
Sudah dua hari Darrel tidak menemui Aurel, baik di rumah maupun di tempat Aurel bekerja. Lelaki itu benar-benar menjauhi Aurel setelah membawa Aurel kembali ke rumahnya. Sejak saat itu, semangat yang selalu terlihat di wajah Darrel hilang begitu saja.
Darrel berjalan gontai memasuki ruangan Darrel. Wajahnya sangat kusut. Dengan tidak semangatnya Darrel menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Darren.
"Ada apa?" Jiyo yang tidak tahu jika Darrel memutuskan meninggalkan Aurel, menatap lelaki itu dengan penuh heran. Tidak biasanya Darrel seperti ini.
"Duduklah Jiyo." Perintah Darrel.
Jiyo menatap Darren yang ada di depannya. Tapi, lelaki itu hanya diam. Dengan perasaan bingung, Jiyo menuruti Darrel.
"Kau tahu? Gadis itu akan ditemukan Paman Kenan dan Paman Ben. Mungkin orang-orang ku atau orang-orang milik Darren juga akan menemukannya. Sebelum aku terluka karena tidak bisa meninggalkan Aurel, aku harus belajar dari sekarang." Ucap Darrel, sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Jiyo mendengarnya dengan baik, kemudian menatap Darren yang juga sedang menatap ke arahnya dan Darrel. Sejujurnya, dia tidak tega melihat sahabatnya seperti ini.
"Kau tenanglah. Semuanya akan usai saat waktunya tiba. Aku yakin, kau bisa bersama Aurel."
"Semoga perkataanmu benar." Balas Darrel.
"Kalau tidak, kau bawa saja anakmu setelah perempuan itu melahirkan. Beri uang untuknya dan suruh dia pergi." Ucap Jiyo. Namun, beberapa detik kemudian, Jiyo harus menelan kasar ludahnya.
Glek..
Si kembar menatap tajam ke arah Jiyo. Ia menggaruk tengkuknya, tidak nyaman dengan tatapan tersebut.
"Eee... A-aku hanya memberi saran. Ka-kalian abaikan saja." Ujarnya. "A-aku akan keluar."
Jiyo dengan cepat bangun dan berlari keluar dari ruangan Darren. Berada satu ruangan dengan Darren dan Darrel yang tengah marah, sangat tidak aman untuknya.
"Kamu pulanglah dan istirahat. Tenangkan pikiranmu." Ucap Darren, yang diangguki Darrel.
Lelaki itu berjalan keluar dari ruangan Darren, bergegas meninggalkan perusahaan.
***
Kedatangan Darren di Yunanda Group bukanlah hal baru lagi. Meskipun begitu, daya tarik Darren tetap sama, bahkan terus meningkat. Namun, bukan Darren jika ia meladeni mereka. Fokusnya hanya tertuju pada Asya.
"Selamat siang, tuan muda." Sapa Nita yang baru saja keluar dari ruangannya.
Darren hanya mengangguk, membalas sapaan Nita. Tanpa berkata-kata, ia membuka pintu ruangan Asya dan masuk.
"Darren?"
Tidak ada jawaban. Lelaki itu berjalan cepat dan langsung memeluk Asya.
"Darren, ada apa?" Lelaki itu hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Asya menarik nafasnya. Ia melepaskan pelukan Darren dan memaksa lelaki itu menatapnya.
"Kita duduk di sofa, ya?" Darren hanya mengangguk, lalu berjalan bersama Asya menuju sofa.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya merindukanmu."
"Benarkah?"
"Hmm..."
"Baiklah." Balas Asya. "Oh ya, udah makan siang?"
"Belum."
__ADS_1
"Aku akan minta Nita membawa makanan untuk kita."
Asya meraih handphonenya, dan mengirimkan pesan pada Nita. Sebelum ia meletakkan kembali handphonenya, tangan Darren sudah melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan posesif. Kepalanya juga ia sandarkan di bahu Asya.
"Apa kamu sakit?"
"Enggak."
"Darren,"
"Hmm?"
"Kenapa berbalik seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Seharusnya aku yang bersandar di tubuhmu. Bukan seperti ini."
Darren tersenyum tipis mendengar ucapan Asya. Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya.
"Ayo, gantian!"
Kini giliran Asya yang tersenyum. Ia dengan cepat masuk dalam pelukan Darren. Rasanya sangat nyaman. Darren juga beberapa kali mengecup puncak kepala Asya. Ia merasa tenang atas masalah yang menimpa Darrel.
"Oh ya, Darren."
"Hmm?"
"Dimana Darrel? Kata Aurel sudah beberapa hari Darrel nggak menemuinya. Biasanya, Darrel akan menemuinya setiap makan siang atau pulang kerja. Dia juga akan menemani Aurel. Tapi, beberapa hari ini, Darrel menghilang."
"Pekerjaan Darrel sangat banyak. Jadi, dia mengurangi waktu bertemu dengannya."
"Pasti kamu memberikan pekerjaan yang banyak padanya kan?" Tuduh Asya yang hanya dibalas usapan pelan di kepalanya oleh Darren.
Deg...
Asya langsung menutup mulutnya saat sadar dia keceplosan. Ia mendongak menatap Darren yang tidak berekspresi apapun.
"Da-Darren..."
"Hamil?" Tanyanya datar.
"Darren, aku... Maksudku... Akhhh... Bagaimana aku menjelaskan padamu?"
"Pelan-pelan saja." Balas Darren, tenang.
Asya mengangguk dan mulai menceritakan semua yang ia ketahui mengenai Aurel. Darren mendengarnya dengan baik. Ia pikir akan sangat berguna informasi yang Asya ceritakan ini.
"Berapa usia kandungannya sekarang?"
Asya langsung menatap Darren dengan kening berkerut. Rasanya ada yang aneh dengan lelaki itu. Biasanya, dia tidak suka terlibat dalam urusan orang.
"Ada apa? Kamu sepertinya tertarik?" Ucap Asya dengan wajah yang sedikit di tekuk.
Darren menarik nafasnya. Ia lalu menceritakan masalah Darrel pada Asya. Gadis itu cukup terkejut mendengar cerita Darren. Darrel tidak pernah berbicara apapun selama dia bersamanya di luar negeri. Lelaki itu selalu terlihat baik-baik saja. Bahkan dia dengan penuh semangat mengantar Asya ke bandara.
"Haahh... Aku nggak menyangka Darrel mengalami hal serumit ini."
"Ya. Tapi, semua akan selesai sebentar lagi."
"Ya. Aku harap semuanya bisa cepat selesai. Aku juga berharap, semua dugaanmu benar. Semoga Aurel dan Darrel bisa bersatu."
__ADS_1
"Aku juga berharap seperti itu." Balas Darren.
"Kalau mengenai usia kandungannya, sepertinya hampir 16 minggu." Darren mengangguk mendengar perkataan Asya.
Sementara diluar, Nita masih berdiri di depan ruangan Asya sambil membawa makanan yang dipesan Asya. Ia sudah mengetuk beberapa kali. Tapi, Darren maupun Asya tak kunjung membukanya. Membuat pikiran Nita kemana-mana.
"Astaga... Apa yang terjadi didalam? Apa yang pasangan kekasih dimabuk cinta itu lakukan didalam? Ya Tuhan... Jangan-jangan, tuan muda Darren dengan Nona sedang..."
Ceklek
"Nita?"
"Eh, no-nona. A-aku..." Nita mendadak gugup. Selain karena ia terkejut, ia juga merasa malu dengan pikirannya sendiri. Asya berdiri di depannya dengan baju yang masih sama seperti ia kenakan pagi tadi. Penampilannya juga sangat rapih.
"Kamu kenapa? Wajahmu memerah. Apa kamu sakit?"
"Hah? Ti-tidak no-nona. Ini hanya karena panas. Di luar, matahari sangat terik saat aku membeli makanan tadi."
"Ada apa?" Suara datar Darren membuat Nita semakin gugup. Dia menundukkan wajahnya, dengan ekor mata yang masih melirik Darren.
Tuan muda juga masih sangat rapih. Ya tuhan... Apa yang aku pikirkan?
"Nita?"
"Eh, iya nona. I-ini makanan pesanan nona." Nita segera menyerahkan makanan yang dibelinya pada Asya. "Saya permisi ke kantin." Dengan tergesa, Nita langsung menjauh dari kedua orang tersebut.
"Ayo!" Asya mengangguk lalu masuk bersama Darren. Keduanya kembali menduduki sofa. Perlahan, Asya membuka makanan yang dibeli Nita dan menyiapkannya untuk Darren dan dirinya.
"Oh ya, Darren. Apa Paman atau tante sudah memberitahu mu?" Asya menyerahkan makanan untuk Darren.
"Mengenai makan malam?" Darren menerima makanan dari Asya.
"Ya. Berarti kamu sudah diberitahu."
"Hmm."
Darren menyendokkan makanan yang diberi Asya kemulutnya, lalu menyendokkan lagi, dan mengarahkannya pada Asya.
"Eh, kamu makan saja. Aku bisa makan sendiri."
"Aku ingin menyuapimu. Ayo, makan!"
"Darreeen..."
"Asya,"
"Ya-ya. Baiklah." Asya menyerah dan menerima suapan Darren.
"Aku akan menjemputmu nanti." Ucap Darren.
"Nggak perlu. Aku sudah janji akan pergi bersama Papa dan Mama juga Naomi."
"Wanita itu?"
"Ya. Kami nggak mungkin meninggalkan Naomi di rumah. Dia juga sudah menjadi anggota keluarga."
"Terserah kamu! Tapi, aku yang akan memgantarmu pulang. Nggak ada penolakan!"
"Hmmm... Baiklah. Aku akan pulang bersama mu."
Darren tersenyum, lalu mengecup pipi Asya. Membuat Asya melotot ke arahnya.
__ADS_1
"Darreen... Mulutmu..."
"Hanya kali ini." Jawab Darren santai, lalu kembali memakan makanannya.