Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 104


__ADS_3

Hari perayaan pun tiba. Tamu-tamu yang diundang untuk perayaan kelahiran anak Darrel dan Aurel pun mulai berdatangan. Tidak banyak. Hanya keluarga dan beberapa kenalan para orang tua.


"Selamat nyonya Grisam. Anda sudah menjadi seorang Nenek sekarang." Ucap Mama Jiyo. Wanita itu datang bersama putranya, Jiyo.


"Terima kasih, Bu." Balas Alula, sambil tersenyum. Setelah itu, Jiyo bersama Mamanya menemui Aurel dan Darrel.


"Selamat nyonya. Saya turut bahagia." Ucap Hani. Wanita itu datang bersama suaminya, sekretaris Kenan dan putrinya, Ziya.


"Terima kasih, Hani." Balas Alula. "Oh ya, dimana putrimu, Ziya?"


"Dia bersama Ayahnya. Oh, itu mereka." Hani menunjuk ke arah Sekretaris Kenan yang sedang menggandeng putri mereka.


"Selamat malam, nyonya." Ucap Kenan, sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat malam, nyonya." Ucap Ziya. Gadis kecil berusia 7 tahun itu juga menundukkan kepalanya.


"Selamat malam, Kenan. Selamat malam, gadis manis." Balas Alula. Wanita itu mengusap pelan puncak kepala Ziya.


Ziya, gadis kecil itu tersenyum tipis. Meski garis wajahnya tidak sepenuhnya mirip Kenan, tapi sifatnya seutuhnya mirip Kenan.


"Terima kasih atas pujiannya, nyonya." Ucap Ziya. Setelah berbincang sebentar, Kenan mendekati Gara. Hani membawa Ziya menemui yang lain.


Axel datang bersama Papa dan Mamanya. Pasangan suami istri itu datang untuk mengunjungi Nenek Axel. Dan kebetulan, mereka mendapat kabar jika menantu dari kelurga Grisam melahirkan. Dan Gara mengundang mereka untuk acara ini.


"Axel!" Suara Alisha membuat Axel yang berjalan paling belakang menoleh. Sementara Mama dan Papa nya, sudah berbincang dengan Gara dan Alula.


"Ku pikir, kamu nggak akan datang." Ucap Alisha, setelah Axel berdiri di depannya.


"Gue pasti datang."


Alisha tersenyum mendengarnya. "Oh ya, kapan om sama tante pulang?" Mata Alisha melirik Papa dan Mama Axel.


"Kemarin." Balas Axel, singkat. Sebenarnya, Mama dan Papa nya ingin mengunjungi Darrel dan Aurel untuk mengucapkan selamat. Tapi, keadaan Nenek Axel yang kurang sehat membuat mereka mengurungkan niat mereka. Dan beruntungnya, keadaan Nenek sudah membaik, sehingga mereka bisa menghadiri acara ini.


"Oh ya, ayo, ikut aku! Aku mau tunjukkin kamu keponakanku." Alisha langsung menarik tangan Axel menemui baby Meeya. Aurel dan Asya yang melihat Alisha datang bersama Axel pun tersenyum.


"Nah, lihatlah! Kamu pasti menyukainya. Dia sangat menggemaskan." Ucap Alisha, membuat Axel mengangguk. Lelaki itu jadi teringat pada putri Kakaknya.


"Ya, dia menggemaskan." Ujar Axel.


Setelah tamu-tamu undangan sepenuh nya hadir, acara pun dimulai. Semuanya mengucapkan selamat dan memberikan hadiah untuk baby Meeya.


***


Beberapa hari berlalu. Kebahagaiaan keluarga menyambut anggota baru masih begitu terasa. Darren dan Asya juga mendapat banyak ucapan selamat karena menjadi seorang Paman dan Aunty.


Seperti saat ini, Asya sedang memeriksa handphonenya yang sejak tadi terdapat banyak notifikasi masuk. Akun media sosialnya dipenuhi ucapan selamat, setelah ia meng-upload foto kartu ucapan dari salah seorang tamu yang memberikan hadiah untuk Meeya. Rangkain kata-kata yang indah membuat Asya tertarik dan membagikannya di akun media sosialnya.


Sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya membuat Asya sedikit terkejut.


"Sayang, buatku terkejut saja." Ucapnya pelan.


"Sedang apa? Hmm?" Darren menyandarkan dagunya di bahu Asya.


"Lihatlah! Banyak sekali yang mengucapkan selamat untuk kelahiran Meeya." Asya mendekatkan handphonenya agar Darren bisa melihatnya.

__ADS_1


"Hmmm." Hanya deheman yang terdengar. Asya lalu kembali fokus pada handphonenya dengan posisi Darren yang masih memeluknya dari belakang.


"Kalau dihitung-hitung, ini sudah lewat seminggu sejak tamu bulanan mu datang." Ucap Darren, lalu memiringkan kepalanya ke arah leher Asya. Ia mengendus-endus leher wanita itu.


"Iya. Memangnya, kenapa?" Tanya balik Asya dengan mata yang masih fokus pada layar handphonenya. "Oh ya, sayang. Aku rasa, ada yang aneh dengan tamu bulananku kali ini. Biasanya sampai seminggu. Tapi, sekarang hanya tiga hari."


Tiga hari? Dia sudah selesai dalam tiga hari, dan aku menahannya seminggu lebih? Batin Darren.


"Kenapa nggak memberitahuku?" Darren semakin mengendus leher Asya. Kali ini ia memberikan kecupan-kecupan kecil di leher itu.


"Hmm?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Asya. Ia benar-benar fokus pada handphonenya. Darren yang merasa Asya mengabaikannya dan tidak peka pun, sedikit kesal. Dengan sengaja ia menggigit leher wanita itu.


"Akh..."


"Fokus padaku!" Ucap Darren, lalu kembali mencium leher Asya. Tangannya bergerak naik, meraih handphone Asya, lalu melemparnya ke sofa.


"Darr..."


"Aku menginginkannya sekarang." Ucapnya, lalu menggendong Asya dan membawanya ke ranjang. Ia membaringkan wanita itu dengan lembut, dan dengan tidak sabarnya ia langsung mencium bibir Asya.


Asya mendorong pelan tubuh Darren untuk menghentikannya sejenak.


"Kenapa?" Tanya Darren. Raut wajahnya sedikit kesal.


"Ini... Masih jam 8, belum begitu larut. Bagaimana jika yang lain datang?"


"Aku sudah mengunci pintu." Darren kembali menunduk dan hendak mencium Asya lagi. Tapi, wanita itu menahannya.


"Darren..."


Drrttt... Drrrttt... Drrttt...


Handphonenya yang ada di atas nakas bergetar. Darren mengabaikannya dan tetap fokus pada urusannya. Sementara Asya, pikirannya terbagi pada handphone yang bergetar.


"Da-Darren, handphonenya bergetar."


"Abaikan saja!" Jawab Darren, tak peduli.


"Sa-sayang, ini handphone kamu." Darren terdiam sejenak dan menatap Asya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


"Aku nggak mau melanjutkannya jika kamu nggak angkat telponnya!" Tegas Asya, yang seketika membuat Darren berhenti. Lelaki itu dengan frustasi beranjak dari atas tubuh Asya dan meraih handphonenya.


Dalam hatinya, ia memaki orang yang sudah mengganggu kegiatannya. Jika yang menelpon adalah Jiyo, dia pastikan akan memberi hukuman untuk sekretarisnya itu besok.


"Siapa?"


"Doni." Jawab Darren dengan wajah lesu. Doni yang menelpon. Tipis sudah harapannya untuk memulai lagi kegiatannya dengan cepat. Asya dan Doni, kedua orang itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol.


"Anakku menelpon. Cepat angkat!" Ucap Asya. Ia bangkit dan membenarkan rambut dan bajunya yang berantakan.


Darren dengan tidak semangatnya menggeser tombol hijau, menjawab panggilan Doni.


"Hallo, Papa."


"Ya?" Balas Darren dengan tidak semangat.

__ADS_1


"Apa Papa sakit? Suara Papa terdengar tidak bersemangat."


"Tidak."


"Apa aku boleh bicara dengan Mama?"


"Hmm."


Darren langsung menyerahkan handphonenya pada Asya. Wanita itu, dengan wajah bahagia menerima handphone dari Darren.


"Hallo, Mama."


"Hallo, Nak. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja. Mama sama Papa sehat?"


"Ya, kami sehat."


"Mama, apa aku mengganggu?"


"Tidak, sayang. Kenapa?"


Ck! Ya! Untuk waktu sekarang, kamu mengganggu. Aku nggak marah jika kamu menelpon dan berbincang panjang dengan Asya. Tapi, kenapa harus sekarang kamu menelponnya? Mengapa harus disaat aku sedang menginginkan Mama mu? Batin Darren, kesal.


"Mama, aku merindukan mu. Boleh kita ganti dengan panggilan vidio saja? Aku mau lihat wajah Mama sama Papa."


"Boleh. Matikan panggilan mu. Mama yang akan menelpon mu."


Panggilan antara keduanya terputus dan berganti dengan panggilan vidio. Senyum manis Doni terlihat di layar handphone setelah panggilan vidio itu tersambung.


Asya mengarahkan handphone tersebut ke arah Darren hingga Doni bisa melihat wajah lelaki itu. Dia lalu memfokuskan handphone tersebut ke arahnya.


"Ku pikir, Mama sudah tertidur. Soalnya, aku juga menelpon ke hp Mama, tapi nggak diangkat."


Asya tersenyum canggung. Bagaimana ia bisa mendengarnya? Handphonenya Darren lempar di sofa yang berada sedikit jauh dari ranjang. Terlebih lagi, handphonenya ia senyapkan karena bunyi notifikasi yang masuk begitu banyak, dan itu sedikit mengganggu.


"Itu, handphone Mama disilent, jadi nggak kedengaran."


"Oooh... Oh ya, Ma. Itu... Leher Mama kenapa? Kok merah-merah?"


Asya menunduk, menatap ke arah lehernya. Sontak saja matanya melotot kaget. Ia lupa menutupinya. Sementara Darren, lelaki itu malah tersenyum melihat wajah kaget Asya, ditambah matanya yang melotot dan pipinya yang memerah malu. Sangat menggemaskan.


"Itu... Itu..." Asya menoleh pada Darren yang kini menahan tawanya. Dia jadi kesal sekarang melihat tingkah suaminya.


"Itu... Ini lipstik. Tadi di pakai in sama Lala."


Maaf Lala. Kakak jadi bawa-bawa nama kamu. Batin Asya.


"Lala?"


"Iya, Lala. Dia putri dari Pamannya Papa. Usianya masih 4 tahun."


"Oh, ku pikir Mama sakit."


"Enggak, sayang."

__ADS_1


Asya dan Doni terus berbincang. Darren yang awalnya kesal sedikit terhibur dengan perbincangan mereka. Dia dengan sabar menunggu sang istri sambil berbaring di samping Asya dan memeluk pinggang wanita itu. Mungkin malam ini, hanya sampai disini. Dia bisa menggantinya di pagi besok, atau malam-malam berikutnya.


__ADS_2