
Suasana di meja makan pagi hari begitu tenang. Alisha menyantap sarapannya tanpa ada gangguan kecil dari Darrel. Lelaki itu sedang berada di dapur, membuatkan susu untuk Aurel.
"Ayah, hari ini Alisha pulangnya agak telat ya? Alisha mau ke toko buku sama teman Alisha." Ucap anak itu, memecah keheningan di ruang makan.
"Teman siapa?"
"Teman Alisha." Jawab gadis itu dengan polosnya, membuat Gara menggaruk jidatnya. Sementara yang lain menahan senyum, termasuk Darren.
Darrel yang baru tiba juga tak sengaja mendengar. Ia menggeleng sambil berjalan mendekati Aurel.
"Maksud Ayah, teman kamu itu siapa? Gitu aja nggak ngerti." Cibir Darrel, membuat Alisha menatap tajam ke arahnya. Tapi, Darrel hanya acuh. "Minum, sayang." Lanjutnya, menyerahkan segelas susu pada Aurel.
"Terima kasih." Balas Aurel.
"Kak Darrel nggak usah ikut campur deh."
"Siapa yang ikut campur? Kakak cuman jelasin kok."
"Nyenyenye..." Kesal Alisha. "Kak Aurel!"
"Ya?" Aurel yang hendak meminum susu yang Darrel berikan pun berhenti. Ia lalu menatap Alisha.
"Jangan di minum susu nya, kak. Kak Darrel nggak iklas bantuin orang. Bisa-bisa Kak Aurel sakit perut. Kasian ponakan Alisha juga rasain sakitnya."
"Eh anak kecil! Jangan sembarangan bicara."
"Darrel, jangan gitu sama Alisha." Tegur Aurel.
"Iya-iya."
Alisha menjulurkan lidahnya ke arah Darrel. Dia tiba-tiba merasa kesal pada Kakaknya itu.
"Alisha,"
"Iya, Bu."
"Jangan gitu nak sama Kakak."
"Kak Darrel ngeselin, Bu."
"Iya, Ibu tahu. Tapi, nggak boleh berantem di saat makan. Nggak sopan."
"Maaf, Bu. Alisha nggak akan ulangi." Ucapnya. Ia lalu menatap Gara. "Ayah, bagaimana? Izinin Alisha pergi nggak?"
"Ya, Ayah izinkan. Tapi, jangan kelamaan pulangnya."
"Terima kasih, Ayah."
"Iya."
Alisha kembali melahap sarapannya dengan senyum mengembang. Sementara Darren, ia sesekali melirik Darrel yang begitu telaten mengurus Aurel. Bisa ia lihat rasa cinta yang besar yang Darrel tunujukkan untuk Aurel. Namun tiba-tiba, penglihatan matanya berubah menjadi melihat dirinya dan Asya yang sedang ada di posisi Darrel dan Aurel itu.
Seulas senyum muncul di bibir Darren, membuat semua yang ada di meja makan menatapanya dengan tatapan heran.
"Darren?" Suara Alula membuyarkan semua lamunannya.
"Iya, Bu?"
"Kenapa kamu tersenyum sendiri? Tidak biasanya kamu seperti itu."
"Aaaa... Alisha tahu. Kak Darren pasti lagi mikirin Kak Asya kan?" Gadis itu menaik turunkan alisnya, sambil tersenyum menggoda Darren. "Huh. Makanya kalau suka, Kak Darren bilang saja. Jangan suka menyangkal. Kalau Kak Asya tiba-tiba diambil orang gimana?"
__ADS_1
"Nggak akan diambil orang." Balas Darren cepat. "Aku sudah selesai. Aku pergi dulu, ada rapat penting pagi ini." Ujar Darren, berusaha menghindar. Lelaki itu menyalim kedua orang tuanya, mencium kening Alisha, lalu berpamitan pada Darrel dan Aurel.
"Kalian jangan khawatir. Darren pasti akan bersama Asya." Ucap Darrel setelah Darren pergi.
"Sok tahu!"
"Diam anak kecil!"
"Darrel, jangan gitu sama Alisha."
"Sayang, kok kamu belain Alisha?"
"Kak Aurel kan lebih sayang Alisha dibanding Kak Darrel. Iyakan, kak?"
Aurel hanya tersenyum menanggapi Alisha. Calon adik iparnya itu sering berubah-ubah moodnya. Jadi, dia harus pandai menyesuaikannya. Sementara Darrel, dia hanya bisa menarik nafas, membuat Alula dan Gara menahan senyum mereka.
***
Darren tiba di kantornya dan langsung menuju ruangan. Keningnya mengerut saat melihat rantang makanan berada di atas mejanya. Ia mendekatinya dan meraih rantang tersebut. Ada sepucuk kertas yang tertempel di rantang tersebut.
Buat Darren ku tersayang. Aku memasaknya dengan penuh cinta. Selamat menikmati.
^^^Asya. ^^^
Sudut bibir Darren melengkung setelah membaca pesan tersebut. Ia segera membuka rantang tersebut, hendak melihat isinya. Namun, gerakan tangannya terhenti ketika tiba-tiba pintu ruangannya di buka. Membuat Darren melemparkan tatapan tajamnya pada seseorang yang masuk.
Gluk!
Jiyo menelan ludahnya saat tatapan tajam tersebut menyambutnya. Ia memang bodoh karena lupa mengetuk pintu.
"Da, mak-maksudku tuan muda."
"Ada apa?" Tanya Darren dingin. Untung saja sesuatu yang menyejukkan hatinya datang terlebih dahulu dibandingkan kecerobohan Jiyo. Jika tidak, dia sudah menghukum sekretarisnya itu.
"Hmm..."
"Kalau begitu, saya tunggu anda di luar. Permisi."
"Ya. Lain kali, ketuklah pintu sebelum masuk."
"Baik, tuan muda."
"Hmm..."
Setelah Jiyo keluar, Darren menyimpan rantang makanannya di meja ruang istirahatnya.
"Aku akan mencobanya setelah rapat." Gumam Darren, kemudian keluar menyusul Jiyo.
Ruangan rapat seketika tenang saat Darren masuk bersama Jiyo. Wajah tegang dari setiap peserta rapat terlihat begitu jelas.
Darren duduk begitupun Jiyo. Dengan tampang dinginnya, dia memulai rapat. Beberapa orang mulai memaparkan hasil kerja mereka. Semuanya seperti merasa sulit untuk bernafas.
Setelah rapat selesai dan Darren keluar, semuanya bernafas lega. Ada yang bahkan mengelus dada mereka. Ada juga yang terlihat bingung karena rapat berjalan cukup cepat.
"Tuan muda tidak sekejam itu. Kenapa setiap kali rapat, kalian selalu tegang?" Tanya Jiyo. Entah apa urusannya hingga dia masih berada di ruangan tersebut.
"Tuan sekretaris bisa mengatakan itu. Tapi, tuan muda dan ekspresinaya membuat kami takut akan salah mengucapkan sesuatu saat berbicara."
"Terserah kalian saja. Jangan lupa minta seseorang bereskan ruangan ini. Saya keluar dulu." Ucap Jiyo, keluar dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Mood tuan muda mungkin sangat baik hari ini. Rapat kita berjalan cukup cepat dan lancar." Ucap seorang manajer yang ikut rapat. Semuanya mengangguk setuju dengan ucapannya tersebut.
__ADS_1
Sementara di ruangannya, tepatnya di ruangan istirahatnya, Darren melepaskan jasnya dan meraih makanan yang Asya buatkan untuknya. Ia membawanya ke luar menuju sofa.
Darren duduk dan memisahkan rantang tersebut, melihat isinya. Seulas senyum muncul di bibirnya. Asya menyiapkan salah satu makanan kesukaannya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Jawab Darren.
Jiyo masuk setelah Darren izinkan. Ia mendekat pada Darren, namun matanya tertuju pada makanan yang ada di meja. Seketika ia lupa akan tujuannya datang ke ruangan tersebut.
"Waaahhh... Ini makanan di rantang tadi? Kelihatannya enak. Boleh aku coba?" Ucap Jiyo, tanpa sadar jika Darren sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
Jiyo lebih dekat lagi dan mengulurkan tangannya untuk meraih makanan. Namun, Darren dengan cepat menepis tangannya.
"Jangan menyentuhnya!" Ucap Darren.
"Kenapa? Aku ingin mencobanya."
"Ini makananku!"
"Ck. Kau pelit sekali. Aku hanya ingin mencobanya sedikit."
"Nggak boleh!" Darren menarik semua makanannya lebih dekat. Melindunginya dari Jiyo.
"Kenapa kau jadi seperti anak kecil begini? Aku..."
"Jiyo!"
"Darren!"
"Kau mau ku pindahkan dari sini?"
"Hah? Jangan!" Jawabnya cepat. Jiyo meneguk ludahnya mendengar ancaman tersebut. Baru beberapa hari lalu dia senang karena mendapatkan nomor ponsel Nita. Dan sekarang, Darren ingin menghancurkan kebahagiaan nya dan mengirimnya jauh? Tidak! Dia tidak mau.
"Jika kau tidak mau, keluarlah dari sini!"
"Hah? Maksudmu, kau memecatku jadi sekretarismu?"
"Bodoh! Keluar dari ruanganku!"
"Haaah... Syukurlah. Ku pikir kau memecatku. Bisa-bisa aku dimarahi Mama karena nggak bekerja dengan baik di Grisam Group."
Mama kan penggemar berat Paman Gara dan tante Alula. Lanjut Jiyo dalam hati.
"Keluarlah!"
"Hah?"
"Keluar! Kenapa kau masih berdiri disini?"
"Iya-iya. Oh ya, ini berkas saat rapat tadi."
"Simpan saja di meja."
Jiyo mencibir dalam hati sambil berjalan ke meja kerja Darren. Makanan yang Asya buatkan itu sungguh menariknya untuk ikut mencicipi. Tapi, Darren benar-benar tidak ingin berbagi.
"Lain kali, aku akan minta Asya buatkan." Gumam Jiyo. Namun, dirinya sungguh tidak beruntug karena Darren mendengarnya.
"Jangan coba-coba! Aku akan benar-benar mengirim mu jauh."
"Hehehe... Maaf tuan muda. Saya tidak akan melakukannya. Saya permisi." Ujar Jiyo, tersenyum canggung, kemudian keluar dari ruangan Darren.
__ADS_1
Huh! Benar-benar Darren Alvaro Posesif Grisam. Batin Jiyo.