Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 164


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlibur, Gara bersama semuanya kembali ke kediaman masing-masing. Mereka kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya.


Suara ketukan di pintu kamar membuat Aurel yang baru selesai memakaikan baju Meeya menoleh.


"Siapa?"


"Alisha, Kak."


Aurel segera menggendong Meeya dan membukakan pintu untuk Alisha.


"Selamat pagi ponakan Aunty yang cantik. Udah wangi. Sini, Aunty gendong bentar," Alisha mengulurkan tangannya, meraih Meeya ke gendongannya.


"Kamu udah rapih banget. Mau kemana, Sha?" tanya Aurel.


"Alisha mau jalan sama Axel sama Hardi."


"Oohh. Dimana mereka?"


"Udah di depan, ngobrol sama Ayah sama Ibu."


"Lho? Kamu kenapa kesini? Nanti ditungguin sama mereka."


"Alisha kesini mau tanya sama Kakak. Mau nitip sesuatu gak?"


"Emm... Mau nitip apa ya? Kayaknya eng—eh, ada. Kakak mau nitip popok buat Meeya. Boleh kan?"


"Boleh. Kak Asya juga nitip popok buat si kembar."


"Ya udah. Popoknya yang seperti biasa ya."


"Iya." Alisha mengecup pipi Meeya sebentar, kemudian menyerahkan ponakannya itu pada Aurel. "Meeya sama Mama, ya. Aunty mau pergi dulu." Sekali lagi Alisha mengecup pipi Meeya. "Alisha pergi dulu, Kak."


"Iya. Hati-hati ya. Bilangin Axel, bawa motornya nggak usah ngebut-ngebut."


"Kita nggak pakai motor Kak. Pakai mobil."


"Bilangin Axel, nyetir mobil nggak boleh ngebut-ngebut."


"Siap, Kak."


Alisha berjalan cepat menuju ruang tamu. Senyum tipis ia perlihatkan saat tiba di ruang tamu.


"Hati-hati kalian bawa putri saya. Jagain dia."


"Iya, Om," jawab Axel dan Hardi serentak.


"Ya udah. Alisha pamit dulu, Yah, Bu." Gadis itu mencium punggung tangan Gara dan Alula. Axel dan Hardi ikut berpamitan. Keduanya juga mencium punggung tangan Gara dan Alula.


Axel membukakan pintu mobil bagian depan untuk Alisha, kemudian masuk di bagian kemudi. Sementara Hardi, dia duduk di jok belakang.


"Kita kemana dulu?" tanya Hardi.


"Ke taman dulu," sahut Axel.


Alisha mengangguk. "Setuju. Tapi, nanti mampir di mini market dulu, ya. Mau beli popok buat si kembar sama Meeya."


Axel mengangguk dengan tatapan yang terus fokus pada jalanan. Sebenarnya, jalan-jalan bersama ini ide Alisha. Mengingat liburan waktu itu mereka tidak mengajak Hardi.


Axel sudah memberitahunya jika Hardi waktu itu juga memiliki jadwal liburan bersama keluarganya. Informasi yang sama Alisha dapatkan dari Hardi. Tapi, Alisha tetap kekeh ingin menghabiskan waktu liburan mereka bertiga bersama-sama.


Karena permintaan Alisha, Axel pun setuju. Hardi juga setuju. Alisha senang, mereka pun senang.


"Setelah ke taman, kita ke mana?"


"Eeem... Kemana ya?" Alisha terdiam, memikirkan tempat wisata mana lagi yang harus mereka kunjungi. "Menurut kalian berdua, enaknya kemana?"


"Ck. Gue bingung, makanya nanya. Kenapa malah nanya balik?" sahut Hardi.


"Kalau Axel?"


Axel menoleh sekilas pada Alisha, kemudian kembali fokus menyetir. "Terserah lo, maunya kamana. Gue ikut aja. Yang penting pulang sesuai jam yang om Gara tentuin."


"Ya udah, deh. Abis main ke taman, kita jajan dulu. Terus ke trampolin park, makan, abis itu nonton."


"Emang bisa? Yakin nggak bakal sampai jam 10? Om Gara bilang pulangnya nggak boleh lewat jam 10," kata Hardi.

__ADS_1


"Bisa," ucap Alisha meyakinkan. "Axel nggak masalahkan?"


"Nggak."


Alisha mengangguk sambil tersenyum manis. Beberapa menit kemudian, Axel menghentikan mobilnya di sebuah mini market.


"Kalian tunggu sini. Aku mau beli sebentar."


"Kita ikut!" ucap Axel yang diangguki Hardi. Kedua laki-laki itu turun bersama Alisha, dan berjalan beriringan memasuki mini market dengan Axel yang terus menggenggam tangan Alisha.


"Popok yang mana, Sha?" tanya Hardi saat mereka sampai di depan rak yang tersusun banyak popok dengan beberapa merek dan ukuran.


"Yang ini. Kalian berdiri aja, biar aku yang pilih."


Setelah memilih, Alisha memasukannya ke keranjang belanja yang dibawa Axel dan Hardi. Axel popok untuk Alan Alena. Hardi untuk Meeya.


Berapa pelanggan yang berbelanja di mini market tersebut memperhatikan mereka. Ada yang terkagum-kagum dengan ketiga remaja tersebut, ada juga yang senyum-senyum melihat dua laki-laki tampan membawa keranjang yang berisi popok.


"Banyak banget Sha belinya," ucap Hardi.


"Sekalian stok di rumah. Kak Asya sama Kak Aurel jarang keluar semenjak lahiran. Kalau mau keluar harus sama suami-suami mereka."


"Kan ada babysitter."


"Kalau yang berhubungan sama anak-anak mereka, Kak Darren sama Kak Darrel nggak terlalu libatin babysitter. Kak Asya sama Kak Aurel juga. Si kembar sama Meeya jarang banget sama babysitter mereka. Banyakan Kak Asya sama Kak Aurel yang ngurus sendiri," ucap Alisha sambil meraih bungkusan snack.


"Mau apalagi?" tanya Axel yang sejak tadi diam.


"Nggak ada lagi."


Laki-laki itu mengangguk lalu kembali menggenggam tangan Alisha dan berjalan menuju kasir.


"Berapa semuanya?" tanya Axel sesaat setelah barang yang dibeli terhitung.


"S-semuanya 451.350," ucap si kasir salah tingkah dengan pipi memerah. Tapi, Axel tak peduli.


"Ini." Alisha menyodorkan kartu kreditnya pada Axel. Namun, laki-laki itu tak menerimanya.


"Pakai punya gue," ucap Axel, lalu menyodorkan kartu kreditnya pada kasir.


"Axel itu banyak uangnya, Sha. Nggak usah nggak enakan sama dia," bisik Hardi dari belakang Alisha. Alisha hanya mengangguk.


***


Setelah menghabiskan waktu di taman, jajan dan bermain trampolin, Alisha, Axel dan Hardi memilih makan siang di cafe yang tak jauh dari tempat mereka bermain trampolin.


"Jam segini masih termasuk makan siang?" tanya Hardi. Ya, saat ini sudah pukul 14 : 25. Seharusnya mereka makan siang sejak 2 jam yang lalu.


"Hehehe... Maaf ya, Alisha keasikan main trampolinnya."


"Lain kali, jangan kayak gini. Makan tepat waktu itu perlu. Gue nggak mau lo sakit," ucap Axel sambil mengelus rambut Alisha.


Hardi yang melihatnya memutar bola matanya lalu tersenyum paksa. Senang sekali Axel mesra-mesraan dengan Alisha di depannya. Apa sahabatnya itu tidak kasihan padanya. Apa Axel menganggapnya patung? Tapi, sudahlah. Yang penting dua sahabatnya itu senang.


Alisha tersenyum menanggapi sifat lembut Axel. Setelah itu, ia kembali fokus pada ponselnya, melihat foto-foto yang diambil saat berada di taman, saat jajan dan bermain trampolin tadi, sambil menunggu pesanan mereka.


"Kalau ada kesempatan, kita main trampolin lagi, ya?" Alisha menatap Axel lalu Hardi. Kedua laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan.


Alisha kembali menatap layar handphonenya. Dan tiba-tiba, layar handphonenya berubah menjadi panggilan vidio dari Yana. Seketika senyum mengembang terukir di bibir Alisha. Dengan cepat gadis itu menjawab panggilan vidio tersebut.


"Alishaaaa... Kangeeeen...." Yana merengek dari layar handphone Alisha.


"Alisha juga kangen. Yana nggak ada kabar dari dua hari lalu. Alisha telpon sama chat juga nggak dibalas."


"Hehehe... Aku lagi di tempat nenek. Signalnya nggak bagus. Jadi handphone nggak aku pakai. Aku matiin."


"Alisha sedih lho waktu itu. Alisha pikirnya Yana udah nggak mau ngobrol, chat sama Alisha lagi."


"Apaan sih. Nggak lah. Kamu itu sahabat aku. Aku nggak mungkin kayak gitu."


"Hehehe... Iya."


"Oh ya, kamu, Axel sama Hardi lagi jalan-jalan? Aku berusan lihat di postingan instagram kamu."


"Iya. Ini, kita lagi di cafe." Alisha memperlihatkan wajah Axel dan Hardi. Axel menganggukkan kepalanya menyapa Yana, sedangkan Hardi hanya diam, menampakkan wajah datarnya.

__ADS_1


"Hardi kok diam. Dia kenapa?" tanya Yana.


"Hah? Nggak tahu. Tadi masih ngomong, nggak diam kayak gini." Alisha juga ikut heran. "Hardi, kamu sakit? Atau lapar?" tanya Alisha pada sahabatnya itu.


"Nggak," jawab Hardi singkat. Alisha hanya mengangguk. Seorang pelayan cafe datang dan menghidangkan makanan yang di pesan di meja.


"Makasih, Kak," ucap Alisha pada pelayan yang membawakan makanan untuk mereka.


"Siapa, Sha?" tanya Yana.


"Pelayan yang nganterin pesanan."


"Oohh, aku pikir Kak Darren atau Kak Darrel."


"Enggak. Kakak lagi kerja."


"Oh ya, Sha. Aku boleh ngomong sama Hardi nggak?" tanya Yana.


Alisha mengangguk. "Boleh. Ini, Hardi. Yana mau ngomong sama kamu."


"Gue mau ke toilet." Mengabaikan Alisha, Hardi beranjak dari duduknya, berjalan meninggalkan Alisha dan Axel, juga Yana yang terdiam.


"Hardi... Kenapa?" tanya Alisha lirih.


"Udah. Jangan dipikirin. Lanjutin ngomongnya sama Yana." Axel mengelus lembut rambut Alisha. Dia tahu, Alisha pasti kepikiran dengan tingkah Hardi yang aneh.


***


Setelah menonton bioskop dan makan malam, ketiga remaja itu bergegas pulang. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Alisha menatap Axel yang fokus mengemudi. Sementara Hardi, sejak Yana vidio call, laki-laki itu lebih banyak terdiam. Bahkan pulang pun ia memilih tidak bersama Alisha dan Axel. Dia meminta security rumahnya untuk mengantar motornya, kemudian pulang bersama sang security.


"Hardi kenapa ya?" tanya Alisha.


Axel menoleh, kemudian meraih tangan Alisha dan menggenggamnya.


"Gue juga nggak tahu," ucapnya. "Hardi pasti punya Alasan dia kayak gitu."


Alisha mengangguk. "Iya. Tapi, apa karena masalah Yana yang tiba-tiba pindah ya?"


"Mungkin. Hardi bakal cerita kalau dia udah siap buat cerita," jawab Axel. Alisha lagi-lagi menggangguk.


Setelah beberapa menit, mobil Axel memasuki lingkungan rumah Gara. Axel menghentikan mobilnya sebelum tiba di gerbang rumah.


"Lho? Kita kok ber—"


Cup.


Seketika ucapan Alisha terhenti saat Axel tiba-tiba menempelkan bibirnya dengan bibir Alisha. Gadis itu terdiam kaku dengan mata melotot menatap Axel.


Ciuman pertamanya diambil Axel, sahabatnya yang dingin dan datar. Axel perlahan menjauhkan wajahnya, menjauhkan bibir mereka yang saling menempel.


Kemudian dengan tampang tak berdosanya, laki-laki itu melajukan mobil memasuki gerbang.


"Alisha keluar dulu. Makasih udah anterin."


"Sha. Gue—"


Alisha langsung mendorong pintu mobil hingga terbuka. Tanpa peduli dengan Axel, gadis itu berjalan meninggalkan Axel, memasuki rumah.


Axel terdiam dalam mobil dan menarik nafas. Saat teringat popok pesanan Asya dan Aurel, Axel keluar dari mobil dan mengelurakan popok yang Alisha lupa.


"Axel?" Darren yang entah dari mana, menatap Axel dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Alisha lupa bawa popok buat si kembar sama Meeya," ucap Axel, juga dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Biar saya yang bawa." Darren meraih tiga kantong popok dari tangan Axel. "Sudah malam. Pulanglah," ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan Axel.


Dengan perasaan bersalah pada Alisha, Axel melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Gara.


.......


... ....


.......

__ADS_1


.......


Hallo teman-teman, maaf baru muncul sekarang. Aku mau ngabarin kalau tambah satu part lagi, Sahabat Possessive bakal aku tamatin. Untuk kisah Alisha sama Axel kayaknya ada ceritanya sendiri. Tapi nggak tahu bakalan ada atau enggak ceritanya. Buat teman-teman yang udah setia nungguin, aku ucapin Makasih dan Maaf. Salam sayang dari Aquilaliza ❤❤.


__ADS_2