
Sejak dia mengetahui perbuatan Naomi, Asya sedikit menjaga jarak dari gadis itu. Walaupun begitu, dia tidak bisa marah padanya. Rasa sayangnya dan rasa ibanya pada kehidupan Naomi sebelumnya membuatnya tidak tega untuk memarahi gadis itu.
"Pa, Ma, Asya berangkat dulu, ya? Ada rapat penting pagi ini."Pamitnya setelah selesai sarapan. Gadis itu mengecup pipi Irene dan Edo.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya." Balas Irene.
"Jangan ngebut bawa mobilnya." Edo memperingatkannya.
"Iya, Ma, Pa."
Asya berjalan mendekati Naomi. Ia menepuk pelan bahu gadis itu yang sedang mengunyah makanannya.
"Aku duluan, ya." Ucap Asya, lembut.
"Iya, kamu hati-hati." Balasnya.
"Oh ya, Asya!" Asya yang hendak melangkah pun berbalik menatap Edo.
"Ada apa, Pa?"
"Pulang kerja, langsung ke rumah Darren, ya?"
"Ke rumah Darren? Aku boleh ikut ya, om?" Naomi menyahut dengan girang. Membuat Edo, Irene dan Asya menatapnya.
"Kita akan pergi bersama." Balas Asya, sambil tersenyum padanya.
Senyum mengembang muncul di bibir Naomi. Wajah gembiranya tak bisa ia sembunyikan. Sementara Edo dan Irene saling pandang. Mereka tidak mengerti dengan jalan pikiran Asya.
Sebenarnya, meski Asya tidak menceritakan soal kelakuan Naomi di kantor Darren waktu itu, mereka sudah tahu. Jiyo lah yang memberitahu mereka. Jika Jiyo yang memberikan informasi tentang Darren dan Asya, mereka yakin itu seratus persen akurat.
"Untuk apa kita kesana, Pa?"
"Bukan untuk apa-apa. Papa sama Mama hanya mau main kesana. Mungkin akan ada keluarga Gio sama Viko juga. Iyakan, sayang?" Edo menatap istrinya.
"Iya. Mungkin mereka juga ada disana. Papa sama Mama juga mau main kesana. Udah cukup lama kan sayang, kita nggak ke sana?"
"Iya. Tapi, kalau kalian nggak mau ikut nggak apa-apa."
Asya tersenyum menatap Papanya. "Kita pasti kesana." Balasnya. "Ya, sudah. Asya pergi dulu, ya?"
"Aku juga mau berangkat." Naomi bangkit dari duduknya karena sudah menghabiskan sarapannya.
"Ya sudah, kalian hati-hati."
__ADS_1
"Iya, Ma."
"Iya, Tan."
***
Darren meraih jas lalu memakainya. Ketukan pintu kamarnya membuat ia menoleh. Kaki panjangnya melangkah mendekati pintu dan membukanya.
Ia mentap Darrel yang berdiri di depannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Ada apa?" Pertanyaan Darren membuat Darrel mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Apa aku boleh masuk?"
"Masuklah." Darren berjalan terlebih dahulu, membiarkan Darrel menutup pintu.
Keduanya duduk di sofa yang tersedia di kamar Darren. "Apa kamu mengenal gadis ini?"
Darrel menunjukkan foto Aurel. Karena alasannya menjauhkan Asya dari Naomi, Aurel akhirnya setuju untuk ikut Darrel kembali. Saat ini, gadis itu tinggal di apartemen Darrel. Apartemen yang dibelinya dengan uang hasil menjuarai berbagai lomba melukis.
Darren menatap layar handphone tersebut tanpa mengambilnya dari Darrel. Raut wajahnya terlihat masih sama, datar tanpa ekspresi.
"Aku nggak kenal. Tapi, pernah bertemu di hotel kota C."
Darren hanya terdiam tanpa ingin bertanya lebih. Ia membiarkan Darrel mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Dia menghilang sejak lulus SMA. Aku kembali bertemu dia di hotel kota C. Dan aku membawanya kembali. Aku harap, adanya dia bisa membantu kita menjauhkan Asya dari Naomi."
Darren mengalihkan pandangannya menatap Darrel. Tatapannya seolah meminta penjelasan dari Darrel.
Laki-laki itu tak balas menatap Darren. Tatapannya hanya tertuju ke depan. Tak lama, ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Dengan adanya Aurel, perhatian Asya pada Naomi sedikit demi sedikit akan teralihkan. Aku tahu, bagaimana Asya menyayangi Naomi. Dan aku lebih tahu lagi, bagaimana Asya menyayangi Aurel. Aku yakin, dengan adanya Aurel, Asya akan lebih condong padanya dibandingkan pada Naomi. Apalagi, setelah sekian lama berpisah, Asya kembali bertemu dengannya."
Darren menjadi pendengar yang baik atas apa yang adik kembarnya katakan. Tapi, ada beban dan juga kekhawatiran yang bisa Darren lihat dari tatapan mata Darrel saat memandang kedepan ketika berbicara.
"Apa kamu mencemaskan sesuatu?"
Darrel menatap kembarannya. Ia lalu menggeleng. "Nggak ada yang ku cemaskan."
"Kamu bisa mengatakannya saat kamu ingin. Aku akan mendengarnya." Ucap Darren. Darrel menarik nafasnya. Perkataan Darren adalah bukti jika dia tidak percaya dengan apa yang Darrel jawab. Sangat sulit berbohong pada Darren.
"Baiklah. Ayo, kita turun. Ayah, Ibu sama Alisha sudah menunggu sejak tadi."
__ADS_1
Kedua saudara kembar tersebut pun turun menuju ruang makan. Ekspresi wajah Darrel sudah berubah menjadi ceria seperti biasanya. Sangat jauh berbeda dengan ekspresinya saat berada di kamar Darren.
***
Sepanjang hari, Darren maupun Asya menghabiskan waktu mereka dengan dokumen-dokumen penting. Jarum jam yang terus berputar membuat mereka tak sadar, jika waktu pulang kantor pun tiba. Terutama Darren. Lelaki itu masih berada di kantornya saat gedung yang menjulang tinggi itu sudah sepi. Para karyawannya sudah meninggalkan tempat itu sejak beberapa menit lalu.
Handphone yang bergetar tak membuat Darren mengalihkan tatapannya dari dokumen yang ia baca. Bukan hanya sekali handphone itu bergetar. Tapi, sudah berkali-kali sejak waktu menunjukkan jam pulang kantor.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!"
"Darren. Ayolah! Ini sudah lewat jam kantor. Kenapa kamu masih terus bekerja?" Kesal Jiyo. Ia menutup pintu dan melemparkan tubuhnya di atas sofa.
"Lembur." Satu jawaban dari Darren membuat Jiyo melotot. Lembur bagi Darren, adalah penyiksaan untuk Jiyo. Dia akan seperti pantung hidup yang bisa bergerak saat menunggu Darren lembur. Sebenarnya, bisa saja ia meninggalkan Darren karena lelaki itu mengizinkannya pulang lebih dulu. Tapi, dia tidak tega meninggalkan sahabatnya itu.
"Ck. Biarkan saja berkas-berkas itu. Kamu lihat ini! Alisha sudah memberondongi ku dengan banyak pesan menyuruhmu pulang." Kesal Jiyo bergerak mendekati Darren dan memperlihatkan pesan-pesan yang Alisha kirimkan padanya.
Darren yang melihatnya langsung memeriksa handphonenya. Banyak pesan dan juga beberapa panggilan telpon dari gadis kecil itu. Dia terlalu fokus pada pekerjaannya hingga mengabaikan getaran di handphonenya.
Darren menutup dokumen yang ia baca dan bangun meninggalkan kursi kebesarannya. Pesan Alisha sudah ia baca. Banyak yang berisi tulisan yang menyuruhnya cepat pulang. Entah apa yang terjadi di kediaman mereka, Darren tidak tahu. Tapi, ia bisa merasakan jika tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
"Kita pulang?" Tanya Jiyo, saat melihat Darren berdiri dan meraih kunci mobilnya.
"Ya."
Jawaban singkat itu membuat Jiyo tersenyum. Ia berjalan cepat dan membukakan pintu untuk Darren.
"Silakan, tuan muda." Ucap Jiyo, mempersilakan Darren keluar. Membuat lelaki dingin itu menatapnya sejenak, kemudian benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
Darren memasuki mobilnya begitupun Jiyo. Keduanya mengendarai kendaraan masing-masing. Namun, Darren sedikit mengerutkan keningnya saat Jiyo tidak membelokkan mobilnya ke jalan menuju rumahnya. Sebaliknya, Jiyo mengambil arah jalan yang sama.
Darren kemudian mengabaikannya dan terus melajukan mobilnya ke arah rumah. Saat mobilnya berhenti di halaman rumah, mobil Jiyo juga ikut berhenti.
Darren turun dan milihat beberapa mobil yang terparkir di halaman tersebut. Dia mengenali semua mobil itu.
"Kenapa kamu juga kesini?" Tanya Darren.
"Aku?" Lelaki itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku di suruh Alisha kesini juga." Darren terdiam, tak menanggapinya lagi.
"Pantasan saja Alisha menyuruh kita pulang cepat. Ternyata disini sudah ramai. Makan besar nih, malam ini." Celetuk Jiyo yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Darren.
Darren hanya menatapnya sebentar, kemudian berjalan masuk.
__ADS_1
"Ck. Dasar si es." Decak Jiyo, saat Darren tak menanggapi ucapannya. Ia lalu ikut Darren memasuki rumah.