Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 40


__ADS_3

Darren dan Asya mendayung sepeda mereka menyusuri jalanan. Udara sore yang sejuk membuat Asya memejamkan matanya, merasakan angin yang menerpa wajah.


"Darren. Ku rasa, aku menyukai lingkungan disini. Bagaimana jika kita tinggal sampai tiga atau empat hari?"


"Tidak."


Asya menarik nafasnya. Meski ia tahu jika sudah pasti Darren menolak, dia tetap merasa kesal.


"Aku hanya bercanda." Ucap Asya, sedikit tidak rela.


Darren menangkap ekspresi tak rela itu dari Asya. "Lain kali, kita akan kesini lagi. Akan ku pastikan kita tinggal seminggu."


"Benarkah?" Asya tersenyum senang.


"Ya."


"Makasih, Darren." Lelaki itu tersenyum membalasnya.


Setelah cukup jauh mereka menyusuri jalan, keduanya kembali ke penginapan. Sebelum itu, mereka mengembalikan sepeda di tempat sewa sepeda. Kemudian kembali ke kamar.


"Setelah sekian lama, aku baru kembali merasakan menyusuri jalanan dengan sepeda. Dan rasanya, aku sangat senang. Tapi, kakiku juga pegal."


"Kamu pegal?"


"Ya. Sedikit."


Jawaban Asya membuat Darren langsung menggendongnya. Wajah Asya memerah karena perlakuan Darren. Terlebih lagi, mereka dilihat oleh petugas-petugas penginapan tersebut.


"Darren. Apa yang kamu lakukan?"


"Kakimu pegal."


"Sudah enggak. Cepat, turunkan aku!"


"Diamlah, Asya." Balasnya datar.


Asya tidak berkata lagi. Ia hanya berharap agar cepat tiba di kamarnya. Sangat memalukan menjadi tontonan seperti ini.


"Buka pintunya!" Perintah Darren saat mereka tiba di depan kamar Asya.


"Hah? Turunkan aku, Darren!"


"Asya!"


"Turunkan atau jangan berbicara lagi denganku!" Ancamnya.


Darren dengan lembut menurunkan Asya. Gadis itu sedikit terkejut. Biasanya Darren akan mengabaikannya sambil berkata 'Diamlah, Asya!'. Tapi, lelaki itu tidak melakukannya sekarang. Dia bahkan menurunkan Asya dengan hati-hati.


Ternyata Darren bisa diancam juga. Kagum Asya dalam hati.


"Masuklah. Jika kaki mu masih sakit, panggil saja aku. Aku akan memijatnya."


"Hah? Nggak perlu. Aku akan melakukannya sendiri."


Darren hanya mengangguk. Setelah Asya memasuki kamarnya, Darren juga kembali ke kamarnya.


***


Darrel turun dari mobilnya dan berjalan masuk cafe. Para pelayan sudah cukup mengenal Darrel. Mereka membiarkan Darrel berjalan langsung menuju ruangan Aurel. Itulah kebiasaan Darrel tiap berkunjung. Bukan hanya di cafe, Darrel juga menyempatkan waktu menemui Aurel tiap pulang kerja sekaligus mengantar Aurel pulang ke apartemen.


"Aurel," Panggil Darrel setelah mengetuk beberapa kali.

__ADS_1


"Iya, sabar." Jawaban dari dalam terdengar. Tak lama, pintu terbuka dan nampaklah Aurel yang terlihat cantik dengan dress selutunya. Darrel bahkan terbengong melihat gadis itu.


"Darrel?" Aurel menusuk lengan Darrel dengan jarinya, membuat lelaki itu tersadar dan salah tingkah di depan Aurel.


"Ekhm... Eee... Itu... Boleh aku masuk?"


Bukan menjawab, Aurel malah mendekati Darrel. "Apa kamu sakit?" Aurel menyentuh kening Darrel. "Kamu nggak panas. Tapi, kenapa wajahmu memerah?"


"Ini... Karena cuacanya sangat panas. Ya, cuacanya panas." Sahut Darrel, berusaha meyakinkan.


"Kamu benar. Ayo, kamu masuk dulu. Aku akan meminta seseorang membawakan makanan juga minuman untukmu."


Darrel mengangguk pelan kemudian berjalan masuk. Setelah menelpon pelayan untuk membawakan makanan untuk Darrel, Aurel kembali bergabung bersama Darrel.


"Apa kamu sudah makan?"


"Belum."


"Baguslah. Kita bisa makan bersama."


"Aku belum ingin makan."


"Kenapa?"


"Aku baru saja selesai makan bubur ayam yang ku beli tadi. Jadi, perutku masih kenyang. Tapi, aku akan tetap menemanimu makan."


Darrel tersenyum lalu mengusap kepala Aurel. "Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Sudah mau menemaniku makan, dan mau kembali kesini bersamaku." Ucap Darrel.


"Aku juga terima kasih karena kamu sudah membawaku kesini. Aku bisa bertemu kalian dan meminta maaf. Aku bisa merasakan kembali hangatnya keluarga dari kalian. Dan karena kamu membawaku kemari, aku bisa melindungi sahabatku dari Naomi."


"Iya."


Aku tidak bisa melihatmu terluka, Aurel. Aku mencintaimu. Aku dengan jelas sadar jika aku mencintaimu meski aku harus menutupi semuanya, dan menjadikan persahabatan kita sebagai alasannya.


Beberapa saat kemudian seorang pelayan cafe datang membawakan makanan untuk Darrel. Laki-laki itu dengan semangat menghabiskan makanannya. Sesekali ia menyodorkan sesendok pada Aurel. Namun, gadis itu menggeleng tidak mau.


"Baiklah. Aku harus kembali ke kantor. Aku akan mengantarmu pulang nanti." Kata Darren, setelah menghabiskan makanannya dan beristirahat sejenak.


"Darrel, jam pulangmu dengan jam pulangku berbeda. Jangan terus-terusan memaksa untuk terus menungguku pulang. Kamu juga butuh istirahat. Dan, kamu juga harus memiliki waktu bersama keluargamu."


"Jangan khawatir, Aurel. Aku bisa istirahat di ruanganmu sambil menunggumu. Dan soal keluarga, aku selalu meyediakan waktu untuk mereka."


"Terserah kamu saja." Ucap Aurel, bernada kesal.


"Kamu marah?"


"Sudahlah. Cepat pergi ke kantormu. Jam istirahat sudah selesai."


"Baiklah, aku pergi dulu." Darrel mendekat dan mengecup kening Aurel. Lelaki itu kemudian pergi dari ruangan tersebut dengan santainya. Meninggalkan Aurel yang masih mematung mendapatkan kecupan dari Darrel.


Tes... Satu tetes air mata mengalir di pipinya. Ia menyentuh keningnya, bekas kecupan Darrel.


Kenapa kamu membuatku semakin dalam mencintaimu, saat aku yakin kita tidak bisa bersama, Darrel? Kenapa kamu membuat wanita yang tidak pantas sepertiku ini semakin jatuh cinta padamu?


***


Darren dan Asya baru saja dari lokasi pelaksanaan proyek. Karena jarak yang tak begitu jauh dari penginapan, Darren dan Asya memutuskan untuk berjalan santai ke penginapan.

__ADS_1


"Bagaimana lokasinya menurutmu?" Tanya Asya.


"Bagus."


"Ya, benar-benar cocok untuk pembangunan proyek kita. Semoga semuanya berjalan lancar dan berguna untuk masyarakat daerah ini." Imbuh Asya. Darren hanya menganggukkan kepalanya membalas Asya.


Suasana hening sejenak sebelum akhirnya terdengar helaan nafas Asya.


"Huufthh..."


"Kenapa?" Darren menoleh dan menghentikan langkahnya. "Kakimu sakit?"


Asya menggeleng. "Nggak. Aku hanya menyangkan saja kalau besok kita kembali."


"Sudah ku katakan kemarin. Kita..."


"Ya, aku masih mengingatnya." Potong Asya, acuh.


Darren terdiam. Dia tidak suka saat ucapannya di potong. Tanpa banyak bicara, Darren melangkah lebih dulu, meninggalkan Asya.


"Apa kamu... Eh? Darren!" Asya terjekut melihat Darren tak di sampingnya, dan sudah berjalan terlebih dulu.


"Darren!" Teriaknya, namun Darren tetap berjalan. Laki-laki itu sengaja. Dia ingin mengerjai Asya.


"Darr..." Panggilan Asya terputus saat dua orang pemuda yang mungkin seusianya menghalangi jalannya.


"Gadis cantik. Kenapa berteriak?" Tanya pemuda 1.


"Kalian siapa? Biarkan saya pergi."


"Ck. Untuk apa mengejar laki-laki itu? Dia sudah mengabaikanmu." Ucap pemuda 2.


"Tidak. Darren! Darr... Umm..." Pemuda 2 langsung membekap mulut Asya.


Darren yang tidak mendengar dan merasakan jika Asya mengikutinya pun berbalik. Rahangnya langsung mengeras melihat pemandangan di depannya. Tangannya mengepal dan tatapannya menjadi tajam. Dengan langkah lebarnya Darren mendekat.


Plak... Darren menepuk bahu kedua laki-laki itu, hingga keduanya berbalik.


Bugh... Dalam sekali gerakan, Darren melayangkan kedua tangannya tepat di perut masing-masing pemuda itu, hingga mereka tersungkur.


"Kau..." Suara mereka tersendat saat menangkap tatapan membuh dari Darren. Dengan sendirinya, tangan keduanya gemetaran.


Aura laki-laki ini, sangat menakutkan. Pemuda 1.


Apa bos ingin membunuh kami dengan mengirim kami padanya? Dia sangat menakutkan. Pemuda 2.


Darren langsung menarik Asya dalam pelukannya. Gadis itu terlihat ketakutan.


"Dar-Darren..."


"Tenanglah. Mereka nggak akan kurang ajar padamu."


Beberapa warga yang sempat melihat perkelahian tersebut langsung mendekat. Mereka menangkap kedua laki-laki itu yang masih tersungkur merasakan sakit.


"Kalian berdua ini. Selalu saja bikin rusuh." Ucap salah seorang warga.


"Maaf atas ketidaknyamanan anda di daerah kami. Mereka adalah pemuda pengangguran, suka sekali mengacau keadaan."


"Tahan mereka. Orang-orangku akan menjemput mereka." Warga itu mengangguk, mengiyakan ucapan Darren.


Setelah menyelesaikan ucapannya, Darren langsung membawa Asya. Sebelum itu, dia menelpon petugas penginapan untuk menjemputnya dan Asya.

__ADS_1


"Darren, aku ingin kembali." Ucap Asya, masih ketakutan.


"Ya. Besok kita kembali."


__ADS_2