Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 77


__ADS_3

Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama, Darren mengantar Asya pulang. Gadis itu kelelahan hingga tanpa sadar, ia langsung tertidur pulas beberapa menit setelah selesai membersihkan diri dan berbaring di kasurnya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat tidur Asya terganggu. Ia menatap jam yang ada di kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 11.10


"Jam segini, siapa yang mengetuk pintu kamarku?" Gumamnya pelan, sambil mengucek matanya.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa?"


"Ini saya, nona. Ada seorang perempuan di lantai bawah. Katanya, dia sekretaris nona."


Sekretaris? Nita? Ada apa malam-malam dia kesini?


Asya segera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu. Seorang pelayan berdiri dengan wajah mengantuk di depan pintu kamarnya.


"Ayo, Bi!"


"Iya, nona."


Asya dan juga pelayannya segera turun. Asya langsung menuju ruang tamu, dan sang pelayan menuju dapur.


"Nita kamu..."


"Nona!" Gadis itu berdiri dengan jawah cemas.


"Nita, ada apa?" Perasaan Asya mulai tidak enak melihat kecemasan di wajah Nita. Ia mulai ikut cemas.


"Nona, tu-tuan Dar-Darren kecelakaan."


Deg!


Dada Asya seperti dihantam batu besar. Tubuhnya hampir terhuyung ke belakang jika Nita tidak dengan cepat menahannya.


Tes... Air mata Asya menetes begitu saja. Baru beberapa jam yang lalu Darren baik-baik saja dan menemaninya.


"Ke-kecelakaan?"


"Iya, nona. Tadi, sekretaris Jiyo menelpon nona, tapi tidak satupun telponnya dijawab. Jadi, dia meminta saya memberitahu nona. Saya juga mencoba menghubungi nona, tapi nona juga tidak menjawab. Kemudian saya kemari dan memaksa bertemu nona."


"Di-dimana Darren?" Tanya Asya. Air matanya terus turun begitu saja.


"Di rumah sakit milik keluarga Grisam."


Pelayan yang datang membawa nampan minuman mengerutkan keningnya melihat nona nya menangis.


"Nona ini minumnya."


"Bi, tolong ambilkan kunci mobilku di kamar."


"Pakai mobilku saja nona." Potong Nita, cepat.


Asya langsung mengangguk. Ia berpamitan pada pelayan rumahnya itu dan bergegas menuju mobil Nita.


Sang pelayan menatap kedua gadis itu dengan rasa penasaran. Deru mobil yang terdengar menjauh membuatnya menatap minuman yang ia letakkan di meja.


"Sayang sekali minumannya." Ucapnya, bergegas menuju dapur.


"Biar ku minum saja." Ucap seorang pelayan yang entah sejak kapan dia berada disitu.


"Eh, sejak kapan kamu bangun?"


"Sejak perempuan itu datang. Hiks..."


"Eh, kenapa kamu menangis?"


"Aku mendengar percakapan mereka. Kata perempuan itu, tuan Darren yang tampan kecelakaan. Huuaaa...."


"Apa? Kecelakaan? Ya Tuhan. Pantas saja nona menangis tadi. Semoga tuan muda baik-baik saja."


"Iya." Jawabnya, sambil mengusap air matanya yang sedikit menetes. "Sekarang, biarkan aku minum. Aku sangat haus."


"Ini, minumlah." Ucap pelayan tersebut memberikan minuman itu pada temannya. Keduanya lalu berjalan bersama sambil membicarakan Darren dan berharap lelaki itu baik-baik saja.


***


Suasana jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lintas. Nita mengendarai mobilnya sambil sesekali menoleh ke arah Asya yang terus menangis.


Sebuah mobil hitam dari arah berlawanan langsung menghalangi mobil yang Nita kendarai. Akibatnya, ia mengerem mobil secara mendadak.


"Nona nggak apa-apa?"


"Ya. Saya nggak apa-apa. Bagaimana denganmu?"


"Saya juga nggak apa-apa."


Empat orang bertopeng keluar dari mobil tersebut. Mereka mendekati mobil Nita, dan memaksa membukanya.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Buka pintunya!" Ucap seorang bertopeng sambil menarik-narik gagang pintu mobil.


Asya dan Nita saling berpandangan. Wajah mereka berubah ketakutan. Saat ini, tidak ada satupun kendaraan yang lewat.


"Nona, bagaimana ini?"


"Aku juga nggak tahu, Nita." Balas gadis itu.


Duk... Duk... Duk...


Kali ini, ketukan berubah menjadi gedoran. Bukan hanya kaca mobil sisi kiri, tapi sisi kanan juga. Keempat orang itu terus memaksa membuka pintu.


"Nona,"


"Handphone." Ucap Asya. Dia meraba-raba mencari handphonenya, namun tidak ia temukan. Ia baru sadar, ia lupa membawa handphone tadi.


"Nita, mana handphone mu?"


"Di tas, nona."


Asya menoleh ke kursi belakang. Meraih tas Nita dan mengeluarkan handphonenya. Keempat orang bertopeng tersebut terus saja menggedor-gedor kaca mobil.


"Astaga... Handphone mu mati, Nita."


"Ya tuhan, bagaimana ini? Bagaiaman kita menelpon seseorang untuk minta tolong?"


Duk... Duk... Duk...


"Buka nggak?!" Ucap orang bertopeng itu. "Ambil tongkat! Pecahkan saja kaca nya."


"Jangan!" Teriak Asya dan Nita bersamaan dari dalam mobil.


"Cepat turun!"


Dengan tangan gemetaran, Asya dan Nita turun dari mobil.


"Ka-kalian mau apa?" Tanya Asya. Dia sangat takut saat ini. Takut akan dijahati orang-orang ini, dan begitu takut akan terjadi sesuatu pada Darren.


"Jangan banyak bicara." Balas lelaki itu.


Dua rekannya segera mengikat tangan Asya dan Nita. Mereka berjalan menuju mobil, memaksa Asya dan Nita masuk dalam mobil mereka.


"Kalian siapa? Mau bawa kami kemana?" Tanya Nita, namun tidak satupun dari mereka yang menjawab. Kedua lelaki itu duduk di sisi kiri dan kanan Asya dan Nita. Dengan gerakan cepat, mereka mengikat kain, menutup mata kedua gadis itu.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Batin Nita.


Darren, maafkan aku nggak bisa menemui mu sekarang. Somoga kamu baik-baik saja. Batin Asya.


Suara pintu tertutup membuat Asya dan Nita semakin takut. Jantung mereka berpacu begitu dekat. Namun, perasaan Asya maupun Nita merasakan ada sesuatu yang berbeda, walaupun masih ada rasa takut.


"Nona?" Panggil Nita, berbisik.


"Ya?" Asya juga ikut berbisik.


"Nona, apakah kita akan dibunuh di tempat ini?"


"Semoga saja enggak Nita. Berdoalah, akan ada yang menyelamatkan kita."


Asya dan Nita merasakan ikatan kain di mata mereka terlepas. Perlahan mereka membuka mata, namun hanya kegelapan yang mereka lihat di depan mereka. Tapi, beberapa saat kemudian, lampu dinyalakan.


Klak...


"Selamat ulang tahun, Asya!" Ucapan selamat ulang tahun yang kompak itu membuat Asya terkejut sekaligus terharu. Ia menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Nita juga terkejut dengan kejutan ini.


Di depan sana, ada kedua orang tua Asya, Kakek Asya, orang tua Darren, Kakek Nenek Darren, kedua paman Darren dan keluarga kecil mereka, Darrel, Aurel, Alisha, dan juga Axel yang sejak pagi tadi terus dipaksa Alisha untuk datang.


Asya melihat jam yang menempel di dinding. Benar saja, sudah pukul 00 : 06, yang artinya sudah tiba hari ulang tahunnya.


"Selamat ulang tahun, Kak Asya." Ucap Alisha memeluk Asya.


"Selamat ulang tahun, Asya." Ucap Aurel, juga ikut memeluk Asya, hingga mereka bertiga saling berpelukan. Setelah beberapa detik, pelukan mereka terlepas.


"Selamat ulang tahun." Bisikan lembut di telinganya membuat tubuh Asya menegang. Ia kenal suara itu. Segera saja ia berbaik. Dan benar, yang berdiri di belakangnya adalah Darren. Dan di belakang Nita adalah Jiyo.


"Darren." Asya langsung memeluk lelaki itu. Air matanya kembali jatuh. Ia begitu khawatir pada Darren.


Darren membalas pelukan Asya. Namun, beberapa detik kemudian, Asya melepas pelukannya. Ia menatap Darren dengan tatapan marah.


"Kamu membohongiku?" Ucap Asya.


"Asya..."


"Apa kamu pikir ini lucu? Kamu berpura-pura mengalami kecelakaan, apa kamu pikir hal itu bisa dijadikan lelucon?"


"Asya..."


"Kamu nggak boleh berbicara, Jiyo! Kamu juga nggak ada bedanya. Kamu membohongi Nita, juga membohongiku." Ucap Asya, membuat Jiyo melirik Nita yang hanya terdiam di depannya.


"Darren, apa kamu nggak berpikir, betapa khawatirnya aku?"


"Asya, dengarkan aku!"

__ADS_1


"Dengarkan apa? Aku mengkhawatirkan mu tapi kamu tidak peduli. Kamu bahkan berpura-pura menjadi seorang penjahat. Aku nggak..."


Ucapan Asya langsung terhenti saat dengan cepat Darren membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Tubuh Asya menengang mendapat perlakuan tiba-tiba itu dari Darren. Matanya melotot. Ingin sekali ia menjauhkan dirinya dari Darren, tapi lelaki itu malah menahannya dan menekan tengkuk Asya, tak mau menghentikan ciumannya. Asya seperti melihat Darren saat mereka kecil dulu. Darren yang dengan polosnya menciumnya dan mengatakan jika dirinya adalah milik Darren. Jika saat itu di acara ulang tahun si kembar, maka kali ini di ulang tahunnya sendiri.


Bukan hanya Asya yang terkejut. Semua orang juga terkejut, termasuk Gara dan Axel. Tapi, kedua orang itu mampu mengendalikan ekspresi terkejut mereka.


"Darren!!" Teriakkan kompak itu tak membuat Darren menghentikannya.


"Gila!" Gumam Jiyo, bergidik ngeri melihat atasannya itu. Satu tangannya menutup mata Nita.


"Ya Tuhan," Gumam Irene.


"Darren, putri paman." Ucap Edo, histeris.


"Astaga, Darren." Ujar Alula, pelan.


"Benar-benar anakku." Gumam Gara, yang langsung mendapatkan tatapan dari Alula.


"Cucuku sudah dewasa." Ucap Ginanjar.


"Dia tidak sabaran." Kata Zarfan dan Disa bersamaan.


"Darren harus menikahi cucuku." Ucap Kakek Asya.


"Benar-benar anak Kak Gara." Ujar Viko.


"Titisan Gara Emanuel Grisam." Timpal Gio.


Sementara Darrel, dia menutup mata Aurel dengan telapaknya. Begitu juga yang dilakukan Axel pada Alisha.


"Axel ih, lepasin! Alisha mau lihat Kak Darren sama Kak Asya lagi ngapain." Alisha berusaha melepaskan tangan Axel yang menutup matanya.


"Anak kecil nggak boleh lihat."


"Hah? Usia kita sama. Kenapa Axel bisa Alisha nggak bisa?"


"Gue lebih tua delapan bulan dari lo."


"Sama aja,"


"Nggak boleh!" Tegas Axel.


Sementara Ana dan Vera, kedua wanita itu hanya melototkan mata mereka tak percaya. Beruntung saja, Dafa, Roy, Lala sedang tertidur. Jika tidak, mungkin para ibu-ibu itu akan sibuk menutupi kejadian tersebut dari anak mereka.


Darren melepaskan ciumannya, dengan nafas yang sedikit tersengal. Tapi, hal itu berbeda dengan Asya. Gadis itu malah terengah-engah, dengan wajah yang memerah. Darren mengangkat tangannya dan mengusap bibir Asya menggunakan ibu jarinya.


"Darren! Kamu harus tanggung jawab." Teriak Edo.


"Ya. Aku akan menikahinya besok."


"Apa?" Mereka terkejut mendengar jawaban yang begitu tenang dari Darren. Asya juga melebarkan matanya, ikut terkejut.


"Darren..."


"Meskipun kamu tidak setuju, aku akan tetap menikahi mu." Ujar Darren, memotong perkataan Asya.


"Tidak-tidak! Besok? Itu sangat singkat. Bagaimana dengan lamaran atau pertunangannya?" Edo masih belum menyangka.


"Nggak perlu."


Edo menganga mendengar jawaban super tenang dan terkesan seenaknya dari calon mantunya itu.


"Kalau begitu, kami akan menikah tiga hari lagi." Imbuh Darren.


"Apa? Sama-sama dengan pernikahan Darrel?"


"Ya. Aku sudah menyiapkan semuanya. Tinggal menunggu persetujuan Paman dan Ayah juga keluarga." Jawab Darren, matanya tak sedikit pun berpaling dari Asya.


Semuanya cukup terkejut dengan apa yang Darren katakan. Lelaki itu sudah mempersiapkan semuanya. Benar-benar tidak ada yang bisa menebak bagaimana Darren. Darrel dan Aurel saja juga tidak menyangka. Darren hanya mengatakan akan menikahi Aurel secepatnya bukan bersamaan dengan pernikahan mereka. Tapi, menikah bersama, tidak buruk juga.


Asya menatap Darren, lalu menatap cincin yang melingkar di jarinya. Ia sadar, kenapa Darren memintanya menggunkan cincin itu saat dia hendak tertidur malam ini.


"Kalau Darren sudah merencakan semuanya, kenapa kita harus menggagalkannya? Menikah bersamaan, nggak buruk juga." Ucap Darrel, membuat Darren menoleh padanya dengan sedikit senyuman tipis.


"Ya. Saya setuju." Ucap Gara. Setelah itu, mereka yang ada mulai menyuarakan persetujuan mereka. Tersisa Edo dan Kakek Asya.


"Untuk kebahagiaan cucu saya, saya setuju." Ucap Kakek Asya.


Kini giliran Edo. Semuanya menatap Edo. Papa Asya itu terdiam cukup lama. "Karena kalian sudah setuju, aku juga setuju. Tapi... Setelah pulang dari sini, Darren sama Asya nggak boleh bertemu, juga nggak boleh saling bertukar pesan atau menelpon sampai hari pernikahan. Untuk semua kebutuhan, utus seseorang untuk mengurusnya."


"Baik, aku setuju."


"Anak pintar. Ayo, kita lanjutkan acaranya." Ucap Edo dengan senyum mengembang. Dia punya pemikiran sendiri untuk mengerjai Darren.


Asya terdiam, tidak bisa ia menyangkalnya. Dia juga merasa bahagia dengan semua ini. Tapi, dia masih kesal pada Darren dan Jiyo yang memalsukan berita kecelakaan tersebut.


"Ayo, Nita! Kita nikmati acara ini." Ucap Asya, menarik Nita untuk berkumpul bersama yang lain. Mengabaikan Darren dan Jiyo yang masih menatap mereka.


"Berdo'a lah Darren, semoga Asya nggak membatalkan rencana pernikahan ini." Bisik Darren.


"Kau juga. Berdo'a lah semoga Nita nggak membenci mu." Balas Darren, membuat Jiyo melotot ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2