
Sejak kejadian yang menimpa Nita waktu itu, Jiyo lebih ketat menjaga gadis itu. Ia bahkan mengirimkan dua orang untuk mengawasi Nita, tentunya tanpa sepengetahuan gadis itu.
Sementara di tempat lain, Axel dan Hardi mati-matian mencari keberadaan Nadia. Begitu juga dengan orang tua Nadia yang langsung pulang dari luar negeri mendengar kabar hilangnya putri mereka. Suruhan Gara dan Arya juga ikut membantu pengawal orang tua Nadia untuk mencari keberadaan anak itu.
"Di, lo dapat info?" tanya Axel saat menemui Hardi di salah satu tempat yang sudah mereka janjikan.
"Nggak, Xel. Gimana sama orang-orang suruhan om Gara sama papa lo?"
"Belum ada titik terang. Yang pasti, ini ada kaitannya dengan perdagangan wanita dan anak di bawah umur."
Hardi mengangguk. Sudah seminggu lebih mereka mencari Nadia. Tapi, belum ada petunjuk tentang gadis itu.
Getaran handphone di saku celananya membuat Axel menghentikan ucapannya yang hendak ia katakan pada Hardi. Segera ia mengeluarkan handphonenya. Darrel yang menelponnya.
"Hallo," sapanya datar.
"Axel, ke Grisam Group sekarang."
"Hardi bareng gue."
"Ajak dia sekalian."
"Oke."
Axel meatikan handphonenya dan memasukkannya kembali ke saku celananya. "Ayo, Di!"
"Kemana?"
"Grisam Group."
Kedua laki-laki remaja itu segera memacu motor mereka menuju Grisam Group. Karena mereka berada di tempat tak jauh dari perusahaan tersebut, tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana.
Iwan sudah berada di lobi untuk menyambut keduanya. Sorot mata Axel tajam mentap sekretaris baru Darren tersebut. Membuat Hardi yang melihatnya bergidik.
Sorot mata Axel beda dari sebelumnya. Kenapa dengan laki-laki ini? Batin Hardi.
Keduanya langsung menuju ruangan Darren bersama Iwan yang menjadi pemandu mereka. Laki-laki itu terlihat santai mengajak Axel dan Hardi ngomong. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi seminggu lalu karena ulahnya.
"Permisi, tuan." Suara Iwan membuat Darren, Darrel dan Jiyo menoleh. Ya, ada Jiyo juga disana. Ketiga orang itu berhasil diyakinkan oleh Iwan, jika yang berbuat kurang ajar pada Nita bukanlah dirinya. Dia memiliki kembaran yang terobsesi pada Nita.
"Axel, Hardi, kemari." Darrel melambaikan tangannya membuat Axel dan Hardi mendekati mereka.
__ADS_1
"Terima kasih, Iwan. Kau boleh melanjutkan pekerjaan mu," ucap Darren.
"Terima kasih, tuan."
Iwan menunduk hormat pada mereka, lalu keluar dari ruangan tersebut. Belum sempat ia memasuki ruang kerjanya, suara seseorang membuatnya menoleh.
"Permisi, Kak Darren nya ada di dalam?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Alisha.
Iwan membalikkan badannya hingga menghadap Alisha. Tatapannya terkunci pada remaja cantik itu.
Cantik sekali. Batinnya.
"Paman?" panggilan Alisha membuat Iwan sadar dari keterpanaannya.
"Eh. Maaf."
"Kak Darren ada di dalam kan, Paman?"
"Paman? Panggil Kakak saja," ucap Iwan. "Perkenalkan, saya Iwan. Kamu siapanya tuan Darren?"
Apaan sih orang ini? Batin Alisha.
"Maaf ya, Paman. Kita nggak saling kenal, dan saya nggak mau kenalan," ucap Alisha acuh, lalu berjalan menuju ruang kerja Darren begitu saja.
Alisha mendorong pelan pintu ruangan Darren, membuat semua yang ada dalam ruangan itu menoleh padanya. Alisha masuk dengan wajah manyun nya, membuat semua terheran. Gadis remaja itu duduk diantara Darren dan Darrel.
"Ada apa?" Darren mengusap pelan rambut Alisha. Terlihat sekali jika laki-laki itu sangat menyayangi Alisha. Begitu juga dengan Darrel.
"Alisha kesal sama laki-laki di depan."
"Iwan?" tanya Darrel.
"Nggak tahu. Katanya namanya itu," balas Alisha masih dengan wajah kesalnya.
Darren, Darrel, Jiyo dan Axel menggeram marah dalam hati. Darrel yang paling menampakkan kemarahannya. Ia mengepal kuat tangannya. Hardi yang melihat sorot marah dari mata tiap orang itu merasa heran. Dia tidak tahu apa-apa, dan juga tidak berani untuk bertanya.
"Dia apain lo?" tanya Axel. Alisha menatapnya sekilas, lalu kembali menatap Darren. Hubungannya dengan Axel belum membaik, membuat dia acuh pada laki-laki itu.
"Kak Darren, nanti anterin Alisha ke rumah Yana, ya?" ucap Alisha, memohon. Gadis itu belum mengetahui soal Nadia yang di culik. Yang ia tahu, Nadia sedang di rumah neneknya, menjenguk nenek yang sakit. Mereka menyembunyikan semuanya dengan baik dari Alisha dan Yana.
"Kakak antar kamu pulang."
__ADS_1
Sontak Alisha mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Darren. Ia berbalik menatap Darrel. Meskipun Darrel jail, tapi lelaki itu yang paling bisa ia bujuk.
"Kak Darrel, anterin Alisha, ya?"
"Nggak bisa, dek. Kakak ada urusan setelah ini." Darrel memberi alasan.
Alisha semakin mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya, ia bisa pergi sendiri. Tapi, banyak pengawal ayahnya yang mengawasinya, takut ia nekat pergi sendiri karena Gara melarangnya. Jika bersama Darren, Darrel atau Jiyo, sudah pasti dia aman dari jangkauan para pengawal itu.
Jiyo. Ya, dia ingat sahabat kedua Kakaknya itu. Wajahnya yang semula ditekuk langsung tersenyum mengembang. Ia lalu menolehkan kepalanya menatap Jiyo.
"Kak Jiy—"
"Maaf, Sha. Kakak ada meeting setelah ini."
"Yaahh..." Alisha menghembuskan nafas lemah. Menyentakkan kakinya, Alisha lalu beranjak dari tempat duduknya lalu menuju kamar istirahat Darren yang ada di ruangan itu. Dia tidak peduli lagi, apa alasan Darren memintanya datang. Dia sudah terlanjur kesal dengan kedua Kakaknya itu.
Para lelaki hanya menatap Alisha dalam diam. Biarkan gadis itu merajuk sekarang. Semua juga demi kebaikannya. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Hingga hampir sejam, mereka memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali ke kegiatan masing-masing.
"Gue boleh lihat Alisha sebentar?" tanya Axel, dengan sorot mata mengharapkan izin dari kedua Kakak Alisha.
"Aku boleh-boleh saja. Nggak tahu Darren," jawab Darrel.
"Boleh," sahut Darren. Laki-laki itu kemudian beranjak dari sofa dan duduk di kursi kerjanya.
"Gue boleh?" tanya Hardi, membuat Darren dan Darrel menggangguk bersamaan.
"Hanya dari pintu. Nggak boleh masuk!" tambah Darren dengan tatapan yang fokus pada layar laptopnya.
Axel dan Hardi berjalan ke arah kamar yang ada di ruangan tersebut. Perlahan tangan Axel membuka pintu. Bisa mereka lihat Alisha yang tertidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hanya kepalanya yang terlihat.
"Cantik," gumam Hardi.
"Dia memang cantik. Sangat cantik," sahut Axel. Hardi menoleh menatap Axel yang masih fokus menatap Alisha.
"Ayo bersaing secara sehat," ucapnya tiba-tiba.
Axel menoleh pada Hardi dengan kening yang berkerut. "Maksud lo?"
"Maksud gue, ayo bersaing secara gentele buat dapetin hati Alisha."
Wajah Axel langsung berubah datar saat mendengar ucapan Hardi. Sorot matanya juga berubah dingin saat menatap Hardi.
__ADS_1
"Nggak ada kata bersaing! Alisha milik gue! Dan sampai kapan pun tetap milik gue!" ucap Axel. Laki-laki remaja itu menutup pintu, lalu menarik kerah belakang baju Hardi, membuat sang empunya baju berjalan mundur mengikuti tarikannya.
Perbuatan Axel membuat Darrel dan Jiyo terkekeh pelan. Sementara Darren hanya menatap datar kedua remaja remaja tersebut.