
Sesuai yang Axel katakan, Gara melarang Alisha untuk keluar dari rumah. Gadis itu cemberut karena Ayahanya melarang dia untuk pergi. Alula yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memperhatikan Ayah dan anak itu.
"Ayah, bolehin Alisha pergi, ya? Alisah pergi buat kerjain tugas kelompok bukan untuk main-main sama teman. Lagian, Alisha juga sama pengawal."
"Alisha dengarin Ayah, ya? Perasaan Ayah nggak enak. Alisha boleh kerja tugas bareng teman-teman. Tapi, suruh mereka ke rumah. Okey?"
"Benaran Ayah bolehin mereka ke rumah?"
"Boleh."
"Tapi, mereka nggak tahu rumah kita Ayah."
"Berikan alamat rumah kita. Atau berikan alamat rumah mereka, orang-orang Ayah akan menjemput mereka. Kabari mereka."
"Lama Ayah, kalau orang-orang Ayah yang jemput."
"Sayang, orang-orang Ayah ada dimana-mana. Tidak akan lama untuk menjemput mereka."
"Ya udah. Alisha tetap dirumah. Alisha kirim alamat mereka, Ayah jangan lupa minta pengawal jemput mereka."
"Iya."
"Ya udah, Alisha ke kamar, ya."
Alula dan Gara sama-sama menganggukkan kepala mereka. Alula tidak merasa curiga apapun. Menurutnya, apa yang Gara lakukan merupakan hal wajar yang dilakukan oleh seorang Ayah pada anaknya.
Alisha yang sedang berbaring di kasurnya sambil membaca langsung terbangun saat mendengar beberapa suara mobil memasuki halaman rumah.
Dia berlari menuju balkon. Bisa dia lihat, ketiga anggota kelompoknya keluar dari mobil jemputan masing-masing. Dia kembali ke kamar, meraih buku-buku yang mereka perlukan, lalu turun ke lantai bawah.
Para pelayan segera membawa ketiga teman Alisha, Nadia, Yana dan Dodi, si ketua kelas. Ketiganya terlihat sangat kagum melihat rumah Alisha, hingga mereka di kejutkan dengan kedua orang tua Alisha.
"Selamat sore, om, tante." Sapa mereka, serentak.
"Selamat sore," Balas Alula, sambil tersenyum ramah. Sedangkan Gara, dia hanya menatap satu persatu teman Alisha itu dengan tatapan dingin.
Papa Alisha sangat tampan. Mama Alisha juga sangat cantik. Pantas saja Alisha sama kedua kakaknya cantik dan tampan. Batin Nadia, mengabaikan tatapan Gara.
Papa Alisha sangat menakutkan. Batin Yana.
Paman ini membuatku merinding. Salah tempat belajar kemari. Mama, aku ingin pulang. Batin Dodi.
Alisha yang sudah tiba di ruang tamu dan menemukan wajah tegang Yana dan Dodi, berjalan cepat ke arah sang Ayah.
"Ayah, kenapa Ayah menatap mereka seperti itu?" Alisha menyentuh lengan Ayahnya.
"Tidak. Apa kalian sudah lengkap?" Balasnya. Jika mereka sudah lengkap, berarti remaja lekaki itu adalah Hardi.
"Belum. Masih kurang satu." Balas Alisha. "Oh ya, kalian kenalin! Ini Ayah dan Ibuku." Imbunya, mencoba untuk menghilangkan ketegangan di wajah Yana dan Dodi. Sedangkan Nadia, gadis itu tidak fokus pada ekspresi dingin Gara. Dia hanya terus mengagumi ketampanan dan kecantikan orang tua Alisha yang tidak memudar di usia mereka yang mulai menua.
"Salam kenal, om, tante. Saya Yana."
"Saya Dodi, om, tante."
"Saya Nadia, om, tante." Ucap Nadia, sambil tersenyum cerah.
Jadi, anak ini bukan Hardi. Batin Gara.
Seorang pengawal masuk membuat mereka semua menoleh. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu berdiri menghadap Gara.
"Maaf, tuan. Teman nona muda tidak bisa datang. Dia mengalami demam." Lapor pengawal tersebut.
"Hardi nggak datang. Apa kita batalkan saja kerja kelompoknya. Kita cari kesempatan di lain hari."
"Nggak bisa, Dodi. Kita kerjakan saja hari ini, okey? Jangan pikirkan tentang dia." Balas Yana.
Setelah perdebatan pendek itu, Alisha mengajak mereka menuju ruang tengah untuk belajar bersama.
Jadi, yang tidak datang itu Hardi. Huh. Kau ingin menghindar? Tidak semudah itu, nak.
***
Jiyo berjalan memasuki ruangan Darren. Keningnya mengerut melihat Darren yang menatap layar handphonenya sambil menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Maaf tuan, mengganggu anda." Ucapnya, tapi Darren tak merespon.
"Tuan muda."
"Tuan."
"Darren!"
"Diamlah Jiyo!"
"Ck. Kau ini kenapa?"
"Hubungi Darrel kesini."
Tanpa bertanya lagi, Jiyo melakukan perintahnya. Dan tak butuh waktu lama, Darrel tiba di ruangan itu. Jiyo semakin bingung saat Darrel memasuki ruangan dengan ekspresi yang sama seperti Darren.
"Kalian sebenarnya kenapa?" Tanyanya. Dia benar-benar tidak tahu, masalah apa lagi yang membuat kedua kembar ini berekspresi seperti itu. Bukankah masalah Hardi yang mengganggu Alisha sudah mereka peroleh informasinya.
"Kau baca ini!" Darrel meletakkan ponselnya cukup kasar di tangan Jiyo. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Pelaku yang meneror Alisha adalah Hardi. Dia menyuruh seorang petugas kebersihan di sekolah untuk menaruh benda-benda yang berlumuran darah di tas dan juga loker Alisha.
Pantasan saja mereka bersikap seperti itu. Hardi benar-benar cari masalah. Batin Jiyo.
"Ini." Jiyo menyerahkan kembali handphone Darrel, lalu ikut duduk bersamanya. "Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
"Masalah Hardi, Ayah yang menanganinya. Untuk Hendra, tunggu informasi selanjutnya."
Jiyo mengangguk. Darren yang hanya terdiam menegakkan tubuhnya saat mendengar telpon kantornya berdering.
"Hallo, tuan muda."
"Ya."
"Kami sudah menemukan semua informasinya."
"Dimana kalian sekarang?"
"Ke ruanganku!"
"Baik, tuan muda."
Darrel dan Jiyo sama-sama memperhatikan Darren yang berbicara dengan seseorang dari telepon. Setelah panggilan telpon itu berakhir, mereka tidak sabar bertanya.
"Siapa?" Tanya keduanya bersamaan.
"Anak buah Paman Ben."
"Apa yang dia katakan?" Darrel begitu penasaran.
"Dia membawa informasi yang kita butuhkan."
Darrel dan Jiyo mengangguk. Pancaran mata mereka menunjukkan jika mereka sangat senang dan tidak sabar mendengar semua informasi tersebut.
Pintu di ketuk membuat Jiyo dengan sigap berdiri dan membuka pintu.
"Salam sekretaris Jiyo."
"Ya, masuklah!"
Lelaki yang membawa file berisi semua informasi yang didapat itu berjalan mendekati Darren. Ia menundukkan kepalanya pada Darren, kemudian pada Darrel.
"Ini file berisi semua informasinya. Tuan bisa mengonfirmasikan kebenarannya pada ketua Ben. Dia kembali ke kota ini dan mengawasi langsung penyelidikan ini."
"Ya. Kau boleh keluar."
"Baik, tuan. Saya permisi." Darren mengangguk. Lelaki itu menundukkan kepalanya pada Darren, Darrel dan Jiyo. Setelah itu, dia keluar dari ruangan Darren.
Darren meraih file yang terletak di mejanya. Ia berjalan dan duduk bergabung bersama Darrel dan Jiyo. Tangannya bergerak membuka file tersebut.
Benar dugaan mereka. Hardi adalah adik Hendra. Mereka merencanakan semua itu dengan baik. Dan satu lagi yang cukup mengejutkan. Hendra adalah pemimpin HRL Group saat ini. Perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan Grisam Group.
"Jam berapa meeting bersama HRL Group?" Tanya Darren.
__ADS_1
"Jam 3 sore, di ruang meeting."
"Atur semuanya dengan baik." Jiyo mengangguk. Dia tahu bagaimana membuat Hendra merasa menang sesaat. Darrel hanya diam. Dia yakin, kembarannya tahu apa yang harus dia lakukan.
"Darrel."
"Ya?"
"Ikut meeting bersamaku nanti."
"Dengan senang hati." Balasnya sambil tersenyum.
***
Asya duduk sambil mengaduk-aduk makanan di depannya. Saat ini, dia berada bersama Naomi di sebuah restoran. Naomi mengajaknya makan siang bersama. Dia tidak bisa menolak. Selain dia dan Naomi sudah jarang makan siang bersama lagi, dia juga tidak ingin mendatangi Aurel. Dia tidak ingin Aurel memikirkan masalahnya. Sahabatnya itu sudah cukup banyak ditimpa masalah.
"Aku sangat senang, karena kita bisa makan siang bersama seperti ini lagi." Ujar Naomi dengan senyum cerah.
"Ya. Aku juga senang. Makan yang banyak. Ku rasa, kamu memiliki banyak pekerjaan hingga melewatkan makanmu." Ujar Asya dengan tulus pada Naomi.
"Hanya sesekali aku melewatkannya. Tapi, kamu kenapa hanya mengaduk-aduk makanannya? Apa ada masalah?" Tanya Naomi, berperan menjadi sahabat yang baik.
"Enggak. Hanya urusan pekerjaan." Naomi mengangguk .
Cih. Kau pikir aku bodoh mempercayaimu begitu saja? Aku rasa ada masalah yang membuatmu begitu tidak bersemangat. Tapi, aku harus menjaga kelaukanku di depan Asya. Tidak boleh memaksanya menceritakannya. Aku akan mencaritahu sendiri. Mudah-mudahan saja ada hubungannya dengan Darren. Jika benar, aku sangat senang. Batin Naomi.
Kenapa aku terus memikirkan Darren bersama anak dan wanita itu? Apa sebenarnya hubungan mereka? Batin Asya.
Naomi tersenyum licik melihat Asya yang melamun. Dengan berpura-pura perhatian, ia menyentuh tangan Asya. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya dan menatapnya.
"Aku nggak akan memaksamu menceritakan semuanya. Tapi, jika kamu sudah mau menceritakannya, aku siap menjadi pendengarmu."
Asya tersenyum dan balas menyentuh tangan Naomi. "Terima kasih."
"Kita adalah saudara. Sudah seharusnya saling berbagi dan menguatkan." Ujarnya. "Sekarang kamu makan. Aku mau ke toilet sebentar."
Naomi bergegas menuju toilet. Asya menatapnya sejenak, kemudian menatap makanan di depannya sambil mengaduk-aduknya.
"Hai!" Suara seorang laki-laki membuat Asya mendongak. Wajahnya mendadak pucat melihat Hendra lah yang berdiri di depannya. Lelaki itu tersenyum manis padanya.
"K-kak Hendra?" Asya bergumam kecil.
Hendra mengacuhkan wajah pucat ketakutan Asya. Ia dengan santainya menarik kursi dan duduk di depan Asya.
Tenang Asya. Tenang. Banyak orang disini. Kak Hendra nggak akan melakukan sesuatu padamu. Batin Asya.
"Kamu masih terlihat takut padaku." Ucap Hendra.
"Untuk apa Kakak kesini?"
"Hah? Apa salah aku disini? Aku kesini untuk makan siang. Aku baru kembali dari luar negeri dan ingin memakan makanan negara kita. Dan tanpa sengaja aku bertemu denganmu disini. Jadi, aku menyapamu."
"Jangan berbohong!"
"Huh. Aku tahu, kesalahanku padamu sangat banyak. Tapi, sekarang aku sadar. Aku harap kamu bisa memaafkan ku. Dulu, aku menuruti egoku sebagai remaja. Tapi sekarang, aku sudah dewasa dan mengerti semua yang ku lakukan dulu salah. Jadi, aku minta maaf padamu."
"Tidak masalah jika kamu belun bisa. Aku akan menunggu dan terus meminta maaf padamu. Habiskan makananmu. Aku akan makan di restoran lain."
Ucapan Hendra membuat hati Asya tergerak. Sisi hatinya yang lembut membuatnya tidak bisa menjadi manusia yang egois. Saat Hendra berdiri dari duduknya, Asya menahannya.
"Tunggu, Kak!" Ucapnya. "Meski aku belum bisa memaafkan Kakak. Aku tidak mau menjadi orang yang egois. Semua orang memiliki hak untuk makan di restoran ini."
"Makan di meja yang sama denganmu?"
"Maaf." Balas Asya.
Hendra tersenyum. "Tidak masalah. Aku tahu kamu belum memaafkanku. Tapi, aku bersyukur kamu masih baik padaku. Terima kasih." Ujarnya, lalu berjalan ke meja lain.
Satu langkah untuk mendapatkan kepercayaan Asya sudah berhasil. Tinggal langkah selanjutnya.
Hendra duduk di meja yang cukup jauh dari Asya. Matanya terus memperhatikan gadis itu. Hingga tiba-tiba ia melihat Naomi yang baru dari toilet menghampiri Asya.
Siapa gadis itu? Sepertinya dia dekat dengan Asya. Aku harus mencari tahu siapa dia. Apakah dia kawan atau lawan. Batin Hendra.
__ADS_1