Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 129


__ADS_3

Alisha terdiam di kelas sambil membaca ulang novel kesukaannya. Sementara kedua sahabatnya, Nadia dan Yana, sedang menuju kantin. Hanya Alisha seorang yang berada di kelas.


Alisha menoleh sejenak ke meja paling belakang. Hanya tas milik Axel yang ia lihat. Sedangkan pemiliknya tidak ada disana.


"Udah dua minggu kamu marah sama aku, Xel. Dan aku nggak tahu, apa alasan sebenarnya." Gumam Alisha.


Saat gadis itu berbalik, ia dikejutkan oleh Axel yang sudah berdiri di depan kelas sambil menatapnya datar. Tatapan tak suka itu membuat Alisha menunduk, dan memilih fokus pada novelnya.


Axel berjalan melewati Alisha menuju tempat duduknya. Lelaki itu dengan kasar menarik kursi sebelum menduduki nya.


Alisha tetap fokus pada novel yang dibaca. Dia sudah cukup berusaha untuk memperbaiki masalahnya dengan Axel. Namun, Axel sendiri yang tidak ingin berbaikan.


Decitan kursi yang didorong kasar oleh Axel kembali terdengar. Lelaki itu berjalan lalu berhenti tepat di sisi kursi Alisha.


"Gue mau ngomong sama lo." Ucapnya datar.


Alisha menutup novelnya lalu mendongak, menatap wajah tampan itu. "Ngomong aja."


"Jangan pernah dekatin gue lagi! Jauhi gue sejauh mungkin! Dan jangan hubungi gue lagi!" Ujarnya kemudian pergi begitu saja.


Alisha menatap punggung lebar Axel yang berjalan keluar kelas. Tes... Setetes air mata jatuh begitu saja. Ia pikir, Axel ingin memperbaiki persahabatan mereka lagi. Namun, ia salah. Axel justru memintanya menjauh.


"Jangan menangis Alisha. Nggak apa-apa. Ini yang terbaik menurut Axel. Lakukan saja." Gumamnya, sambil mengusap air matanya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya. Mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak menagis. Namun, ia tidak bisa mengendalikannya. Air matanya terus saja jatuh meski ia sudah berusaha menahannya.


"Jangan menangis Alisha, jangan menangis! Hiks..."


"Kenapa kamu semakin menangis? Hiks... Hiks... Alisha benci Axel. Axel jahat... Hiks... Alisha nggak mau Axel marah kayak gini... Hiks..."


Dan tanpa disadari Alisha, seseorang terus menatapnya dari jendela dengan perasaan terluka.


***


Hari terus bergulir. Jiyo sudah disahkan menjadi CEO baru di Yunanda Group. Tidak ada banyak perubahan dari Jiyo. Lelaki itu masih Jiyo yang sama, yang berbeda hanya gelarnya, dari seorang sekretaris CEO menjadi CEO.


Suara ketukan pintu membuat Jiyo yang sedang membaca dokumen mendongakkan kepalanya.


"Masuk!" Ujarnya, dengan sedikit senyum di bibirnya. Ia sudah bisa menebak, siapa yang datang sekarang. Tapi, senyumnya hanya sesaat. Untuk urusan pekerjaan ia akan serius. Sesuai janjinya pada pemilik Yunanda Group.


Nita masuk dengan beberapa berkas di tangannya. Perempuan itu masih belum percaya jika Jiyo sekarang adalah CEO, bukan nona mudanya lagi. Ia berharap, Jiyo bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik, seperti yang nona mudanya lakukan. Ia juga tidak akan membawa masalah pribadinya dengan Jiyo dalam lingkungan pekerjaan.


"Ini berkas-berkas yang tuan minta." Ujar Nita.


"Ya, terima kasih."


"Kalau begitu, saya permisi."


"Ya."


Nita berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah pintu tertutup, Jiyo meraba dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat.

__ADS_1


"Aku harus profesional dalam bekerja. Aku harus terbiasa dengan situasi seperti ini. Tapi... Akhhh... Nita benar-benar berhasil merebut hatiku."


Nita duduk di ruangannya dengan perasaan lega. Ternyata Jiyo benar-benar fokus bekerja. Lelaki itu tidak berbuat aneh seperti yang ia lakukan saat masih menjabat menjadi sekretaris Grisam Group.


"Kalau begini terus kan jadinya aman. Aku nggak perlu takut pekerjaanku berantakan karena terus diganggu Jiyo." Nita tersenyum senang.


Sementara di Grisam Group, Darren sedang menatap seorang yang dibawa Paman Kenan. Dia sengaja meminta Pamannya itu mencari sekretaris yang tepat untuknya.


Lelaki dengan perawakan tubuh sedikit lebih pendek dari Paman Kenan berdiri di hadapan Darren sambil menundukkan kepalanya.


"Kau boleh bekerja besok."


Satu kalimat yang keluar dari mulut Darren membuat sudut bibir lelaki bernama Iwan itu terangkat. Ia tersenyum bahagia. Sambil sedikit membungkukkan badannya, ia berterima kasih pada Darren.


"Terima kasih, Tuan."


"Hmm..."


Iwan dipersilakan pulang untuk mempersiapkan dirinya bekerja besok. Tersisa Darren dan Paman Kenan disana.


"Paman sudah memeriksa semua latar belakang nya kan?" Tanya Darren. Dia tidak ingin perusahaanya menerima orang dengan latar belakang yang membahayakan Grisam Group.


"Ya, semuanya aman. Hanya saja... Dia memiliki masalah dengan kekasihnya dulu."


Darren terkekeh. Ternyata Pamannya ini sangat bisa diandalkan. Bahkan sampai hal mengenai kekasih Iwan saja, dia menyelidikinya.


"Kenapa tertawa?"


"Ben yang menyelidikinya. Lagi pula, tentang latar belakang, harus semuanya diselidiki." Darren mengangguk. Ia setuju dengan ucapan pamannya.


"Dia hampir melecehkan kekasihnya." Ujar Paman Kenan tiba-tiba, membuat Darren terdiam. Lelaki itu menatap Pamannya dengan tatapan seolah bertanya, 'kenapa membawanya kemari jika tahu Iwan memiliki sifat buruk seperti itu'.


"Kebenaran peristiwa itu sudah dipastikan benar. Hanya saja, dia dalam pengaruh obat-obatan saat itu. Terlepas dari itu, Paman memilihnya karena tahu potensi Iwan. Paman memantaunya 5 bulan terakhir ini untuk menjadikan dia bagian dari cabang Grisam Group. Tapi, Paman tidak memiliki niat menyelidikinya. Setelah kamu meminta bantuan Paman, Iwan masuk dalam daftar salah satu yang ingin Paman bawa sebagai sekretaris kamu." Jelas Paman Kenan, seakan mengerti dengan tatapan Darren.


"Baiklah. Karena Paman sudah memilih dan merasa baik, aku terima. Sepertinya aku juga bisa merasakan jika Iwan nggak begitu buruk."


Paman Kenan tersenyum dan menepuk pelan punggung Darren. Lelaki itu beranjak dari duduknya, membuat Darren juga ikut berdiri.


"Paman harus pergi sekarang."


Darren mengangguk. "Hati-hati, Paman. Salam untuk tante Hani dan Ziya."


"Iya. Akan Paman sampaikan." Ujar Paman Kenan. Ia senang, tuan mudanya yang dulu dingin sedikit demi sedikit menjadi lelaki hangat. Asya membawa banyak perubahan untuk Darren.


***


Asya menatap Aurel dengan Meeya yang sudah rapih. Matanya meneteskan air mata melihat Ibu dan anak itu.


"Eh, kok kamu jadi nangis gini, sih?" Aurel mengusap air mata Asya dengan sebelah tangannya yang bebas. Sementara sebelahnya lagi menggendong Meeya.

__ADS_1


"Aku nggak mau kamu sama Meeya pergi. Biar Darrel saja sendiri kesana."


"Enak saja! Aurel istriku, dan Meeya anakku. Kemana pun aku pergi, mereka harus ikut. Dan kemana pun mereka pergi, harus ada aku. Atau minimal, dengan persetujuanku." Sahut Darrel yang baru saja dari kamarnya, sambil membawa barang-barang yang mereka butuhkan.


"Ish, sayang apaan sih? Bukannya dibicarain baik-baik malah dibuat tambah nagis." Kesal Aurel dengan suaminya. Asya semakin meneteskan air mata.


"Sudah ya, Asya. Aku sama Meeya cuman seminggu di rumah Papa. Kan nanti balik lagi kesini." Ujar Aurel. Ia beserta suami dan anaknya akan mengunjungi rumahnya yang dulu. Sekaligus berziarah ke makam Ayahnya yang dipindahkan Darrel dan kelurganya ke rumah lama, agar mudah berkunjung saat ia rindu pada mendiang Ayahnya.


"Seminggu itu lama Aurel. Tapi, nggak apa-apa deh. Kalau kangen Meeya, bisa vidio call." Asya mengusap air matanya. Beberapa hari ini, ia menjadi lebih mudah menangis.


"Nah, pengertian banget kakak iparku yang cantik ini. Sahabatku yang paling baik." Ujar Darrel sambil mengusap rambut Asya. Membuat Asya kembali tersenyum.


"Aunty mau kemana?" Doni yang baru bangun tidur menghampiri mereka.


"Aunty mau ke rumah lama aunty, nak." Jawab Aurel. Asya segera meraih Doni dan menggendongnya.


"Doni mau cium adek Meeya." Aurel langsung mendekatkan Meeya pada Doni. Anak itu tersenyum setelah mengecup pipi Meeya. "Aunty sama Paman hati-hati."


Pasangan suami istri itu langsung mengangguk. "Kalau begitu, kita pamit ya? Titip salam buat Darren sama Alisha." Ujar Darrel, yang mendapat anggukkan dari Asya dan Doni.


Setelah mobil yang ditumpangi keluarga kecil Darrel menghilang, Asya kembali mengirim chat pada Alisha. Gadis itu memberitahunya jika dia bersama teman-temannya sedang belajar kelompok di rumah Nadia. Ia juga sudah meminta izin pada Gara dan Alula yang sedang berada di rumah Ginanjar. Mereka menyetujuinya. Namun, Asya tetap khawatir pada adik iparnya itu.


^^^Asya ^^^


^^^Sha, kamu masih kerja kelompok ^^^


^^^sama teman2 ? ^^^


Alisha


Iya kak. Bentar lagi selesai.


^^^Asya ^^^


^^^Pak supir masih tungguin kamu kan? ^^^


Alisha


Masih kak.


Pak supirnya lagi ngobrol


sama security rumah Nadia.


^^^Asya ^^^


^^^Ya, sudah. Kalau balik, kabarin.^^^


Alisha

__ADS_1


Siap kak


__ADS_2