
Setelah dua hari dirawat, Asya akhirnya dipulangkan. Darren mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa pulang. Sementara Asya, wanita itu duduk manis sambil memperhatikan suaminya.
Suara pintu yang diketuk membuat pasangan suami istri tersebut menoleh. Alisha muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis.
"Kak Asya."
Gadis itu langsung berlari mendekat pada Kakak iparnya. Darren sedikit kahawatir melihat Alisha yang berlari. Antara takut gadis itu akan memeluk erat Asya, dan takut Alisha terjatuh. Namun, kekhawatirannya tak terjadi. Alisha hanya memegang tangan Asya.
"Kak Asya, aku sangat bahagia. Aku sangat senang Kak Asya hamil."
"Terima kasih, dek."
"Dek? Adek?"
Asya mengangguk pelan. "Mulai sekarang, Kakak mau panggil kamu adek."
"Kenapa begitu?"
"Entah. Tapi, Kakak pengen banget panggil kamu adek."
"Ya udah, deh. Demi Kakak ipar dan calon ponakan tersayang. Alisha bolehin deh."
"Sayang banget sama adek."
"Alisha juga sayang sama Kakak."
Kakak dan adik ipar itu saling berpelukan. Darren yang melihatnya hanya menggeleng-geleng melihat tingkah istri dan adiknya itu.
"Oh ya," Asya melepaskan pelukannya dan menatap Alisha. "Kenapa baru sekarang kamu datang? Kemarin-kemarin kok enggak?"
"Aku dikasi banyak tugas, Kak." Jawabnya. Gadis itu lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Asya. "Aku juga kesal sama Axel, Kak. Jadinya nggak mood kemana-mana." Bisik Alisha.
"Kamu sama Axel masih belum baikan? Udah kamu jelasin belum?" Asya balas berbisik.
"Aku nggak tahu, baikan atau belum. Axelnya nggak ada kabar. Aku udah jelasin. Tapi, dia balasnya hmm... doang. Terus kata Nadia sama Yana, dia nggak ke sekolah udah 4 hari." Bisik Alisha, balik.
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara Darren yang cukup dekat mengagetkan kedua perempuan itu. Alisha spontan menjauhkan tubuhnya dari Asya. Sementara Asya, wanita itu merasakan jantungnya berdetak cepat karena kaget, dan spontan ia menyentuh dada kirinya. Melihat itu, wajah Darren berubah khawatir.
"Sayang. Apa dadamu sakit? Maafkan aku. Aku sudah mengagetkanmu." Ucap Darren, sambil menyentuh tangan istrinya. Lelaki itu juga menoleh pada Alisha. "Alisha, maafkan Kakak." Ujarnya yang diangguki Alisha.
"Sayang," Darren kembali memanggilnya. Namun, reaksi Asya membuat Darren dan Alisha terkejut. Air mata melesat begitu saja dari mata wanita itu.
"Hiks... Kamu jahat!" Ujar Asya, mencebikkan bibirnya ke bawah.
"Sayang aku..."
"Kamu jahat! Hiks... Kamu ngagetin aku. Bagaimana jika berdampak pada calon baby? Bagaimana kalau baby nya ngak bisa bertahan?"
"Jangan ngomong begitu, sayang." Ujar Darren, berusaha menenangkan istrinya.
"Kamu sih, ngagetin... Hiks..."
"Kak Asya, Kak Darren..."
Brakkk...
"Huaaa... Kan dikagetin lagi... Hiks..." Tangisan Asya semakin menjadi.
Darrel, si pelaku yang membuka pintu dengan keras itu melongo melihat Asya menangis keras seperti itu. Ia tak peduli dengan tatapan tajam Darren dan pelototan Alisha. Yang ia lihat sekarang adalah Asya. Ia heran melihat wanita itu menagis seperti seorang anak kecil. Sahabatnya itu memang manja. Tapi, ia belum pernah melihat Asya yang seperti ini.
Darrel mendekati ketiga orang itu. "Ren, ada apa? Asya kenapa seperti ini?"
"Dia kaget." Jawab Darren singkat.
Darrel yang sedikit bingung menatap Alisha. Adiknya itu masih saja menatapnya. Tapi, tidak melotot seperti tadi.
"Ini kesalah kalian. Tadi, Kak Darren membuat Kak Asya kaget. Dan sekarang, Kak Darrel yang melakukannya."
"Aku nggak sengaja. Aku buru-buru kesini mau beritahu, Kakek Nenek Doni kecelakaan."
Seketika tangis Asya terhenti. Wanita itu menatap Darrel. Begitu juga Darren dan Alisha, yang juga menatap Darrel.
"Kecelakaan," Asya bergumam kecil.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Darren.
"Tadi, aku lupa handphoneku di mobil. Jadi, aku menyuruh Alisha kesini lebih dulu. Saat aku tiba di lobi, aku melihat Carla dan suaminya. Carla menangis. Jadi, aku menghampiri mereka dan bertanya. Carla mengatakan Papa dan Mamanya mengalami kecelakaan saat pulang dari sekolah Doni."
"Apa Doni juga terluka?" Tanya Asya cepat.
"Enggak. Doni baik-baik saja. Kecelakaan itu terjadi setelah mereka kembali dari mengantar Doni."
"Kak, Ayo kita temui mereka!" Ajak Alisha pada Darrel, yang langsung mendapat anggukkan dari lelaki itu.
"Sayang," Asya menatap Darren. Dari sorot matanya, sudah bisa Darren pastikan jika istrinya itu ingin pergi.
"Enggak, sayang. Kamu nggak boleh pergi. Aku akan mengantar kamu pulang. Kamu juga Alisha. Kakak akan mengantar kalian pulang. Setelah itu, kembali lagi untuk menemui mereka."
__ADS_1
"Sayang, sebentar saja." Mohon Asya.
"Kak, hanya sebentar." Ujar Alisha.
"Enggak!"
"Darren, biarkan saja. Mungkin dengan adanya Alisha sama Asya disana, ada yang menghibur Carla. Walaupun ada suaminya, seorang perempuan akan lebih mengerti perasaan sesama mereka. Lagi pula, ada kamu, aku juga disana. Jika masih khawatir, kita bisa membawa pengawal di depan bersama kita." Ucap Darrel.
Darren terdiam, lalu beranjak keluar, membuat Asya dan Alisha menghela nafas lemah. Begitu juga Darrel yang menggeleng melihat sikap kembarannya itu. Tak lama, Darren kembali.
"Kalian boleh ikut. Tapi Asya, kamu harus pakai kursi roda."
Kedua perempuan beda usia itu tersenyum. Asya dengan cepat mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Sebenarnya, Darren keluar memberitahu salah satu pengawalnya yang berjaga untuk membawakan kursi roda. Dan Beberapa menit kemudian, pengawal tersebut datang membawa kursi roda tersebut.
Darren segera menggendong Asya dan mendudukkan wanita itu ke kursi roda. Mereka lalu menuju ruang gawat darurat.
"Carla."
Suara Asya yang memanggil membuat Carla langsung menoleh. Wanita itu langsung mememluk Asya yang berada di kursi roda.
"Asya, Mama sama Papaku... Hiks..."
"Tenanglah. Kita sama-sama berdoa semoga mereka baik-baik saja. Kamu harus kuat. Jika kamu lemah seperti ini, mereka juga akan lemah." Ujar Asya, sambil menepuk pelan punggung Carla.
"Tapi, aku takut, Asya. Aku takut terjadi sesuatu pada orang tuaku."
"Kak," Carla menoleh pada Alisha yang memanggilnya. "Nggak akan terjadi apa-apa. Paman dan Bibi pasti baik-baik saja. Kakak yakinlah." Ujar gadis itu. Carla mengangguk dan bergegas memeluk Alisha.
"Apa kata dokter?"
Carla menggeleng. "Dokter belum kelu..."
Ceklek...
"Pasien ingin bertemu nona Carla dan suami."
"Saya, sus." Carla menjawab cepat. Bergegas ia bersama suaminya memasuki ruangan itu. Setelah beberapa menit, pasangan suami istri itu kembali keluar. Langkah Carla gontai. Tatapannya menyiratkan keputusasaan.
"Carla..."
"Darren, masuklah!" Ujarnya pelan. Wanita itu langsung terduduk di kursi tunggu dibantu suaminya.
Darren cukup tenang menghadapi situasi ini. Dia seperti de javu dengan situasi ini. Pikirannya terlintas saat dulu ia menolong orang tua kandung Doni.
"N-nak," Suara terbata Kakek Doni membuat Darren menyentuh tangan lelaki itu.
"Ya,"
"Be-berjanjilah, untuk te-terus me-menyayangi Doni. Di-dia tidak... mu-mudah akrab de-dengan o-orang. Ta-tapi dia bi-bisa menerima... Ke-keluargamu... Terutama... Hhhhh... Hhhh." Kakek menarik nafasnya dan meringis menahan sakit. "Ka-kamu dan i-istri. To-tolong ba-bawa dia be-bersama ka-kalian. Hhhhhh... Hhhhh..."
"Saya janji akan merawat Doni. Doni adalah anak saya dan Asya. Kami akan akan membawa Doni bersama kami."
"Te-terima ka-sih... Hhhh... Hhh..." Kakek itu kembali menarik nafasnya. Kali ini tidak seperti tarikan nafas sebelumnya. Bola mata hitam Kakek itu mulai menghilang berganti putih. Dokter segera mendekat dan meminta Darren keluar.
Darren menurut dan berjalan keluar. Di tangannya, menempel darah dari tangan Kakek Doni yang digenggamnya. Dia tak langsung menghampiri sang istri. Langkahnya berbelok ke toilet dan mencuci tangannya, lalu kembali.
"Apa yang Kakeknya Doni katakan?" Tanya Asya, saat Darren kembali berdiri di sampingnya.
"Akan ku beritahu saat di apartemen nanti." Bisik Darren.
Ceklek...
Suara pintu terbuka membuat semua orang menatap ke arah tersebut. Dokter keluar dengan wajah lesu, penuh penyesalan.
"Dok, bagaimana?" Carla bertanya cepat. Berharap agar mendapat kabar baik dari dokter. Menyangkal akan firasat yang ia peroleh saat bertemu papa dan mamanya tadi.
"Dok,"
"Maaf, nona. Kami sudah berusaha yang terbaik. Orang tua anda tidak bisa diselamatkan."
Carla mematung mendengarnya. Inilah firasat yang ia dapatkan saat menemui Mama Papanya tadi. Harapan hidup keduanya tipis.
Asya dan Alisha turut bersedih mendengarnya. Benar-benar hal yang tak terduga. Kedua wanita itu mendekat dan memberi kata-kata untuk menguatkan Carla.
"Darrel akan membantu mengurus kepulangannya. Aku harus mengantar Asya dan Alisha kembali dulu. Aku akan cepat kembali." Ujar Darren yang diangguki Darrel dan Carla beserta suami.
"Tapi, menurutku, kamu lebih baik langsung ke rumah duka saja. Bantu mengurus pemakamannya. Biar disini kami yang mengurusnya." Usul Darrel.
"Baiklah."
Asya menatap Carla yang tak berhenti menangis. "Carla, aku kembali dulu. Maaf nggak bisa menemanimu."
"Nggak masalah. Aku mengerti. Jaga kesehatanmu." Asya mengangguk.
"Kakak, Alisha juga pamit dulu. Kakak yang kuat."
__ADS_1
"Terima kasih, Alisha."
Setelah bepamitan, Darren langsung membawa istri dan adiknya itu pergi.
Suasana dalam mobil yang dikendarai Darren hening. Tidak satupun dari mereka yang berbicara. Semuanya terdiam memikirkan kejadian yang begitu tiba-tiba ini.
"Sayang," Suara Asya tiba-tiba terdengar.
"Hhmm? Ada apa?"
"Minta pengawalmu untuk menjemput Doni."
Darren hanya mengangguk. Raut khawatir Asya saat menyebut nama anak itu, membuat Darren ingat. Ia hampir lupa dengan anak itu. Darren menatap istrinya sejenak. Hatinya sadar, kasih sayang Asya pada Doni begitu besar.
"Aku akan melakukannya." Darren memelankan laju mobilnya, dan segera menghubungi salah satu pengawalnya. Setelah itu, dia kembali fokus berkendara.
***
Mobil Darren tiba di gedung apartemen. Ia memarkirkan mobilnya dan segera membantu istrinya turun. Awalnya, ia ingin Asya menggunkan kursi roda. Namun, wanita itu dengan keras kepala menolaknya.
Tok... Tok... Tok...
Alisha segera mengetuk pintu ketika tiba di depan unit milik Darren. Tak butuh waktu lama, pintu tersebut terbuka. Aurel langsung memeluk Asya.
"Selamat datang kembali." Ujarnya.
Asya tersenyum tipis. "Terima kasih." Jawabnya sedikit tak bersemangat.
Aurel melepas pelukannya dan menatap Asya. "Apa kamu masih sakit?" Asya menggeleng.
"Lalu?"
"Kak..."
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam." Ujar Darren, memotong ucapan Alisha.
Mereka segera masuk. Di ruang tamu, ada Gara, Alula, Edo, Irene dan Meeya yang sedang dalam dekapan Neneknya, Alula.
Mereka menyambut Asya dengan senyuman hangat. Namun, senyum itu perlahan pudar melihat Asya yang sedikit tak bersemangat. Begitu juga dengan Alisha yang cukup diam.
Darren menuntun istrinya duduk, sementara Alisha dan Aurel mengambil tempat di dekat Alula.
"Nak, kamu kenapa?" Alula dan Irene bertanya bersamaan.
"Aku nggak apa-apa, Ma, Bu."
"Dimana Darrel?" Pertanyaan Gara itu, membuat semua sadar, jika Darrel tidak bersama mereka. Aurel juga baru sadar, jika suaminya tidak ada. Padahal, lelaki itu pergi bersama Alisha untuk menjemput Darren dan Asya. Tapi, yang kembali hanya Darren, Asya dan Alisha.
"Iya, dimana Darrel?" Timpal Edo.
"Dia masih di rumah sakit."
"Rumah sakit?" Aurel mengerutkan keningnya. Begitu juga yang lain.
"Untuk apa dia masih di rumah sakit?" Sahut Gara. Dia tak mengerti, ada urusan apa lagi putranya itu hingga masih berada di rumah sakit.
"Aku memintanya tinggal untuk membantu Carla dan suaminya mengurus kepulangan jenazah Kakek Nenek Doni."
"Kakek Nenek Doni?" Tanya Aurel, terkejut mendengarnya. Sementara para orang tua, mereka terdiam dan turut berduka. Meski tak mengenal kedua orang tua itu, dan hanya mengenal Doni dan Carla, tetap saja rasa simpati itu ada.
"Ya. Keduanya meninggal karena kecelakaan setelah kembali dari mengantar Doni ke sekolah."
Semua menatap Asya, lalu pada Alisha. Pantas saja dua orang itu tak begitu bersemangat tadi.
"Nak," Suara Alula membuat Asya menoleh.
"Aku juga terkejut Bu, mendengarnya. Doni pasti sangat sedih. Dia sangat menyayangi Kakek dan Neneknya."
"Kamu jangan terlalu memikirkannya. Doni pasti bisa menerimanya." Ujar Alula.
"Iya, sayang. Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, kamu sedang mengandung sekarang." Sambung Irene.
Asya hanya mengangguk. Alula menatap Alisha yang menunduk diam. "Sayang,"
"Iya, Bu?" Gadis itu langsung mendongak. Tidak ada air mata. Hanya saja gadis itu merasakan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sebenarnya takut. Ia takut melihat Carla yang menagis tadi. Ia takut jika dia berada di posisi yang sama dengan Carla. Takut jika dirinya akan ditinggalkan Gara dan Alula.
"Nggak apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Doni anak kuat." Ujar Alula yang hanya diangguki Alisha. Mereka tidak tahu saja, jika bukan itu saja yang menjadi beban pikiran Alisha.
"Baiklah. Aku harus ke rumah Kakek Doni dulu. Mempersiapkan pemakamannya."
"Ayah juga."
"Papa juga."
"Mama juga."
"Ibu juga akan pergi."
__ADS_1
"Alisha juga mau ikut. Alisha mau bareng Ayah sama Ibu." Ujar gadis itu. Gara dan Alula menatap putri mereka. Kening keduanya sedikit berkerut. Tapi, sedetik kemudian mengangguk. Mereka pun berangkat bersama menggunakan mobil masing-masing. Asya, Aurel dan baby Meeya menunggu di apartemen.