." Ujar Darrel. "Kamu harus tahu, Darren. Asya sudah semakin dekat dengan Hendra. Aurel memberitahuku karena ia pernah melihat mereka bersama dan juga, Asya menceritakan semua padanya."
"Aku nggak tahu apa yang terjadi antara kalian. Tapi, aku merasa Asya perlahan menjauh darimu." Lanjut Darrel.
"Aku akan pergi." Jawab Darren, lalu masuk ke kamarnya. Ia benar-benar lupa jika Asya sudah pasti ada disana juga nanti.
***
Darren dan Darrel siap berangkat. Keduanya terlihat begitu tampan dengan jas yang melekat di tubuh masing-masing. Keduanya pergi bersama meski menggunakan mobil masing-masing.
Acara reuni akan dilangsungkan di sekolah, tepatnya di aula sekolah yang kini sudah semakin besar dari sebelumnya.
Darren dan Darrel menatap sekolah yang hampir setiap hari mereka datangi untuk mengantar Alisha. Suasananya sangat berbeda. Sekolah diubah menjadi sangat indah daripada dilihat di pagi hari.
"Ayo!" Darren dan Darrel segera menuju Aula. Dan benar saja, tempat itu sudah berubah menjadi lebih besar dari sebelumnya. Semua mata tertuju pada dua lelaki itu. Jiyo yang sudah tiba terlebih dulu, langsung menghampiri mereka.
"Ku pikir, kau nggak akan ikut karena masih di luar negeri." Ucap Jiyo, sambil melakukan salaman khas dirinya dan si kembar. Darren tak merespon. Dia hanya mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Asya.
"Apa Aurel dan Asya sudah tiba?" Tanya Darrel.
"Ck. Dasar perempuan! Pasti sangat lama." Decak Darrel.
Ketiga lelaki itu menuju meja tempat makanan dan minuman tersedia.
"Kenapa acaranya harus di sekolah?" Seorang gadis yang baru datang dari toilet bersama kedua temannya terlihat tidak senang jika acaranya diadakan di sekolah.
"Apa ada yang salah?" Tanya seorangnya lagi. Sepertinya dia tidak setuju.
"Nggak salah. Hanya saja, kita semua dari kalangan menengah ke atas. Dana yang di dapat untuk acara reuni ini pasti nggak sedikit. Kenapa nggak diadakan di hotel saja sih?"
"Meneurutku disini lebih bagus. Selain kita semua bisa bertemu, kita juga bisa keliling-keliling sekolah mengenang kembali kebersamaan kita dulu. Lagian, mereka menata semua ini dengan baik. Kamu lihat, halaman depan. Semuanya kelihatan bagus banget." Timpal seorang lagi.
"Ya, aku... Astagaaa... Bukankah itu si kembar Darren Darrel juga teman mereka Jiyo? Ya ampuun... Mereka sangat tampan."
"Mana-mana?" Tanya kedua temannya bersamaan.
"Itu yang lagi ambil minum."
"Oh iya, benar."
"Ya Tuhan, mereka benar-benar tampan."
Ketika sedang mengagumi ketiga lelaki tersebut, terdengar decak kagum beberapa lelaki yang berdiri di sekitar mereka. Saat menoleh, bisa mereka lihat Asya dan Aurel juga Handra yang berjalan tak jauh di belakang mereka.
"Mereka sudah datatang." Ucapan Jiyo, membuat Darren dan Darrel yang sedang menyesap minuman menoleh.
Mata Darren langsung terpaku pada Asya yang terlihat cantik dengan balutan dressnya. Hal yang sama terjadi pada Darrel. Lelaki itu terus terpaku pada Aurel yang berjalan di samping Asya. Namun, ekspresi ketiga lelaki tersebut langsung berubah dingin saat melihat Hendra berjalan di belakang kedua gadis itu.
Darrel segera menarik Aurel ke sisinya saat kedua gadis itu berdiri di dekat mereka.
"Jangan terlalu jauh dariku." Ucap Darrel, membuat Aurel tersenyum kecil padanya.
Sementara Darren, lelaki itu masih saja menatap Asya. Hingga tiba-tiba, tatapannya teralih pada Hendra yang langsung berdiri di samping Asya. Tatapannya menanjam. Namun Hendra membalasnya dengan senyuman menjengkelkan.
__ADS_1
"Hai. Kita ketemu lagi." Ujar Hendra, mengulurkan tangannya. Tapi Darren enggan membalasnya. Hendra menurunkan tangannya.
"Huh, kau masih saja tidak suka padaku." Ucap Hendra. "Baiklah. Aku akan menemui teman-temanku."
"Aku ikut, kak." Sahut Asya, cepat.
"Asya!"
"Ayo, kak."
"Asya!" Darren meraih tangan Asya. Gadis itu mencoba menepisnya, namun tidak bisa. Hendra pun membantu hingga tangan Asya terlepas dari genggaman Darren.
"Jangan memaksanya." Ujar Hendra, lalu pergi sambil menggandeng Asya.
Darren hanya bisa mengepalkan tangannya sembari menatap Asya yang mulai berkenalan dengan teman-teman Hendra. Begitupun dengan Darrel, Aurel dan Jiyo yang masih tidak menyangka dengan perubahan Asya.
Acara terus berlanjut. Darren tidak bersemangat sedikit pun. Dia terus mengawasi Asya yang terlihat banyak tersenyum dan tertawa bersama teman-teman Hendra.
Hingga pada akhirnya, dia tidak bisa menahannya lagi. Darren berjalan cepat menuju perkumpulan teman-teman Hendra dan menarik Asya menjauh dari orang-orang tersebut.
"Darren!"
"Ikut aku!"
"Darren aku nggak mau!"
"Ikut aku, Asya!"
"Darr..."
"Lepaskan Asya." Cegah Hendra yang baru saja kembali dari mengambil minum. Beruntung, perhatian banyak orang tidak tertuju pada mereka. Semuanya cukup fokus pada permainan yang dilakukan dan beberapa acara hiburannya.
"Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur!" Darren menekan setiap perkataannya dan melepaskan tangan Hendra yang menahan mereka.
Dia kemudian menarik Asya sedikit kasar, menjauh dari keramaian tersebut. Darren tidak bisa berpikir jernih. Ia membawa Asya sedikit jauh dari aula. Tepatnya, di lorong kelas yang pencahayaannya remang.
"Darren, lepaskan!" Asya menghempas tangannya hingga genggaman Darren terlepas. "Apa yang kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? Asya! Kamu sadar? Dia Hendra. Orang berbahaya yang terus mengganggu mu. Kenapa kamu malah dekat dengannya? Dengan teman-temannya?"
"Apa salah aku dekat dengannya? Dengan teman-temannya? Mereka nggak buruk seperti yang kamu pikirkan."
"Asya, mereka lebih banyak laki-laki."
"Kenapa dengan laki-laki? Kamu marah ji..."
"Iya, aku marah!" Darren berteriak cukup keras, memotong ucapan Asya.
"Kenapa kamu harus marah?! Kenapa kamu terus melarangku berdekatan dengan laki-laki sedangkan kamu bebas dekat dengan perempuan itu?!" Mata Asya mulai berkaca-kaca. Ia sungguh tidak tahan dengan rasa sesak yang ia tahan akhir-akhir ini.
"Asya,"
"Kamu dekat dengan perempuan itu. Kamu dekat dengan anak kecil itu. Kamu bahkan mengunjungi mereka di apartemen perempuan itu."
"Asya!"
"Kamu bahkan pergi bersama perempuan dan anak kecil itu ke luar negeri dengan tergesa. Hanya mengirim pesan pada Darrel dan tanpa memiliki kesempatan memberi tahu Paman dan tante. Dia memanggilmu Papa dan perempuan itu Mama. Apa dia putramu?'
"Asya dengarkan aku!"
"Apa yang harus ku dengarkan?" Asya mengusap air matanya. "Semuanya sudah jelas. Kamu melarangku dekat dengan laki-laki sementara kamu bersenang-senang dengan mereka. Apa in..." Ucapan Asya terhenti saat Darren mencium tepat di bibirnya.
"Mmm..." Asya berusaha mendorongnya, tapi Darren malah menahan tengkuk Asya dan semakin menciumnya.
Air mata Asya lagi-lagi jatuh. Ia sakit atas semua perlakuan Darren. Dengan sekuat tenaga, Asya mendorongnya. Kemudian...
Plak...
Satu tamparan Asya berikan pada Darren. Tidak ada kemarahan atau apapun yang Darren tunjukkan. Lelaki itu hanya terdiam.
"Hiks... Aku benci kamu, Darren!" Ucap Asya, kemudian pergi dari hadapan Darren. Gadis itu tidak kembali ke aula. Dia memasuki mobinya dan menjauh dari tempat tersebut.
__ADS_1