
Nita masuk ke mobil Jiyo dengan wajah di tekuk. Ia benar-benar kesal dengan bosnya itu. Jiyo memberitahunya jika Asya dan Darren tidak jadi datang pada saat istirahat makan siang. Berarti sejak tadi, dia seperti orang bodoh yang hanya menuruti ucapan Jiyo untuk tetap tinggal di ruangannya.
Mobil Jiyo melaju, namun Nita tetap diam. Tidak sapatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu.
"Nita." Panggil Jiyo, sesekali melirik Nita. Ia tetap berusaha fokus pada jalanan.
"Asya sama Darren bilangnya saat hampir makan siang. Aku juga lupa. Ingatnya waktu istirahat makan siang."
"Terserah tuan. Itu bukan urusan saya."
"Urusan kamu lah. Kan kamu yang marah."
"Saya sedang tidak ingin bicara, tuan."
"Sudah aku bilang, jangan panggil aku tuan saat di luar kantor."
Nita hanya diam tak membalasnya. Berdebat dengan Jiyo, sulit sekali untuk menang. Hingga mobil Jiyo tiba di kediaman Gara, Nita tetap diam.
"Ayo, turun!"
Nita tak menjawab dan langsung turun. Dia dan Jiyo langsung menuju rumah. Seorang pelayan membuka pintu saat terdengar ketukan.
"Jiyo," Asya tersenyum senang dan langsung memeluk sahabatnya itu. Darren ingin sekali menarik istrinya itu menjauh. Tapi, ia tidak ingin merusak kegembiraan sang istri. Namun, matanya menatap tajam Jiyo.
Gluk...
Jiyo meneguk ludahnya. Asya benar-benar menggiringnya ke mulut singa. Tatapan Darren seperti orang yang ingin membunuhnya saja.
"Aku senang sekali kamu datang."
"Aku nggak mungkin nggak datang. Aku juga mau tahu, bagaimana kondisi ponakanku."
Asya tersenyum dan mencubit pipi Jiyo. Wanita itu kini beralih pada Nita. Dia memeluk mantan sekretarisnya dengan perasaan senang.
"Ku pikir, kamu nggak akan datang."
"Aku akan datang, nyonya." Jawab Nita sambil tersenyum.
Asya melepas pelukannya lalu menatap Nita. "Sungguh? Walaupun bareng Jiyo?"
Nita terdiam, lalu mengangguk, "Iya."
"Kalian mau berdiri terus? Ayo, duduk." Ucap Aurel yang masih memangku Meeya.
"Ck. Aku sampai lupa. Ponakan Paman satu ini." Jiyo meraih Meeya ke gendongannya, lalu menciumnya. "Harum sekali ponakan paman." Jiyo menciumnya lagi.
"Jangan terlalu dicium anakku, Jiyo. Nanti ketularan nakalnya." Ucap Darrel yang datang dari dapur. Lelaki itu membawa susu untuk Meeya.
"Cih! Kamu juga nakal, Darrel. Sadar!"
Darrel mengabaikannya, dan meraih Meeya ke gendongannya.
"Nita. Kau datang bersamanya?" Darrel menatap Nita yang duduk tak jauh dari Asya.
"Iya, tuan."
"Hati-hati. Jiyo suka ngebut bawa mobil."
"Ck. Apa-apaan kau ini? Jangan dengarkan Darrel." Ujar Jiyo.
"Iya, jangan dengarkan Darrel, Nita. Dia suka bercanda." Ujar Aurel. Ia lalu menatap suaminya dengan melotot. "Apa-apaan sih kamu, sayang."
"Hehehe bercanda, sayang." Balasnya.
__ADS_1
Mereka terus berbincang-bincang. Jiyo dan Nita turut bahagia dengan kehamilan kembar Asya. Jiyo yang paling antusias. Ia sangat menantikan lahirnya anak Darren dan Asya itu. Bahkan dia menciumi pipi Meeya sampai bayi itu menangis. Membuat Darrel kesal dan memukul kepalanya. Perbuatan Jiyo dan Darrel mengundang tawa orang-orang yang ada di ruangan itu.
Hingga malam menjelang, Nita dan Jiyo masih di rumah Gara. Keduanya kini berada di gazebo bersama Aurel, Darrel, Darren dan Asya. Wanita hamil itu ingin makan bersama sahabat-sahabatnya di gazebo. Meeya juga sengaja tak dibawa Darrel Aurel. Biarkan saja anak itu bermain bersama Kakek Neneknya juga Alisha dan Doni.
Aurel meneguk ludah melihat makanan di depannya. Asya memang punya selera yang sama dengannya.
"Ayo, makan. Kita tunggu apa lagi?" Ucap Aurel. Keluar sudah jiwa suka makannya. Asya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Sebenarnya, dia juga tidak sabar untuk mencicipi makanan tersebut. Namun, ada sesuatu yang ingin dia lakukan.
Asya menatap Darren dan memeluk lengan sang suami. "Sayang," Asya merengek pada suaminya.
"Hmm? Ada apa?" Darren bertanya lembut. Ia bahkan mengusap rambut Asya.
Jiyo yang melihatnya memutar bola matanya. Sahabatnya yang dingin itu sekarang berubah menjadi begitu lembut. Itu membuatnya geli.
"Aku ngidam."
Deg...
Darren terdiam. Ia tiba-tiba merasa deg-degan, takut jika Asya meminta yang aneh-aneh. Keinginan Asya saat ngidam selalu diluar dugaannya.
"Ngidam?" Darren bertanya dengan hati-hati.
"Iya."
"Ngidam apa?"
"Aku mau lihat Jiyo sama Nita suap-suapan."
Ahh... Syukurlah. Batin Darren, lega.
Jiyo dan Nita yang mendengarnya cukup terkejut. Terutama Nita.
"Nyonya, kenapa begitu? Aku nggak bisa." Ujar Nita. Namun, wanita itu seketika menunduk saat mendapat tatapan tajam Darren.
"Nyonya, maafkan aku. Aku akan melakukannya."
Asya menatap Darren, dan mendapati lelaki itu menatap tajam Nita. Dia tiba-tiba jadi kesal dengan suaminya.
"Sayang, kamu apaan sih, lihat Nita kayak gitu? Nita ketakutan, sayang."
Darren langsung mengalihkan tatapannya, menatap Asya. "Aku nggak bermaksud menakutinya." Ujarnya. "Kalau kamu dan Jiyo nggak sanggup, nggak perlu melakukannya." Lanjut Darren. Dia tidak ingin istrinya menganggapnya mengancam Nita melalui tatapan. Walaupun sebenarnya iya.
"Aku mau-mau saja. Bagaimana Nita nya saja." Jawab Jiyo, santai.
"A-aku akan melakukannya." Ujar Nita.
Gadis itu dengan gugup menyuapi Jiyo. Ia bahkan tak menatap wajah Jiyo. Dan karena kesal, Jiyo memegang tangan Nita lalu mengarahkan ke mulutnya.
"Mulutku disini! Bukan kiri kanan." Ujar Jiyo.
Nita meneguk ludah. Jantungnya berdegup cepat saat Jiyo menarik tangannya. Ia menjadi begitu gugup.
Jiyo merasa senang dalam hati. Kapan lagi dia disuapi Nita dan menyuapi Nita seperti ini. Jarang-jarang dia mendapat keberuntungan seperti ini.
***
Pagi yang cerah, membuat Asya bersemangat. Wanita itu sudah siap dengan stelan olahraga. Pagi ini, dia akan jalan-jalan pagi bersama suaminya di taman. Awalnya dia hanya ingin berjalan-jalan di taman ditemani Ibu mertuanya dan Aurel. Tapi, Darren tidak mengizinkannya. Lelaki itu memilih untuk dirinya yang menemani sang istri.
"Sayang, udah selesai ?" Tanya Darren pada sang istri yang keluar dari ruang ganti.
"Sudah. Ayo, berangkat!"
Darren mengusap rambut istrinya. Ia mendekatkan bibirnya ke kening Asya dan mengecupnya. Lalu turun mengecup singkat bibir Asya, dan berakhir mengecup perut wanita itu.
__ADS_1
"Ayo!" Jawab Darren sambil tersenyum.
Pasangan suami istri itu bergegas keluar kamar. Masih cukup pagi. Semua orang rumah sedang berkutat dengan urusan masing-masing. Asya dan Darren menuju kamar Doni sebelum pergi.
"Mama, Papa." Ucap Doni. Anak itu sedang duduk di pinggir ranjangnya. Sepertinya, dia baru bangun.
"Sayang. Kamu baru bangun, ya?" Tanya Asya sambil mengecup pipi putranya. Sementara Darren, lelaki itu mengusap pelan rambut Doni.
"Iya, Ma. Mama sama Papa mau kemana?"
"Eemm... Pagi ini, Mama nggak temani kamu siap-siap ke sekolah, ya? Mama mau olahraga di taman sama Papa. Kamu dibantu Bibi pelayan, ya?"
"Iya, Ma. Doni nggak apa-apa. Asal Mama sama adik bayi sehat, Doni turutin semua keinginan Mama."
Asya terkekeh pelan mendengar ucapan Doni. Ia kembali mengecup pipi Doni. "Sayang banget sama anak Mama yang satu ini."
"Doni juga sayang sama Mama." Ujarnya, memeluk Asya.
"Papa nggak disayang?" Darren menimpali. Pertanyaan itu sontak membuat Doni menatapnya dan melepas pelukannya pada Asya.
Anak itu langsung bergerak memeluk Darren, erat. Lebih erat dari pelukannya pada Asya.
"Doni sayang sama Papa. Sangat sayang." Ujarnya. Darren bisa merasakan bagaimana sayangnya Doni padanya. Begitu juga Asya yang merasakan betapa sayangnya Doni pada Darren.
"Papa juga sayang sama Doni."
"Terima kasih, Pa. Doni sangat sayang sama Papa. Sama Mama juga. Doni ingin bersama kalian selamanya." Ujarnya.
"Kamu akan selalu bersama kami." Ucap Darren.
"Ya. Kamu nggak akan kemana-mana. Kamu akan tetap disini. Kamu adalah anak Mama dan Papa. Dan selamanya akan bersama Mama dan Papa."
Doni mengangguk pelan. Seorang pelayan datang untuk membantu Doni bersiap-siap ke sekolah. Asya dan Darren meninggalkan anak itu bersama pelayan.
***
Suasana di taman cukup ramai. Banyak orang-orang yang berolahraga. Ada juga ibu-ibu hamil seperti Asya yang berolahraga. Tidak sedikit dari mereka yang memperhatikan Darren dan Asya.
"Jalan saja, sayang. Nggak usah lari-lari kecil." Ucap Darren yng langsung dituruti Asya. Dia juga merasa lelah.
"Nanti, kita sarapan di sekitar sini, ya?" Asya menatap mata suaminya.
"Nggak. Makanan disini belum tentu sehat."
"Tapi, aku mau makan di sekitar sini." Asya merengek. Tingkahnya ini menarik semakin banyak orang untuk memerhatikan mereka. Bahkan ada yang senyum-senyum meliahat tingkah Asya.
"Sayang, dengerin aku, ya? Anak kita harus dapat asupan makanan sehat. Di sekitar sini, makanannya belum tentu sehat." Darren dengan sabar menghadapi Asya.
"Ya udah. Kalau kamu nggak mau, aku pergi sendiri saja." Asya menyentak kakinya dan berjalan terlebih dahulu. Tidak ingin terjadi apa-apa, Darren dengan cepat menyusulnya.
"Iya-iya, kita makan disini. Tapi, ini untuk terakhir kalinya."
"Iiihhh... Kok gitu?"
"Sayang..."
"Nak, kalau istrinya minta gitu, diturutin saja, nak. Kasian istrinya lagi hamil." Ucap seorang wanita tua yang sedang berjalan bersama suaminya.
"Tuh kan? Nenek tua saja baik sama aku. Masa, kamu yang suami aku nggak gitu."
"Sayang, bukan aku nggak baik. Hanya saja, aku khawatir sama kamu sama calon anak kita." Ucap Darren lembut. Ia mengusap-usap kepala Asya. "Kita boleh makan disekitar sini. Tapi, nggak boleh banyak. Kita akan ke tempat yang lebih bersih."
Asya mengangguk pelan, membuat Darren tersenyum. "Pintar istri Darren." Ujarnya. Lelaki itu mengusap kening Asya yang berkeringat, lalu membawa istrinya ke tempat makan sekitar taman tersebut.
__ADS_1