Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 136


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa usia kandungan Asya sudah mencapai tujuh bulan. Asya menatap perutnya yang kini semakin membesar. Darren yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum melihatnya. Lelaki itu mendekati Asya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Tangan Darren bergerak mengusap perut yang tertutup baju.


"Udah tujuh bulan. Besok jadwal ke rumah sakit. Besok juga kita USG kan?"


"Iya. Anak Papa apa kabar?" Darren menunduk, mengecup perut buncit Asya dan menempelkan wajahnya di perut itu. Tangan Asya bergerak mengelus-elus rambut Darren.


"Aku baik-baik aja, Pa." Jawab Asya, menirukan suara anak kecil. Suara Asya bertepatan dengan tendangan kecil dari dalam. Tendangan itu tepat mengenai pipi Darren. Membuat lelaki itu terkekeh lepas.


"Hehehe... Mau main, ya, sama Papa?"


"Sayang," Panggilan Asya tak membuat Darren mendongak.


"Hmm?" Jawbnya, masih fokus pada perut Asya.


"Lihat aku, dong."


Darren segera menegakkan tubuhnya. Ia lalu menangkup wajah Asya. "Apa, sayang?"


"Besok, pulang dari rumah sakit, kita langsung ke mall, ya? Aku mau cari perlengkapan bayi."


"Nggak usah! Dipesan saja. Di mall banyak orang. Bisa saja ada yang berniat buruk. Lebih baik kamu di rumah, tunggu barang nya datang."


"Aku sesekali pengen jalan, sayang."


"Bukannya kamu sering jalan keliling halaman belakang? Terus ikut senam hamil."


"Bukan yang itu jalannya. Maksudnya jalan-jalan ke luar. Ke tempat-tempat bagus gitu."


"Nanti saja, setelah lahiran."


"Ck. Ya sudah! Aku mau tidur." Balas Asya malas. Wanita itu merangkak ke tengah ranjang dan berbaring. Darren yang melihatnya ikut merangkak dan berbaring di sebelah Asya. Tangannya terulur mengusap perut Asya lagi.


"Nggak usah usap-usap."


"Kamu marah? Hmm?" Darren mengecup tengkuknya. Asya tak menjawab. Wanita itu hanya terdiam sambil menahan rasa kesalnya. "Cari tempat lain saja. Jangan tempat yang banyak didatangi orang. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita."


"Beneran, nih?"


"Iya."


"Eeemm... Kalau begitu, aku mau ke perusahaan Papa saat kita pulang dari rumah sakit besok."


"Baiklah."


Asya tersenyum senang. Wanita itu berbalik menghadap Darren, lalu memeluknya. "Terima kasih."


"Hanya terima kasih?" Pertanyaan Darren membuat Asya mendongak kan wajahnya.


"Lalu?"


"Cium." Lelaki itu mengetuk bibirnya.


"Tapi..."


Cup...


Darren yang memulai. Ia mengecup singkat bibir itu lalu melepaskannya.


"Da..."


Cup...


Satu kecupan kembali mendarat. Kali ini Darren tak melepasnya. Ia mencium bibir itu dengan begitu lembut. Saat Asya ingin mendorongnya menjauh, ia menahan tangan Asya dan terus menciumnya. Merasa Asya mulai sulit mengambil oksigen, Darren melepaskannya.


"Hah... Hah..."


Asya ngos-ngosan, sedangkan Darren tersenyum. Ia mengusap bibir Asya dengan ibu jarinya. Jujur, ia masih belum puas dengan semua ini.


"Ayo, tidur! Aku nggak yakin bisa menahan diri." Ujarnya dengan suara serak. Asya mengerti maksud suaminya. Secepat mungkin ia memejamkan matanya. Hal itu membuat Darren terkekeh. Istrinya sangat menggemaskan.


***

__ADS_1


Asya terus tersenyum sambil mengusap perutnya. Darren pun juga tersenyum sambil menyetir pelan mobilnya. Keduanya sangat bahagia dengan hasil pemeriksaan tadi. Calon anak mereka sangat sehat. Dan yang paling membahagiakan, calon anak mereka kembar. Asya kembali mengingat saat dirinya di periksa tadi.


"Mari, nyonya Asya berbaring dulu." Ucap si dokter, sambil menuntun Asya. Darren membantu istrinya berbaring.


Dokter mulai mengoleskan sesuatu ke perut Asya, lalu menempelkan sebuah alat.


"Kalian lihat kan? Ini mereka." Dokter menunjuk pada layar monitor.


"Mereka?" Darren dan Asya bertanya bersamaan.


"Iya mereka. Kalian lihat dua benda yang bergerak ini? Mereka calon bayi kalian, mereka kembar."


"Ke-kembar?" Asya bergumam tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Ia bahagia mendengarnya. Sementara Darren, lelaki lelaki itu tersenyum dan langsung mengecup kening Asya dan memeluknya.


"Iya, nyonya. Calon anak tuan dan nyonya kembar." Balas sang dokter.


Asya mengeluarkan hasil USG nya. Tangannya mengusap-usap gambar tersebut. Ia lalu menciumnya. Darren yang mengemudikan mobilnya cukup pelan pun, mengusap kepala Asya dengan sebelah tangannya yang bebas.


"Mama nggak nyangka, ada satu lagi di perut Mama. Mama pikir hanya ada satu, ternyata kalian berdua." Asya terus menatap hasil USG sambil mengusap perutnya.


"Aku juga nggak nyangka, sayang." Ucap Darren. "Masih mau ke perushaan Papa?"


Asya merespon cepat dengan gelengan. "Aku mau ke rumah Ayah. Papa sama Mama juga ada disana. Aku nggak sabar memberitahu kabar bahagia ini."


"Baiklah."


Mobil Darren kemudikan menuju rumah. Setelah setengah jam, mereka tiba. Di halaman sudah ada mobil milik Edo. Asya dan Darren segera memasuki rumah.


"Mereka sudah kembali." Suara Irene begitu bahagia. Wanita itu sedang memangku Meeya.


"Mama, Ibu." Asya mendekat dan langsung mencium dan memeluk Mamanya. Ia kemudian memeluk dan mencium Ibu mertuanya. Aurel yang baru saja tiba tak luput dari pelukan dan ciuman Asya. Wanita itu sampai mengerutkan keningnya melihat sahabatnya itu.


Bukan hanya Aurel yang melakukannya. Gara, Alula, Edo dan Irene juga sama. Mereka lebih heran lagi saat melihat Darren memeluk Gara dan Edo.


"Asya, ada apa ini?" Bisik Aurel pelan, sambil menatap Darren yang kini memeluk Ibunya.


"Aku sangat bahagia, Aurel. Bayiku, ternya kembar."


Aurel membolakan matanya. Senyum langsung terukir dibibir wanita itu. "Benarkah? Kamu nggak bohong? Ponakanku kembar?" Aurel berbisik dengan perasaan senang.


"Ada apa ini?" Edo bertanya dengan sedikit kesal. Pasalnya mereka hanya berpeluk-pelukan tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Anakku dan Asya kembar." Ujar Darren dengan senyum bahagia.


"Kembar," Gumam Alula dan Irene hampir bersamaan. Sementara Gara dan Edo, kedua lelaki itu tersenyum lebar.


Alula dan Irene saling berpelukan dan memberi selamat satu sama lain. Irene dan Alula sampai berkali-kali mencium pipi tembem Meeya. Begitu juga Gara dan Edo. Dua lelaki itu saling berpelukan.


"Cucuku kembar Edo." Ucap Gara.


"Cucuku juga kembar." Balas Edo.


"Jika mereka sudah lahir nanti, aku akan punya empat cucu. Cucu pertamaku, Doni, lalu Meeya kemudian si kembar."


"Ya, aku juga akan punya empat cucu. Mereka berempat juga cucuku."


"Hahaha... Iya, cucu kita bersama." Ujar Gara, lalu dia terkekeh bersama Edo.


Asya dan Aurel yang saling merangkul ikut terkekeh melihat Papa dan Ayah mertua mereka. Semetara Darren, Alula dan Irene menggeleng-geleng melihat tingakah kedua sahabat yang terkadang akur dan terkadang berantam itu.


"Selamat nak, Ayah sangat senang." Gara menepuk-nepuk pundak Darren, kemudian memeluknya lagi. Gara lalu beralih pada Asya dan Aurel. Ia mengusap rambut kedua wanita itu.


"Ayah sangat beruntung memiliki menatu seperti kalian. Teruslah bahagia."


Edo, Alula dan Irene bergantian mengucapkan selamat pada Darren dan Asya.


Sementara di gedung Yunanda Group, tepatnya di ruangan Jiyo, Nita duduk bersandar di sofa dengan malas. Jiyo tidak mengizinkan ia pergi dari ruangan itu.


"Tuan, biarkan saya menyambut tuan Darren dan nyonya Asya di depan saja. Tidak sopan jika mereka datang tidak di sambut."


"Asya tidak ingin di sambut. Dia ingin kita menunggunya dan Darren di sini." Balas Jiyo, tetap fokus pada pekerjaannya.


"Tuan, saya akan keluar dan menyelesaikan pekerjaan saya. Saat tuan dan nyonya datang nanti, resepsionis akan menelpon saya. Saya akan cepat-cepat kesini." Jujur saja, Nita bosan berada di ruangan ini. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk. Dia pasti akan mengantuk jika tidak bekerja.

__ADS_1


"Ambil pekerjaanmu, dan kerjakan di sini."


Nita mendengus pelan. Sifat menyebalkan Jiyo mulai muncul. Tapi, lebih baik ia menuruti apa yang Jiyo katakan. Daripada dia hanya duduk diam dan berakhir mengantuk.


Tanpa berpamitan, Nita langsung keluar dari ruangan itu. Jiyo menatapnya sekilas, lalu meraih handphonenya. Dia tiba-tiba kepikiran Asya dan Darren yang belum tiba juga.


Jiyo


Kalian dimana sekarang?


Kenapa belum sampai juga?


Udah selesai periksanya?


^^^Darren ^^^


^^^Di rumah. ^^^


^^^Udah selesai. ^^^


Jiyo


Ck. Kau dan Asya jahat sekali.


Aku dan Nita menunggu sejak tadi.


^^^Darren ^^^


^^^Datanglah sore nanti setelah pekerjaan selesai. ^^^


^^^Bawa Nita juga. ^^^


Jiyo


Ck. Aku nggak akan datang!


^^^Darren ^^^


^^^Ini permintaan Asya ^^^


Jiyo


Sekarang Asya yang kau jadikan alasan.


^^^Darren ^^^


^^^Jiyoooo... Kalau kamu nggak datang, ^^^


^^^jangan datang lagi sampai seterusnya!! ^^^


^^^Kita bukan sahabat lagi. ^^^


Jiyo meneguk ludahnya. Dia tahu, siapa yang mengirim pesan yang terakhir. Itu pasti Asya.


Jiyo


Hehehe... Aku hanya bercanda.


Aku akan datang bersama Nita.


Kamu ingin ku bawakan sesuatu?


^^^Darren ^^^


^^^Nggak perlu. Istriku nggak ^^^


^^^menginginkan sesuatu. ^^^


Jiyo


Baiklah.


Cih! Posesif!

__ADS_1


Pintu yang di dorong membuat Jiyo meletakkan handphonenya. Lelaki itu kembali bekerja saat melihat Nita masuk sambil membawa laptop dan beberapa berkas.


Dia tersenyum dalam hati. Nggak apa-apa Darren dan Asya tidak datang. Dia bisa memiliki waktu bersama Nita, meski sibuk pada pekerjaan masing-masing.


__ADS_2