Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 80


__ADS_3

Sore hari, Asya duduk bersama Irene dan Edo di ruang keluarga. Gadis itu baru selesai melakukan perawatan di rumah.


Bel rumah berbunyi, membuat seorang pelayan dengan cepat membuka pintu.


"Selamat sore, Bi." Sapa orang tersebut.


"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"


"Perkenalkan, saya Vega. Saya dari butik XX. Saya diminta tuan muda Darren untuk membawa gaun pernikahan nona Asya."


"Oh, iya. Mari, silakan masuk!" Pelayan tersebut mempersilakan Vega dan dua pekerjanya masuk, dan duduk di ruang tamu. Sementara dirinya memanggil tuan rumah.


"Permisi, nona, tuan besar, nyonya. Ada tiga orang dari butik XX datang ingin menemui nona. Katanya, ini perintah dari tuan muda Darren."


"Butik XX?"


"Iya, nona."


"Apa nama wanita itu Vega?"


"Ya, nona. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Vega."


"Baiklah." Jawab Asya. " Ayo, Pa, Ma. Kita temui Bu Vega."


"Sayang, kamu kenal wanita itu?" Tanya Irene.


"Iya, Ma. Dia yang buat gaun untuk Aurel juga dress buat Asya."


"Dress yang kamu tunjukin ke Mama?" Asya mengangguk. Senyum mengembang terukir di wajah Irene. Wanita itu dengan semangat berdiri dan meraih tangan putrinya.


"Ayo, sayang! Kita temui dia. Pasti dia kesini mau perlihatkan gaun pernikahan mu."


"Sayang, kok malah kamu yang paling semangat?" Edo heran melihat istrinya.


"Iya dong, sayang. Aku sudah sangat penasaran dengan gaun pernikahan putri kita. Gaun pernikahan Aurel sangat cantik, juga dress yang Asya perlihatkan. Sekarang gaun pernikahan Asya juga dari butik itu. Pasti juga sama cantiknya."


Edo menghembuskan nafasnya. Jika urusan seperti ini, dia sudah pasti tidak bisa melakukan apa-apa selain mengiyakan ucapan istrinya.


"Ayo, sayang. Kasian orangnya, udah tungguin kita."


"Iya, Ma. Ayo!"


Sebelum benar-benar pergi, Irene menatap suaminya. "Sayang, kamu nggak ikut?"


"Enggak. Aku mau ke ruang kerja."


"Ya sudah. Ayo, Asya."


Ibu dan anak itu segera menuju ruang tamu. Melihat kedatangan mereka, Bu Vega dan dua rekannya berdiri menyapa kedua wanita beda usia itu.


"Bu Vega." Sapa Asya.


"Nona Asya. Nyonya." Ucap wanita itu yang dibalas anggukkan keduanya. Begitupun dengan dua rekan Bu Vega.


"Begini, nona. Tuan muda Darren meminta saya kemari untuk membawa gaun pengantin nona."


"Boleh kami melihatnya sekarang?" Tanya Irene dengan penuh semangat.


"Boleh, nyonya."


Dua rekan Vega segera mengeluarkan gaun yang mereka bawa dan memperlihatkannya pada Asya dan Irene.


Irene melongo melihat gaun tersebut. Gaun berwarna putih itu terlihat sangat cantik dan elegan. Semantara Asya, gadis itu terkejut. Bukan karena gaun itu sangat cantik atau elegan. Tapi, gaun itu sesuai dengan gaun pernikahan yang ia inginkan.


Asya terdiam. Pikirannya tiba-tiba mengarah ke hari dimana ia bersama Darren, Darrel dan Aurel ke butik itu. Saat itu, Darren menanyakan gaun pernikahan seperti apa yang ia inginkan. Ia pun mengatakan semua yang ia inginkan untuk gaun pernikahnnya nanti. Dan tak disangka, Darren benar-benar mewujudkannya.


Seulas senyum muncul di bibir Asya. Darren penuh kejutan. Asya tidak menyangka jika Darren sangat memperhatikan semuanya hingga ke hal-hal seperti ini.


"Sayang, bagaimana?" Suara Irene membuyarkan pikiran Asya.


"Ini gaun yang Asya harapkan Ma, untuk pernikahan Asya."


Senyum bahagia terukir di wajah Irene. "Darren benar-benar memperhatikan semua tentang mu, nak. Kamu sangat beruntung." Irene mengusap rambut Asya.


"Maaf jika saya lancang. Yang nyonya katakan benar. Nona Asya memang sangat beruntung. Tuan muda Darren sanagat mencintai nona. Dia diam-diam memberikan rekaman suara yang berisi tentang gaun pernikahan yang nona harapkan."


Asya kembali tersenyum. Ternyata, pertanyaan Darren waktu itu adalah pancingan agar dia mengatakan detail gaun pernikahan yang ia inginkan, dan diam-diam merekamnya lalu meminta Bu Vega untuk membuatnya.


"Oh ya, nona. Silakan nona mencobanya."


Asya mengangguk. Ia meraih gaun tersebut dan membawanya ke salah satu kamar di lantai bawah. Irene mengikutinya, agar bisa membantu putrinya itu mengenakan gaun.


Beberapa saat kemudian, Asya selesai. Irene tertegun melihat putrinya. Gaun tersebut sangat pas dengan Asya. Putrinya terlihat begitu cantik dan elegan.

__ADS_1


"Sempurna." Gumam Irene.


"Terima kasih, Ma."


"Iya, nak. Kamu benar-benar cantik."


"Jangan buat Asya malu, Ma."


"Kenapa malu? Kamu benar-benar cantik, sayang." Ucap Irene. Ia kemudian menggandeng tangan Asya. "Ayo, tunjukkan pada Bu Vega dan rekannya. Bagaimana pendapat mereka."


Asya mengangguk pelan. Keduanya lalu kembali ke ruang tamu. Bu Vega dan kedua rekannya terkagum melihat Asya.


"Nona, anda sangat cantik." Puji kedua rekan Bu Vega bersamaan.


"Benar-benar cantik. Nona Asya, gaun itu memang cocok untuk anda. Benar-benar ditakdirkan untuk anda. Nona sangat cantik. Tidak tahu lagi, bagaimana jika berdandan nanti."


"Kalian jangan berlebihan. Mungkin karena gaun ini sangat cantik, membuatku juga terlihat cantik."


Bu Vega dan kedua rekannya tersenyum. Mereka kembali memastikan kenyamanan Asya saat mengenakannya. Setelah semuanya selesai, mereka berpamitan.


***


Besok adalah hari yang paling ditunggu Darren, Darrel, Asya dan Aurel. Hari yang paling bersejarah di hidup mereka. Dimana mereka akan saling terikat dengan pasangan masing-masing.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Orang-orang rumah sudah mulai memejamkan mata, agar merasa segar di pagi hari besok. Tapi, hal itu tidak terjadi pada Darren dan Darrel. Kedua saudara kembar itu seperti sulit memejamkan mata.


Darren keluar dari kamarnya dan bergegas ke dapur. Ia bergegas ke halaman belakang, dan duduk di gazebo. Pandangannya menatap langit malam yang tidak begitu banyak di taburi bintang, tapi tetap terlihat indah.


"Kenapa aku jadi sangat susah tidur malam ini?" Gumam Darren.


Sementara Darrel, ia juga keluar kamar dan berjalan menuju halaman belakang. Langkahnya semakin ia percepat saat melihat seseorang duduk di gazebo.


"Darren?" Suara Darrel membuat Darren menoleh.


"Kamu kesini juga?" Balas Darren.


Lelaki itu mengangguk, lalu duduk di samping kembarannya. Ia juga ikut menatap langit.


"Kenapa kamu disini?" Tanya Darrel, tanpa menoleh pada kembarannya.


"Sulit tidur." Balas Darren. "Kamu?"


"Aku juga sulit tidur." Sahut Darrel. Tak lama kemudian, lelaki itu tersenyum. "Huh, aneh ya kita? Seharusnya kita yang tidur lebih awal agar besok terlihat fit. Tapi, ini malah sebaliknya."


"Ya. Seharusnya begitu."


"Entahlah."


"Aku juga entahlah. Mataku sepertinya sulit terpejam."


"Aku juga. Mungkin karena kita terlalu memikirkan acara besok." Ucap Darren.


"Ya, kamu benar."


"Sepertinya, udara mulai dingin. Ayo, masuk!"


"Ya."


Kedua saudara kembar itu berjalan bersama memasuki rumah. Darren bergegas menuju kamarnya. Namun, tidak dengan Darrel. Lelaki itu berjalan ke arah kamar Aurel. Ia mendorong pelan pintu kamar Aurel.


"Darrel?" Suara Aurel terdengar.


"Sayang, kamu belum tidur?" Darrel masuk dan duduk di sisi ranjang.


"Aku sulit tidur."


"Hehehe..."


"Eh, kenapa kamu tertawa?"


"Aku pikir kita sama. Aku juga sulit tidur. Darren juga. Kami baru saja kembali dari halaman belakang, mengobrol sebentar. Sekarang aku penasaran, apa Asya juga sulit tidur seperti kita bertiga?"


"Aku nggak tahu. Kita tanya saja besok."


"Ya. Kita tanya saja besok." Ucap Darrel. "Sekarang, kamu berusahalah untuk tidur. Jangan begadang."


"Aku nggak ngantuk, Darrel."


"Coba saja dulu. Aku akan menemani mu. Aku akan mengusap kepalamu hingga tertidur."


Aurel mengangguk. Dia mulai berusaha memejamkan matanya sambil merasakan tangan Darrel yang mulai mengusap pelan rambutnya. Dan tanpa sadar, Darrel juga mulai memejamkan matanya.


Sementara di kamar Darren, lelaki itu meraih handphonenya. Sejak sore kemarin hingga sekarang, dia belum menyentuh handphonenya sama sekali. Ia bahkan tidak tahu, dimana handphone ia letakkan. Jika bukan Alisha yang memberikan handphone itu padanya, mungkin dia akan mencarinya atau mungkin membeli handphone baru.

__ADS_1


Ia dan Darrel sibuk menerima nasihat-nasihat pernikahan dari Ayah dan Ibu mereka. Di tambah lagi, dari Ginanjar, Zarfan dan Disa. Hingga mereka mengabaikan handphone mereka.


Saat handphonenya ia nyalakan, ada notifikasi chat dari Asya. Ia segera membacanya.


Asya


Terima kasih sudah begitu perhatian padaku.


Gaunnya sangat sesuai dengan yang ku impikan. Kamu begitu banyak memberi kejutan.


Aku sangat mencintai mu. Love you, sayang.


Senyum lebar langsung terukir di bibir Darren. Ia merasakan jantungnya berdetak cepat. Dengan cepat ia mengetikkan sesuatu, membalas pesan Asya. Walaupun ia tidak tahu, apakah Asya masih terjaga atau sudah tertidur.


^^^Darren ^^^


^^^Terima kasih saja nggak cukup. ^^^


^^^Berikan aku satu ciuman besok. ^^^


^^^Aku juga mencintaimu. ^^^


^^^Love you too, sayang. ^^^


Seperti itulah balasan Darren. Ia mengetiknya dengan tersenyum lebar.


Ting... Pesannya langsung dibalas Asya.


Asya


Hanya satu ciuman.


Itu mudah.


^^^Darren ^^^


^^^Aku menantinya. ^^^


^^^Kenapa kamu belum ^^^


^^^tidur di jam segini? ^^^


Asya


Aku susah memejamkan mataku.


^^^Darren ^^^


^^^Huh, ternyata kita semua sama. ^^^


Asya


Kita semua?


^^^Darren ^^^


^^^Aku dan Darrel juga susah tidur. ^^^


^^^Kamu juga. Aku yakin calon istri Darrel ^^^


^^^juga sulit tidur. ^^^


Asya


Apa semua orang yang akan menikah


merasa seperti ini?


^^^Darren ^^^


^^^Entahlah. ^^^


^^^Sekarang kamu tidurlah. ^^^


^^^Besok akan cukup melelahkan. ^^^


Asya


Baiklah. Kamu juga harus tidur.


Selamat malam.


^^^Darren ^^^

__ADS_1


^^^Selamat malam. ^^^


Setelah mengakhiri pesannya bersama Asya, Darren membaringkan tubuhnya. Dan tanpa sadar, ia mulai merasa mengantuk dan perlahan memejamkan matanya. Hal yang sama pun terjadi pada Asya. Gadis itu mulai bisa memejamkan matanya tertidur setelah berkirim pesan dengan Darren.


__ADS_2