
Darren dan Darrel turun dari mobil. Keduanya berjalan menuju sebuah gedung, tepatnya perusahaan cabang milik Gara. Mereka masuk dan langsung menuju sebuah pintu yang berada di lantai dasar. Pintu menuju sebuah ruangan yang tidak diketahui siapa pun kecuali orang-orang kepercayaan Gara.
"Tuan muda," Beberapa pengawal yang berjaga menunduk, menyapa Darren dan Darrel.
Keduanya hanya mengangguk. Mereka lalu berbelok dan masuk ke sebuah ruangan.
"Tuan muda," Kenan dan Ben menyapa.
"Ya, Paman." Balas keduanya, bersamaan.
"Kalian sudah datang." Suara bernada datar, membuat keduanya menoleh.
"Ayah?" Ucap si kembar bersamaan.
"Hai, Kak!"
"Alisha?" Lagi-lagi keduanya berucap bersamaan. Sebenarnya, mereka terkejut melihat Ayah dan Adik mereka berada di tempat itu. Terlebih lagi, waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi.
Darrel mendekati adiknya dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Kesal Alisha.
"Kamu anak kecil, kenapa disini? Sudah jam dua pagi, kenapa kamu masih melototkan mata mu itu? Apa nggak takut akan terlambat ke sekolah nanti?"
"Ck. Alisha nggak melototkan mata ya! Alisha sudah bangun tidur. Lagi pula, Ayah bolehin Alisha begadang malam ini. Dan Kak Darrel ku tersayang, besok hari libur. Alisha nggak perlu takut terlambat. Kakak paham?"
"Ck. Anak kecil..."
"Darrel!" Panggilan Darren membuat Darrel tak melanjutkan ucapannya. Lelaki itu berjalan mendekat.
"Darren, lihatlah anak kecil ini. Dia belum cukup umur untuk begadang."
"Darrel!" Darren menatap mata kembarannya.
"Ya ya, aku akan diam."
"Kenapa kamu disini, hmm? Sekarang, Kakak akan antar kamu pulang." Darren mengusap lembut rambut Alisha.
"Kak Darren, Alisha ada urusan disini. Alisha nggak akan pulang. Ayah," Gadis itu merengek sambil mendekati Ayahnya dan duduk di samping sang Ayah sembari memeluk lengannya.
"Biarkan saja, Darren Darrel. Jangan ganggu adik kalian." Ucap Gara.
"Ayah kenapa membawanya? Apa dia merengek? Haish... Jangan terlalu memanjkannya Ayah."
"Kak Darrel apaan sih? Alisha disini juga mau ikutan Kak Darren sama Kak Darrel. Kakak mau hukum si Nomi sama Hendro kan? Alisha juga mau hukum si Hardi."
"Naomi sama Hendra, dek." Koreksi Darrel.
"Nah, itu maksud Alisha." Ujarnya membuat Darrel memutar bola matanya.
Mendengar nama Hardi, kening Darren mengerut. Setahu dia, anak itu dalam pengawasan Ayahnya dan belum tertangkap sama sekali karena dia masih dirawat di rumah sakit.
"Hardi?" Ulang Darren.
"Iya."
"Anak itu! Kapan Ayah menangkapnya?" Pekik Darrel heboh.
"Pelankan suaramu, Darrel!"
"Hehehe... Maaf, Yah."
"Anak itu hanya beralasan dan memperkuatnya dengan tinggal di rumah sakit. Ayah meminta Ben dan Kenan mengawasinya dengan berpura-pura menjadi orang biasa yang sedang berobat di rumah sakit. Benar saja, dia tidak sakit. Malam ini dia keluar, Ben dan Kenan melihatnya dan langsung membawanya."
"Cih! Mereka tidak jauh berbeda." Decih Darren, pelan.
"Sekarang, ayo kita lihat mereka! Alisha sudah nggak sabar memukul Hardi. Dia benar-benar membuat Alisha takut karena terornya itu." Ucap Alisha semangat. Membuat Gara, Darren dan Darrel menggelengkan kepala.
Mereka sama-sama menuju tempat dimana Hendra, Naomi dan Hardi berada. Ketiga orang itu diikat pada kursi.
"Hai, Hardi!" Sapa Alisha sambil tersenyum manis pada lelaki itu. Namun, Hardi menganggapnya lain. Senyum Alisha begitu menakutkan dimatanya. Apalagi ketiga lelaki di belakang gadis itu, dan dua pengawal yang membawanya tadi. Benar-benar membuatnya gemetar.
Alisha berjalan mendekat, membuat Hardi melototkan matanya.
"Jangan mendekat, Alisha!"
"Hmm? Katakan lagi? Alisha nggak dengar."
"Jangan mendekat, Alisha! Ku mohon! Aku minta maaf karena sudah membuatmu takut. Aku diminta Kak Hendra untuk meneror mu. Maafkan aku."
"Emm... Aku mungkin bisa memaafkan mu. Tapi, aku nggak yakin Ayah dan kedua Kakakku memaafkan mu."
"Hah? Pa-paman, K-kak, ma-maafkan aku."
"Mudah saja. Kamu tinggal pilih, mau ku pukul sampai aku puas, atau diurus Ayah dan Kakakku?" Tanya Alisha. Dia kemudian lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Hardi. "Kamu tahu, diurus Ayah dan Kakakku lebih menakutkan." Lanjutnya sambil berbisik.
"E-enggak. Aku mau kamu pukul sampai kamu puas. Aku nggak apa-apa. Asal jangan serahkan aku pada Ayah dan Kakakmu." Ucap Hardi cepat.
"Baiklah. Siapkan dirimu."
"Ba..."
Plak...
__ADS_1
"Alisha aku..."
Plak...
Plak...
Plak...
Gadis itu menampar Hardi dengan begitu semangat. Bahkan dia tidak memberi waktu untuk remaja seusianya itu untuk berbicara.
Plak...
Darren dan Darrel sedikit terkejut melihat Alisha yang jauh berbeda dari Alisha yang manja. Yang mereka lihat sekarang, adalah adik mereka yang dipenuhi amarah. Gara hanya menatap putrinya dalam diam. Dia tahu, bagaimana rasa takut putrinya itu saat diteror. Terutama saat peneror tersebut mengancam untuk membunuh si kembar. Putrinya itu selalu menangis jika membayangkan kehilangan kedua Kakaknya. Dan sekarang, ia akan membiarkan Alisha meluapkan semua emosinya.
Plak...
"Aku benci saat kamu membuatku ketakutan. Dan aku lebih benci saat kamu mengancam untuk membunuh Kakakku."
"Nona muda mengerahkan banyak tenaganya saat menampar anak itu. Ku rasa, itu sangat menyakitkan." Bisik Ben pada Kenan.
"Ya. Kurasa nona muda hanya mewarisi wajah nyonya, bukan sifatnya. Saat marah seperti ini, dia sepenuhnya mirip tuan." Balas Kenan.
"Hmm... Aku setuju."
Alisha masih tetap menampar Hardi. Pipi lelaki itu memerah, begitupun dengan telapak tangan Alisha.
Darren yang melihatnya langsung menahan tangan Alisha yang sudah melayang, siap menampar Hardi lagi.
"Hentikan, Alisha!" Ucap Darren.
"Kak, aku..."
"Masih belum puas?" Potong Darrel. "Sudahlah, dek. Biarkan kami yang melanjutkan. Tanganmu sudah begitu memerah. Ibu pasti akan khawatir nanti."
Alisha menarik nafasnya, lalu mengangguk. Tapi, beberapa detik kemudian, ia menatap Ayah dan kedua Kakaknya.
"Alisha akan berhenti. Tapi, biarkan Alisha melakukan sesuatu." Ucapnya, memohon.
Ketiga lelaki itu hanya mengangguk. Gadis itu tersenyum senang. Ia menghampiri Naomi dan berdiri tepat di depannya.
Plak...
"Itu untukmu karena sudah jahat pada Kak Asya." Ujarnya, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang istirahat dengan santai.
Gadis kecil sialan! Shhh... Tamparannya sangat keras. Pipiku sakit sekali. Batin Naomi.
Setelah Alisha pergi, kini giliran Gara dan si kembar. Ayah si kembar itu hanya diam dan menatap mereka dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan si kembar, mereka sudah berdiri tepat di hadapan Hendra dan Naomi.
"Cih! Kalian kemari untuk menghukumku?" Hendra tersenyum mengejek. "Benar-benar saling menjaga."
Bugh...
Darren memberi bogeman tepat di rahang kiri Hendra, menyebabkan sudut bibir lelaki itu sobek.
"Huh! Ternyata kau belum cukup puas memukulku tadi." Ujarnya.
"Kalian tahu, anak kecil itu?" Hendra melirik Hardi yang sedang menyesuaikan penglihatannya yang kurang jelas setelah merasa pusing karena tamparan Alisha.
"Anak itu adalah boneka ku. Aku sangat senang memanfaatkannya."
"Dia adikmu, bodoh!" Kesal Darrel.
"Adik? Huh! Dia bukan adikku. Dia hanya putra dari Ayah angkatku yang baru kembali dari luar negeri. Dia ancaman terbesarku untuk mendapatkan perusahaan Ayah."
"Dan kau, Darrel! Kau tahu, kenapa kau tidak bisa melacak keberadaan Aurel setelah berita kelulusan? Itu karena aku yang menjadi penghalangnya. Ketiga suruhanmu berhasil menemukan informasi tentang Aurel. Tapi, karena kecerdasanku, aku bisa mempengaruhi mereka untuk berkhianat padamu. Aku hebatkan? Hehehe."
"Kau!"
Bugh...
Darrel melepaskan satu pukulan yang mengarah pada perut Hendra. Membuat lelaki itu meringis saat tangan bertenaga itu meyentuh peritnya.
Darren mendekati Hendra dan melepas ikatan Hendra. Semua hanya memeperhatikan tanpa berniat mencegah lelaki itu. Gara juga ingin melihat, bagaimana putranya menyelesaikan msalah Hendra ini.
"Shh... Akkhh... Pukulanmu, lumayan." Ujar Hendra. Ia menegakkan tubuhnya dan melemaskan pergelangan tangannya. "Kita bertarung?" Ia menatap Darren dengan senyum miring.
"Kita selesaikan ini!" Balas Darren.
Kedua lelaki itu saling melempar tatapan permusuhan. Hendra menyerang terlebih dahulu, namun Darren mampu mengelak dan memberikan serangan balasan.
Perkelahian antara keduanya tak bisa dihindari. Darren lebih unggul dari Hendra. Lelaki itu sudah kehabisan tenaga melawan Darren.
Bugh...
Satu pukulan lagi, tubuh Hendra terjatuh. Darah mengalir dari sudut bibirnya dan juga hidung. Dia begitu lemah, lalu tidak sadarkan diri.
"Bawa dia ke ruang perawatan. Setelah sadar, masukkan dia ke pulau kurungan." Ucap Darren, yang langsung di laksanakan pengawalnya.
Darrel bergidik mendengar Darren menyebut pulau itu. Tempat yang Ayahnya gunakan untuk menghukum orang-orang yang memiliki kesalahan fatal pada keluarga mereka, termasuk Nenek tiri mereka, Laura.
Darren kemudian beralih pada Naomi. Wanita itu, kini berwajah pucat dan tangan gemetaran. Tatapan Darren yang tajam membuatnya susah meneguk ludah.
"Da-Darren a-aku..."
__ADS_1
Plak...
"Tutup mulutmu! Terima saja hukuman mu!"
Naomi menggeleng keras, tidak ingin menerima hukuman. Tapi, Darren adalah Darren. Dia tidak mendengar penolakan.
Plak...
Plak...
Plak...
Lelaki itu beberapa kali menampar Naomi. Membuat pipi gadis itu membengkak.
"Da..."
"Sekali lagi kau bicara, aku tutup mulutmu selamanya!" Ancam Darren.
Naomi langsung terbungkam. Darren tidak main-main dengan ancamannya. Dia tidak ingin bisu seumur hidup.
*Kalau begini, l*ebih baik Alisha saja yang menamparku. Batin Naomi.
"Paman Kenan!"
"Ya, tuan muda."
"Kirim dia ke RSJ di negara D. Masukkan dia sebagai perawat dan pastikan, tidak ada celah untuk kabur dari sana." Ucap Darren.
"Baik, tuan muda."
RSJ? Tidak-tidak! Aku tidak mau mejadi perawat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Bisa-bisa aku sendiri yang akan gila. Tidak! Aku tidak bisa! Aku harus memohon pada Darren.
"Darren! Tolong, jangan kirim aku kesana. Aku nggak mau jadi perawat di rumah sakit jiwa."
"Huh? Baiklah. Kalau begitu, kau ke pulau kurungan saja."
"Ya. Aku mau. Aku mau ke pulau itu. Aku lebih baik di kurung dibandingkan mengurus orang-orang sakit jiwa."
Darren tersenyum samar mendengar jawaban Naomi. Sementara Darrel, dia meneguk ludahnya. Naomi mengantar dirinya masuk dalam jurang kematian.
"Baiklah kalau itu mau mu. Aku tidak akan mencegahnya. Tapi ingat! Tidak ada kesempatan lagi untuk muenganti tempat hukuman."
"Ya. Aku siap." Jawab Naomi, yakin.
"Ayo, Paman! Bawa dia."
"Baik, tuan muda." Jawab Kenan. "Ayo, Ben!"
"Ya."
Paman Kenan dan Paman Ben segera melepaskan ikatan Naomi. Dua pengawal mendekat dan langsung membawa Naomi pergi.
"Kami permisi tuan, tuan muda." Ucap Ben dan Kenan sedikit menundukkan kepala mereka.
"Ya."
"Ya, Paman."
Jawab Gara dan si kembar bersamaan. Setelah perginya Paman Kenan dan Paman Ben, mereka sama-sama menatap Hardi. Anak itu gemetaran melihat tiga lelaki yang sedang menatapnya.
"Ayah, apa Ayah sudah memberinya pelajaran karena menyakiti putri Ayah?" Ucap Darrel. Ia sangat kesal mengingat adiknya diteror, begitupun Gara dan Darren.
"Belum."
"Kalau begitu, Ayah pertama."
"Baiklah." Gara bengun dan berjalan mendekati Hardi. Meskipun usianya tidak muda lagi, tatapan matanya yang jernih dan tajam membuat Hardi merinding.
"Pa-paman, ma-maaf. A-aku hanya disuruh Kak Hendra. Di-dia mengancamku. Dia akan menyakiti Ayahku jika aku nggak menurut."
Gara menepuk pundak Hardi cukup kuat, membuat anak itu meringis.
"Kau anak yang berbakti pada orang tua. Tapi, saya rasa, kau juga menikmati peranmu. Kau melakukannya dengan penuh semangat dan tanpa keraguan. Kau tahu? Saya tidak pernah membuat putri saya menangis. Tapi, kamu... Ck. Saya sudah terlalu banyak bicara." Kesal Gara saat sadar, dia terlalu panjang bicara pada anak kecil itu.
"Baiklah. Hukuman mu, tinggal di pulau kurungan 1 bulan." Ucap Gara lalu pergi begitu saja menemani Alisha yang sedang tertidur di ruang istirahat.
Ck. Ingin sekali aku memukul wajah anak itu. Tapi, aku sudah berjanji pada Alula untuk tidak menggunakan kekerasan. Huufthh... Batin Gara.
Melihat Ayah mereka pergi, Darren dan Darrel mendekat. Darrel menatap Darren yang juga sedang menatapnya. Sepertinya pikiran kedua saudara itu sama saat melihat kedua pipi Hardi yang dipenuhi bekas tamparan Alisha.
Tapi, tangan keduanya tidak bisa di ajak kerja sama. Darrel melayangkan pukulannya pada perut Hardi.
Bugh...
"Untuk adikku. Setelah dari pulau kurungan, kau berurusan dengan Axel." Ucap Darrel lalu pergi.
Bugh...
Darren juga meninju perut Hardi. Tapi, kekuatan pukulannya ia perkecilkan.
"Ini juga untuk Alisha. Minta maaflah padanya, juga Axel." Ujar Darren. "Obati dia! Setelah itu, bawa dia sesuai yang Ayah katakan."
"Baik, tuan muda."
__ADS_1
Darren kemudian berjalan menghampiri Ayahnya dan kedua adiknya.