
Darrel berjalan pelan mendekati istrinya setelah keluar dari kamar mandi. Sebenarnya, ia kesal dengan Aurel yang mengabaikannya dan memilih berjalan bersama Asya tadi. Dia mendiami Aurel sejak dirinya masuk kamar, dengan harapan Aurel mau memanggilnya dan mengelus-elus rambutnya sambil berkata, "aku minta maaf, sayang." Tapi, semua ekspetasinya berbeda dengan realita. Justru Aurel malah terlihat santai dan mengabaikannya. Jadilah dirinya kesal dan memilih diam di kamar mandi cukup lama, dan baru keluar sekarang.
Dengan wajah cemberut Darrel menaiki ranjang. Ia menatap Aurel yang sedang fokus pada ponselnya.
"Sayang," Panggilan Darrel diabaikan Aurel.
"Sayang," Darrel pelan-pelan menaraik lengan piyama Aurel. Tetap saja Aurel tak memperdulikannya.
"Sayang."
Darrel yang kesal karena Aurel tak meresponnya pun menarik bantal yang bertengger di paha Aurel. Ia melemparnya sembarangan dan membaringkan kepalanya di paha sang istri.
"Sayang." Darrel menarik pelan ponsel yang Aurel pegang. Namun, wanita itu menepis tangan Darrel tanpa melihatnya. Matanya benar-benar fokus pada layar handphone.
"Aurel aku..."
Cup...
"Tidurlah." Ujar Aurel dengan santai setelah mengecup bibir Darrel. Sebelah tangannya yang lenggang bergerak mengusap rambut Darrel.
Wajah Darrel seketika memerah. Kenapa istrinya berubah dingin sekaligus bersikap manis seperti ini? Benar-benar menguji pertahanannya.
"Sayang,"
"Tidurlah, Darrel."
"Kamu juga harus tidur. Ada nyawa lain yang hidup di tubuhmu. Kamu harus ingat." Ucap Darrel, dan Aurel hanya diam. "Apa yang kamu lihat?" Lanjutnya.
"Kamu mau melihatnya juga?" Aurel tersenyum senang. Melihat binar bahagia di wajah Aurel, Darrel tersenyum. Ia dengan semangat mengangguk.
"Bangunlah. Aku mau berbaring juga."
Darrel segera bangun dan membantu Aurel berbaring. Setelah itu, dia juga ikut berbaring di samping istrinya. Menempel dan memeluk sang istri cukup erat.
"Kamu lihat ini." Ucap Aurel, yang dituruti Darrel. Di layar handphonenya, terdapat berbagai macam perlengkapan bayi. "Semuanya terlihat sangat kecil dan imut. Aku ingin membelinya nanti."
"Ya, kita akan membelinya nanti." Ucap Darrel. Lelaki itu mengecup leher dan pipi Aurel beberapa kali. Aurel membiarkannya dan tidak merasa terusik sedikitpun.
"Iya. Tapi, saat usia kandunganku 7 bulan."
"Baiklah." Balas Darrel. "Sekarang, kamu tidur, okey?"
Aurel menoleh dan mengangguk sambil tersenyum. Ia mematika handphonenya dan menyimpannya. Kemudian ia berbalik hingga keduanya saling berhadapan.
Darrel mengusap rambut Aurel sambil tersenyum. Sedangkan Aurel, wanita itu menatap lekat wajah Darrel. Ia semakin mendekatkan wajahnya, dan...
Cup
Aurel mencium bibir Darrel. Ciumannya masih begitu kaku. Tapi, ada keinginan untuk mencium suaminya itu lebih lama.
Tubuh Darrel menegang. Tidak menyangka Aurel akan terlebih dahulu menciumnya seperti ini. Hatinya begitu bahagia.
Aurel melepaskan ciumannya lalu menatap Darrel. "Aku ingin berciuman lebih lama." Ujarnya dengan sedikit rengekan. Hal itu membuat Darrel semakin bahagia. Tapi, tiba-tiba binar bahagia meredup. Ia takut akan kelepasan dan tidak bisa mengontrol dirinya.
"Sayang, kita tidur ya?"
"Aku maunya cium kamu, Darrel."
"Tapi..."
"Nggak boleh nolak." Potong Aurel. Darrel terdiam dan mengangguk perlahan. Aurel tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Ayo!" Ujar Aurel.
Darrel mendekat dan langsung mencium bibir Aurel. Ia bisa merasakan istrinya membalas ciumannya. Setelah beberapa saat, Aurel memukul pelan dada Darrel sebagai tanda memintanya berhenti.
Aurel lagi-lagi tersenyum padanya. "Aku sangat senang. Terima kasih, Darrel."
"Aku juga harus berterima kasih padamu." Balas Darrel.
Cup...
"Aku mencintaimu. Selamat tidur, sayangku." Ucap Aurel. Memeluk Darrel, menyusupkan wajahnya di dada sang suami, lalu memejamkan matanya, tertidur.
Darrel mengecup puncak kepala Aurel berkali-kali. "Aku juga mencintaimu. Selamat tidur, sayang."
Kamu menyiksaku lebih parah dari malam kemarin, sayang. Lanjut Darrel dalam hati.
***
Pagi yang cerah, secerah wajah Darren saat ini. Lelaki itu duduk di sisi ranjang sambil terus menatap sang istri yang sedang menyisir rambut.
"Hari ini, mau kemana?" Tanya Darren, tiba-tiba.
"Nggak kemana-mana. Di rumah saja." Balasnya menatap Darren melalui cermin.
"Antar Alisha ke sekolah?"
Asya langsung menghentikan gerak tangannya yang menyisir rambut. Ia berbalik dan menatap sang suami. "Boleh." Jawabnya dengan semangat.
"Cepatlah! Alisha mungkin sudah di ruang makan."
Asya mengangguk dan langsung mencepol rambutnya. Memperlihatkan lehernya yang putih namun terdapat beberapa tanda merah di tengkuknya. Darren langsung meneguk ludahnya.
Bukannya bangun, Darren malah menarik tangan Asya hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Lelaki itu memeluk Asya dan menyusupkan kepalanya di leher Asya.
"Darren, apalagi? Nanti Alisha nya keburu pergi."
"Kamu yakin mau keluar dengan gaya rambut seperti ini?"
"Memangnya kenapa?"
Darren sedikit menjauhkan wajahnya dari leher Asya, lalu mencium telinga wanita itu. "Ada tanda merah di tengkuk mu. Kamu ingin memamerkannya pada Ayah dan Ibu?"
Asya langsung melototkan matanya. Ia berbalik menatap sang suami. "Benarkah?" Darren mengangguk pelan.
"Ya Tuhan. Malu sekali jika Ayah dan Ibu benar-benar melihatnya." Gumam Asya, cepat-cepat menggerai rambutnya. Membiarkannya terurai menutup tanda merah itu. Darren yang melihatnya terkekeh pelan.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Enggak."
"Ck. Ini salah kamu. Sudah ku bilang, jika mau, di tempat lain saja. Jangan macam-macam dengan leherku." Kesal Asya, membuat Darren tersenyum. "Apa sudah tertutup semuanya?"
"Sudah."
"Ayo, pergi!" Asya beranjak namun Darren kembali menahannya. "Kenapa lagi, sayangku?"
"Ciuman pagiku belum." Ujar Darren.
Asya memutar bola matanya, kemudian tersenyum. Darren benar-benar bersikap seperti anak kecil sekarang. Asya mendekat dan langsung mencium bibir suaminya.
"Sudahkan?" Darren mengangguk setelah ciuman mereka terlepas. "Sekarang kita bisa pergi?"
__ADS_1
"Belum bisa."
"Eh, kenapa?"
"Bukankah ada poduk kecantikan yang bisa menutup bekas itu?"
Asya terdiam sejenak. Kemudian berbalik menatap Darren dengan senyum bahagia. "Kamu benar. Terima kasih, sayang." Asya mengecup pipi Darren lalu bergerak menuju meja riasnya. Ia mengambil foundation dan memberikannya pada Darren.
"Tolong oleskan."
Darren meraihnya dan segera menyingkirkan rambut Asya. Mengoleskan foundation tersebut pada bekas merah yang dibuatnya.
"Sudah."
"Makasih." Asya kembali menyimpan benda tersebut. Kemudian keduanya sama-sama menuju ruang makan.
Di ruang makan, Gara, Alula dan Alisha juga baru saja tiba. Tak lama Darrel dan Aurel, kemudian Asya dan Darren.
"Bu, aku mau roti saja." Ucap Alisha pada Ibunya. Alula dengan cekatan mengambil roti untuk putrinya.
"Roti aja, dek?" Darrel menatap adiknya.
"Enggak lah. Pakai selai."
"Kirain."
"Apa?"
"Enggak. Cepat makan! Nanti terlambat ke sekolah."
"Ck. Kak Darrel nggak jelas." Balas Alisha.
"Makanlah, sayang. Nanti kamu terlambat ke sekolah."
"Iya, Bu." Jawab Alisha.
Semua menyantap makanan mereka dengan tenang. Setelah itu, Alisha berangkat ke sekolah. Gadis itu tersenyum cerah karena Darren dan Asya yang akan mengantarnya. Ia berpamitan pada orang tuanya dan juga Darrel Aurel.
"Alisha sekolah dulu." Ujarnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
"Belajar yang rajin, ya?" Alula mencium pipi kiri dan kanan putrinya.
"Iya, Bu." Balasnya. "Ayah, Alisha ke sekolah dulu."
"Iya, nak. Hati-hati." Gara mengecup kening putrinya.
"Kak Darrel sama Kak Aurel janji ya, lain kali gantian kalian yang anterin."
"Iya. Lain kali." Balas Darrel.
"Janji lho. Jangan bohong."
"Iya." Balas Darrel.
"Kak Aurel, Alisha boleh ya cium adeknya sebentar?"
Aurel tersenyum dan mengangguk. "Boleh." Alisha dengan semangat mendekati Aurel dan mencium perut wanita itu.
"Aunty Alisha ke sekolah dulu, ya?" Ujarnya, lalu mencium perut itu sekali lagi.
Setelah itu, dia menggandeng Asya dan Darren menuju mobil. Beberapa saat kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah.
__ADS_1