
Darren dan Asya sedang bersama di kamar. Lelaki itu berbaring dengan paha Asya sebagai bantalnya. Wajahnya menyusup ke perut Asya dan mengecupnya beberapa kali.
"Sayang," Darren mendongak menatap istrinya. Asya yang mendengar panggilannya pun menunduk menatap Darren.
"Ada apa?" Tanyanya lembut.
"Waktu cuti tinggal seminggu lagi. Ayo, honeymoon!"
Asya tersenyum mendengarnya. Ia kemudian menggeleng. "Jangan sekarang." Ucap Asya.
Darren mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Karena, aku mau kita honeymoon nya barengan. Aku, kamu, Darrel, Aurel dan si baby. Sekarang Aurel sedang hamil. Pasti untuk keluar rumah, harus ekstra hati-hati. Kalau honeymoon nya sekarang, kasian Darrel sama Aurel nya. Mereka pasti belum diizinin." Ucap Asya.
Darren yang mendengarnya terdiam. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Asya, lalu kembali berbaring.
"Kamu selalu memikirkan orang lain." Ucapnya sambil tersenyum.
"Mereka bukan orang lain, sayang. Mereka keluarga kita."
"Ya." Darren memeluk pinggangnya dan menyuspkan kembali wajahnya ke perut Asya. Asya hanya tersenyum dan mengusap lembut kepala Darren.
Tiba-tiba, Asya merasakan tangan Darren bergerak masuk dalam baju tidurnya, mengusap-usap pinggangnya.
"Darren,"
"Hmm?" Jawabnya, tanpa menjauhkan wajahnya dari perut Asya.
"Tanganmu."
"Kenapa dengan tanganku?" Tanyanya. Tangannya semakin bergerak naik ke punggung.
"Darreeenn..."
"Aku hanya mengusapnya." Jawabnya, santai. "Sayang, bagaimana kalau kamu berhenti kerja saja?"
"Apa? Berhenti kerja?" Darren mengangguk pelan. Ia mengecup lagi perut Asya, lalu menjauhkan wajahnya.
"Aku mau kamu berhenti bekerja."
"Darren, jika aku berhenti bekerja, siapa yang akan mengambil alih perusahaan?"
"Aku punya seseorang yang dapat di percaya untuk menjadi CEO di Yunanda Group. Aku juga yakin, Papa akan setuju."
"Papa setuju? Apa aku dan Papa mengenal orang itu?"
"Ya."
"Jiyo?"
Darren terkekeh mendengar tebakan istrinya. "Kamu benar."
"Sayang, bukannya aku nggak suka Jiyo mengantikanku. Tapi, kamu tahu, Papa Jiyo punya perusahaan juga. Bisa jadi, Jiyo yang akan menggantikannya nanti. Dan juga, Jiyo dan Nita sedikit nggak baik dalam hal berkomunikasi. Ini pasti sulit."
"Kamu tenang saja. Intinya, kamu mau berhenti kerja. Perusahaan Papa Jiyo belum tentu milik Jiyo. Jika nanti Papanya menyerahkan perusahaan itu pada Jiyo, aku ada satu lagi orang kepercayaanku untuk mengurus Yunanda Group. Atau kamu bisa memantaunya dari Rumah. Untuk masalah Nita dan Jiyo yang sulit saat berkomunikasi, itu nggak masalah. Bisa jadi, ini adalah cara agar mereka lebih dekat." Jelas Darren.
Asya yang mendengarnya melongo. Bukan karena ide yang Darren berikan. Melainkan karena ia terkejut mendengar Darren berbicara panjang lebar.
"Sayang!" Panggil Darren.
Asya tersenyum dan menangkup wajah suaminya.
Cup...
"Hadiah untukmu karena berbicara panjang lebar." Ucap Asya setelah mengecup bibir sang suami.
__ADS_1
Darren yang mendapatkan kecupan singkat itu pun tersenyum. "Bagaimana? Kamu setuju?"
"Eeemm... Aku mau berhenti. Tapi, setelah aku dinyatakan hamil. Jika tidak, aku akan tetap bekerja."
Darren terdiam mendengarnya. Kemudian ia mengangguk. "Baiklah. Aku setuju."
"Terima kasih, sayang."
"Iya."
"Nanti kita bicarakan sama Papa, okey?"
"Iya." Balas Darren. "Ayo, tidur!"
Asya mengangguk. Darren pun bangun dan membantu Asya berbaring. Ia mengecup kening dan bibir istrinya, lalu ikut berbaring. Keduanya tidur dengan saling berpelukan.
***
Jam istirahat baru saja dimulai. Alisha yang masih mengenakan pakaian olahraga mondar mandir mencari Axel. Sebelum jam pelajaran penjaskes usai, Axel menghilang begitu saja.
"Eh, kamu lihat Axel nggak?" Tanya Alisha, pada salah satu siswa yang lewat.
"Kayaknya, tadi Axel ke halaman belakang sekolah."
"Oh, makasih ya?"
"Iya."
Alisha segera menuju halaman belakang. Setiba disana, ia melihat Axel sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Axel." Alisha menghampirinya dan duduk di sebelah Axel. "Alisha cariin, ternyata kamu disini. Kenapa kamu hilang sebelum waktunya istirahat?"
"Gue nggak mood ikut pelajaran."
"Kenapa cari gue?"
"Enggak kenapa."
"Lo udah makan?" Tatapan Axel melembut menatap gadis itu.
Alisha menggeleng pelan. "Belum."
"Sana ke kantin!"
"Nggak mau kalau kamu nggak ikut."
"Gue nggak lapar."
"Ya udah. Kalau gitu, Alisha nggak ke kantin. Alisha juga nggak lapar."
"Jangan keras kepala, Alisha."
Alisha tak menjawabnya. Gadis itu diam tak sedikit pun bersuara. Setelah beberapa detik Axel tak memaksanya lagi, Alisha menatap lelaki itu.
"Axel,"
"Hmm?" Jawabnya tanpa melihat Alisha.
"Ayah baru pulang dari pulau kurungan beberapa hari lalu. Kata Ayah, Hardi udah jadi orang baik. Alisha mau melihatnya. Alisha..."
"Nggak boleh!" Potong Axel, cepat. Lelaki itu langsung mematikan handphonenya dan menatap Alisha.
"Kenapa nggak boleh? Alisha penasaran sama Hardi yang sekarang. Alisha mau ajak kamu ketemu sama dia."
"Gue nggak mau ketemu dia! Dan satu lagi. Kalau gue bilang nggak boleh, lo nggak boleh pergi!"
__ADS_1
"Kok gitu?" Axel terdiam. Entahlah, ia tidak suka melihat binar bahagia di mata Alisha saat membicarakan Hardi.
"Axel, Alisha cuma mau ketemu Hardi. Dia nggak sepenuhnya salah. Alisha juga udah puas ngebalas dia. Kata Ibu, Alisha harus bisa memaafkan seseorang. Ayah juga ngebolehin Alisha ketemu Hardi. Kata Ayah, dia bukan orang yang berbahaya yang harus dihindari lagi. Hardi bisa dijadikan teman."
"Lo yang maksa Ayah lo biar bolehin lo ketemu dia kan?" Alisha terdiam. Ya, Axel menebak dengan benar. Tapi, Gara tidak begitu mempermasalahkannya. Berarti Hardi benar-benar berubah.
"Axel, kalau Ayah ngebolehin, berarti Hardi nggak berbahaya lagi. Alisha udah keterlaluan waktu itu. Alisha juga mau minta maaf sama Hardi. Hardi nggak punya teman seumuran disana. Dia..."
"Lo mau jadiin dia teman lo?" Alisha mengangguk dengan polos. Axel mengepalkan tangannya di sisi yang tak terlihat Alisha.
"Sebagai rasa bersalah Alisha karena sudah keterlaluan menghukum Hardi waktu itu, Alisha mau jadi teman buat Hardi."
Axel tersenyum miring mendengarnya. "Huh! Lo mau berteman sama Hardi?" Alisha mengangguk. "Ya udah. Pergi saja!"
"Boleh?"
"Hmm." Jawabnya. Tangannya mengepal semakin erat.
"Kamu ikut kan?"
"Nggak!"
"Kok gitu? Hardi..."
"Pergi Alisha!"
"Axel..."
"Gue bilang pergi dari sini!" Suara Axel meninggi. Dia seperti tidak bisa menahan emosinya.
"Kamu usir Alisha?" Wajah Alisha berubah sendu.
"Gue bilang lo pergi! Lo nggak dengar? Hah?" Kali ini suara Axel terdengar membentak. Mata Alisha berkaca-kaca. Ini pertama kalinya ia dibentak.
"A-Axel..."
"Pergi!!"
Alisha tidak bisa menahannya lagi. Air matanya jatuh begitu saja. Gadis itu berlari menjauh dari Axel. Sementara Axel, lelaki itu mengacak kasar rambutnya. Ia menatap ke arah Alisha berlari. Ingin sekali mengejarnya. Tapi, dia belum bisa mengendalikan emosinya. Dia takut akan melukai Alisha.
Hingga jam pulang tiba, Alisha lebih banyak diam. Axel juga terlihat lebih dingin dari pada sebelum-sebelumnya. Siswa-siswi di kelas itu merasakan aura-aura buruk tatapan dingin Axel. Nadia dan Yana juga tidak berani bertanya pada Alisha, apalagi Axel. Mereka hanya berusaha menghibur Alisha.
"Kamu dijemput Kak Darren atau Kak Darrel?" Tanya Nadia, sambil berjalan beriringan bersama Alisha dan Yana keluar gerbang sekolah.
"Nggak tahu." Jawab Alisha. Nadia dan Yana saling bertatapan. Ketika tiba di luar gerbang, mobil jemputan Alisha sudah tiba. Gadis itu berpamitan pada kedua teman-temannya dan memasuki mobil.
"Hati-hati, Alisha." Teriak Nadia dan Yana bersamaan.
Setelah mobil Alisha melaju, kedua gadis itu segera menuju jemputan masing-masing yang baru saja tiba. Namun, langkah mereka terhenti oleh motor Axel yang tiba-tiba berhenti di depan mereka.
"Siapa yang jemput Alisha?" Suara dingin itu terdengar saat Axel menaikkan kaca helmnya.
"Dia sama supir." Jawab Nadia dan Yana, bersamaan.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Axel langsung melajukan motornya menjauh dari kedua sahabat Alisha. Membuat kedua gadis itu meneguk ludah mereka.
"Benar-benar tidak punya perasaan si Axel." Ucap Nadia.
"Setidaknya, bilang terima kasih pada kita." Balas Yana.
"Sudahlah. Biarkan saja. Sampai jumpa besok, Yana. Hati-hati."
"Ya. Sampai jumpa besok. Kamu juga hati-hati."
Kedua sahabat itu saling berpamitan dan memasuki mobil jemputan masing-masing.
__ADS_1