Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 91


__ADS_3

Waktu berputar dengan cepat. Tak terasa, hari ini adalah hari keberangkatan Axel ke luar negeri. Dengan wajah lesu dan langkah gontai, Alisha menuju meja makan. Ia hanya meraih sepotong roti dan memakannya perlahan.


"Sayang, kamu kok lesu gitu? Kamu sakit?" Tanya Alula, sambil menyentuh jidat putrinya.


"Enggak, Bu. Alisha nggak sakit." Jawab Alisha.


"Lalu, kenapa kamu terlihat tak bersemangat?"


"Ayah lupa? Hari ini keluarga om Arya pulang ke tempat mereka kan?" Jawab Alisha tanpa melihat wajah Ayah nya.


Gara dan Alula saling pandang dan menarik nafas mereka. Tidak tega melihat putri mereka sedih. Begitu juga dengan si kembar dan Asya Aurel. Mereka tidak tega melihat Alisha yang tak bersemangat seperti ini.


"Kalau begitu, hari ini kamu tidak perlu masuk sekolah dulu. Ayah akan meminta seseorang izin kan kamu nanti."


"Nggak perlu, Yah. Aku sudah mengaturnya." Timpal Darren.


Setelah mendengar penjelasan Alisha waktu itu, dia dan Darrel merasa bersalah pada Axel. Keduanya dengan segera menemui Axel dan meminta maaf pada anak itu.


"Alisha nggak mau pergi. Nanti Alisha menangis." Gadis itu menunduk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes.


Alula yang tidak tega langsung memeluk putrinya. "Tidak apa-apa. Jangan menangis." Tutur Alula, lembut.


Aurel yang akhir-akhir ini lebih sensitif pun ikut meneteskan air mata. Asya juga turut merasa sedih melihat adik iparnya yang ceria, kini bersedih.


"Sekarang, habiskan sarapanmu. Lalu kita temui Axel, okey?"


Alisha yang masih dalam pelukan Alula mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Darrel. Semuanya kembali sarapan. Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah Axel.


Setengah jam perjalanan, mereka tiba. Mereka turun dan mendekati rumah tersebut. Jantung Alisha berdetak cepat, melihat keadaan di luar rumah yang begitu sepi. Berbeda dengan rumahnya yang terdapat banyak penjaga.


"Ibu, apa Axel sudah benar-benar pergi?" Suara Alisha bergetar, dan matanya kembali berkaca-kaca.


"Ibu tidak tahu, nak." Ucap Alula.


Alisha mendekati pintu dan meminta Darrel berhenti mengetuk. Ia menatap pintu tersebut dan mengetuknya lebih keras.


"Axel! Axel! Kamu masih di dalam kan? Axel! Buka pintunya!" Tidak ada jawaban yang terdengar. Namun, Alisha masih belum menyerah. Ia mengetuk lagi, dan mencoba mendorong pintu.


Klak... Pintu terbuka.


Aliha menatap mereka yang berdiri di belakangnya. Ia kemudian berbalik dan langsung memasuki rumah tersebut. Mulutnya tak henti memanggil Axel. Langkahnya mengarah menuju ruang keluarga.


"Ax..."


Pom...


"Selamat ulang tahun, Alisha!" Teriak orang-prang yang berada di ruang keluarga itu, bersamaan.


Mata gadis itu berkaca-kaca. Di depan sana, Axel berdiri bersama keluarganya. Ada juga kedua pamannya, Gio dan Viko beserta keluarga kecil mereka. Ada kedua Kakeknya dan juga Nenek Disa. Edo dan Irene turut hadir di tempat itu.


Alisha berbalik, melihat orang-orang di belakangnya. Ayah dan Ibunya tersenyum, begitu juga dengan kedua Kakak dan Kakak iparnya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Ia bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya.


"Ka-Kalian mengerjaiku." Ujarnya, lalu duduk berjongkok sambil menangis sesenggukkan. Alisha menangis sesukanya, meluapkan perasaan sedihnya selama tiga hari ini, yang ternyata hanya sebuah rekayasa keluarganya.


"Hiks... Alisha... Hiks..."


Gara dan Alula yang melihat putri mereka menangis sesenggukkan segera menghampiri. Gara membantu putrinya berdiri tegak dan memeluknya. Gara mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali.


"Maafkan Ayah, nak. Ini semua rencana Ayah."


"Hiks... Ayah..."


"Iya, nak. Maafkan Ayah." Gara kembali mengecup kepala Alisha.


"A-Ayah ja-jail! Alisha nggak mau peluk Ayah." Gadis itu melepas pelukannya, dan beralih memeluk sang Ibu.


"Ibu kamu juga terlibat, sayang."


"Ibu pasti di suruh Ayah." Jawab Alisha, membuat Alula tersenyum. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Alula.


"Alisha." Suara Axel yang memanggilnya membuat Alisha menoleh. Lelaki itu sudah berdiri di dekatnya, membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala.


"Axel,"

__ADS_1


"Selamat ulang tahun." Ucap lelaki tersebut. "Ayo, tiup!"


Alisha mengusap air matanya. Ia lalu menatap Axel. Hatinya merasa sedikit lega melihat Axel masih disini, belum berangkat.


"Ayo!" Alisha menurut dan meniup lilin. Semua bertepuk tangan setelah api pada lilin itu mati. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia berbalik dan langsung memeluk Ayahnya.


"Terima kasih, Ayah." Ucapnya.


Gara cukup terkejut. Pasalnya, putrinya berkata tidak ingin memeluknya. Tapi, yang terjadi sekarang berbeda dengan apa yang gadis itu katakan. Seulas senyum muncul di bibir Gara. Putrinya tidak sungguh-sungguh saat berucap tadi.


***


Kejutan ulang tahun Alisha ini berlangsung hampir sejam. Setelah itu, mereka berbincang-bincang. Alisha merasa bahagia karena bisa mengenal Nenek Axel.


"Ini minumnya." Axel memberikan minuman pada Alisha.


"Terima kasih." Jawab Alisha. Gadis itu meraihnya dan meneguk minuman tersebut hingga setengah.


"Lo mau hadiah apa?" Tanya Axel tiba-tiba.


Alisha menoleh menatap Axel. "Kalau Alisha bilang hadiah yang Alisha mau, Axel mau kasih?"


"Tergantung."


"Kok tergantung?"


Axel menatapnya dan mengacak rambut Alisha. "Bilang aja, lo mau apa?"


"Alisha mau Axel tetap disini. Nggak boleh pindah ke luar negeri." Ujar Alisha, menunduk. Dia tahu, permintaannya ini keterlaluan.


"Kenapa menunduk?" Axel menangkup kedua pipi Alisha dan mendongakkan wajah gadis itu hingga menatapnya. "Gua akan tetap disini." Jawab Axel.


Alisha mengerjabkan matanya mendengar jawaban Axel. "A-Axel, serius?"


"Gue serius." Jawab Axel. "Lagian, masalah pindah itu cuma bohong. Ayah lo minta gue buat bilang gitu sama lo."


"Kapan?"


"Saat gue menghilang di jam pelajaran olahraga."


"Hmm..."


"Jadi, yang Axel tiba-tiba bentak Alisha itu di suruh Ayah?"


Axel terdiam. Gara memang menyuruhnya marah atau bahkan membentak Alisha. Tapi, dia ragu waktu itu, dan tidak ingin melakukannya. Tapi, semuanya berubah saat Alisha membawa nama Hardi dalam pembicaraan mereka. Axel marah dan membentak Alisha. Itu semua murni ia lakukan, bukan karena perintah Gara.


"Axel?"


"Soal itu, nggak semuanya karena Paman. Gue waktu itu..."


"Alisha!" Panggilan Asya, membuat ucapan Axel terpotong.


"Kak Asya. Ada apa?"


"Ayo, pulang! Sebentar ada acara kecil-kecilan ulang tahunmu. Kita harus segera pulang."


"Kak Asya, serius?"


"Iya. Teman-temanmu sudah dapat undangannya."


"Kamu juga tahu, soal ini?" Alisha menatap Axel.


"Kedua Kakak lo kasi tahu gue, pas mereka datang minta maaf. Mereka pukul gue karena belum tahu. Sebelum datang minta maaf, mereka tahu dari Paman. Jadi, sekalian tanya teman-teman yang pantas atau enggak di undang."


"Ya Tuhan, aku benar-benar nggak tahu apa-apa." Gumam Alisha.


"Ya sudah, aku pulang dulu, Axel." Lelaki itu mengangguk. Ia memperhatikan Alisha yang mulai menjauh bersama Asya.


***


Seperti yang dikatakan Asya padanya siang tadi. Halaman belakang rumah Gara menjadi tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Alisha. Tidak banyak yang diundang. Hanya teman satu angkatan Alisha.


"Terima kasih, ya, teman-teman semua udah mau datang. Semoga kalian menikmati acara ini." Ujar Alisha.

__ADS_1


Terdengar jawaban dari teman-teman Asya. Tidak sedikit dari mereka mengagumi kediaman Gara itu. Tidak menyangka jika Alisha memiliki kehidupan yang mewah seperti ini. Ingin sekali mereka menyombongkan pada kerabat atau teman-teman mereka nanti. Namun, ultimatum yang diberikan Gara begitu membekas meski tanpa nada ancaman. Membuat mereka tidak berani berbicara tentang apapun mengenai keluarga itu setelah mereka meninggalkan tempat itu nanti.


Axel yang tidak ikut masuk dalam kerumunan teman-teman sekolahnya itu menghampiri Alisha. Di tangannya, ada sebuah kotak kado. Ia meraih lengan Alisha dengan lembut.


"Ikut gue!"


"Eh, mau kemana?"


Axel tak menjawab, dan malah menarik Alisha menjauh dari kumpulan tersebut.


"Axel, kenapa?"


"Ini!" Kotak yang dalam genggamannya ia berikan pada Alisha. Gadis itu menerimanya dengan perasaan bingung.


"Ini, kado buat Alisha?"


"Ya."


"Alisha dapat kado lagi dari Axel? Waaah... Makasih banget. Alisha pikir, Axel cuma kasi Alisha kado dengan nggak jadi ke luar negeri. Ternyata masih ada lagi." Alisha tersenyum lebar menatap pemberian Axel tersebut.


Axel juga ikut tersenyum. Ia menepuk pelan kepala Alisha. "Yang nggak jadi ke luar negeri itu bukan hadiah. Emang dari awal itu semua cuma setingan."


Alisha menarik nafasnya. Ayahnya berniat sekali memberinya kejutan. Ia lalu mentap Axel.


"Aku, buka sekarang kadonya?"


"Terserah lo. Mau sekarang, atau nanti juga gak masalah."


"Mau sekarang aja."


Tangan Alisha langsung bergerak membuka kado yang Axel berikan. Namun, gerakannya terhenti saat melihat kotak berwarna merah yang ada dalam kotak yang diberi Axel.


"Ini..." Alisha menatap Axel. "Ka-Kalung?"


"Buka dulu." Jawab Axel, santai.


Alisha kembali membuka kotak berwarna merah itu. Dan benar yang dikatakannya tadi. Di dalam kotak itu ada kalung dengan inisial A.


"Axel..." Alisha tidak bisa melanjutkan kata-kata nya. Bukan karena dia baru pertama kali melihat barang mewah. Dia pernah melihat kalung dengan model itu di majalah milik sahabatnya, Nadia. Dia menyukainya tapi, untuk membelinya, tidak. Harganya cukup mahal. Jika dia minta pada Ayah, Ayahnya pati bisa membelikan untuknya. Namun, sayang sekali uang itu, lebih baik disimpan atau diberikan pada orang yang membutuhkannya.


Dan sekarang, Axel malah memberikan kalung itu untuknya.


"Kenapa? Lo nggak suka?"


"Hah? Bukan begitu. Kalung ini mahal, Axel. Dari mana kamu punya uang sebanyak itu? Apa kamu minta sama om Arya? Kasihan sekali om Arya. Dia..."


"Gue beli pakai uang gue sendiri."


Alisha meneguk ludah. "Uang kamu?"


"Hmm... Gini-gini, gue dididik Papa jadi pekerja keras. Setidaknya, gue tahu cara berbisnis dan menghasilakan uang." Ujar Axel.


Alisha tersenyum mendengarnya. "Jadi, ini benaran uang Axel?"


"Hmm..."


"Kalau gitu, Alisha nggak sungkan terima hadiah ini. Makasih ya, udah kasih Alisha kado yang cantik gini. Tapi, lain kali nggak usah yang mahal-mahal. Kado yang biasa-biasa saja. Sayang sekali uangnya." Ucap Alisha, sambil memandangi kalung tersebut. Axel hanya bisa tersenyum memandangi gadis itu.


"Mau gue bantu pasangin?"


Alisha mengangguk antusias. Ia memberikan kalung tersebut pada Axel dan membiarkan lelaki itu memakaikan kalung itu ke lehernya.


Cantik. Guman Axel, dalam hati.


Alisha tersenyum senang sambil menatap kalung yang menggantung di lehernya. Ia kemudian menatap Axel.


"Oh ya, Axel. Huruf ini, Alisha atau Axel?" Ujarnya sambil memperlihatkan huruf A pada kalung ke Axel.


"Terserah lo."


"Ya udah, aku artiin Axsha saja."


Axel mengerutkan keningnya. "Artinya?"

__ADS_1


"Axel Alisha." Jawab gadis itu tersenyum riang. Membuat Axel terkekeh kecil melihatnya. Dan tanpa mereka sadari, ada Hardi yang memperhatikan mereka dari jauh.


__ADS_2