Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 31


__ADS_3

Di kamar Alisha, Irene melepaskan blazer yang melekat di tubuh Asya. Menyisakan dalaman kemeja yang melekat di tubuh Asya.


"Dilepasin aja bajunya, tan. Alisha ada kaos yang pas buat Kak Asya." Irene mengangguk.


Alisha menuju lemari pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kaos yang ia beli, couple dengan miliknya.


"Ini, tan." Alisha menyerahkannya pada Irene. Ibu dan anak itu segera menuju ruang ganti.


Setelah mengganti kemeja dengan kaos, Asya dan Irene kembali ke sofa bersama yang lainnya. Kaos berlengan pendek membuat lengan kiri Asya yang memerah karena kuah panas pun terlihat. Alula dengan hati-hati mengoleskan salep pada Asya.


"Bagaimana dia bisa tersandung? Tidak ada sesuatu yang menghalanginya disana." Celetuk Ana, tiba-tiba.


"Ya, Kakak benar. Apa dia sengaja menumpahkan kuah itu pada Asya? Atau... Dia tersandung kakinya sendiri?" Timpal Vera.


Asya hanya terdiam. Air matanya lolos begitu saja. Bukan karena sakit di lengannya, tapi sakit di hatinya saat memikirkan jika Naomi sengaja melakukannya.


Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu membuat semua menoleh ke arah pintu.


"Bu..." Suara dingin yang khas membuat mereka langsung mengenalinya.


"Apa aku boleh masuk?" Lanjutnya lagi.


Mereka semua menatap Asya. Gadis itu mengangguk memberikan persetujuannya untuk membolehkan Darren masuk.


"Iya, nak."


Ceklek....


Pintu terbuka dan Darren pun masuk. Ia menutup pelan pintu lalu berjalan mendekati Asya. Alula bergeser, membiarkan Darren duduk di dekat Asya.


"Bagaimana?" Tanyanya lembut. Hal yang tidak asing lagi bagi mereka semua saat Darren bersama Asya.


"Hanya sedikit perih." Jawab Asya.


Darren meraih lengan gadis itu dan melihatnya secara jelas. Ia bersyukur, lengan gadis itu tidak begitu parah. Tapi, tetap saja, Naomi akan mendapat balasannya.


Darrel menatap mata Asya. Ia tahu, gadis itu saat ini pasti terluka perasaannya. Dia pasti kecewa atas perbuatan Naomi, orang yang ia anggap saudara. Darren tiba-tiba mengingat ucapan Darrel tentang Aurel.


Aku akan meminta Darrel membawa Aurel pada Asya. Batin Darren.


"Kalian makanlah! Aku akan bersama Asya disini."


"Aku akan makan bersama di ruang makan." Bantah Asya, cepat.


"Jangan membantah, Asya. Kamu jangan bertemu perempuan itu dulu." Asya terdiam. Ia tahu, siapa yang dimaksud 'perempuan itu' oleh Darren.


"Alisha."


"Iya, Kak?"


"Ajak Ibu, tante sama aunty ke ruang makan. Minta pelayan membawa makanan buat Kak Asya."


"Siap, Kak." Jawab gadis itu. "Ayo, Bu, tante, aunty!"


Satu persatu wanita itu mengusap kepala Asya, kemudian keluar. Menyisakan Darren dan Asya dalam kamar Alisha dengan pintu yang dibiarkan terbuka.

__ADS_1


"Menginaplah disini,"


"Aku akan pulang bersama Mama Papa." Jawab Asya cepat.


Darren tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Asya. "Baiklah."


"Besok jangan ke kantor dulu. Tunggulah sampai benar-benar sembuh."


"Iya."


Seorang pelayan datang mengantarkan makanan untuk Asya. Darren menerimanya dan menyuruh pelayan itu pergi.


"Ayo, makan dulu." Darren menyodorkan sesendok makanan ke mulut Asya. Gadis itu tak menolaknya. Ia melahap suapan yang diberikan Darren.


"Kamu..."


"Telan dulu makanannya." Asya mengangguk. Ia mengunyah dan menelannya habis.


"Kamu nggak makan?"


"Nanti."


"Ayo, kamu makan juga."


"Dari sendok yang sama denganmu?" Tanya Darren, dengan ekspresi menggoda. Membuat pipi Asya bersemu merah.


"Sudahlah. Kamu nggak perlu makan." Balas Asya, berusaha menahan rasa malunya.


Darren tersenyum tipis. Ia lalu kembali mengusap lembut kepala Asya. Sekarang dia mengerti seberapa penting Asya dalam hidupnya. Mengerti bagaimana perasaannya pada Asya. Tinggal menunggu waktu yang tepat, ia akan mengikat Asya disisinya selamanya.


Setelah menyelesaikan makan malam, para lelaki berkumpul di ruang keluarga. Mereka semua merasa tenang saat tahu, tidak ada sesuatu yang parah pada Asya. Hanya kulitnya yang memerah.


Sementara yang perempuan, mereka masih berada di ruang makan, membersihkan meja makan. Para pelayan disuruh Alula untuk tidak melibatkan diri hari ini. Kecuali dua orang yang di telpon Darrel tadi.


"Bu, Alisha ke kamar dulu, ya? Mau lihat Kak Darren sama Kak Asya."


"Iya, sayang."


Alisha langsung berjalan menuju kamarnya. Tak lama, Dafa datang memanggil Ana untuk menemani Lala tidur. Tersisa Alula dan Naomi yang berada di ruangan itu, karena Irene sedang berada di kamar mandi.


Naomi merapihkan kursi, setelah meja dibersihkan. Alula berdiri di ujung meja sambil menatap Naomi.


"Saya tidak tahu, apakah yang kamu lakukan tadi sengaja atau tidak. Terlepas dari itu, saya harap kejadian ini tidak terulang lagi." Ucap Alula, membuat Naomi menghentikan kegiatannya merapihkan kursi.


"Saya tahu, kamu menyukai putra saya. Tapi, yang perlu kamu tahu, masalah hati tidak bisa dipaksa. Biarkan Darren memilih sendiri. Bersainglah dengan benar. Asya sudah saya anggap sebagai putri saya. Jadi, saya juga tidak akan diam jika ada yang menyakitinya." Lanjutnya, lalu pergi meninggalkan Naomi.


Naomi tidak berkutik. Ia hanya bisa diam sambil mengepal kuat tangannya. Meski Alula berkata dengan lembut, pembawaannya yang tenang membuat Naomi merasa tangannya gemetar.


Naomi mengumpat dalam hati sambil menatap tubuh Alula yang mulai menjauh.


Silan kau Asya!! Apa yang kau lakukan hingga semua orang menyayangimu? Seharusnya mereka juga menyayangiku seperti itu. Tidak! Aku akan merebut semuanya darimu. Batin Naomi.


Di kamar Alisha, Darren, Asya dan Alisha duduk bersama.


"Oh ya, Alisha. Kok baju ini pas banget sama Kakak?" Asya menatap Alisha sambil memegang kecil kaosnya.

__ADS_1


"Itu, Alisha kebetulan lihat waktu ke mall sama Ibu. Bajunya couple Adek Kakak. Alisha langsung ingat sama Kak Asya. Jadi Alisha beli. Rencananya mau Alisha kasi nanti pas Alisha ke rumah Kakak. Tapi... Ya sekarang jadinya." Balas Alisha sambil mencebikkan bibirnya. Membuat Asya gemas dan menarik pelan pipinya.


"Gemas banget siiih..."


"Iiihh... Kak Asya, sakit tahu. Suka banget cubit-cubit pipi Alisha. Kayak si Axel." Ucap Alisha, tanpa sadar.


Darrel yang tersenyum samar langsung berubah dingin saat Alisha menyebut nama Axel. Sementara Asya, gadis itu mengerutkan keningnya.


Alisha yang baru sadar, langsung menutup mulutnya.


"Mak..."


"Siapa Axel?" Pertanyaan Asya memotong ucapan Alisha.


"Axel teman Alisha di sekolah, Kak." Jawabnya, sambil melirik Darren yang menatapnya datar.


Asya pun mengikuti lirikan mata Alisha. Dia bisa melihat sorot mata Darren yang tidak bisa ia tebak.


"Lupakan saja. Ayo, ceritakan tentang sekolahmu pada Kakak!" Asya mencoba mengalihkan pembicaraan. Berusaha melindungi Alisha meski ia tahu, Darren tidak akan berkata kasar atau main tangan pada Alisha.


"Katakan! Apa dia menyakitimu di sekolah?" Aura mengintimidasinya membuat Alisha dan Asya merinding.


"E-enggak. Axel nggak nyakitin Alisha, Kak. Malah dia yang sering nolongin Alisha. Dia udah jadi teman Alisha. Dia orang baik, Kak." Jelas Alisha.


Darren menarik nafasnya dan melembutkan kembali tatapan dan suaranya. Dia merasa bersalah melihat adiknya ketakutan seperti itu.


"Baiklah. Jika dia menyakitimu, beritahu Kakak."


"Iya, Kak."


Setelah suasana kembali membaik, Alisha dan Asya kembali berbincang kecil dengan Darren yang menemani. Namun, perbincangan mereka harus terhenti saat Naomi tiba-tiba masuk.


"Asya, aku..." Tubuh gadis itu terhenti selangkah di depan pintu.


"Apa kau tidak punya sopan satun?" Sarkas Darren.


"Ma-maaf, Dar..."


"Jangan sebut nama saya!!" Tegasnya.


Naomi meneguk ludahnya kemudian berlutut di hadapan Asya. Mengabaikan tatapan tajam Darren.


"Asya, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku..."


"Shhh..." Asya tidak bisa menahan sakitnya saat Naomi menggerak-gerakkan tangan kirinya dengan cukup kuat.


"Kau!" Darren yang hendak mendorong Naomi menjauh ditahan oleh Asya.


"Ma-maaf." Dengan cepat gadis itu melepaskan tangan Asya. Alisha yang berada di samping Asya hanya menatap sinis Naomi.


"Pergilah ke kamar tamu. Istirahat disana. Saat pulang nanti, aku akan membangunkan mu." Ucap Asya, tanpa menjawab permintaan maaf Naomi.


Sialan kau Asya! Kau mengabaikan permintaan maafku. Batinnya.


"Baiklah. Aku akan ke kamar tamu." Ucap Naomi. Ia segera melangkah keluar dari kamar Alisha.

__ADS_1


__ADS_2