
Sejak pulang dari mall, Asya hanya berdiam diri. Dia bahkan mengabaikan Darren yang berbicara padanya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Darren menoleh. Asya keluar dengan bathrobe yang membungkus tubuhnya.
"Sayang,"
Panggilan Darren tak dihiraukan Asya. Kening Darren mengerut merasakan keanehan istrinya sejak tadi. Ia mendekat dan meraih tangan Asya yang hendak memasuki ruang ganti.
"Asya!" Darren menatap istrinya yang kini menatap balik dengan raut wajah dingin, berbeda dengan Asya yang selalu tersenyum manis.
"Ada apa? Kenapa kamu diam terus sejak pulang dari mall?"
"Nggak ada apa-apa."
"Sayang," Darren langsung memeluknya. Entahlah, dia tidak suka Asya mendiamkannya seperti ini.
"Lepaskan aku, Darren! Lepaskan aku!" Asya berusaha memberontak, namun Darren tidak melepaskannya. Lelaki itu semakin memeluknya.
"Sayang, ada apa denganmu?"
"Ada apa? Aku ingin kamu melepaskanku! Aku sesak dipeluk terlalu erat seperti ini."
Dengan tak rela, Darren menuruti permintaan istrinya. Ditatap wajah istrinya yang masih cemberut itu. Segaris senyum muncul di bibirnya. Darren menunduk dan hendak menciumnya. Namun, Asya dengan cepat menghindar.
"Nggak ada ciuman!" Tegas Asya, langsung masuk ke ruang ganti. Wanita itu menutup dan mengunci pintu ruang ganti dengan cepat.
"Nggak ada ciuman? Sayang! Apa yang kamu katakan?" Teriak Darren tepat di depan pintu ruang ganti.
"Nggak ada ciuman!" Balas Asya dengan tegas.
"Sayang! Kenapa kamu seperti ini?"
"Sayang! Asya!" Darren mengetuk pintunya.
"Sayang!"
Asya tetap diam tak menjawab. Wanita itu bergumam sendirian dalam ruang ganti. Setelah menganti bathrobe nya dengan baju tidur, Asya berdiam diri di ruangan itu.
"Ada apa dengan wanita itu? Istriku ini, dia menjadi aneh." Gumam Darren.
Lelaki itu menarik nafasnya, lalu beranjak dari depan pintu ruang ganti tersebut. Ia duduk di tepi ranjang, sambil menatap ke arah ruang ganti.
Cukup lama menunggu, Asya belum juga keluar. Perasaannya menjadi tidak tenang. Darren dengan cepat mendekati ruang ganti lagi.
Tok... Tok... Tok...
"Asya! Sayang!"
Tok... Tok... Tok...
"Asya!"
"Sayang!"
"Sayang! Kamu sudah cukup lama berada di dalam. Buka pintunya! Jangan buat aku khawatir!"
"Asya!"
Percuma saja. Panggilan Darren tak mendapat jawaban sama sekali. Lelaki itu mengeraskan rahangnya. Ia tidak tahu, apa yang terjadi pada Asya di dalam sana.
"Sayang! Jika kamu nggak buka pintunya, aku akan dobrak pintu ini."
Tetap saja. Ancaman Darren tak mempan. Setelah beberapa menit menunggu, pintu masih saja tertutup rapat. Darren merasa semakin cemas. Jika tidak memikirkan bahwa Asya akan terkejut jika ia mendobrak pintu, ia sudah merusak pintu itu sedetik setelah kata-kata ancaman itu keluar dari mulutnya.
"Asya!"
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Sambil berusaha tetap tenang, Darren mendekati laci nakas. Ada beberapa kunci cadangan yang berhubungan dengan kamarnya disana.
"Dimana kunci itu?" Gumam Darren. Dia mengacak-acak laci tersebut, dan akhirnya menemukannya.
"Ketemu!" Gumamnya. Darren segera menuju pintu dan membukanya. Hembusan nafas lega keluar dari mulut Darren ketika pintu terbuka lebar. Lelaki itu berjalan cepat dan langsung memeluk Asya yang duduk meringkuk sambil memeluk kakinya.
"Asya. Sayang," Darren memeluk, dan mengecup puncak kepala sang istri. Asya tak meresponnya. Wanita itu hanya diam. Tapi, beberapa detik kemudian, Darren dikejutkan oleh isak kan nya.
__ADS_1
"Hiks."
"Sayang..."
"Jangan memanggilku sayang! Hiks... Kamu jahat! Kamu nggak mencintaiku kan?!"
"Asya, apa yang kamu katakan? Kamu yang paling tahu, begitu besarnya aku mencintaimu."
"Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu nggak pernah bercerita soal surat itu? Hiks..."
"Itu hanya sepotong surat tak berguna! Aku juga nggak membacanya. Darrel yang menerima surat itu dan membacanya!"
"Sama saja!"
Darren menarik nafasnya. "Baiklah. Itu salahku." Ucapnya mengalah.
"Ya. Itu memang kesalahanmu! Kesalahan pertamamu hari ini."
"Kesalahan pertama?"
"Ya." Asya mendongak dan mengusap air matanya. Sejenak menghilang, kemudian air mata itu kembali muncul dan membasahi pipi Asya. "Kamu pikir, kesalahan kamu hanya itu? Enggak! Apa seorang suami pantas mengabaikan istrinya saat istrinya kesulitan? Enggak kan? Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu membiarkan aku dihina dan dikatai murahan oleh perempuan gila itu! Kamu nggak membelaku! Kamu nggak mengatakan sesuatu jika aku nggak bertanya. Apa itu sikap seorang suami pada istrinya?!"
"Sayang..."
"Kamu juga menatapnya lama. Apa dia begitu menarik perhatianmu? Sampai aku yang ada di sampingmu, kamu abaikan? Aku tahu, dia lebih seksi diban... Hmmpp"
Ucapan Asya langsung terpotong karena ciuman Darren. Lelaki itu terus memaksa meski Asya mencoba mendorongnya.
"Darr... Hmmpp." Darren seperti tak memberi Asya menghirup udara lebih banyak. Lelaki itu segera menciumnya kembali sesaat setelah ia melepaskannya.
"Aku membencimu!" Ucap Asya setelah berhasil mendorongnya.
"Nggak masalah kamu membenciku sekarang. Kamu akan kembali mencitaiku besok. Tidak! Aku salah. Kamu akan selalu mencintaiku dalam hatimu." Ucap Darren. Ia kembali memeluk Asya dan mengecup keningnya berkali-kali.
"Kamu terlalu percaya diri."
"Itu karena aku tahu, bagaimana kamu mencintaku." Balas Darren. "Maaf sudah membuatmu menangis. Membuatmu merasa diabaikan. Tapi, kamu harus tahu. Kamu satu-satunya wanitaku. Nggak akan ada yang lain. Soal wanita itu, aku bahkan tidak ingat dia jika kamu tidak mengingatkan. Kamu juga seharusnya bisa melihat, tatapan seperti apa yang ku tujukan padanya. Dan untuk masalah dia menghinamu, ku akui jika aku sengaja membiarkan mu menghadapinya sendiri. Aku ingin melihat, bagaimana istriku membela dirinya sendiri. Dan..." Darren mencoba menggantung ucapannya. Membuat Asya mendongak menatapnya.
"Dan apa?"
Darren mengusap rambut istrinya. "Nggak apa-apa kamu masih marah. Sekarang, ayo tidur!"
Asya mengangguk. Darren membantunya berdiri lalu langsung menggendongnya. Tak ada perlawanan. Wanita itu justru mengalungkan lengannya di leher Darren.
Setelah membaringkan Asya dan memakaikan wanita itu selimut, Darren menaiki ranjang dan berbaring disisi sang istri. Ia menarik Asya dalam pelukannya. Mengecup kening, lalu sama-sama memejamkan mata.
***
Pagi hari.
Darren terus memperhatikan Asya berjalan masuk ke kamar mandi sambil memegang sesuatu. Hingga tubuh wanita itu menghilang memasuki kamar mandi, Darren baru kembali fokus pada laptop nya.
Setelah beberapa saat, Asya keluar dari kamar mandi. Ia berjalan dan melewati Darren begitu saja.
"Apa tamu bulananmu tiba?"
Wanita itu tak menjawab. Dia mengabaikannya dan berjalan menuju ruang ganti.
"Huuh... Ku pikir, dia sudah tumbuh di perutmu."
Deg...
Asya terenyuh. Gerakan tangannya membuka pintu ruang ganti terhenti. Kata-kata dan nada ucapan Darren membuat rasa kesal dan niat ingin marah Asya hilang. Wanita itu berbalik dan menatap ke arah Darren. Matanya berkaca-kaca. Dengan langkah cepat ia menghampiri Darren dan langsung memeluknya.
"Maafkan aku! Kamu pasti kecewa." Ujar Asya.
Darren membalas pelukan tersebut dan mengusap rambutnya. "Nggak apa-apa. Mungkin belum waktunya."
"Tapi..."
"Ssttt... Sudah, ya?" Darren merangkul pinggang Asya, dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya. "Jangan salahkan dirimu. Mungkin belum saatnya kita punya anak."
"Bagaiamana jika aku nggak bisa punya..."
__ADS_1
"Jangan katakan itu!" Darren meletakkan ibu jarinya ke bibir Asya. "Kita pasti memilikinya."
"Jika aku nggak bisa memberimu..."
"Sayang..."
"Apa kamu akan meninggalkanku?"
Darren terdiam. Ia menatap lama wajah wanita yang ada dalam pangkuannya, lalu mendekapnya erat.
"Ada atau tidaknya, aku akan tetap mencintaimu. Kamu akan tetap menjadi istriku." Ucap Darren. "Ini belum genap setengah tahun pernikahan kita. Masih banyak waktu untuk kita bisa memilikinya. Kita juga punya Doni sekarang."
Asya meregangkan pelukan Darren, lalu mengecup bibir lelaki itu. Kemudian, ia kembali memeluknya.
"Terima kasih. Aku hampir lupa jika kita memiliki Doni sekarang." Ucap Asya. "Kapan-kapan, kita menemuinya, ya?"
"Iya. Sekarang, ganti baju mu. Aku akan mengantarmu ke kantor."
"Kamu nggak ke kantor?"
"Aku ke kantor. Tapi, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan dulu."
"Bertemu klien di luar?"
"Ya."
Klien yang sudah menghina istriku dan membuat istriku malu. Lanjut Darren dalam hati.
"Baiklah. Tapi, makan siang nanti, aku mau kita makan di kantor mu. Di ruangan yang kamu tunjukkan padaku waktu itu. Dan tanpa Jiyo!"
"Baik, nyonya."
"Kamu juga harus menjemputku."
"Akan ku lakukan."
"Baiklah. Kalau begitu, aku ganti baju dulu."
"Tunggu dulu!"
"Ada apa?"
"Setelah memerintahkan ku ini itu, aku nggak dibayar?"
"Apa melakukan sesuatu untuk istri harus dibayar?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Katakan! Berapa yang harus ku bayar?"
"Satu kecupan di kening. Dua kali kecupan di pipi kiri kanan, dan ciuman bibir durasi panjang."
Asya langsung melotot mendengarnya. "Kenapa bayarannya bayak sekali?"
"Tentu saja. Satu kecupan di kening, untuk mengantarmu ke kantor. Dua kali kecupan pipi kiri kanan, untuk makan siang di kantorku plus di ruangan khusus itu. Dan ciuman bibir durasi panjang, itu bayaran untukku menjemputmu makan siang, mengantarmu kembali ke kantor dan menjemputmu pulang. Sesuaikan bayarannya?"
"Waah... Tuan Darren sangat pandai." Asya tersenyum, dan beberapa saat kemudian menunjukkan wajah galaknya yang membuat Darren menahan tawa karena gemas. "Tapi, aku nggak mau membayarnya. Kamu melakukannya sesuai waktu. Dan aku, aku membayarnya sekaligus, bahkan sebelum yang ku perintahkan terlaksana. Ini nggak adil. Aku akan membayarnya sesuai kerja mu."
"Ya, lakukan saja. Tapi, bayaran terakhir durasinya akan di perpanjang lagi."
"Darren!"
Lelaki itu terkekeh. "Hehehe... Itu keputusannya."
Asya terdiam. Tidak masalah di perpanjang lagi. Dia akan mencari cara untuk menghindarinya nanti.
"Baiklah. Aku mau ganti baju dulu." Asya beranjak, namun Darren kembali menahannya.
"Apalagi, sayaaang?"
"Bayaran pertamanya belum."
"Nanti saja, setelah aku tiba di kantor."
__ADS_1
Asya melepaskan tangan Darren yang menahannya, dan melenggang begitu saja menuju ruang ganti. Sementara Darren, ia hanya menggeleng-geleng melihat istrinya itu.