Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 102


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan tersebut bergantian menggendong Meeya. Hingga bayi itu terlelap, mereka baru membiarkan bayi tersebut tidur di tempatnya.


Perhatian Darren yang tertuju pada bayi tersebut tiba-tiba buyar oleh deringan handphonenya. Ia segera berpamit keluar untuk mengangkat telpon.


"Hallo, tuan muda?"


"Hmm?"


"Informasi yang anda minta tentang penguntit itu sudah kami dapatkan. Dia juga sudah bersama kami sekarang."


"Bagus! Tahan dia di tempat biasa. Saya akan segera kesana."


"Kamu mau kemana?"


Deg...


Darren langsung menoleh mendengar suara yang dia kenal. Suara wanita yang begitu ia cintai.


"Asya?" Gumamnya, dan segera mematikan telponnya. Darren melangkah cepat mendekati sang istri.


"Kamu mau kemana?"


"Aku..."


"Jangan berbohong padaku." Potong Asya.


Darren menarik nafasnya. Ia meraih tangan istrinya dan mengecupnya. "Aku akan menjelaskannya. Ayo, ke taman saja!"


"Enggak! Kita pulang saja. Ayah dan Ibu akan menginap disini. Kita pulang bersama Alisha. Dia harus sekolah besok."


"Baiklah."


Darren menautkan tangannya dengan tangan Asya, lalu berjalan bersama menuju ruang rawat Aurel. Disana, Alisha sudah menunggu.


"Kak Darren, Kak Asya, kita pulang sekarang?"


"Ayo!" Asya melepaskan tautan tangannya bersama Darren, kemudian beralih merangkul pundak Alisha. Setelah berpamitan, mereka segera ke parkiran.


Dalam perjalanan kembali ke rumah, tidak satupun dari mereka yang berbicara. Darren fokus pada jalanan dan sesekali melirik istrinya. Asya diam dan sesekali memperhatikan Alisha yang duduk di jok belakang.


Setelah mobil tiba di rumah, Darren turun dan membuka pintu mobil untuk Asya. Ia kemudian beralih menggendong Alisha yang sudah terlelap.


Usai menidurkan Alisha di kamarnya, Darren dan Asya kembali ke kamar mereka. Darren langsung memeluk Asya dari belakang setelah tiba di kamar.


"Kenapa diam saja saat di mobil tadi? Hmm? Kamu marah padaku?"


Asya menarik nafasnya, lalu berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Darren.


"Aku ingin mendengar penjelasanmu."


"Aku akan menjelaskannya. Tapi, berjanjilah untuk tidak marah padaku."


"Tergantung."


"Tergantung? Kalau begitu, aku nggak jadi menjelaskannya."


"Baiklah. Aku juga akan marah padamu." Asya melepaskan tangannya dan melipatnya di dada.


"Aku akan menjelaskannya." Darren mengalah dan langsung menggendong Asya, membuat wanita itu tersenyum. Ia lalu mendudukkan istrinya di ranjang, kemudian menaiki ranjang dan ikut duduk bersama sang istri.


"Sini, lebih dekatan!" Ucap Darren, namun Asya tak peduli. Jadi, Darren yang bergeser lebih dekat.


"Yang menelponku tadi adalah pengawal. Aku memintanya mencari tahu identitas seseorang yang menguntitku selama ini."


Asya menatap suaminya dengan kening mengerut. "Ada yang menguntitmu? Siapa yang berani melakukan itu?"


"Aku nggak tahu, siapa orangnya. Yang jelas, jika ushanya berjalan lancar seperti ini, berarti dia bukan orang luar."


"Maksudmu? Dia orang yang dekat denganmu?"


"Mungkin saja. Bisa jadi, dia salah satu pengawalku."


"Apa suruhanmu itu sudah menangkapnya?"


"Ya. Dia yang tadi ingin aku temui."


"Oohh..." Ucap Asya, sambil tersenyum kikuk. Ia sudah salah sangka pada Darren tadi.


"Sebenarnya, aku nggak ketemu klien tadi. Aku bertemu Dessy." Darren memutuskan untuk jujur pada istrinya.


Asya yang mendengarnya langsung berbalik dengan mata melotot. Berarti Darren berbohong padanya tadi.


"Ka..."


"Dengarkan aku!" Potong Darren, cepat. "Aku bertemu dengannya untuk memberinya pelajaran. Aku marah karena dia sudah menghinamu."


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku menamparnya dan mencekik lehernya." Jawab Darren dengan ekspresi biasa saja, tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Kalau pun kamu marah, aku nggak akan menyesal. Dia harus diberi pelajaran. Batin Darren.


"Kamu menampar dan mencekiknya? Kamu melakukannya dengan tanganmu sendiri?"


"Tentu saja. Aku nggak peduli jika orang lain menganggap aku pecundang, yang berani menyakiti wanita."


"Ck. Kenapa kamu nggak ajak aku?" Kesal Asya sambil mencubit pelan lengan suaminya.


Darren yang mendengarnya sedikit terkejut atas apa yang Asya ucapkan. "Kamu... Nggak marah?"


"Aku nggak marah. Aku kesal karena kamu nggak ajak aku." Ucap Asya. "Aku tuh ya, keseeel banget sama si Dessy itu. Udah sok kenal sama suami aku, ngehina aku lagi. Aku pengen jambak dia. Sentil bibirnya sampai bengkak, terus aku gosok-gosok bibirnya pakai cabe rawit." Kesal Asya.


"Huuh... Syukurlah kamu nggak marah."


"Terus, soal penguntit itu, apa ada hubungannya dengan Dessy?"


"Ya. Dia yang menyuruh orang itu menguntitku. Dia tahu semua tentangku dari orang itu. Dia tidak mungkin mengenaliku dengan mudah setelah bertahun-tahun tidak bertemu, jika tidak tahu tentangku. Tapi, setahun terakhir ini dia kehilangan informasiku."


"Berarti, setahun terakhir ini, penguntit itu tidak bersamamu."


"Ya. Ku rasa begitu. Ada beberapa pengawal yang berhenti bekerja."


"Hmm... Aku jadi penasaran siapa itu." Asya berpikir keras.


"Sudah. Sekarang, sudah malam. Ayo, tidur!"


Asya menatap suaminya. "Kamu akan menemuinya, kan?"


"Iya."


"Aku ikut!" Darren langsung menatap mata Asya. "Nggak ada penolakan!" Lanjut Asya, yang membuat Darren terkekeh. Lelaki itu langsung membawanya dalam pelukan.


"Sekarang, kamu sudah berani mengancamku."


Asya mendongak dan menatap mata Darren sambil berkedip-kedip lucu. "Boleh ya, sayang?"


"Baiklah." Balas Darren, pasrah.


"Makasih, sayang." Ucap Asya. "Oh ya, sekalian bawa Dessy juga."


"Buat apa?"


"Aku mau kasih pelajaran juga buatnya."


"Hmm... Baiklah."


"Sekali lagi, makasih ya, Darren sayang." Asya bertingkah genit.


"Aku nggak menggoda."


"Yang baru saja kamu lakukan?"


"Ck. Kamu aja yang mesum! Sudahlah. Ayo, tidur."


Asya yang hendak berbaring ditahan oleh Darren. "Tidur?"


"Iya."


"Nggak semudah itu, sayang. Kamu belum membayarku. Kita langsung turun saat mendengar teriakan Darrel tadi."


"Oh iya, aku lupa. Baiklah, akan aku bayar sekarang."


Cup...


Asya dengan cepat berbaring setelah mengecup bibir Darren. Ia menarik selimut, menutup tubuhnya yang tertidur membelakangi Darren. Ia menutupnya hingga ujung kepala.


Darren yang melihatnya tersenyum tipis. Asya sedang mengikngkari janjinya untuk bayar dengan durasi panjang.


Darren membalikkan tubuh sang istri hingga telentang, lalu menundukkan kepalanya dan menarik turun selimut itu. Terlihat wajah Asya dengan mata yang dipaksa terpejam. Darren semakin mendekatkan wajahnya.


"Buka matamu!" Bisiknya pelan. Suara Darren yang lembut, dan hembusan nafasnya yang menerpa wajah Asya, membuat wanita itu membuka matanya.


Deg...


Jantungnya berdetak cepat saat mendapati wajah Darren tepat di depannya. Dan beberapa detik kemudin, bibir Darren menyentuh bibirnya. Lelaki itu menciumnya dengan lembut. Mengambil bayarannya, yang seharusnya ia dapat sejak tadi.


***


Setelah menjenguk Aurel dan baby Meeya di rumah sakit, Asya dan Darren bergegas ke tempat dimana penguntit itu dibawa. Darren juga meminta pengawalnya untuk membawa Dessy.


"Selamat siang, tuan muda, nyonya muda!" Sapa setiap karyawan yang berpapasan dengan Darren dan Asya.


Darren hanya mengangguk dengan ekspresi dinginnya. Sementara Asya, wanita itu membalas sapaan mereka sambil tersenyum manis. Bahkan Darren sampai merasa kesal karena perbuatan Asya itu.


Tangan yang awalnya menggandeng tangan Asya, kini berpindah merangkul posesif pinggang Asya. Hal itu membuat Asya menatapnya.


"Balas saja sapaan mereka. Tapi, jangan tersenyum!" Ucapnya dingin, dengan pandangan yang fokus ke arah depan. Asya diam-diam tersenyum. Suaminya sedang cemburu sekarang.


Langkah mereka tiba di sebuah lift. Pasangan suami istri itu memasukinya.

__ADS_1


"Oh ya, sayang. Katanya, kita mau ketemu penguntit itu. Kenapa kita malah ke kantor cabang?"


"Karena ini lah tempatnya." Balas Darren. Asya mengernyit bingung, tapi tak ia lanjutkan bertanya.


Setelah lift berhenti, Darren bersama Asya segera menuju ruangan yang dibuat khusus untuk pemilik perusahaan ketika berkunjung. Asya sedikit terkejut setelah memasuki ruangan tersebut. Di dalam terdapat sebuah lift juga, yang Asya tidak tahu untuk apa lift tersebut.


Darren memasuki lift tersebut, tidak dengan Asya. Wanita itu masih berdiri terpaku di tempatnya, dengan tatapan bingung.


"Kita sudah berada di lantai paling atas. Ke mana lagi kita akan pergi?"


"Kamu akan tahu nanti. Ayo!" Darren mengulurkan tangannya mengajak Asya masuk. Wanita itu menurut. Lift mulai bergerak menurun. Setelah beberapa saat, mereka tiba.


"Selamat datang, tuan muda, nyonya muda!" Sapa setiap pengawal saat Darren dan Asya keluar dari lift.


Darren mengangguk. Ekor matanya melirik pada Asya, memastikan wanita itu tidak tersenyum pada para pengawal tersebut. Saat Asya hendak menjawab sapaan mereka, tangan Darren yang sejak tadi bertengger di pinggang Asya, meremas pelan pinggang ramping tersebut hingga Asya menoleh padanya.


"Anggukkan saja kepalamu! Jangan tersenyum pada mereka!" Ucap Darren, pelan.


Asya menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar permintaan Darren. Ia pun hanya menganggukkan kepala, membalas sapaan para pengawal. Darren lalu membawa Asya menuju sofa. Keduanya duduk bersama.


"Bawa penguntit itu kemari!" Perintah Darren.


Seorang pengawal langsung melakukan perintah Darren. Beberapa menit kemudian, ia kembali bersama penguntit yang Darren maksud.


"Tu-tuan, ma-maafkan aku!" Lelaki yang ternyata salah seorang pengawal Darren.


"Huh!" Darren tersenyum miring. Jika tidak memikirkan ada Asya disini, dia sudah menghajar lelaki itu.


"Tuan..."


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Darren, dingin.


"Tu-tuan, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya. Wanita itu, meminta saya memberitahu dia semua kegiatan tuan. Memberinya foto tuan. Saya sangat butuh uang waktu itu. Saya terikat dengannya. Saya terus merasa bersalah pada tuan muda. Jadi, saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Itu satu-satunya cara agar saya tidak membocorkan setiap kegiatan tuan pada wanita itu. Maafkan saya, tuan."


"Kau tahu? Saya tidak suka dengan penghianat."


"Maafkan saya, tuan. Nyonya, tol..."


Bugh...


Seorang pengawal langsung menendang tubuh lelaki itu hingga terjerembap di lantai. Asya yang melihatnya terkejut dan reflek memegang tangan Darren. Membuat Darren menoleh padanya.


"Beraninya kau meminta tolong pada nyonya!" Ucap pengawal tersebut.


"Biarkan dia." Ucap Darren dengan mata tertuju pada Asya. Dia tahu, istrinya itu takut melihat kejadian itu. "Mau ku antarkan ke ruang istirahat?" Tanya Darren, lembut.


Asya menggeleng. "Aku nggak mau." Ucapnya. "Sayang, bisakah kamu lepaskan dia? Dia nggak sepenuhnya bersalah. Dia berbuat seperti itu karena membutuhkan uang."


"Dia bisa memberitahuku jika dia membutuhkan uang." Jawab Darren. Asya terdiam. Wanita itu menghembuskan nafasnya. Yang Darren katakan benar. Dia tidak perlu melakukan hal yang membuatnya sulit seperti ini, jika menginginkan uang. Darren bukan orang yang tidak suka memberi. Apalagi saat orang membutuhkannya.


"Aku nggak akan melepaskan dia. Tapi, aku nggak akan memberinya pelajaran yang berat. Hanya peringatan untuknya nggak mengulangi lagi kesalahannya." Lanjut Darren. Asya mengangguk setuju. Setidaknya, lelaki itu tidak akan terluka parah.


"Bawa dia pergi! Beri dia pelajaran yang ringan. Jangan sampai dia cedera parah."


"Baik, tuan muda!"


Pengawal tersebut segera membawa lelaki itu menjauh. Beberapa menit kemudian, dua pengawal datang lagi dengan membawa Dessy.


"Dessy?" Asya tersenyum riang. Seolah sedang bertemu sahabat yang sudah begitu lama terpisah.


Dessy yang mulutnya tersumpal kain, hanya bisa menatap Asya dengan tatapan benci. Seandainya tangannya tidak terikat, ia akan berlari ke arah Asya dan menjambak rambutnya.


Asya berdiri, membuat Darren ikut berdiri. "Sayang, apa boleh ku beri dia pelajaran sekarang?" Tanya Asya, sambil menatap Darren.


"Tentu saja."


Asya tersenyum, kemudian maju selangkah. Wanita itu kembali berhenti. Tiba-tiba ia berbalik dan memeluk Darren. Lelaki itu juga balas memeluknya.


"Minta semua pengawal keluar." Gumam Asya pelan, sambil menyembunyikan wajahnya di dada Darren.


Darren menatap pengawal-pengawal tersebut, lalu mengisyaratkan mereka untuk pergi dari ruangan itu.


"Mereka sudah pergi." Ucapnya. Ia menunduk dan mengecup puncak kepala Asya. "Ada apa? Hmmm? Apa kamu berubah pikiran dan nggak mau memberinya pelajaran?"


Asya menggeleng. "Bukan. Aku akan tetap memberinya pelajaran. Tapi, bukan dengan cara yang ku katakan semalam."


"Lalu?"


Asya mendongak menatap Darren. Ia melepaskan pelukannya. Kedua tangannya beralih memegang kedua pipi Darren, lalu berjinjit dan mencium bibirnya.


Dessy yang melihatnya melotot marah. "Hmmm... Hmmm..." Ia berusaha berteriak untuk menghentikan Asya. Namun, ia tidak bisa karena mulutnya tersumpal kain.


Sementara Darren, lelaki itu cukup terkejut dengan cara Asya memberi pelajaran pada Dessy. Namun, ia menikmatinya. Perlahan tangannya terangkat menangkup sebelah pipi Asya. Sebelahnya lagi, ia menahan tengkuk Asya dan memperdalam ciuman mereka. Sayang sekali jika dia melewatkan kesempatan emas ini.


Dessy yang melihat Darren menikmati ciuman itu, semakin syok. Matanya memerah dengan air mata yang mulai menetes.


Sementara Asya, dia mulai merasa kesal saat Darren mulai mendominasi ciumannya. Bibirnya mulai mati rasa. Darren hanya menjeda ciuman mereka sebentar, kemudian melanjutkannya. Dan saat Asya ingin melepasnya, Darren malah semakin kuat menahan tengkuknya. Asya pasrah. Selain memberi pelajaran pada Dessy, ia berharap wanita itu sadar. Darren hanya mencintai dirinya, dan hanya akan menjadi miliknya.


Saat sadar jika istrinya memaksakan diri untuk tidak memintanya berhenti sejenak, Darren pun melepas ciumannya. Lelaki itu mengusap bibir Asya yang memerah.

__ADS_1


"Ini milikku." Ucapnya, sambil tersenyum manis ke arah sang istri. Membuat Asya kembali memeluknya. Kali ini, wajahnya ia hadapkan pada Dessy. Dengan tingkah menyebelkan nya, ia menjulurkan lidahnya ke arah Dessy. Membuat wanita itu semakin kesal padanya.


__ADS_2